Tidak ada yang tahu apa sebenarnya yang membuat sebuah tawa bernilai.
Entah karena perasaan kita nyata, atau karena salah satunya hanya senang bersandiwara.
Titan sudah merebahkan diri diranjang megah milik Alana. Setelah berbincang dengan om Sean dan tante Alice, ia langsung melarikan diri ke kamar sahabatnya itu. Suatu hal yang biasa karena memang dikamar Alana-lah mereka menghabiskan banyak waktu.
Alana mungkin masih tidak menyadari keberadaan Titan, karena sejak tadi gadis itu masih berada dikamar mandi.
Hingga Alana keluar dan menemukan Titan sudah menyeringai ke arahnya, Alana memekik nyaring, buru-buru ia kembali ke kamar mandi untuk menggunakan piama asal yang tersedia disana, lalu kembali lagi dengan wajah ditekuk masam. "Ngapain lo disini?" judesnya pertama. Kesal karena Titan tidak meresponnya. "Pergi."
Terkekeh, Titan mendekat, menarik ikatan rambut gadis itu, lalu berujar geli. "Nyamperin cewek kang ngambek." ucapnya kemudian.
Alana sendiri masih menatap Titan masam. Setelah seharian membuatnya bertanya-tanya, kini datang dengan wajah menyebalkan? Membuat Alana menggeleng tidak percaya. "Ngeselin lo!"
Titan tahu inilah yang akan ia dapatkan jika seharian ini tidak mengabari sahabatnya itu. Mengerti bahwa kadang kala kekhawatiran Alana memang terlalu berlebihan, jadi Titam berujar. "Iya-iya maaf, gue enggak megang hape tadi. Dicas dikamar." jelas Titan beralasan. Tidak ingin Alana khawatir lebih dari itu.
Tapi bohong jika Alana bisa mengabaikannya, karena perban kecil yang ada dilengan Titan membuatnya bertanya-tanya. "Lo jatuh?"
Cepat Titan menggeleng. Ia bahkan melupakan perban tersebut. "Kesenggol tadi enggak sengaja." racaunya kembali. Memastikan.
Alana sendiri masih menatap Titan penuh selidik. Jika Titan tidak mengabarinya, itu pasti karena Titan sibuk dengan yang lain. Menyadari bahwa objek itu diketahuinya, Alana berdecak. "Terus? Bian?"
Titan mengerutkan dahi tidak mengerti. Memangnya kenapa dengan gadis gila itu. "Kenapa dengan Bian??"
"Ya Bian mana??" erang Alana. Menghela napas panjang karena Titan masih tidak menyadari kekhawatirannya berdasar pada apa.
Barulah Titan mengangguk. Paham. "Udah gue antar pulang. Tenang aja, gak gue apa-apain sahabat lo."
Dan perkataan Titan lebih membuat Alana melongo tidak percaya. "Lo ngantar Bian pulangg??"
Titan mengangguk. "Kenapa?"
Alana menggeleng cepat. Kenapa katanya? Apakah harus Alana katakan pula bahwa ia cemburu? Haruskah ia beritahukan bahwa setelah seharian ini menunggu cowok itu, sementara Titan baru saja selesai menghabiskan waktu sepanjang hari ini bersama Bianca? Dan dia masih bertanya kenapa? Alana meringis."Tumben banget nganterin Bian pulang. Lo kan anti sama Bian."
"Ana--" erang Titan kemudian. "Lo tahu kan rencana gue?" sambungnya. Seharusnya Alana mengerti karena Titan pula sudah memberitahunya perihal itu semua.
Dan karena rencana itu pula Alana tahu ini akan terjadi. Bukan karena takut Bianca marah karena tahu semua ini, tapi lebih karena Alana tidak ingin Titan membagi waktunya bersama orang lain. Bahkan dengan sahabatnya sendiri. "Batalin aja taruhan itu, ngapain sih dengerin tuh rencana b**o!"
Titan menggeleng, tidak akan semudah itu. Ia sudah memulai semua ini, jadi harus Titan selesaikan. "It's okay, Ana! Asik kok, main-main."
"Tan--" erang Alana lagi. Memusatkan perhatiannya pada Titan. Membiarkan cowok itu melihat matanya, menatap Alana lekat. "Gue enggak ma--"
"Udah," potong Titan cepat. "Jangan bawel lagi. Lo harus percaya gue pasti berhasil. Gue pasti bisa, Ana." yakin Titan kembali. "Gue mau buat Gavin, Zidan, Arkan sama Aiden malu."
Alana hanya menggeleng tidak mengerti, perasaan takut dan tidak suka itu memenuhi seluruh pikirannya. Menggerogoti dalam dadanya. "Jangan sampai lo terjebak terlalu jauh."
"Ana, gue Titan. Apa yang perlu gue takutin?" yakinnya. "Naklukin cewek model Bianca? Lo tahu gue juara soal main-main kayak begini."
Alana tidak lagi berkomentar. Ia hanya beranjak seraya menyibukkan diri untuk meredam perasaannya yang kacau, lantas mengemas buku-buku pelajarannya, Alana melakukan itu untuk menutupi tatapan Titan padanya.
Alana pula sedang menunggu chat grup miliknya, Bianca dan Tata. Alana ingin Bianca menceritakan apa saja yang terjadi, tapi Alana tahu sepertinya Bianca lebih memilih untuk menutupi itu.
Merasakan perasaan itu tidak berhenti, Alana kembali menyinggung. "Enak dong bolos sekolah beduaan?" sindir Alana. Menoleh untuk melihat wajah Titan, ia kembali meneguk ludahnya. Tidak bisakah Titan melihat bagaimana perasaannya untuk cowok itu?
Titan sendiri sudah terkekeh dari kembali merebahkan dirinya. Menatap langit-langit kamar sahabatnya itu dan berdecak. "Gue nyaris gila. Tapi mau gimana lagi?"
Tidak ada sedikitpun perasaan lega saat Alana mendengar semua jawaban tersebut. "Sampai-sampai panggilan gue gak diabaikan." ungkit Alana kemudian.
"Lagi??" tanya Titan tidak percaya. Terkekeh karena Alana tidak akan berhenti. "Yaudah, yuk beli eskrim?? Biar enggak kesal karena itu mulu." rayu Titan. Dengan Alana yang sudah menyeringai dihadapannya.
See? Titan selalu punya cara ajaib untuk membuat suasan hatinya kembali membaik. Jadi Alana sudah bersiul girang. Lantas ia berujar kembali untuk memperingati. "Besok ada Pr MM, jangan enggak dikerjain lagi."
Titan mengangguk patuh. "Iya, perhatian banget sih." goda Titan. "Bakal gue kerjain malam ini, santai aja, oke??"
"He'em." sahut Alana.
Lalu keduanya berlalu, dengan Alana yang sudah mengulum senyumnya. Titan sendiri masih tampak tenang dan terlihat santai seperti biasa.
Namun malam itu Titan dapat rencana lagi, sebuah rencana untuk dapat pergi sekolah bersama Bianca besok. Dan ia bersorak dalam hati. Semesta pula seperti membantunya melewati semua ini.
***
Titan tahu rentetan pertanyaan itu tidak akan lepas dari mulut ke-empat petinggi Carswell ketika ia baru saja tiba dibasecamp. Tadinya Titan enggan untuk datang kesana, tapi ia tidak punya pilihan karena sebagai pemimpin pula Titan harus memastikan dan memperhatikaan keadaan basecamp.
Lantas ketika ia baru tiba, sorak-sorakan itu sudah mengudara dengan tidak sabaran. Memaksanya untuk segera menceritakan apa saja yang terjadi seharian ini.
Zidan, ia sudah menatap Titan lekat. Menyeringai sebelum merudung sahabatnya itu. "t*i, lo apain tuh cewek bar-bar??"
Arkan sendiri mengangguk. Masih memikirkan rencana apa yang Titan buat hingga Bianca bisa bersama sahabatnya itu seharian ini. Asli, sakit jiwa! Kenapa Bian bisa sama lo?" timpalnya. "Lo ancam?"
Gavin juga bersiul geli. "Diapart lagi? Gile-gile!" kekehnya seraya menggelengkan kepala geli.
Sementara Aiden masih mencerna itu semua. "Gak lo apa-apain kan??" tanyanya memastikan.
Titan menghela napas panjang. Merebahkan diri disofa panjang yang tersedia dibasecamp Caeswell itu, ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Bingung sendiri bagaimana merespon ocehan seluruh sahabatnya disana, hingga Titan memilih angkat kembali dan merokok sebagai gantinya. "Apa yang gue enggak bisa?" sahutnya kemudian.
Membuat ke-empat petinggi Carswell disana menatap malas pemimpin utama tersebut.
"Halah, masih sebulan. Gue gak yakin lo bertahan." ledek Arkan pertama. Masih berusaha untuk membuat Titan gentar. "Ini baru day one."
"Bentar-bentar," potong Aiden kemudian. "Ceritain kenapa Bianca bisa sama lo?" protes Aiden, setidaknya hanya itu yang ingin diketahuinya sejak tadi.
"Right! Kenapa lo sama Bianca bisa sama-sama bolos?" Zidan menambahkan. Sepertinya itu poin utama kenapa Titan dan Bianca bisa bersama seharian ini.
"Lo sogok berapa tuh cewek??" tuduh Gavin. Mereka mengenal Bianca, lantas menemui gadis itu bersama Titan sepertinya butuh banyak tenaga yang harus Titan korbankan.
Tapi Titan menggeleng mengabaikan. Gavin, Aiden, Arkan dan Zidan tidak perlu tahu pengorbanan yang ia berikan. Sahabatnya itu hanya harus melihat hasil akhirnya saja. "Udah, liat aja nanti." sahut Titan akhirnya. "Gue serahin mobil kesayangan gue, atau lo pada yang telanjang mutar lapangan."
"Kalem, kalem. Lo percaya sama gue, setan ini gak bakal menang!" yakin Arkan kembali. Tidak ingin gentar walaupun tidak bisa dipungkiri ia terus memikirkan harga dirinya sendiri.
Jika Titan sudah terkekeh disampingnya, keempat sahabatnya yang lain hanya menghela napas berat. Tapi bukan untuk menceritakan itu tujuan Titan kemari. "Gimana? Ada pergerakan dari anak Ocean?" tanya Titan akhirnya.
"Kagak ada." Gavin yang menyahut pertama. Tadi pula beberapa dari mereka dan pasukan Carswell yang lain sudah mencari tahu. "Udah capek kalik, kalah mulu." kekeh Gavin.
Zidan mengangguk cepat, menyetujui.
Tul," katanya. "Malu sih lebih tepatnya."
Aiden ikut membenarkan, lagi pula mereka mengenal sepengecut apa anak-anak Ocean. "Besar omong doang, nyali kayak kutu!" Aiden menimpali.
Barulah Titan bernapas lega. Setidaknya sudah cukup kesibukan yang harus dilaluinya, mengurusi masalah sepele seperti anak-anak Ocean dan Aerebos hanya membuang-buang waktunya. "So? Aman-aman aja sekarang kan??" tutur Titan setelahnya, dengan semuanya yang sudah mengangguk disana. "Tetap pantau pergerakan mereka, kalian tahu tugas masing-masing, oke?"
Dan perintah Titan lagi-lagi diterima dengan cepat.
Aiden pula masih menatap sahabatnya itu dan berujar. "Besok cabut lagi lo?" tanya Aiden penasaran. Mungkin mengkhawatirkan Bianca bersama Titan adalah yang utama.
Titan mengedikkan bahu santai. Harus ia tunjukkan siapa yang mereka ajak untuk bertaruh kali ini. "Gue harus menangin taruhan ini."
Jawaban Titan pula menghentak Arkan, Aiden, Gavin dan juga Zidan. Mereka tahu Titan tidak main-main, tapi ini Bianca, keraguan mereka atas itu membuat kelegaan kadang kala muncul, tapi jika Titan berusaha lebih dari sebelumnya, mereka jadi was-was sendiri.
"Jangan serius-serius amat t*i!" gerutu Arkan kemudian.
"Tau ah Tan, santai aja. Jangan terlalu keliatan." Zidan menambahkan. Takut jika perubahan Titan pada Bianca membuat gadis itu berpikir yang tidak-tidak.
"Benar Tan, kalau lo secepat itu Bianca pasti salah paham." Gavin ikut menimpali. Sementara Aiden hanya menghela napas panjang.
Titan sendiri sudah mengulum senyumnya puas. Menyeringai geli seraya berdecak. "Kenapa? Takut?" kekeh Titan kemudian. Ia tahu seruan itu malah terdengar seperti ketakutan.
Arkan menggeleng cepat. Disusul Zidan setelahnya. "Buat apa kita takut?!" sahut Arkan.
Zidan pula membenarkan. "Kita takut aja lo gagal."
Tapi Titan sudah terlanjur tidak peduli. Apapun yang akan ia lakukan adalah urusannya. Sekalipun berhadapan dengan Bianca adalah bagian tersulit, Titan akan tetap memperjuangkan itu demi kepuasan dan kemenangannya.
"Eh-eh, tadi Dino sama Fajri berantem." jelas Gavin tiba-tiba. Memotong pembicaraan. "Gegara cewek."
Tidak ada yang peduli tentu saja. "Norak." geleng Arkan tidak percaya.
Titan sendiri sudah terlalu muak setiap kali mendengarkan permasalahan yang sama hanya karena seorang perempuan. Jadi sebagai pemimpin utama Carswell dan pasukannya bermasalah, harus Titan selesaikan dengan baik. "Suruh ketemu gue besok." titah Titan setelahnya.
"Mau lo apain?" tutur Gavin. Walaupun tahu Titan hanya akan menyelesaikan itu semua.
"Gue kelonin!" sela Titan. Membuat keempat petinggi Carswell tersebut sudah tertawa keras.
Mereka paham bahwa candaan Titan kadang hanya sebuah kata-kata tidak lucu tapi berhasil membuat mereka tertawa lepas. Maka, kedua pasukan Carswell pembuat masalah itu akan menanggung akibatnya sendiri. Karena moto Carswell adalah, tidak ada perkelahian yang boleh terjadi hanya karena masalah kecil, apalagi karena seorang perempuan.
"Tan, gue nginap ya?" kata Zidan kemudian.
Tapi Titan menggeleng cepat. "Kagak, rumah Gavin aja sono," tolak Titan mentah-mentah.
"Anjing, pelit t*i!" gerutu Zidan gusar. Ia hanya butuh istirahat dengan tenang mengingat apartemen Titan tempat satu-satunya yang aman. Karena Zidan malas diomeli oleh orang rumahnya.
Mengabaikan itu, Titan tetap pada keputusannya. Tidak peduli wajah memohon Zidan, ia tidak akan luluh.
"Lagian lo sendirian, biarin lah Tan si homo ini sama lo." ucap Gavin, menyela cepat.
"Eh t*i, gue masih suka sama cewek ya!" sahut Zidan tidak terima. Gavin sialan.
"Oh ya? Gue pikir lo suka andom." kekeh Arkan meledek, ikut-ikutan.
Mengerutkan dahi, Zidan menggeleng kuat. "b*****t, amit-amit."
Titan pula sudah tertawa. "Jangan gitu woi, kasian tuh cowok aneh." imbuh Titan.
"Tau Dan, dia butuh pendamping yang bisa ngelindungin dia kayak elo." tambah Aiden cepat. Ikut meledek.
"Najis! Kenapa kagak lo aja??" protes Zidan malas. Meninggalkan gelak tawa yang semakin gila dibasecamp tersebut.
Hingga malam semakin pekat, kelimanya masih membicarakan banyak hal. Segala hal gila yang tengah mereka lewati, juga semua kekonyolan yang kian lama semakin terasa menyenangkan.
***
Setelah berdebat panjang dengan Zidan yang ngotot ingin tidur diapartemennya, Titan memenangkan itu. Merasa puas karena ia berhasil mengabaikan sahabatnya yang satu itu, Titan merebahkan diri diatas sofanya. Melirik pada pergelangan tangannya yang masih menunjukkan pukul sebelas dini hari, Titan terdiam dengan semua pikiran dan rencana yang sudah dipikirkannya sejak tadi.
Mengulum senyumnya, ia mulai membuka ponselnya. Membalas beberapa pesan dari Alana, sebelum kembali menekan panggilan video pada kontak yang Titan namai cewek gila.
Pada deringan pertama masih tidak diterima, hingga deringan hampir berakhir, sebuah wajah masam disebrang sana berhasil membuat Titan terkekeh. Aneh? Memang! Tapi begitulah semua keadaan itu terasa menggelikan.
Sementara disebrang sana, Bianca baru saja selesai berbincang dengan ayahnya. Beranjak kekamarnya, ia memang sedang membalas pesan dari Tata. Paham betul kebawelan yang terus sahabatnya itu lontarkan dan desakan agar Bianca segera menceritakan apa saja yang terjadi hari ini.
Hingga panggilan dari nama yang tidak asing muncul dilayarnya, Bianca tidak tahu kenapa ia menekan layar itu kekanan dan menerimanya dengan ogah-ogahaan. "Apaan sih? Ada apa lagi? Lo mau nyuruh gue benerin perban lo? Mau nyuruh gue ngepel? Beresin apart? Atau nyuci piring??"
Dan pertahanan Titan benar-benar hancur. Ia tertawa hanya karena gerutuan yang terus Bianca lakukan di sebrang sana.
Bianca sendiri tidak mengerti kenapa ia menerima panggilan itu. Seharusnya Bianca tinggal mengabaikannya, seharusnya ia mencoba untuk tidak peduli, tapi aneh karena Bianca malah dengan cepatnya mengangkat panggilan tersebut.
"Gue bahkan belum ngomong apa-apa, tapi lo udah nyerocos kayak obor." Titan berdecak pertama dengan kekehan geli yang tersisa. Harus Titan akui kadang Bianca memang selucu itu. "Dengerin dulu makanya."
Bianca tahu ada banyak alasan kenapa Titan melakukan ini. Menghubunginya, melakukan panggilan video yang sama sekali tidak pernah mereka lakukan. Aneh. Jadi tidak salahkan Bianca menerka? "Terus? Apa? Ngapain nelfone gue??"
Menyisakan senyum menjengkelkan yang masih Bianca simpul, ia menaiki kedua alisnya untuk membuat Titan mengatakan sesuatu.
Titan pula hanya berdeham sebelum menyahut. "Memangnya kenapa? Enggak boleh??"
Dan jawaban Titan sukses membuat Bianca menatapnya tidak percaya. Bianca rasa Titan memang terbentur begitu kuat, hingga membuat kelakuannya menjadi seperti ini. "Apasih! Aneh deh lo!" erang Bianca setelahnya. "Tan mending lo kerumah sakit sekarang dari pada makin parah."
Menyeringai geli, Titan menggeleng, tapi pandangannya masih tidak lepas dari wajah masam Bianca disebrang sana. Wajah menyebalkan yang tidak pernah berubah setiap kali mereka berhadapan.
Titan masih terkekeh, sementara Bianca sudah menggenggam ponselnya keras. Bagaimana wajah Titan menghiasi seluruh layarnya, Bianca tidak tahu kenapa itu terasa seperti sesuatu yang begitu aneh. Lebih aneh karena ia tidak mengabaikannya, Bianca malah terus membiarkan panggilan itu berlangsung tanpa mencoba untuk memutuskannya.
Hingga dalam hening itu mereka hanya diam dan terpenjara, Titan akhirnya berujar. "Besok ada pr Matematika." kata Titan akhirnya. Ia sudah menyusun rencana sebagai modus yang akan dilakukannya kali ini.
Terlonjak, Bianca membulatkan mata. Sialan, karena Tata tidak mengatakannya. Namun, menepisnya, Bianca pura-pura baik-baik saja dengan itu. Ia akan mengurusnya walaupun Bianca tahu pelajaran itu adalah kelemahannya. "Ya terus kenapa?"
"Udah lo kerjain?" tanya Titan langsung. Ia menahan senyumnya karena tahu Bianca bahkan tidak tahu PR itu diberikan mengingat mereka tadi sama-sama bolos.
Jadi Bianca mengedikkan bahu. Lagi pula apapun yang akan ia kerjakan sama sekali bukan urusan Titan. Dan disongong itu tidak punya hak untuk tahu. "Kepo. Bukan urusan lo juga."
Akhirnya Titan mengangguk. Paham. Paham betul ia akan mendapatkan reaksi seperti ini, namun, bagaimana semua seruan dari Bianca malah terdengar semakin menantang, Titan mengelus dadanya dengan sabar. "Mau gue bantu kerjain??"
Kali ini apakah harus Bianca diagnosa sendiri bahwa Titan sepertinya gegar otak? "Gue lagi kagak salah dengar kan??"
Titan tidak menyahut itu, hanya memberi Bianca perintah yang lain.
"Cepat, ambil buku sama pulpen."
Tentu Bianca tidak akan mendengarkan itu. "Dih, ogah! Gue bisa nyontek Alana." tolak Bianca mentah-mentah.
"Alana udah tidur." jawab Titan kemudian. "Tapi terserah lo sih, kalau lo mau dihukum dan masuk buku hitam lagi, itu terserah lo."
"Gue bisa liat punya Tata!" ujar Bianca lagi, masih bersikeras pada keputusannya.
"Ya kalau lo mau goreng telur, enggak masalah. Silahkan nyontek sahabat lo yang pintarnya sebelas dua belas sama lo." kekeh Titan.
"Sialan lo!" umpat Bianca geram.
"I'm." sahut Titan songong. "So? Mau gue bantu, atau nyontek? Lo yakin sempat nyontek disaat lo sendiri ratunya telat??"
Menggerutu, Bianca tidak punya pilihan selain menuruti itu. Akhirnya, meletakkan ponselnya diatas bantal, Bianca beranjak untuk mengambil pulpen dan juga kertasnya.
Mengikat rambutnya lebih dulu, Bianca meletakkan kertas kemudian menatap Titan kembali. "Udah, cepet bantuin."
Titan tergelitik, benar-benar geli sendiri karena kelakuan Bianca. Namun, bagaimana gadis gila itu menyisakan leher jenjangnya, sementara rambutnya di-ikat asal-asalan, Titan terpana. "Sejak kapan cewek gila kayak lo mikirin pr?"
"Jangan bacot. Mau bantuin apa kagak??" sela Bianca.
Mengangguk kembali, Titan meraih bukunya, sebelum ikut menjelaskan pada Bianca. "Nomor satu, mudah." kata Titan pertama.
"Mana? Soalnya aja gue gatau!" rutuk Bianca kesal.
Menghela napas panjang, Titan menahan amarahnya. Tidak pernah ada yang seberani ini membuatnya berusaha. Membuatnya sesabar ini.
"Yaudah, catat nih!" geram Titan. Dengan Bianca yang sudah berdeham disebrang sana. "Atau, lo mau gue kerumah lo aja?" saran Titan kemudian.
Cepat Bianca menggeleng. "Enggak, ayah gue galak. Lo mau di-intogerasi kenapa malam-malam kesini??"
"Enggak masalah. Lagian, gue Titan. Apasih yang harus gue takutin?" jawab Titan, sama seperti sebelumnya jika Bianca terus mengkhawatirkan masalah ayahnya. Tapi Titan tahu itu hanya wujud dari penolakan yang gadis itu berikan.
Bianca sendiri sudah berdecak dengan tidak sabaran. "Udah, cepat, baca aja!" desak Bianca.
Lalu Titan benar-benar memulainya. Menghela napas panjang dan berujar. "Soal pertama, nilai dari 8 kali ulangan matematika Karina ada--"
"Pelan-pelan anjir, lo kira gue google???" sela Bianca lagi.
"Yatuhan, lo mau gue sepelan apa t*i!" geram Titan setelahnya. Hampir dipuncak sudah seluruh amarah yang dipendamnya setiap kali berhadapan dengan gadis ini.
"Pelan ish!!" gerutu Bianca lagi. "Siapa suruh lo nawarin diri??"
"Yaudah cepat kita ulangi," hela Titan malas. "Awas lo!" sambungnya sebelum melanjutkan kembali. "Nilai dari 8 kali ulangan matematika Karina adalah 9,7,7,7,6,8,8,8. Maka, nilai rata-rata dari ulangan Karina adalah?"
Bianca masih mendengarkan, tidak juga fokus pada Titan yang ada dilayarnya, karena ia benar-benar tidak ingin dihukum lagi. Setelah mencatat soal itu, Bianca membacanya pertama, menyudahinya sebelum melongo menatap Titan kembali.
"Lo kagak tahu??!!" decak Titan tidak percaya. Harus bagaimana ia mengatakan kebodohan yang Bianca miliki?
Bianca menggeleng dengan cengiran dibibirnya. "Gue b**o matematika."
"Ralat. Lo b**o disemua pelajaran." geram Titan.
"Sialan lo," rutuk Bianca. "Gue nyontek lo aja lah, ya,ya??" rayu Bianca lagi. Mau sampai kapan ia menyelesaikan semua ini jika soal pertama sulitnya sudah seperti ini?
"Kerjain dulu, nanti gue ajarin." pesan Titan lagi.
"Ih, ribet. Bisa sampe subuh kalau lo ngajar gue sekarang." decak Bianca.
Lalu Titan tahu inilah alasan terbaik atas apa yang dilakukannya malam ini, menyeringai Titan berujar. "Oke, gue izinin lo nyontek punya gue kali ini. Tapi dengan satu syarat."
Menggerutu, Bianca menyimpan tangan didagunya, menatap Titan lekat, meskipun hanya dari panggilan video disana, Bianca tahu bagaimana si songong itu seperti tengah merencanakan sesuatu yang gila.
"Pergi sekolah bareng gue besok." pinta Titan tanpa basa-basi.
Lalu Bianca menggeleng cepat. "Ogah! Lo kenapa sih hari ini? Aneh banget tahu nggak?!"
"Gue baik, dibilang aneh. Mau lo apasih??" sergah Titan.
"Mau nyontek, tapi enggak mau kesekolah bareng lo. Alana bakal salah paham." ucap Bianca.
"Nanti gue yang jelasin..." imbuh Titan, lagi-lagi Alana.
"Enggak! Apaan sih Tan!" geram Bianca. Menengadahkan kepala untuk menatap kembali sosok disebrang sana yang tengah menggigit pensil dibibirnya, sialan, karena Titan benar-benar membuat Bianca meneguk ludahnya. Memperhatikan bagaimana pesona Titan tidak pernah pudar, hingga Bianca sendiri membayangkan bagaimana jika dirinya berada dibawah kuasa cowok itu. Mendekap pada bibirnya yang menggiurkan dan membuat Bianca kacau diwaktu bersamaan.
Bianca menggeleng cepat. Mencari-cari sisa kesadarannya. Sepertinya lama-lama seperti ini malah membuat kesadarannya habis begitu saja.
"Jadi, lo mau hubungan kita dirahasiakan??" kekeh Titan, menggoda.
"Eh setan! Enggak jelas banget sih lo!" decak Bianca, Titan benar-benar membuatnya tidak bisa memikirkan apapun. "Lo kenapa sih sebenarnya?!"
Titan hanya tertawa, menoleh kembali pada pergelangan tangannya, sudah hampir satu jam ia melakukan panggilan bersama Bianca.
Mungkin, satu-satunya alasan Titan menolak Zidan untuk tidur dirumahnya, karena ia ingin mengusik Bianca. Menyusun rencana agar Bianca tidak hanya ditaklukkanya, namun juga berhasil ia kelabuhi. Merasa bahwa sudah cukup untuk hari ini, Titan berujar kembali. "Tidur sana, jangan telat bes--"
Dan Bianca langsung memutuskan panggilan itu begitu saja. Ia merebahkan diri, menyimpan ponsel didadanya, sementara matanya terpejam memikirkan apa yang seharian ini Titan lakukan.
Sosok songong itu berbeda, sosok menyebalkan itu kali ini membuat Bianca bertanya-tanya. Bagaimana? Apakah Bianca harus mengatakan ini dan menceritakan semuanya pada Tata dan juga Alana? Menggeleng, Bianca memilih untuk tidak mengatakan itu. Lagi pula, tidak ada apa-apa,Titan hanya memberinya contekan, itu saja. Mengenai apa saja yang terjadi hari ini mungkin sebaiknya Bianca menyimpan itu semua.
Sialan! Kenapa Bianca harus mengkhawatirkan itu??
Hingga semua tanya masih terus berputar dikepalanya, sebuah suara kembali memecah hening. Sebuah pesan dari Titan beserta PR Matematikanya.
Setan Sialan
Kerjain, atau lo yang gue kerjain??
Setan Sialan
Jadi? Lo takut Alana tahu hubungan kita?
Bianca Dialova
Sumpah lo gaje!
Setan Sialan
See u, babi.
Jika Titan sudah mengulum senyumnya, Bianca memilih melupakan apa saja yang terjadi seharian ini.
Titan milik Alana. Memang, siapa yang tidak tahu?
***