Katanya lukalah yang membuat kita mengerti.
Terlepas dari itu obat dari semua rasa sakit yaitu dengan pura-pura tidak ada yang terjadi.
Dan memendam perasaan itu sendiri sampai mati.
Bianca tidak pernah menyangka bahwa adrenalinnya akan teruji seperti ini. Tidak percaya bahwa bersama Titanlah, ia melakukan segala kegilaan ini.
Hingga tidak butuh waktu lama untuk Bianca membelah jalanan Jakarta, kini, untuk yang ketiga kalinya ia sudah berada diapartemen mewah milik Titan. Lagi dan lagi akhirnya ia kembali kesana.
Namun terlepas dari itu semua adalah saat Bianca dan Titan saling tatap dan terkekeh karena keduanya berhasil dengan selamat dari kejaran polisi lalu lintas tadi. Konyol memang, namun tawa itu tidak berhenti mengudari hingga membuat Bianca sendiri tertegun.
"Thank's," ucap Titan pertama. Sementara Bianca sudah melongo disampingnya. "Udah buat kita kagak ketangkap hari ini." sambung Titan kembali.
Bianca pula hanya mengangguk sebagai jawaban. Lalu menelusuri apartemen Titan dengan kekaguman tanpa henti, Bianca terus dibuat terpukau setiap kali masuk kesini. Seperti selalu ada celah untuk membuatnya menikmati apartemen tersebut.
Gila memang. Bianca tahu sebanyak apa kekayaan yang Kennedy miliki, namun membelikan apartemen semewah ini untuk putranya yang masih sekolah benar-benar membuat Bianca menggeleng tidak habis pikir.
Apartemen Titan, pemandangan dari atas sana tidak berhenti untuk membuat Bianca mengaguminya. Menyukainya seolah-olah ia mampu bertahan disana untuk waktu yang lama.
Segala sudut ruangan yang sudah tertata dengan semua arsitektur mewah nan elegan, Bianca bahkan terlihat konyol saat matanya tidak mau berhenti mempertontonkan keindahan didepan sana.
Menyadari keterpanaan gadis itu, Titan menyunggingkan senyumnya dan meledek. "Jangan berpikir buat ngepet diapart gue lagi."
Menoleh, Bianca berdecak sebal sebelum memutuskan untuk ikut dengan Titan duduk disofa panjang milik lelaki itu. "Akses kesini terlalu susah, lilin gue keburu padam sebelum berhasil ngepet."
Titan tertawa disebelahnya, menghidupkan sebatang rokoknya, lalu menatap Bianca tajam. "Kotak p3k diruang tengah pojokan, tolong ambilin."
Bianca baru saja akan protes, ketika Titan lebih dulu menangkup bibirnya dengan jari cowok itu. Membiarkan Bianca meneguk ludahnya cepat. Karena ia tidak diberi pilihan. Memilih untuk menuruti, Bianca segera berlalu dari sana. Berjalan ketengah ruangan apartemen itu, lalu mulai mencari perlengkapan p3k yang Titan inginkan.
Tentu tidak butuh waktu lama untuk Bianca menemukannya, segala yang sudah disusun disana membuat Bianca tidak perlu repot-repot. Lalu meraih perlengkapan itu, Bianca kembali menghampiri Titan. "Nih, bersihin luka lo!" ucap Bianca pertama, ia sudah meletakkan perlengkapan itu dihadapan Titan.
Meluruskan kakinya diatas sofa, Titan menatap Bianca sesaar sebelum berujar kembali. "Bantu gue perbanin luka gue," pintanya pertama. Lebih seperti perintah. "Terakhir kali gue nolong lo, kan?"
Menatap si songong itu tidak percaya, Bianca berdecak. "Lo tuh pamrih banget sih jadi cowok?" rutuk Bianca kesal. "Segalanya aja lo ungkit."
Titan mengedikkan bahu, "Simbiosis mutualisme." kekehnya. "Apapun yang kita lakukan dan kita kerjakan harus saling menguntungkan, right?"
Apa? Bisa Titan ulangi? Harus saling menguntungkan katanya? Setan itu, sejak kapan ini semua menguntungkan Bianca? Jadi ia mendengus seraya berdecak. "Halah, apaan. Ini tu ngeberatin gue disisi manapun. Lo jatuh sendiri, lo luka sendiri, gue yang ngobatin? Heh!" gerutu Bianca lagi, masih kesal pada fakta bahwa Titan menyalahkannya.
Tapi selalu saja, Titan senang setiap kali memperdebatkan banyak hal dengan gadis gila itu. "Yaiyalah, gue ngindarin lo. Siapa suruh jalan ditengah? Bokap gue juga bayar pajak." sahut Titan tidak mau kalah. "
"Eh gue enggak jalan ditengah ya!" sela Bianca cepat. "Lo bisa tanya sama anak-anak yang lewat, gue jalan udah ketepi banget." sambung Bianca, meluruskan. "Dasar lo aja tuh mabok. Masih pagi udah sempoyongan."
"Gue liat sendiri lo jalan ditengah." sergah Titan lagi. Menyunggingkan senyumnya. "Dan sorry, gue enggak mabok."
Merasa percuma terus meladeni si songong itu, Bianca menghela napas panjang sebelum memilih mengambil kapas dan perban dari kotak p3k tersebut, menatap Titan sinis sebelum mulai membersihkan bekas darah dilengan cowok itu. Bianca sengaja menekannya, membiarkan alkohol itu semakin membuat perih luka itu, tapi sialan karena Titan hanya meledeknya meskipun Bianca sudah menekannya kuat.
Titan tidak mungkin terlihat lemah. Tidak mungkin meraung hanya karena alkohol pembersih itu mengenai lukanya, jadi menteralkan wajahnya, ia menggoda. "Jangan pakai emosi, lo tu jadi cewek kalem dikit, coba?"
"Diem lo. Jangan banyak ngomong sebelum nih luka gue tusuk." ancam Bianca galak, yang dibalas Titan dengan kekehan geli.
Jika Bianca tengah fokus melilit lengan Titan dengan perban, Titan meraih ponselnya, mengambil foto gadis itu diam-diam sebelum membagikannya digrup.
Titan harus mempertontonkan apa saja yang dapat dilakukannya untuk memenangkan taruhan itu. Dan Titan tidak ingin diremehkan.
CARSWELL
Titan Deimos : *Ngirim foto Bianca*
Titan Deimos : Poor Bianca
Arkan Revano : WtF?? Lo apain tuh cewek?
Aiden Demitri : Lo cabut sama Bianca?
Zidan Ragasta : GILA! DEWA KITA BENAR-BENAR GILA!
Arkan Revano : Tan, Bianca kagak lo ancam kan?
Gavin Dalendra : Tata nyari tuh cewek. Lo lagi sama dia?
Titan Deimos : Day-one, succes. Nih cewek b**o juga ternyata.
Mengulum senyum puasnya, Titan menyeringai geli. Akan ia buktikan siapa yang harusnya diremehkan.
Menoleh untuk melihat Titan, Bianca mengerutkan dahi pada detik selanjutnya. Si songong itu, apa yang dia lakukan? Senyum-senyum sendiri pada benda mati ditangannya. "Gila lo?" tegur Bianca kemudian.
Mengedikkan bahunya, Titan menyahut geli. "Aneh, emang senyum dilarang?"
"Dilarang kalau depan gue!" ketus Bianca. "Jatuhnya, lo kayak orang gila!"
"Ye biar, enggak beda jauh sama lo!" ledek Titan, dengan Bianca yang sudah memukul kaki cowok itu kuat.
Membiarkan Titan meringis, lalu Bianca angkat dari duduknya. Memilih untuk duduk tepat disamping Titan, Bianca menatapnya dengan alis terangkat. Meneliti dan menelah. Seperti ada yang tidak beres.
"Apa?" protes Titan.
"Apa? Gakjelas!" rutuk Bianca malas.
"Lo gak jelas!" balas Titan tidak mau kalah.
"Dih! Elo!" sahut Bianca cepat.
Lalu keduanya hanya saling tatap, menautkan pandangan mereka, sebelum salah satunya mengalihkan pandangan lebih dulu. Entah kenapa, ikatan itu seperti memaksa mereka untuk tetap saling memperhatikan.
Tapi Bianca tidak akan pernah terbuai.
"Tata sama Ana pasti nyariin gue." ujar Bianca kemudian, menghela napas panjang. "Apalagi bu Dyta. Nanti gue diskors gimana?"
"Sejak kapan lo peduli kalo diskors? Bukannya lo senang?" kekeh Titan.
"Enggak gitu juga t*i! Gue males diomelin Ayah gue." kata Bianca kemudian, ia sudah mengerucutkan bibirnya masam.
Mengabaikan gadis itu, Titan kembali meraih ponselnya. Tidak butuh waktu lama hingga panggilan diterima, Titan langsung berujar. "Ma, Titan enggak sekolah hari ini..." ujarnya pertama, memilih menghubungi Lea, karena Mamanya pasti mengerti.
Bianca masih menatap cowok itu, hingga Titan beri mode speaker, dia ingin Bianca mendengar bagaimana pengaruhnya bagi Danirian.
Dari sebrang sana, Lea langsung menyahut kalut. Tidak seperti biasa Titan tidak sekolah, dan itu membuatnya khawatir. "Kenapa sayang? Titan sakit? Titan dihukum bu Nadine? Atau bu Dyta? Titan diskors?"
Titan terkekeh. Selalu seperti itu setiap kali memberitahu mamanya. Tadinya ia tidak ingin, tapi Titan butuh orang tuanya untuk menyelesaikan urusannya dengan Danirian. "Enggak Ma, Titan tadi jatuh didepan gerbang karena ngindarin cewek gila."
Merasa bahwa namanya sudah ikut andil disana, Bianca membulatkan mata sebelum berdecak. "Eh! Enak aja! Lo yang gila!" sergah Bianca. "Udah gue bilang, gue jalan enggak ketengah."
Lea sendiri sudah mengerutkan dahi dari sebrang sana. Namun pada detik selanjutnya ia tersadar. "Ya-ampun, Titan baik-baik aja? Titan luka? Itu suara siapa? Alana?"
"Bukan Ma, itu Bianca." imbuh Titan. "Titan minta pertanggungjawaban supaya dia ngobatin Titan."
"Bianca?" beo Lea pertama. "A-ah, Mama ingat. Temennya Alana yang waktu itu kan?" sambungnya. Titan berdeham sebagai jawaban.
"Sini, biar Mama ngomong sama Bianca." pinta Lea kemudian.
Menyerahkan ponselnya pada gadis itu, Titan menyunggingkan senyumnya.
"H-halo..." kata Bianca pertama.
"Hai Bianca. Ini Tante, mama Titan."
"Iya Tante, Bian enggak bikin Titan jatuh. Dia jatuh sendiri, bawa motor ugal-ugalan, udah kayak orang mabok!"
"Heh! Mulut lo!" geram Titan kemudian. "Bohong Ma!!" teriaknya.
Lea terkekeh dari sebrang sana, "Sudah-sudah. Enggak ada yang bisa dilakuin lagi..."
"Anak Tante aneh, masa Bian diminta tanggung jawab? Yang jatuh kan dia sendiri!" rutuk Bianca, seperti tidak ada habisnya karena Titan terus menyalahkannya.
"Bianca, Tante minta tolong bawain Titan kerumah sakit ya? Biar Tante yang hubungin pihak rumah sakit." kata Lea kemudian. Berusaha untuk santai pula tidak bisa, karena Titan putra satu-satunya.
Tapi Titan lansung merebut ponselnya. "Ma, apaan sih! Titan baik-baik aja."
"Kamu jatuh Titan, kamu pasti luka. Biar Bianca ngantar kamu, nanti mama telfone Om Badri."
Titan menggeleng cepat. See? Reaksi mamanya akan selalu semenyebalkan itu. "Ma, Titan lecet doang. Dah diobatin juga!" tolak Titan mentah-mentah.
Lea pula tidak akan menyerah. Mengerti bahwa putranya itu keras kepala seperti Altair. "Atau Titan mau Mama panggilin dokter buat ke apart? Mama panggilin ya??"
"Ma--" potong Titan lagi. Sementara Bianca mengulum senyumnya, geli sendiri mendengar kekhawatiran mamanya Titan.
"Yaudah kalau Titan enggak mau semuanya, Mama sama Papa balik ke Indo hari ini." putus Lea kemudian.
"MA-- i swear. Titan gapapa!" geram Titan lagi. "Titan cuma mau mama nelfone bu Dyta, kasi tahu kalau Titan sama Bianca izin."
"Tapi, Titan luka--"
"Titan dah gede, nanti Titan minta obat sama Om Badri. Oke??" putus Titan kemudian. Hanya dengan cara itu ia bisa mengakhiri ini semua.
Menghela napas berat, Lea berujar pasrah. "Mama khawatir..."
"Nanti Titan minta obat sama om Badri Mama, tenang aja." yakin Titan kemudian. "Titan pasti ngabarin mama, huh?!
"Janji?" pinta Lea dari sebrang sana.
"Janji Mamaku yang cantik." beo Titan kemudian.
"Baiklah, Mama hubungi bu Dyta lebih dulu." jelas Lea kemudian, terdengar masih mengkhawatirkan putranya tersebut.
"Jangan khawatir, Titan baik-baik aja." pesan Titan kemudian. "I LOVE U, MOM."
"Love u too, nak." sahut Lea kemudian. Setelahnya Titan memutuskan panggilan cepat. Hingga suara tawa Bianca pecah, Titan menggeleng ngeri.
"Gila, gila, si dewa kita anak mama juga ternyata???" ledek Bianca pertama. Masih menahan kekehan di perutnya.
"Bacot! Diam lo!" ancam Titan.
"Dih, tampang doang galak. Anak mama juga ye lu?" ledek Bianca lagi. Masih bersiul geli.
"Diam, Bi--"
"Anak Mama, hu'uh, sampe mau didatangin dokter." kekeh Bianca lagi, masih tidak menyerah. "Sampe mau didatangin papa mama..."
"Gue cium lo, coba ngomong sekali lagi!" ancam Titan cepat.
Bianca mengabaikan itu, tidak peduli karena Titan tidak mungkin berani. "Anak mama, cie--"
Titan menangkup wajah Bianca. Menyeringai, sebelum mendekat lalu mengecup bibir gadis itu pelan.
Membiarkan Bianca terlonjak karena perlakuan Titan, Bianca menahan napas sebelum mendorong tubuh Titan menjauh.
"SETAN!! LO NGA--"
"Gue gak pernah main-main sama apa yang gue omongin Bian. Jadi, lo bisa pahami itu sekarang."
Menggeleng tidak percaya, Bianca menutup bibir dengan tangannya. Menatap Titan garang, karena jantungnya benar-benar berdegup tidak karuan. "Enggak waras lo!"
"I'm." sahut Titan, membalas tatapan Bianca dengan cengiran gelinya.
Lantas, Bianca baru saja akan menyahut ketika sebuah suara berbunyi. Panggilan dari Alana berdering dilayarnya, menggigit bibirnya, Bianca memilih mengabaikan itu. Tidak, Bianca tidak tahu harus mengatakan apa.
"Kenapa enggak lo angkat?" tanya Titan kemudian.
Bianca menggeleng cepat. "Itu Ana. Nanti dia salah paham."
Titan terdiam sejenak, ketika ponselnya ikut berbunyi, ia menunjukkan itu pada Bianca. "Percuma, ini Ana nelfone gue."
"Enggak usah diangkat." kata Bianca kemudian. Tidak ingin sahabatnya itu salah paham. Tapi percuma, karena Titan tidak mungkin menolak panggilan Alana. "Please..." erangnya. Bianca tahu ini tidak benar, tapi mengatakan pada Alana bahwa saat ini ia bersama Titan diapart cowok itu lebih membuat Bianca khawatir.
Terkekeh, Titan melempar ponselnya. Untuk yang pertama kalinya, ia mengabaikan Alana. Sebuah ketidakmungkinan yang benar-benar terjadi, hanya karena gadis gila dihadapannya.
Dan perlakuan Titan, membuat Bianca merasakan sesuatu yang lain dari biasanya. Entah karena Titan menolak panggilan itu, atau karena sentuhan yang Titan beri beberapa saat yang lalu.
***
"Sumpah ya Kan, gue kagak mau mutar lapangan pakai boxer, t*i!" geram Gavin pertama. Mereka sudah berada dikelas, sementara guru Sejarah belum memasuki kelas.
"Gue juga! Bisa turun harga diri gue!" Aiden ikut menyuarakan protesnya. Menggeleng ngeri.
"Halah, santai aja! Baru juga hari pertama. Kagak usah lebay!" gerutu Arkan malas.
"Jangan ngeremehin, Titan! Lo tahu dia licik!" Zidan berujar lagi.
"Kita lihat nanti." tegas Arkan kemudian. Membuat ketiga sahabatnya itu hanya menghela malas.
"Eh, Titan sama Bianca kagak masuk??" Andri, sang ketua kelas bertanya pada para petinggi Carswell tersebut.
Mengedikkan bahu, semuanya menggeleng serentak. "Tunggu kabar dari bu Dyta aja." Aiden berujar pertama.
"Bian kemana sih?? Astaga, apa dia baik-baik aja dijalan??" gerutu Tata. Kalut sendiri karena sejak meninggalkan Bianca, sahabatnya itu malah tak kunjung datang.
"Bian baik-baik aja. Dia lagi sama Titan." ujar Gavin, mengelus pangkal kepala gadis itu sebelum berlalu.
"Kalau dicari bu Nana, kasi tahu aja kita lagi beresin parit depan gerbang." ujar Arkan pada Andri, lalu para petinggi Carswell itu berlalu. Dan lagi tanpa mengikuti pelajaran yang akan berlangsung. Diikuti Arkan, Zidan dan Aiden. Keempat petinggi Carswell itu meninggalkan kelas. Membiarkan teman sekelas mereka hanya menggeleng tidak percaya.
"Masih enggak diangkat??" tanya Tata khawatir.
Alana menggeleng, menghela napas gusar, karena Titan telah mengabaikannya.
"Ish! Kemana sih? Enggak ke sekolah atau gimana??" gerutu Tata lagi.
Hingga kedatangan bu Dyta mengatakan bahwa Titan dan Bianca izin, Alana merasakan sesuatu yang berbeda di dadanya. Perasaan takut itu, memopori dirinya, hingga membuat Alana kikuk dan juga kalut.
"Apa Bianca diculik?" tebak Tata asal, yang langsung membuat Alana menggeleng.
Satu hal yang terlihat jelas sekali disana, bahwa Alana tidak bisa duduk dengan tenang. Bukan, bukan karena Bianca. Tapi karena Titan.
Sementara itu digudang belakang, keempat petinggi Carswell tersebut memilih untuk berada disana.
Jika Gavin sudah merebahkan diri diatas meja panjang tak terpakai, Arkan ikut bersender pada kursi gudang. Sementara Aiden dan Zidan sibuk berdebat hanya karena sebuah rokok.
"Eh, vc Titan. Liatin dia lagi ngapain!" pinta Arkan bersemangat.
"Paan sih lo, kagak usah ditanya, pasti lagi debat tuh dua orang." Aiden menimpali.
"Makanya, telfone gih telfone!" ujar Arkan kembali.
Zidan yang melakukannya, merogoh ponselnya, ia menghubungi Titan. Melakukan panggilan kepada sahabatnya itu yang berakhir sia-sia. "Sialan, kagak diangkat."
Gavin terkekeh. Ia angkat dari tidurnya, mengedarkan pandangan pada satu persatu sahabatnya, lalu berujar. "Ngapain gangguin orang lagi pdkt??"
Menjetikkan jarinya, Arkan menyeringai geli. "Benar! Apa yang Gavin bilang benar, biarin aja. Kita lihat setan itu bisa sejauh apa??"
"Bianca enggak mudah." kata Aiden pertama "Percaya sama gue, keberhasilan Titan cuma dua puluh lima persen." imbuh Aiden kemudian.
"Foto yang Titan bagi, itu diapart dia kan??" Zidan bertanya setelahnya.
"Kenapa emang??" tanya Aiden penasaran.
"Bukannya Titan paling anti bawa orang ke apartnya?? Kecuali Alana kan??" kekeh Zidan lagi.
Gavin berdeham, sebelum berujar kembali. "Artinya, sekarang Bianca juga pengecualian." decaknya. "Tapi lo tahu dia lagi berjuang."
"Gue sumpahin Titan benaran jatuh cinta sama Bianca." ucap Aiden tiba-tiba. Yang langsung diaminkan oleh semuanya disana.
Terkekeh, keempatnya masih terus membicarakan Titan, seperti tidak ada habisnya. Lalu menerka-nerka, bagaimana anjing dan kucing bisa bersatu, maka hanya satu yang dapat memastikan itu, sebuah jawaban.
Titan menyunggingkan senyumnya sepanjang hari ini. Merasakan tantangan itu seperti sesuatu yang mudah untuk ia lewati.
Rencananya benar-benar menakjubkan, walaupun Titan tidak tahu separah apa yang Mamanya korbankan untuk Papanya dulu.
Kini--memusatkan perhatiannya pada gadis gila yang masih terlelap diatas sofanya, Titan menyeringai geli.
Mengambil foto Bianca berkali-kali, Titan ingin membagikan momen tersebut. Mengatakan setidaknya ia berhasil. Menunjukkan bahwa sekalipun Bianca--gadis yang membencinya ini bukan masalah besar bagi Titan.
Titan kemudian duduk pada sofa sebrang yang berhadapan dengan Bianca, bersender pada sofa disana, ia menatap Biaca sesaat sebelum kembali memainkan ponselnya. Membuka banyak sekali pesan disana, Titan pun segera mengotak-atik ponselnya.
My Alana
Enggak ngangkat panggilan gue???
My Alana
Yang benar aja?!!!
My Alana
Lo lagi sama Bian??
My Alana
TITANNNNNNNNN!!
My Alana
NYEBELIN LO!!
Titan terkekeh, paham betul sifat sahabatnya yang satu itu. Lalu, ia segera membalasnya.
Titan Deimos
Tadi gue ketiduran, maaf Ana sayangg
Titan Deimos
Iya, sahabat lo lagi sama gue. Dia baik-baik aja.
Titan Deimos
Nanti gue ceritain. Oke??
Setelahnya Titan menyimpan ponselnya kembali, mendekati Bianca yang masih terlelap disana, Titan duduk disampingnya.
Menelusuri wajah gadis itu, memperhatikannya lekat, lalu menggeleng geli. Membayangkan bagaimana ia dan Bianca selalu memperdebatkan banyak hal.
Aneh, padahal tidak ada yang salah antara mereka? Tapi kenapa setiap berhadapan keduanya selalu saja bertengkar???
Sibuk memperhatikan gadis gila itu, Titan bahkan tidak menyadari bahwa Bianca juga sudah membuka matanya.
Hingga beberapa detik itu membuat mata mereka bertemu, tidak ada yang tercipta selain hening yang semu.
"Ngapain lo?!" ketus Bianca pertama. Menggosok matanya perlahan, karena ia juga bingung kenapa bisa ketiduran disana.
"Mau nyiram orang gila yang kagak bangun-bangun." sahut Titan kemudian, mengedipkan sebelah matanya sebelum kembali duduk.
Titan mengarahkan dagunya ke arah jam, membiarkan Bianca mengikuti arahannya sebelum gadis itu terlonjak dan menepuk kepalanya pelan.
"Jam berapa sekarang?" erang Bianca. Mengerjap, ia memperhatikan jam dinding disana.
Titan sendiri sudah berdiri dengan tangan yang tersimpan disaku celananya. "Udah mau jam enam."
"Ish! Kenapa lo gak bangunin gue??? Ayah gue pasti nyari!" rutuk Bianca kesal.
"Gimana mau bangunin, orang lo tidurnya kayak orang mati." sela Titan cepat.
Bianca angkat dari duduknya, mengemasi semua barang-barangnya sebelum berujar. "Gue harus pulang!"
Mengangguk, Titan ikut berdiri. Mengambil kunci ninjanya, sebelum beujar lagi. "Ayo, gue antar."
Mengerutkan dahi tidak percaya, Bianca terdiam ditempatnya. "Hah??" katanya melongo. Apa ia tidak salah dengar? Setan ini mau mengantarnya?
"Gue antar lo." beo Titan sekali lagi. "Lo budeg?"
"Apaan sih! Aneh banget lo!" gerutu Bianca. "Gue bisa sendiri."
"Lah, gak jelas, mau dianterin malah ngatain aneh." hela Titan bingung.
"Ya ngapain ngantar gue? Gue bisa sendiri kok." jelas Bianca lagi.
Mengabaikan gadis itu, Titan mengenakan jaket kulitnya. Menatap Bianca sesaat lalu berlalu. "Gue antar." tegas Titan sekali lagi. "Buru, kalau apart ke kunci, gue gak punya pilihan selain biarin lo tidur disini."
Menganga, Bianca terdiam sesaat sebelum berlari menyamai langkahnya dengan Titan.
Hingga pintu apartemen cowok itu tertutup, Bianca tidak mengerti kenapa Titan seperti ini. Namun, tidak juga punya pilihan lain, Bianca akhirnya menuruti.
***