Ada semu yang kadang kala sukar diterima,
berharap bahwa itu nyata dan tidak sekedar hayalan belaka.
Mencerna dan berusaha menerima bahwa tidak ada yang tidak nyata.
Perasaan untuk jatuh cinta itu, kembali terbuka. Meski seberusaha apa mengabaikannya.
Titan sudah menghentikan ninjanya disebuah perumahan asing yang pertama kali dilihatnya. Melewati banyak sekali jalan setapak dan beberapa gang kecil, Titan menelusuri jalanan itu sesuai yang Bianca beritahukan, hingga sampailah ia pada sebuah rumah sederhana dengan pohon rindang yang menjadi objek utama dihalamannya. Titan memperhatikan sekelilingnya.
Meskipun sepanjang perjalanan diisi dengan perdebatan Titan dan Bianca, mereka masih saja memperdebatkan banyak hal. Hanya hal-hal kecil seputar beloknya lewat mana, atau ada jalan tembus yang bisa lebih cepat, atau jalan jauh yang harus ditempuh tanpa kebingungan, dan perdebatan mereka tidak berhenti hanya karena hal konyol itu. Seolah-olah keberadaan mereka dimotor yang sama adalah sebuah kesalahan. Tidak seharusnya mereka bersama karena tahu itu hanya menimbulkan kegaduhan seperti dineraka.
Jika Bianca sudah mengerucurkan bibirnya masam karena Titan terus mengusiknya, Titan sendiri tidak mengerti karena ia sudah menyunggingkan senyum puas saat mengetahui rumah Bianca. Setidaknya, apa yang akan menjadi pegangan sebulan kedepan untuk memenangkan taruhan itu, Titan sudah memikirkannya secara matang.
Melepaskan helm fullface dari kepalanya seperti biasa, Titan mengacak rambutnya asal karena pengap, hingga tidak menyadari bahwa pesonanya mampu membuat Bianca meneguk ludah dan melongo memperhatikan itu.
Beberapa tetes keringat yang berjatuhan diwajah Titan, peluh itu sendiri bahkan terlihat begitu mempesona diwajah si songong itu? Bagaimana bisa seperti itu?
Walaupun Bianca bersumpah tidak akan mengakui itu, ia hanya memalingkan wajah karena perasaan takut itu juga mulai menghantuinya.
"Ini rumah gue," jelas Bianca kemudian, lantas tanpa basa-basi ia berdecak kembali. "Yaudah, pergi sana." usir Bianca setelahnya. Ia sudah menyerahkan helm yang Titan pinjamkan kepadanya, mengembalikannya dengan ogah-ogahan. "Makasih!"
Terkekeh, Titan mengedikkan bahunya acuh. "Simpan aja." sahut Titan kemudian. Ia masih memperhatikan sekelilingnya, menerka-nerka apa yang harus dilakukannya.
"Enggak ah, ngapain? Buat apa coba?" gerutu Bianca. Menolak itu. Menatap Titan tidak mengerti, tidak ada alasan untuk Bianca menyimpan helm tersebut. "Menuhin rumah gue doang." sambungnya malas.
Tapi hanya dengan cara itu Titan dapat melakukan rencananya, tentu untuk alasan terbaik bahwa ia bisa terus mengunjungi gadis menyebalkan ini. Jadi, Titan hanya berdecak. "Terserah, mau lo buang, mau lo jual, lakukan apapun yang lo mau. Jangan bawel."
Bianca mengerutkan dahi, seraya menggeleng kuat. "Ih Tan, apaan sih? Bawa aja, nanti lo jemput Alana, masa dia gak pakai helm??" sergah Bianca, beralasan. Ia tidak ingin apapun yang terjadi hari ini membuat Alana bertanya-tanya.
Titan memperhatikan gadis itu, jadi? Semuanya hanya perihal Alana? Apa Bianca memang selalu mementingkan sahabatnya diatas segalanya? "Alana punya satu lusin helm." sela Titan kemudian. "Dan Ana lebih sering sama supirnya."
Merasa percuma terus berdebat dengan setan sialan itu, Bianca memilih mengalah. "Terus?"
"Apa?" sahut Titan tidak mengerti. "Terus apa?" beonya kembali. Bianca--gadis gila ini memang senang membuatnya berpikir.
Bianca memberi arahan agar Titan segera pergi. "Ngapain lo masih disini? Buru! Pergi sana!"
Melirik pergelangan tangannya, Titan berujar kembali. "Kenapa? Sekarang waktunya lo ngepet?"
"IYA! Gue mau ngepet sekarang, puas lo?" sergah Bianca dengan mata membulat sempurna. Kesal. Titan memang tidak pernah berniat untuk tidak berdebat dengannya.
Titan pula tidak akan menyerah, harus ada yang ia dapatkan untuk memulainya. Harus ada timbal balik atas segala yang akan dilakukannya. Lantas menoleh kepintu utama rumah Bianca, Titan menyunggingkan senyumnya seraya berujar. "Lo gak nawarin gue masuk??"
Cepat Bianca menggeleng. Apa Titan mabuk? Untuk apa pula dia basa-basi seperti ini? Jadi Bianca harus memikirkan alasan terbaik untuk menolak itu secepatnya. "Ayah gue galak, lo mau disemprot?" decak Bianca. "Lagian enggak ada yang istimewa dirumah gue."
Titan terkekeh, menaikkan kedua bahunya seraya menatap Bianca menggoda. "Emang gue keliatan takut?" ledeknya. "Walaupun ayah lo galak, gue kan enggak ngapa-ngapain lo." ucapnya lagi. "Dan gue bukan mau ngepet dirumah lo, istimewa atau kagak, emangnya gue peduli?"
"Yaterus? Ngapain lo mau kerumah gue?" kata Bianca, menyelidik. "Huh? Mau ngapain lo?" tanya Bianca lagi, menyudutkan.
"Emang, harus ada alasan kalau gue mau main kerumah lo?" kekeh Titan lagi, mengulum senyumnya. "Gimana kalau gue cuma mau kenalan sama orang rumah lo?"
Menggigit bibirnya pelan, Bianca kembali menggeleng. "Yakin lo mau kenalan sama orang rumah gue? Gue sering cerita sama ayah gue loh soal kesongongan dan betapa menyebalkannya lo!" decak Bianca, memperingati. "Maka dari itu, gue yakin ayah gue bakal gebukin lo, karena gue sering kasi tahu sama dia kalau lo suka gangguin gue."
Hening, Titan hanya menatap gadis itu. Memusatkan seluruh perhatiannya pada Bianca, lalu ia terkekeh. "Gue bisa yakinin ayah lo, kalau a--"
"Serah!" potong Bianca akhirnya. Memutar bola matanya jengah. "Buruan masuk kalau gitu. Capek gue bediri mulu!"
Lalu Titan tertawa. Menggeleng geli, ia hanya mengedipkan sebelah mata menggoda. "Next time deh. Gue lagi jelek hari ini." erangnya seraya menggunakan kembali helm fullfacenya.
Bianca langsung menatap cowok itu heran, dengan jaket kulit yang senada dengan motornya, Titan benar-benar mampu membuat semua orang meneguk ludah hanya karena melihatnya. 'Jelek?' Beo Bianca dalam hati. Bagian mana coba yang jelek?! Ish! Tapi tentu saja sekali lagi Bianca tidak mau mengakui itu.
Tubuh Titan adalah pahatan sempurna yang Tuhan ciptakan. Bahkan dibalik helm fullfacenya, Bianca masih terpaku memperhatikan segaris mata indah yang tersisa disana. Gila, tapi keindahan Titan memang benar adanya. Jika saja Bianca tidak mengenal setan ini, jika saja Bianca tidak mengetahuinya, Bianca mungkin harus mengakui bahwa bisa saja ia jatuh cinta pada sosok itu.
Titan sendiri menyadari Bianca terdiam dan memperhatikannya, Titan berujar. "Apa lo emang sering melamun kayak begini?" singgungnya. "Atau setiap kali ngeliat gue doang?" sambung Titan puas.
Bianca langsung menunjukkan raut gelinya. Apa Titan memang ditakdirkan setidak tahu malu ini? "Kepala lo kebentur kali ya tadi pagi?" tebak Bianca. "Sumpah, kayaknya lo harus benaran periksa deh ke RS."
Titan terkekeh seraya berujar kembali. "Enggak perlu, biar lo jadi tersangka utama kalau gue kenapa-kenapa."
"Dih najis." sela Bianca cepat. "Gue orang pertama yang akan menyangkal semua tuduhan gila lo itu."
"Gimana? Kayaknya beberapa anak Danirian ngeliat lo sama gue?" ledek Titan kembali. "Dan itu pasti jadi alasan utama kalau lo yang akan jadi saksi."
"Ya gue tinggal kasi tahu aja yang sebenarnya." sela Bianca cepat. "Gue ngarang aja sesuka gue, kasi tahu lo mabok, lo ngantuk." sambungnya bertubi-tubi.
Titan pula sudah benar-benar tertawa lapas. Kadang kala ia ingin mengakui bahwa berbincang dengan Bianca sebenarnya jauh lebih seru dan kerap membuatnya tertantang. Kadang kala Titan ingin menunjukkan bahwa mereka memang senang memperdebatkan banyak hal, karena hanya Bianca, Titan tidak menemukan segala hal yang Bianca miliki pada gadis lain. Itu sebabnya, membuat Bianca bungkam adalah tujuan utama setiap kali Titan beradu mulut dengan gadis itu.
Merasa lelah, Bianca memeluk helm pemberian Titan, seraya mengusir cowok itu lagi dan lagi. "Yaudah sana!"
Memberi jari tengah pada Bianca, Titan berujar. "Ngusir mulu lo kayak ibu-ibu ftv."
Bianca masih menggeleng dengan tatapan tidak mengerti, Titan benar-benar membuatnya bingung. "Gakjelas lo," rutuk Bianca akhirnya. "Udah pergi sana. Pegel gue!"
Bahkan dari balik helmnya, Bianca dapat mendengar kekehan geli dibibir si songong itu.
Lantas Titan berujar. "Ye siapa suruh lo bediri disitu?"
Menghentak kakinya kesal, Bianca berbalik badan dan berlalu. Hingga sampai pada ambang pintu, ia menoleh untuk melihat Titan. Menemukan si songong itu masih menatapnya dengan kekehan geli, Bianca membalasnya kembali dengan memberikan jari tengahnya dan berlalu.
Karena hari ini saja, Titan sudah membuatnya menahan banyak sekali kesabaran.
Mengulum senyumnya, Titan kembali merapikan jaketnya, menghidupkan motornya lalu berlalu dari sana. Sebuah ide yang kembali terlintas untuk memenangkan taruhan itu.
Namun, baik Bianca dan Titan tidak tahu, bahwa sejak tadi seseorang sudah memperhatikan mereka dengan tangan mengepal kuat.
***
Bianca memasuki rumahnya perlahan, ia harus menghindari ayahnya untuk memastikan Basir tidak menceramahinya karena pulang setelat ini tanpa memberi kabar.
Namun baru saja tiga langkah melewati ambang pintu utama Bianca terlonjak karena Ayahnya sudah berdiri dengan kedua tangan terlipat didadanya.
Menyunggingkan senyum lebarnya, Bianca terkekeh sebelum mendekat untuk mengecup pipi Ayahnya tersebut. Cara aman untuk menjelaskan keterlambatannya hari ini.
Basir sendiri sudah menatap putrinya tajam, menggeleng sebelum berujar. "Dari mana aja? Seneng ya bikin Ayah khawatir??"
Memeluk manja Basir, Bianca menggosok wajah didada ayahnya sebelum membawa Basir duduk disofa panjang ruang tengah rumahnya itu. Mengerjap, Bianca berujar. "Bianca ceritakan semuanya oke? Jadi stop, ayah enggak usah bawel lagi."
Mengerti bahwa putrinya itu akan selalu seperti ini, Basir mengangguk disana. Bianca selalu punya alasan, dan tugas Basir lah yang mendengarkan itu semua. "Iya, kasi tahu ayah secepatnya alasan apa yang buat anak ayah pulang sekolah semalam ini."
Menghela napas panjang, Bianca mulai menjabarkan rentetan kejadian itu satu persatu, lalu menceritakan semua yang terjadi hari ini, tidak ada yang Bianca lewatkan, bahkan ia bolos sekolah pun Bianca katakan semuanya.
Tentu Bianca adil dalam membawa perihal segala yang terjadi padanya dan Titan, karena sosok songong itulah menjadi pemicu utama Bianca pulang terlambat dan bolos sekolah kali ini.
Menyuarakan protes dan segala yang terjadi disebabkan oleh Titan, Bianca berdecak. "Salah Titan tuh semuanya, yah. Bianca diseret supaya ngikutin dia."
Basir benar-benar menyunggingkan senyumnya. Lihat? Ia selalu bisa menebak bahwa ada alasan kenapa putrinya ini sering membuatnya khawatir. Namun bukan itu poinnya, melainkan cerita yang Bianca katakan membuatnya menggeleng dan terkekeh geli. "Ayah rasa, anak ayah ini juga seneng bolos sekolah??" ledek Basir kemudian. "Buktinya malah ketiduran, bukannya langsung pulang."
Mengedipkan sebelah mata menggoda, Bianca mengacungkan jempolnya. "Ayah tahu aja." kekehnya geli. "Lagian Bianca juga enggak sadar tiba-tiba bangun udah malam aja."
"Dasar..." kekeh Basir kemudian. "Seharusnya Bianca ngabarin Ayah dulu. Ayah pikir kamu kemana, udah malem gini belum juga pulang."
Bianca tahu itu kesalahan, biasanya jika ia terlambat setelah quality time bersama Alana dan Tata, Bianca akan selalu mengabari ayahnya. Tapi kali ini, bersama Titan seharian, Bianca benar-benar lupa karena ia sudah terlanjur lelah. "Bianca ketiduran diapart tuh setan." ucap Bianca lagi, menjelaskan walaupun tadi sudah ia katakan. "Abisnya tidur dirumah Tata kemarin enggak nyenyak, ayah."
Basir tidak mengerti kenapa putrinya ini selalu menggebu-gebu setiap menceritakan segala hal mengenai cowok yang disebutnya setan tersebut, namun Basir terkekeh karena seiring dengan kemarahan dan kebencian dari bibir Bianca, putrinya itu memiliki sesuatu yang berbeda dimatanya. Jadi Basir berujar. "Hus, enggak boleh gitu. Bukannya dia nyelamatin Bian dari hukuman disekolah?"
"Enggak ayah." sela Bianca cepat. "Kalau aja Titan enggak jatuh, Bian enggak mungkin telat masuk gerbang." gelengnya. Memutar kejadian itu lagi.
"Bukannya nyelamatin, yang ada bikin Bian makin kesel."
Basir mengangguk mengerti. Sehingga kekhawatirannya yang tadi sirna sudah. Kemudian ia terkekeh dan berujar. "Udah-udah." imbuh Basir kemudiah. "Kenapa enggak dibawa masuk kesini tadi anaknya?"
Ayahnya ini, Bianca kadang tidak mengerti kenapa Basir tidak pernah membelanya setiap ia menceritakan betapa menyebalkannya Titan. Lihat, kali ini, ayahnya itu malah menawarkan Titan untuk masuk? Hell. Untuk apa sisongong itu ingin berkunjung kerumahnya? Sangat bukan Titan yang dikenalnya. Kemudian Bianca menggeleng. "Gatau tuh, takut kali dia sama Ayah." ucap Bianca, beralasan. Tapi bukan itu yang mengejutkan, melainkan bagaimana Basir tahu Titan-lah yang mengantar Bianca tadi? Menyelidiki Ayahnya, Bianca berujar. "Kok ayah tahu?"
Terkekeh, Basir mengedikkan bahu. "Ayah ngeliatin kok dari tadi dari jendela." ledek Basir kemudian. "Kalian berdua udah kayak ayam sabung."
"Ih Ayah! Apaan sih!" geleng Bianca cepat. Ayam sabung? beonya. Bianca hampir ketawa karena itu. Lalu menatap ayahnya kembali, Bianca berujar. "Lagian ya, yah Titan aneh banget hari ini."
"Aneh kenapa??" tanya Basil penasaran.
Ikut mengedikkan bahu, Bianca menggeleng. "Gatau ah, males banget bahasin tuh setan mulu." erangnya kemudiab. "Ganti topik yah, ganti topik." pinta Bianca kemudian. Sudah cukup, ia tidak ingin membahas segala hal mengenai Titan lagi. Sudah seharian ini Bianca dibuat lelah, ia tidak ingin lagi menambah beban pikirannya.
Tapi Basir tahu apa yang harus dilakukannya. Setidaknya, ia butuh seseorang untuk memastikan bahwa putrinya akan selalu aman dan baik-baik saja. "Kenalin sama ayah, ayah mau lihat itu anak bisa apa enggak jaga Bian."
"Yah!" protes Bianca pertama. Sepertinya pikiran ayahnya memang sudah melenceng kemana-mana. Jadi Bianca menggeleng kuat. "Kenapa jadi Titan jagain Bianca? Ish! Ayah aneh banget deh!"
"Loh, bukannya udah baikan??" kekeh Basir, masih menggoda. "Itu pertama kalinya Bian diantar itu cowok kan?" ledeknya lagi.
Benar. Itu pertama kalinya Titan mengantarnya. Pertama kalinya mendapati fakta bahwa seharian ini mereka menghabiskan waktu berdua saja. Hanya mereka, Titan dan Bianca, hingga Bianca sendiri masih merasa seperti mimpi. Tapi ia tidak ingin merusak isi kepalanya dan berdecak. "Itu karena musibah tadi aja, ayah." yakin Bianca kembali. "Seterusnya Bian juga gak bakal berurusan sama tuh setan."
"Yakin??" goda Basir lagi.
Bianca sudah menatap ayahnya masam. Basir selalu senang menggodanya. Jadi Bianca meyakinkan kembali. "Seribu persen!"
Tertawa geli, Basil mengecup kening putrinya itu, sebelum berujar. "Yaudah, sana mandi. Ayah siapin makanan dulu, baru kita makan."
Mengangguk, Bianca angkat dari duduknya lalu berlari kelantai dua. Mempersiapkan diri, karena ia masih ingin menceritakan banyak hal pada ayahnya. Hanya Basir, hanya Ayahnya itu satu-satunya tempat Bianca mengadu.
***