XXVIII. Kedatangan Tidak Terduga

2134 Kata
Recana itu menimbulkan bencana, pada sebuah rasa yang tak sepatutnya ada, kita berada dalam hentak yang semakin nyata. Bianca mengatur napasnya setelah selesai bersiap-siap untuk pergi ke sekolah tepat waktu. Semalam, setelah menyelesaikan seluruh contekan yang Titan berikan hingga pukul dua dini hari. Bianca bahkan terlelap tanpa merapikan ranjangnya yang berantakan. Karena ia sudah tidak punya tenaga untuk melakukannya. Namun sepanjang malam itu pula pikiran Bianca tidak lepas dari segala hal yang Titan lakukan. Mengenai PR yang mendadak Titan kerjakan, tumben? Titan bahkan tidak pernah peduli dengan semua tugas sekolahnya, itu pula yang membuat Bianca bertanya-tanya, lalu menemukan bahwa Titan sendirilah yang menawarkan tugas itu membuat Bianca tidak mengerti. Juga segala hal yang membuat Bianca kelimpungan untuk menerjemahkan apa sebenarnya yang terjadi. Bahkan, disaat Tata dan Alana bertanya banyak hal apa saja yang ia lewati hari ini, Bianca memutuskan untuk tidak mengatakan apa-apa. Baginya, apa yang ia lewati bersama Titan tidak ada yang istimewa. Lantas menepis pikiran itu cepat, sudah cukup Bianca semalaman terjebak dengan pikirannya, sudah cukup semalaman ia menerka-nerka, memahami apa sebenarnya, pagi ini Bianca hanya harus memikirkan nasibnya sendiri. Kini masih tersisa dua puluh lima menit untuk Bianca sampai ke sekolah tepat waktu. Bianca meringis, karena Ayahnya sudah tidak terlihat lagi. Mungkin Basir sudah pergi sejak tadi. Menyimpan dasinya didalam tas, Bianca tidak sempat mengenakan itu, lalu ia menarik jaket kulit dan memasang asal sepatunya. Setelah merasa semuanya siap didalam tas, Bianca berlari kecil keluar rumahnya. Menutup pintu rumahnya, Bianca berbalik badan dan terlonjak. Sosok dengan jaket kulit yang senada dengan miliknya tengah berdiri dengan tangan terlipat di d**a. Tepat dihadapannya. Dengan wajah songongnya yang tidak pernah berhenti membuat Bianca malas. Menatap Bianca dengan wajah menyebalkan, Titan terkekeh menemukan wajah kusut gadis gila itu didepannya. Jika saja Titan tidak lagi dalam rencana yang dilakukannya, menghindari Bianca adalah yang terbaik daripada berhadapan dengan gadis itu. Bianca tidak mampu lagi menetralisirkan keterkejutannya, memutar bola matanya jengah ia berdecak seraya menatap Titan galak. "Ngapain lo disini?!" "Nagih syarat yang gue kasi semalam." sahut Titan santai. Mengedipkan sebelah mata menggoda. "Lo kagak mungkin lupa kan?" Bianca menghela napas panjang. Ia pikir Titan hanya bercanda saat mengatakan itu. Tapi, bukankah Titan memang selalu bercanda setiap kali berdebat dengannya? Kemudian meneliti Titan dengan intens, Bianca berujar kembali. "Lo serius gak sih baik-baik aja?" kata Bianca pertama. "Gue anterin deh lo ke rumah sakit." Berlalu, Titan tidak menghiraukan gerutuan gadis itu, ia hanya melewati Bianca kesisi kiri untuk mengambil helm yang terletak dikursi depan sana, meraih helm yang ia beri pada Bianca kemarin Titan mengedipkan sebelah mata menggoda sebelum memasangkan helm itu pada kepala Bianca secara paksa. Seharusnya Bianca menepisnya, mencakarnya, memakinya atau sebentuk omelan lain yang biasa ia lakukan. Tapi aneh, karena pagi ini perlakuan Titan membuat Bianca seperti tidak punya tenaga untuk melakukan itu semua. Segala yang mampu ia ucapkan mendadak musnah begitu saja. Bianca terdiam, seperti membatu karena jaraknya dan Titan benar-benar dekat. Bagaimana helaan napas cowok itu bahkan mengenai anak rambutnya. Mengudara ditengah-tengah mereka, Bianca dapat merasakan kehangatan dari derunya yang terasa menenangkan. Hingga suara bariton yang tidak asing itu memecah kembali lamunannya. Bianca kembali menyadarkan dirinya. "Naik motor gue." Merasa bodoh karena ia begitu terpesona oleh sosok itu. Bianca mencari-cari sisa kesadarannya. Sialan memang, namun aroma Titan benar-benar menghipnotis Bianca. "Tan, serius lo apaan sih?!" Titan memperhatikan pergelangan tangannya sesaat, lalu berdecak. "Sekarang waktu lo tinggal lima belas menit. Buruan." titah Titan. Ia sudah berlalu dan kini berada diatas ninjanya yang terletak tidak jauh disana, mengulum senyumnya karena keberadaannya berhasil membuat Bianca berlonjak, Titan bersorak puas. "Tan--" erang Bianca. Harus dengan cara apa lagi Bianca mengatakan segala kegilaan ini? Pada segala hal yang pagi ini Titan lakukan? Tapi Titan pula memahami apa yang menjadi kekhawatiran gadis itu. Jadi ia berusaha meyakinkan. "Lewat gerbang belakang. Alana gak bakal tahu." Bianca terdiam sesaat. s**t, dari mana Titan tahu ia sedang memikirkan itu? Bianca tidak ingin Alana salah paham. Apalagi menjelaskan bagaimana ia dan Titan berakhir pergi sekolah bersama, itu bisa jadi berita teratas di Danirian. Menghela napas panjang, Bianca tidak punya pilihan selain menuruti. Menaiki ninja Titan disana, Bianca terdiam dengan semua pikiran yang sudah berkecamuk dikepalanya. Setidaknya untuk hari ini lagi, Bianca percaya semesta memang mendukungnya. Titan tidak bisa menyembunyikan rekahan sempurna yang terukir dibibirnya. Tahu bahwa cepat atau lambat taruhan ini akan ia menangkan, Titan menyeringai puas. Memperhatikan Bianca dari spionnya dan berujar. "Tumben..." Bianca sendiri sudah menghela napas dan memalingkan wajahnya, tidak ingin Titan besar kepala karena tahu hari ini Bianca sudah luluh. "Tumben apa??" sahutnya malas. "Tumben diem." kekeh Titan geli, menggoda. "Gue lagi mikir, niat jahat lo." sela Bianca cepat. Mengerti bahwa ini semua benar-benar mengejutkannya. "Dih, seudzon." sahut Titan, menyela cepat. "Terus? Kenapa lo jemput gue pagi ini??" tanya Bianca lagi, seolah-olah apa yang terjadi dan jawaban Titan masih tidak membuatnya puas. Tapi Titan mengedikkan bahu seraya berujar. "Gue enggak sengaja lewat." Dan tawa Bianca pecah disana. Setan ini, tidak sengaja lewat katanya? Sejak kapan jalan rumah Bianca menjadi tujuan yang dia lewati? "Terus, lo pikir gue percaya?" Titan tidak lagi menjawab, ia hanya masih menatap Bianca dari spionnya, membagi pandangannya pada jalanan sesekali, sebelum melajukan motornya. Membuat Bianca tersentak, hingga tanpa sadar tangannya berhasil memeluk pinggang Titan kuat. "SIALAN LO! PELAN-PELAN SETANN!" teriak Bianca kuat. Mengabaikan rutukan Bianca, Titan hanya terus melajukan motornya dengan kecepatan gila. Bianca juga sering melakukan ini, jadi, tidak ada alasan untuk Titan menghentikan kecepatannya. Membelah jalanan Jakarta dengan pagi yang berbeda, Titan tidak menyangka bahwa akhirnya ia pergi bersama gadis gila ini. Konyol, karena itu tidak pernah ada didalam kamusnya. Melewati berpuluh-puluh menit dengan rutukan Bianca, Titan tahu bahwa gadis itu sudah siap menerkamnya. "Lo ngejutin gue!" pekik Bianca lagi. Yang berakhir dengan rengkuhannya di pinggang lebar Titan bertahan hingga mereka sampai ketempat tujuan. Lalu, tidak butuh waktu lama hingga ninja Titan berhenti di gerbang belakang Danirian, Bianca melepas helmnya kasar, lalu memukul Titan kuat. "Lo pikir nyawa gue ada sepuluh?!" "Lah? Gue pikir lima belas?" goda Titan. Lagi pula gadis itu Bianca, Titan tidak mengkhawatirkan apapun saat ninjanya tadi membelah jalanan dengan brutal, karena Bianca tidak pernah takut apapun. Jadi apa yang Titan lakukan pula bukan masalah besar kan? "SETAN!" geram Bianca. "Benar-benar ya lo." erangnya. Titan pula sudah melepaskan helmnya , menoleh untuk memperhatikan Bianca, ia berdecak kembali. "Ayo." "Gue bisa sendiri nanti." yakin Bianca kembali. Mengangguk, Titan melampirkan tas dibahunya, melompat lebih dulu melewati gerbang belakang, ia bertahan dipuncak tembok sesaat sebelum berujar. "Sisa lima menit sebelum bel masuk. Buru!" "Duluan aja, gue enggak mau Alana salah paham." erang Bianca lagi. Tidak ingin kedatangannya dengan Titan malah menimbulkan banyak tanya. Mengangguk, Titan melambaikan tangannya sebelum berlalu meninggalkan Bianca. Hingga punggung itu menghilang, Bianca mengelus dadanya pelan. Tidak tahu karena kecepatan yang Titan bawa tadi, atau karena debaran itu menyeruak pada sesuatu yang lain. Dan Bianca benar-benar terdiam dengan semua perasaan aneh itu. *** Alana sudah melipat kedua tangan didada, memperhatikan objek yang baru memasuki kelas dengan wajah masam, ia memutar bola mata jengah ketika Titan mendekat dan tersenyum lebar kepadanya. "Dari mana aja?" tanya Alana pertama. "Gue tadi pagi mau nebeng, jahat banget sih enggak dijawab." sambungnya gusar. Mengelus pangkal kepala sahabatnya, Titan menatap Alana, sebelum berujar lembut. "Ana, lo tahu gue bangun jamberapa. Masa, gue biarin cewek pinter ini datang sekolah terlambat?" Menepis tangan Titan dari rambutnya, Alana menatap galak cowok itu dan berdecak. "Nyebelin deh lo!" geramnya. "Dari kemarin ya panggilan gue terus diabaikan." rutuknya, Alana tidak tahu apa yang salah, namun ia sengaja menekankan itu dengan sangat kuat agar Bianca mendengarnya. "Bikin curiga aja." Titan sendiri sudah terkekeh, masih berusaha untuk membujuk karena ia mengenal Alana lebih dari siapapun. "Iya-iya maaf, kemarin udah gue jajanin eskrim. Masih aja ngambek." Tapi itu tidak cukup karena Alana masih tidak mendengar Bianca mengatakan apa-apa, padahal sejak semalam itu yang ditunggunya."Males banget gue!" Titan tidak punya pilihan selain terus memohon kepada Alana, tidak juga ingin membuat sahabatnya itu gusar, karena sekali lagi Alana adalah segalanya. Titan hanya ingin membuktikan pada para petinggi Carswell yang lain, bahwa ia bisa, bahwa untuk menaklukkan Bianca bukan hal yang sulit. Jadi atas segala upayanya, Titan berharap Alana mengerti walaupun sesekali pandangannya tidak lepas dari punggung Bianca didepannya. Sementara Bianca, ia masih mendengarkan seluruh percakapan Titan dan Alana, meskipun sejak tadi Tata berceloteh disampingnya, suara Alana dan Titan seakan silih berganti berputar dikepalanya. Seperti, ada apa? Kenapa Bianca seperti ini? Seharusnya Bianca sudah sering mendengar rengekan manja Alana setiap kali bersama setan itu. Seharusnya Bianca sudah biasa mendengarkan betapa Alana sering meminta Titan memperhatikannya. Namun, setelah apa yang Titan lakukan kepadanya, Bianca seperti lumpuh oleh semuanya. Namun lagi-lagi fakta itu Bianca tekankan. Alana milik Titan. Sahabatnya itu, milik cowok songong tersebut. Bianca harus segera mengabaikannya, meskipun bohong karena beberapa hari ini pikiran Bianca malah tertuju pada semua yang Titan lakukan. Tapi Bianca akan tetap pada keputusannya. Tidak akan ada yang pernah mengecohnya, sekalipun itu Titan, sosok paling berpengaruh di Danirian. Dan berada dalam posisi yang kacau ini membuat Titan bingung. Hingga semua usaha ia kerahkan untuk membujuk Alana, sahabatnya itu malah memilih mengabaikannya. Membuat Titan kelimpungan, karena bagaimana pun ia tahu Alana tidak akan marah untuk waktu yang lama. Apalagi saat Alana memilih berbicara pada Bianca dan Tata, Titan hanya terus memusatkan perhatiannya pada gadis gila yang duduk tepat dihadapannya--Bianca. "Mumpung pak Desta belum datang, buru kerjain pr kalian." Alana yang berujar pertama. Apalagi saat mata Bianca dan Titan bertemu, Bianca memilih memalingkan wajah seperti biasanya. "Gue ngasi tau lo, Bi." kata Alana lagi. Ia sudah mengeluarkan buku tugasnya, memberi pr Matematika itu pada Bianca. Alana tidak mengerti, kadang kala perasaan takut itu muncul, perasaan kacau atas apa yang akan Titan lakukan, tapi Alana berusaha untuk meyakinkan bahwa segalanya akan baik-baik saja. "Jangan sampe dihukum lagi." "Gue udah ngerjain, sama Gavin." Tata yang menyahut pertama. Menoleh menatap cowok itu. Mendengar namanya disebut, Gavin mencondongkan tubuhnya. "Demi Tata. Apasih yang enggak?" "HALAH! BUAYA!" Zidan berteriak dari ujung. Meledek, karena sahabatnya yang satu itu memang begitu. "Udah dibuat nangis, baru dibaik-baikin." singgung Arkan geli. "Udahlah Ta, sama gue aja." sambungnya, mengedipkan sebelah mata menggoda. "Halah, lo semua juga buaya." Aiden ikut menimpali. "Kagak ada yang bener lo semua." Membuat teman sekelas mereka hanya menggeleng geli. Paham betul bagaimana seluruh petinggi Carswell itu sering sahut menyahut. Itu sebabnya 12 IPS 3, memegang kendali atas semua kelas. Lagi pula, memang ada yang berani berurusan dengan para pembuat onar itu? Bianca sendiri masih terdiam seraya mendengarkan semua ocehan tersebut. Hingga suara Alana menghentikan kebisingan itu lagi. "Diem deh, kenapa jadi ribut? Kerjain PR pak Desta, lo semua mau dihukum??" gerutu Alana kesal. "Iya neng, kenapa sih marah-marah mulu. Ngambek sama Titan, kita yang kena, tega~" Arkan menyahut dengan wajah sedihnya, membuat Alana mengerutkan dahi, lalu meminta Titan mengurus sahabatnya itu. "Pukulin Arkan gih, gedek banget gue liat mukanya." ujar Alana kemudian. "Aduh, jangan dong, kasian muka cakep gue ini." sahut Arkan tidak terima. Dengan Titan yang sudah terkekeh dari tempatnya. Bagaimana lagi menjelaskannya selain sejak tadi, matanya tidak berhenti menatap Bianca. Apalagi saat gadis itu memutar matanya jengah, Titan merasa semakin puas. "Gih Bi, kerjain, kenapa lo malah ngelamun?" imbuh Alana kembali. Bianca menggigit bibirnya, menatap Alana gamang seraya berujar. "Hm, gue udah ngerjain." ujar Bianca akhirnya. Membulatkan mata tidak percaya, Alana dan Tata serempak terlonjak dari tempatnya. "ANJIR, MIMPI APA??" Tata berseru pertama. Menggeleng tidak percaya. "SERIUS? KESAMBET APA LO??" Alana pula sudah mengerjap. "LO BAIK-BAIK AJA KAN, BI?" katanya memastikan. "ATAU, LO KETIBAN BATU??" Bianca menghela napas saat gerutuan dari kedua sahabatnya itu datang silih bergantian. Meneguk ludahnya, Bianca bingung harus mengatakan apa, akhirnya, tidak punya pilihan selain menatap Titan, ia menemukan si songong itu sudah menaikkan kedua alis menggodanya. Sialan! Akhirnya, memilih menutupinya, Bianca beralasan. "Gue nyontek di brainly..." Lalu tawa Titan pecah disana. Membuat seluruh teman sekelasnya membulatkan mata. Apalagi Alana dan Tata, mereka menatap Titan dengan pandangan tidak mengerti. "Lah, lo kenapa?" ujar Tata tidak percaya. "Kagak waras." "Kesambet setan kali..." Bianca menyahut cepat. "Kenapa sih??" omel Alana lagi. Titan hanya menggeleng, lalu menatap Alana lembut. "Abisnya, sahabat lo ini begonya sampe ubun-ubun." Bianca hendak protes tentu saja, namun, kedatangan pak Desta membuatnya menutup mulut. Bianca balik badan, dan menghela napas panjang. 'Hampir saja.' katanya seraya menyapu dadanya pelan. Mendengarkan semua perintah pak Desta yang meminta untuk segera mengumpulkan PRnya. Bianca bersyukur akan itu, Titan benar-benar menyelamatkannya. "Jangan lupa kasi gue hadiah setelah bantu lo." ujar Titan, saat Alana dan Tata sudah maju untuk mengumpulkan tugas mereka. Menoleh sesaat, Bianca menjulurkan lidahnya sebelum ke posisinya kembali. "Pamrih lo!" decaknya tanpa berbalik badan. "Simbiosis mutualisme," kekeh Titan. "Udah, diem!" rutuk Bianca pada Titan. Lalu ia berpura-pura sibuk dengan ponselnya, karena dilihatnya Alana dan Tata sudah mendekat. Bianca lebih bingung karena kini, perasaannya semakin terasa waspada. Harus ia katakan apa perasaan aneh ini? Saat hatinya perlahan mulai kacau, ada detak konyol yang menyeruak seperti tidak ingin berhenti. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN