XXIX. Satu Kelompok

2070 Kata
Ada beberapa hal yang ingin kita percaya. Ada banyak pula yang tidak ingin kita terima. Namun untuk permasalahan dalam isi kepala, sepertinya menepiskan perasaan suka adalah bagian terbaiknya. Tidak ada yang lebih indah selain bel istirahat pertama sudah melengking nyaring. Seluruh siswa sudah berhamburan ke luar kelas. Titan, dan keempat petinggi Carswell yang lain sudah lebih dulu meninggalkan kelas. Dengan alasan memberi pelajaran pada kedua pembuat onar yang bertengkar kemarin, mereka ingin keberadaan Carswell semakin diakui. Jadi untuk permasalahan yang terjadi pada pasukan mereka, para petinggi Carswell yang memutuskan untuk ikut andil dalam menyelesaikan itu. "Kagak ngepepet Bianca? Waktu lo sebulan doang loh." Arkan meledeki Titan saat mereka baru saja memasuki gudang belakang. Merebahkan tubuh dikursi yang tersedia, Titan meluruskan kakinya diatas meja, sementara tangannya tengah memegang sebatang rokok dan pemantik. Bersiap untuk menghidupkan benda candu itu. "Tenang aja, jangan ngedesak gue ah, takut lo?" singgung Titan kemudian. "t*i, kita liat aja." geram Arkan kembali. Semakin lama, kesongongan sahabatnya ini memang tidak bisa dipungkiri lagi. "Lo tahan apa kagak sama sifat Bianca." Menghembuskan asap rokoknya, Titan berujar santai. "Tahan atau kagak, bukan urusan lo. Itu bagian gue." sela Titan cepat. "Jangan khawatirin gue, okay?" sambungnya mantap. Dengan Arkan yang sudah mengedikkan bahu malas. "Duh curut, malah berantem." singgung Zidan tiba-tiba. "Main bener dong, jangan main curang." katanya membela Arkan. Titan sendiri tidak mengerti darimana kecurangan yang ia lakukan? Apa hanya karena berhasil meluluhkan Bianca dihari pertama sahabatnya ini sudah pontang-panting? "Siapa yang curang?" tanya Titan kemudian. "Lo," sahut Zidan. "Lo pasti melet Bianca kan?" sambungnya. Membuat Titan menggeleng sebelum memutuskan untuk tidak menjawab ucapan bodoh Zidan. Gavin sendiri sudah mengerjap manja pada Titan, entah kenapa sejak awal perasaannya tidak enak. "Gue tim lo aja boleh gak, Tan?" tanya Gavin kemudian. Menoleh, Titan terkekeh sebelum menggeleng. "Gue gak butuh pendukung." "Udah, makin besar kepala tuh setan lo tantang mulu." Aiden melerai perdebatan. Namun pembahasan mereka berhenti ketika kedua tokoh utama yang bertengkar kemarin sudah hadir, Titan masih berada di posisinya dengan santai, sementara keempat petinggi Carswell yang lain mulai memberi pelajaran pada kedua adik kelasnya tersebut. Disisi lain, perginya Titan dan yang lain ke gudang belakang, meninggalkan Alana, Tata dan juga Bianca. Bergandengan dengan tangan saling terpaut, ketiganya memenuhi koridor dengan langkah mereka. Ada Alana sang primadona nan pintar, disusul Tata yang imut dan cantik, lalu Bianca yang tatapannya penuh intimidasi. Beberapa teman sebaya memilih menyapa, beberapa lagi seperti menghindar, karena keberadaan mereka bertiga begitu terpampang nyata. Tak heran, beberapa kubu lain menatap Alana, Tata dan Bianca tidak suka. Terutama Tessa CS. "Titan enggak ke kantin?" tanya Tata tiba-tiba pada Alana. Menoleh, Alana menaikkan sebelah alisnya, lalu berujar. "Titan? Bilang aja lo mau nanyain Gavin. Basi banget, Ta!" Bianca tertawa menyetujui. Tata memang senang bersandiwara. "Cih, bener banget. Gue aja sampe ditinggal kemarin," singgung Bianca lagi. "Setelah usaha gue buat jadi pendengar yang baik, guenya malah enggak dihargai." "Ya-ampun, seudjon mulu sama gue..." imbuh Tata. "Bian, lo ih!" kekehnya lagi. "Apa? Emang benar ya!" sela Bianca cepat. Sementara Tata hanya terkekeh disampingnya. Lalu ia memilih mengatakan hal lain, karena Bianca tidak akan berhenti meledeknya, tahu betul bahwa ia akan selalu kalah setiap kali membahas Gavin, pada Bianca dan juga Alana. "Tumben banget, tuh setan kagak ngekorin lo." katanya pada Alana. Lalu menatap Bianca penuh dosa. "Maafin gue ya Bian yang cantik." kekeh Tata kembali. Yang dibalas Bianca dengan gelengan kuat. Alana pula sudah berdecak. "Ada urusan katanya tadi." jelas Alana lagi. "Lo tau sendiri, nanti juga nongol tuh bocah-bocah." Bianca mengangguk membenarkan. "Lagian ada mereka, ribet." "Enggak kok." sahut Alana dan Tata serentak. Mengerutkan dahinya, Bianca menatap malas kedua sahabatnya, sebelum berujar. "Ye, itu karena ada cowok yang lo suka!" "Makanya, cari cowok sana." putus Tata kemudian. "Enak banget ngomongnya, udah kayak mau beli cendol!" rutuk Bianca kesal. Hingga membuat Alana dan Tata tertawa disebelahnya. "Gue masih enggak percaya lo ngerjain pr, Bi..." Tata masih menyuarakan ketidakpercayaannya. Membahas itu lagi, karena sesuatu yang langka melihat sahabatnya mengerjakan PR tanpa mencontek. Bianca menghela napas panjang. Memang tidak akan ada yang percaya, tapi Bianca pula tidak bisa mengatakan itu pada Alana atau juga Tata. Jadi ia hanya beralasan. "Serius tau, gue kagak mau dihukum kayak kemaren." rutuk Bianca lagi. "Biasa juga lo nanya Ana, atau gue." jelas Tata bersikeras. "Walaupun gue juga kadang nyontek punya Alana." "Udah malam, gue enggak enak ganggu kalian lagi." jelas Bianca. "Lagian, kalian tahu kan, gue selalu telat? Mau nyontek disekolah mana sempat." "Ya aneh aja, lo mana mau sih repot sendiri? Kerjaan lo kan ngerepotin orang!" kekeh Tata. Membuat Bianca mendekat lalu menjitak kepala sahabatnya itu. Dengan Tata yang sudah mengaduh dalam cengkraman Bianca. Alana terus tertawa, seperti biasa, menghabiskan waktu istirahat bersama Tata dan Bianca adalah yang terbaik. "Lo enggak mau cerita apa-apa sama kita??" tanya Alana kemudian. Ini yang ditunggunya, Alana harus mendengar apa saja yang terjadi kemarin dari Bianca. Menoleh, Bianca kebingungan untuk sesaat. Namun detik selanjutnya ia menormalkan keadaannya kembali. "Eum, apa ya?" ejanya. "Keknya enggak ada." "Serius?" tanya Alana lagi. Masih memastikan. Kenapa pula Bianca menyembunyikannya? "Lo tahu kan? Enggak pernah ada rahasia diantara kita?" Bianca mengangguk sebelum merangkul kedua sahabatnya itu, memasuki kantin utama Danirian, "Tenang aja, kalau ada apa-apa masa gue enggak cerita sih??" kekehnya. Jika Tata mengangguk untuk membenarkan itu, Alana menyunggingkan senyumnya. *** Bagi 12 IPS 3, kehadiran Titan, Gavin, Arkan, Aiden dan Zidan dijam terakhir adalah sebuah keajaiban. Mungkin, bisa dihitung jari selama seminggu berapa kali mereka memasuki kelas dijam terakhir, karena para pembuat onar itu lebih memilih untuk bertahan digudang belakang, daripada mendengarkan semua penjelasan dari guru. Dan kali ini tentu saja tidak lain karena jam terakhir adalah pelajaran bu Dyta--wali kelas mereka. Bukannya takut, Titan dan yang lain hanya tidak ingin omelan wali kelas mereka itu sampai kepada orang tuanya. Itu sebabnya, bertahan dijam terakhir adalah pilihan mereka akhirnya. Semuanya sudah sibuk dengan urusan masing-masing, namun hanya Alana dan Titan yang paling bertahan dengan keributan itu. Mungkin, hanya Bianca satu-satunya gadis yang sudah terlelap diatas mejanya. Tidak menghiraukan kelas yang seperti pasar itu, memejamkan mata adalah pilihan terbaik yang Bianca buat. Apalagi Tata dan Gavin, sejak bel masuk tadi, keduanya masih duduk berhadapan. Bianca tidak ingin mengusik waktu bahagia sahabatnya itu. Namun, pembicaraan Alana dan Titan lagi-lagi kembali memenuhi pendengarannya. Tidak ketinggalan semua gombalan yang Gavin katakan pada sahabatnya Tata, membuat Bianca menahan tawanya dalam mata terpejam itu. "Lo ikut pertemuan nanti?" tanya Alana pada Titan. Mengingat pertemuan dengan rekan perusahaan itu dilangsungkan setiap setahun sekali. "Gue pikir-pikir dulu." jelas Titan akhirnya. Kali ini, ia harus menyusun rencana untuk masuk lebih dalam lagi untuk mengacau Bianca. "Om Altair sama Tante Lea pasti datang kan?" ucap Alana lagi. Titan mengangguk. "Pasti kok, cuma, gue lagi gak mood aja mau pergi." "Yah, Tedi. Pergi dong, sama gue, ya??" rayu Alana kembali. Memohon karena mereka memang selalu pergi bersama untuk acara yang bahkan tidak mereka tahu. "Sebentar doang kayak biasa." Menghela napas, Titan tidak akan pernah bisa menolak semua keinginan sahabatnya itu. Jadi ia menatap Alana sebelum berdecak. "Oke, as u wish." Bianca diam, seperti tidak tahu harus bereaksi seperti apa, namun ia senang. Bagaimana tingkah manja Alana setiap kali bersama Titan, membuat Bianca mengulum senyumnya. Kenapa sih, sahabatnya itu bisa jatuh cinta sama cowok songong yang kesetanan kayak begitu? Mengenyahkan semua pikiran itu, Bianca memilih membuka ponselnya yang sejak tadi sudah berbunyi. Ada tiga pesan yang lagi-lagi berasal dari nomor tidak jelas, yang sudah Bianca beri nama Orang Gila. Orang Gila Coklatnya ada diloker, semoga suka My Athena... Orang Gila Tumben, kekantin cuma bertiga doang? Orang Gila Kenapa kemarin enggak sekolah? Lo pergi sama Titan kan? Meremas ponselnya, Bianca mengatur napasnya. Sialan! Orang itu benar-benar gila, dia sudah mengusik Bianca sejauh ini. Meraih coklatnya didalam loker, Bianca membaginya pada Alana dan Tata. "Lagi??" tanya Tata tidak percaya. Bianca mengangguk malas. "Bener-bener, kurang kerjaan." sahut Alana kemudian. "Kenapa?" beo Titan penasaran. "Secret admirer, Bian." Tata menyahut cepat. Sementara Bianca langsung menggeleng, tidak perlu untuk menceritakan pada siapapun, cukup mereka yang tahu. "Tunggu aja nih orang, kalau ketahuan gue patahin tangannya!" geram Bianca pelan. Gedek sendiri dengan semua itu. Namun Gavin mendengarnya. "Hus, cakep-cakep galak." ledek Gavin kemudian. "Heh, dimana bagian cakepnya??" singgung Titan geli. Membuat Bianca menoleh, lalu memberi jari tengah pada si songong itu. Mungkin, jika bukan karena kedatangan bu Dyta, Titan dan Bianca masih terus berdebat, mengingat tidak ada yang pernah mengalah diantara keduanya. "Oke anak-anak, hari ini, ibu akan bagikan kalian kelompok." kata bu Dyta pertama ketika mereka memasuki kelas. Beberapa menyahut dengan penuh semangat, beberapa lagi mengerang malas. "Satu kelompok 2 orang, jadi ibu yang akan milih kali ini, biar semuanya dibagi adil." yakin bu Dyta kembali. "Yah, ibu..." "Pilih sendiri aja ya bu??" "Iya nih bu, pilih sendiri aja ya??" Menghentak meja dengan tangannya, bu Dyta menatap garang seluruh siswanya yang protes disana. Tidak ingin perintahnya disahut, ia akan tetap pada keputusannya. "Tidak ada yang boleh menolak perintah ibu." tegas bu Dyta sekali lagi. Membuat seisi kelas langsung terdiam. "Ibu mau kalian menggambar sebaik mungkin mengenai lingkungan sekitar." jelasnya pertama. "Harus sebaik mungkin, diwarna, dilukis, terserah, kumpulkan minggu depan." titahnya sekali lagi. "Bu, larangan membuang sampah juga boleh kan??" Adel, gadis berkacamata itu bertanya sopan. "Boleh." sahut bu Dyta setelahnya. "Bu, kayak pelajaran anak TK aja gambar menggambar." rutuk Arkan pertama. "Bener bu, lagian nih, saya bisanya gambar kandang ayam." Zidan menyahut setelahnya. "Boro-boro kandang ayam, gambar rumput dari angka V aja dia enggak bisa bu." potong Aiden kemudian. "Kalian kalau masih membantah ibu, mending keluar saja dari kelas." pekik Gavin nyaring. Sengaja menyindir sahabatnya disana. Bu Dyta hanya menggeleng. "Gambaran anak TK, bisa lebih baik dari kalian." "Bener bu, emang dasar mereka pemalas." Titan ikut memekik. Menyetujui pernyataan Gavin. "Caper-caper!" sahut Arkan tidak terima. "Sialan lo!" Zidan ikut protes. Hingga gelak tawa mulai datang bergantian. "Sudah-sudah, sekarang, ibu mulai milih kelompok." jelas bu Dyta lagi. "Kalian akan dipasangkan depan belakang." Sontak semuanya menoleh. Saling tatap, lalu berteriak girang. Apalagi untuk beberapa siswa pembuat onar, mendapat pasangan yang rajin membuat mereka tidak perlu mengkhawatirkan itu. Alana dan Tata. Lalu, Titan dan Bianca??? Menoleh, Bianca menggeleng ngeri. "Bu?? Saya sama Titan??" Bu Dyta mengangguk. "Kalau dibelakang kamu Gavin, kamu sama Gavin. Ini dibelakang kamu Titan, artinya kamu sama siapa? Jangan menanyakan sesuatu yang jawabannya sudah jelas Bian." "Aduh bu, Tata aja deh. Bian sama Alana aja ya??" rengek Bianca lagi. "Tidak Bianca. Kamu tetap sama Titan. Ibu ingin lihat kerja sama dua murid tukang telat disekolah ini." sindir bu Dyta kembali. "BUUUUU--" Erang Bianca lagi. Bu Dyta hanya menggeleng, "Cepat, duduk dengan pasangan kalian, lalu silahkan bahas materi yang ingin kalian gambar. Ibu harus ke kantor lebih dulu." titahnya seraya berlalu meninggalkan kelas. Semuanya langsung bergerak ketempat pasangan masing-masing. Tapi, Bianca masih bertahan ditempatnya. "Sialan, gue enggak mau sama tuh setan!" rutuk Bianca lagi. Tata mengelus punggung sahabatnya itu, terkekeh, sebelum berujar. "Semangat Bi! Hidup adalah cobaan." "ISH! NYEBELIN LO!" geram Bianca. Tapi Tata sudah lebih dulu kebelakang untuk bertukar kursi. Menatap gadis disebelahnya dengan wajah bersalah, Titan berujar kembali. "Gue kedepan ya??" pintanya, dengan Alana yang sudah berdeham sebagai jawaban. Mungkin, Titan bisa menolak semua tugas kelompok yang sering diberi jika pasangannya bukan Alana. Namun kali ini dipasangkan dengan Bianca, seakan memberinya kesempatan untuk bermain-main lebih banyak dari biasanya. Duduk dikursi Tata, Titan menyeringai pada gadis disebelahnya. Lalu menoleh untuk menatap Arkan, Gavin, Aiden dan Zidan bergantian, Titan mengedipkan sebelah mata menggoda. Peluang ini, semakin membuat Titan percaya diri. Meskipun Bianca menatapnya tidak suka, akan Titan buktikan bagaimana permainan ini berlangsung. "Hellow, pig." kekehnya. "Yatuhan, dosa apa yang gue lakukan dikehidupan sebelumnya," erang Bianca putus asa. "Kenapa gue harus sama setan ini mulu." rutuk Bianca kesal. Sengaja menekankan itu untuk menyindir. Namun percuma karena Titan semakin gencar menggodanya. "Emang kayaknya lo ditakdirkan sama gue deh." bisik Titan geli. Cepat Bianca menggeleng. "Sakit jiwa lo." geramnya. "Ini kebetulan aja lo dibelakang gue, kenapa lo enggak geser aja biar gue sama Alana?" "Tapi mendingan gue sama lo deh daripada sama Tata." imbuh Titan. "Gue bisa digebukin Gavin." "Kenapa kagak lo gebukin balik? Biar sadar kalau dia tuh sering nyakitin Tata." ucap Bianca. "Gih, sama Tata aja sono." Memperhatikan Bianca dengan senyum mengejek, Titan hanya menyahut. "Udah diem aja. Bakal beres kok tugas lo kalau sama gue." Menelaah apa yang barusan Titan katakan, Bianca menghela napas panjang sebelum menggeleng. "Lebih tepatnya, kita bakal dapet nilai paling ancur." "Mau bertaruh nggak?" saran Titan kemudian. Namun Bianca langsung menggeleng. Sialan, Bianca benar-benar terjebak dengan semua kebetulan ini. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN