Kesengajaan itu menciptakan bahagia, memainkan sang rasa, lalu terbenam pada kekacauan yang mulai terasa.
Ada suatu keadaan yang membuat kita berada dalam pilihan yang kacau. Namun, bukannya menghindari itu untuk membuatnya lebih baik, ego malah memuncak untuk membuatnya jauh lebih parau.
Bianca masih terus menguap, karena bangun sepagi ini bukan kebiasaannya. Sejak pukul setengah enam tadi, Tata sudah mengacau tidurnya. Menarik selimutnya, menyiramnya dengan percikan air, juga sebentuk usaha lainnya yang berhasil Tata lakukan untuk membuatnya sadar.
Kini, menatap sahabatnya itu masam, Bianca mengerucutkan bibirnya. Setelah berakhir nginap dirumah Tata untuk menghibur sahabatnya itu, tidak bisakah Tata memahami bahwa Bianca masih ingin tidur sebentar lagi?
"Sarapan cepetan, lo mau gue suruh orang gila depan kompleks buat nyuapin lo?" ancam Tata pertama, mengulum senyumnya karena gerutuan Bianca tidak berhenti sejak tadi. "Atau lo mau gue siram pakai air sebaskom?"
Menggeleng malas, Bianca mengerang.
"Sumpah. Ayah gue jauh lebih baik setiap bangunin gue tidur." rutuk Bianca kesal. Masih tidak terima jika paginya akan menjadi sekacau ini. "Bentar lagi deh Ta, plis gue ngantuk banget yatuhan..."
"Siapa suruh tidur kok kayak batu? Gila! Gue bener-bener tensi kalau setiap hari bangunin lo!" decak Tata kembali. Menatap sahabatnya itu dengan gelengan kepala tidak habis pikir. "Pantesan aja bu Nadine capek marahin lo. Lo benar-benar kepala batu!" sambungnya kembali. "Enggak ada tidur lagi, bangun gak?!"
Mengetahui bahwa Tata tidak akan berhenti, Bianca akhirnya mengalah dan mengumpulkan seluruh tenaganya. Untuk kali ini, baiklah. Bianca akan menuruti. "Kenapa jadi bu Nadine sih? Lo mau jadi guru BP juga nanti?" hela Bianca malas. "Bawel banget lo asli udah kayak ibu-ibu kompleks." geram Bianca. Ia sudah duduk dengan oleng. Menyadari bahwa ia belum melihat orang tua Tata sejak semalam. "Mana orang rumah lo?" alih Bianca kemudian. Heran sendiri karena tidak menemukan siapapun disana. Masih terasa sepi.
"Udah pergi kerja, ini udah hampir setengah tujuh Bian. Lo tahu kan betapa macetnya Jakarta?" sela Tata, masih dengan melahap sup jagung dihadapannya. Tanpa peduli bahwa Bianca sudah merungut. "Mama gue tadi ada masuk kamar liatin lo masih molor."
Barulah Bianca mengangguk-angguk.
"Lebay banget, enggak buat lo terjebak sampe malam kok!" sahut Bianca malas, membahas kemacetan yang ada di Jakarta, ia masih kesal karena Tata terus mengusiknya.
Membulatkan mata tajam, Tata berdecak kembali. "Coba deh, dikasi tahu malah nyolot. Pantesan aja Titan tuh kesal tiap ngomong sama lo!" geram Tata kembali. Tapi satu yang paling terpatri, kehadiran Bianca membuatnya lega bukan main.
Mendengar bahwa Tata tidak hanya membawa-bawa bu Nadine dalam pembicaraan mereka. Tapi juga si setan yang satu itu, Bianca berdecak. "Ngapa jadi Titan sih? Lo demen banget ngomongin tuh setan depan gue." ketus Bianca. "Ngebahas dia tuh depan Alana, bukan depan gue."
Dan Tata sukses tertawa dari tempatnya. "Abisnya lo keras kepala banget! Keras kepala lo itu dari satu sampe sepuluh ada di angka dua belas!" rutuk Tata. Tidak pernah ada habisnya setiap kali berdebat dengan Bianca.
"Lo juga!" sergahnya tidak mau kalah. "Masih mending gue, keras kepala lo tuh dilevel dua ratus!" sahut Bianca asal. Hening, lalu pada detik selanjutnya keduanya terkekeh. Menertawakan hal yang sama sekali tidak lucu tersebut.
"Yodah, sarapan cepetan, lo harus cari angkot lagi buat kesekolah." ujar Tata pertama. "Jangan sampai telat loh Bi."
Membulatkan mata, Bianca menghentikan suapannya pada makanan yang Tata bawa padanya. Menatap sahabatnya itu dengan kening mengkerut, Bianca menggeleng tidak mengerti, perkataan Tata membuatnya bingung. "Ngapain gue cari angkot, gue nebeng lo lah!" gusarnya. "Ngapain coba gue naik angkot? Lo kan ada?"
Menyeringai, Tata menyudahi makannya. Meneguk s**u hangat disampingnya, lalu menatap Bianca hangat. "Sebagai permintaan maafnya, Gavin jemput gue pagi ini." jelasnya pertama. Menyunggingkan senyum bahagia. "Jadi, dengan semua perasaan bersalah ini, dimohon untuk neng Bianca agar mengerti..."
Bianca menggeleng cepat. Kelewat cepat karena ia tidak ingin Tata meninggalkannya begitu saja. "Enggak! Enggak! Awas aja lo pergi sama Gavin! Gue tanggalin gigi lo!" ancam Bianca galak. "Coba aja lo kalau berani!"
Tata terkekeh. "Enak aja lo mau tanggalin gigi gue yang cantik ini. Rambut lo tuh gue gundulin nanti.
"Sumpah! Awas aja lo pergi sama Gavin, gue--"
"Bian, lo tahu gue enggak pernah tega nolak Gavin..."
"TA! Liat deh--lo mudah banget maafin tuh cowok setelah dia bikin lo nangis???" geram Bianca kemudian. Menyudahi sarapannya, ia masih mengunci pandangannya dengan Tata. Menatap sahabatnya itu dengan pandangan tidak mengerti. "Enggak habis pikir gue."
Tata baru saja hendak menyahut ketika sebuah klakson melengking nyaring dihalaman rumahnya. Cepat Tata memasang tali sepatunya, mendekat untuk mencium kening sahabatnya itu, seraya berujar geli. "Nanti aja ngomelnya, gue pergi dulu. Pangeran udah jemput."
"TAA! SIALAN LO!" pekik Bianca. Menghela napas panjang karena setelah semua upaya yang dilakukannya semalam, lagi-lagi selalu seperti ini yang ia dapatkan.
Tata hanya melambaikan tangannya, lalu memekik kembali. "SEE U DI SEKOLAH BIANN! GUE SAYANG LO!"
"ENGGAK! AWAS AJA LO!" geram Bianca. Namun terlambat karena Tata sudah berlalu.
Bianca sendiri tidak punya pilihan. Sudah cukup ia meratapi kebodohan sahabatnya itu, sekeras apapun usahanya untuk memberitahu Tata, Bianca tahu itu hanya sesaat.
Kemudian, Bianca bersiap-siap. Memperhatikan penampilannya, ia melakukan semuanya dengan cepat karena Bianca tidak ingin terlambat lagi kali ini.
Akhirnya, memasang sneakernya asal, Bianca menarik ranselnya, meneguk s**u yang dibuat Tata sebelum berlalu meninggalkan rumah sahabatnya itu.
Bianca akan selalu tertampar pada kenyataan bahwa ia akan selalu dinomor duakan. Sialan, Bianca datang untuk membuat sahabatnya itu tertawa, tapi apa? Tata malah meninggalkannya. Huh!
Melangkah dengan gontai, Bianca harus berjalan kurang lebih tujuh puluh meter untuk sampai didepan kompleks Tata dan menaiki angkot. Tunggu saja Tata dan Gavin. Akan Bianca habisi mereka dengan semua celotehannya.
***
Carswell
Arkan Revano : Play the games
Zidan Ragasta : Gue enggak sabar jadi pemantau.
Aiden Demitri : Kasian yayang Bianca gue
Arkan Revano : Tunjukin keahlian dewa
Zidan Ragasta : Lo mulai dengan apa?
Aiden Demitri : Jagain yayang Bianca gue
Titan Deimos : Lihat sendiri.
Arkan Revano : See, u. Bro!
Zidan Ragasta : Semoga lo diberkati
Aiden Demitri : Seluruh Dewa ngedukung lo, wkwk
Menyimpan ponselnya didalam saku, Titan meraih jaket denims diatas sofanya. Setelah semalaman berpikir rencana apa yang harus ia lakukan, Titan memilih cara yang sama dengan apa yang pernah ia dengar dari Mamanya.
Classic memang, namun Titan tidak punya pilihan lain. Apa yang pernah Mamanya ceritakan dulu, membuat Titan membuka matanya lebar. Mungkin, Titan terlalu meremehkan apa yang pernah terjadi antara kedua orang tuanya, tapi akan Titan buktikan, bahwa ia tidak akan terjebak.
Mengulum senyumnya atas rencana bodoh itu, Titan menaiki ninjanya, menoleh pada pergelangan tangannya, masih tersisa beberapa menit untuk sampai ke sekolah. Jika Titan tepat waktu, ini mungkin berhasil. Dengan seragam urak-urakannya, Titan mulai membelah jalanan Jakarta secara brutal. Mengabaikan seluruh teriakan pengendara lain, Titan tidak peduli itu, ia hanya memikirkan rencananya atas taruhan ini.
Wait, and see. Titan benar-benar terlalu meremehkan, bahwa ketika permainan dimulai, ada banyak masalah besar yang harus ia hadapi. Itu sebabnya, when the games bring the feeling.
Bianca baru saja turun dari angkot dengan wajah masam. Mengabaikan seluruh tatapan ibu-ibu didalam angkot tadi, Bianca masih kesal karena Tata meninggalkannya. Masih tidak terima karena sahabatnya itu pergi begitu saja.
Dengan gusar, Bianca menghentak kakinya ke aspal. Menghela napas panjang untuk meredam emosinya, Bianca berusaha memikirkan hal lain untuk membuat perasaannya tenang.
Kini kakinya sudah melangkah menuju gerbang utama Danirian. Setidaknya Bianca masih punya beberapa menit untuk datang tepat waktu.
Ketika deruman suara motor yang tidak asing itu terdengar, Bianca menoleh. Menatap sinis sosok yang dari jauh itu sudah bisa ia ketahui, Bianca menghela napas panjang, karena ia mengenal dengan pasti itu suara motor Titan.
Heran karena mereka selalu terjebak seperti itu. Tidak mengerti karena mereka kerap dipertemukan entah dengan cara apa. Seperti saat ini, bagaimana Titan juga bisa berada digerbang utama? Membuat Bianca bertanya-tanya. Bukankah itu hal yang langka melihat berandalan ini datang tanpa melompati gerbang belakang?
Memutar badannya, Bianca menyeringai geli, apalagi saat ingatannya masih terkenang pada pembahasan mereka dipesan kemarin, Bianca mendekap tangan diatas dadanya, meninggikan dagu untuk meledek Titan.
Bianca pikir, Titan mendekat untuk mengajaknya berdebat, Bianca pikir sisongong itu mendekat untuk meledeknya. Namun tidak. Motor si songong itu kentara sekali ugal-ugalan, membiarkan Bianca mengerutkan dahi bingung? Sialan! Apa Titan sedang mabuk? Atau dia tengah mengantuk?
Hingga ninja Titan lima meter semakin melaju kearahnya, Bianca berteriak nyaring. Menutup matanya, karena ia pikir Titan akan menabraknya.
Saat suara hentakan keras mulai terdengar dan rintihan Titan menggema, Bianca membuka mata perlahan. Menemukan Titan sudah terjatuh dan terpental beberapa meter didepannya, Bianca melongo seraya terpaku memperhatikan Titan dengan ninjanya yang sudah ikut terpelanting, Bianca memutuskan untuk mendekatinya.
Beberapa siswa yang berlalu lalang juga berhenti sesaat, memperhatikan sang pentolan utama dan petinggi Carswell itu, mereka tidak punya pilihan karena bel sudah berbunyi. Pak Didi terlihat samar sudah menutup gerbang. Seharusnya Bianca pergi, seharusnya Bianca tidak usah peduli, seharusnya ia berlari memasuki sekolahnya yang masih berjarak tiga puluh meter disana, namun sialan, karena kakinya malah berhenti tepat disamping Titan.
Bianca memperhatikan Titan dengan lekat. Menelusuri bahwa tidak ada yang parah, ia berdecak. "b**o! Lo mabok???" rutuk Bianca pertama. Ia sudah berjongkok untuk membantu Titan, memastikan suara decitan itu tidak buruk atau bahkan tidak melukai si ksatria Danirian ini.
Meringis, Titan angkat, menemukan lengannya yang lecet, ia tahu ini berhasil. Lantas, menatap gadis disebelahnya, Titan menaikkan sebelas alisnya. "Lo jalan terlalu ketengah."
"Gue?? Eh, lo tuh dari jauh udah oleng! Lo tidur dimotor? Atau lo mabok???"beo Bianca lagi, mengerutu tidak terima karena Titan menyalahkannya. "Tangan lo berdarah--" imbuh Bianca lagi. Menarik tangan Titan, lalu menelusuri semua luka yang cowok itu dapat.
"Gue yang luka, lo yang ngomel." decak Titan kemudian. Memperhatikan gadis gila dihadapannya dengan malas. Sialan, apa Titan benar-benar harus melakukan taruhan ini?
"Siapa suruh lo nyalahin gue?" sela Bianca cepat. Tidak akan terima jika Titan menyalahkannya atas semua yang terjadi ini. "Makanya, kalau ngantuk enggak usah sekolah. Tidur aja lo, jangan bangun-bangun." singgung Bianca galak.
Membuat Titan terkekeh disebelahnya. Ajaib memang. Tapi kadang kala berdebat dengan Bianca membuat Titan tertantang.
Bianca kembali memperhatikan gerbang utama sekolahnya. Merasa bahwa mereka tidak punya kesempatan lagi selain melompati gerbang belakang, Bianca berdecak malas. "Gerbang udah tutup, lo luka-luka. Biar gue hubungin Ana dulu buat ngobatin lo." kata Bianca kemudian, ia sudah meraih ponsel ditasnya, berniat untuk segera membertahu Alana, namun Titan menghentikannya. Menahan tangannya.
Titan menggeleng sebelum berujar. "Gue mau lo yang tanggung jawab!" kata Titan akhirnya.
Mengerutkan dahi, Bianca menggeleng cepat. Tentu ini bukan kesalahannya. Apa Titan memang sudah tidak waras? Kenapa dia selalu meminta Bianca untuk menanggung segalanya? "Enak aja, lo yang mau nabrak gue! Lo yang jatuh sendiri! Kenapa gue yang tanggung jawab?!"
"Karena sekarang cuma ada lo disini." sahut Titan beralasan, ia masih menahan tangan gadis itu. "Gue mau lo yang bantuin gue..."
Bianca tahu itu bukan permohonan. Itu bahkan seperti sebuah paksaan. Jadi ia menyela. "Kalau gitu gue pergi dari sini. Biar cuma lo sendiri yang disini!" sahut Bianca galak, ia sudah ingin berlalu kalau saja tangan Titan tidak menahannya lebih kuat dari sebelumnya.
Jika sebelumnya Titan tidak akan pernah peduli, kali ini harus melakukannya. Memohon jika memang perlu, karena hanya dengan cara itu Titan bisa membuktikannya. "Lo bakal masuk ruang BK lagi karena telat. Lalu hukuman lo bertambah karena lo ngebuat anak donatur ini kecelakaan. Dan lo bakalan diskoors--"
"EH!" geram Bianca. Memotong cepat seraya membulatkan mata. "Lo apa-apaan sih? Gue gak ada hubungannya sama lo yang jatoh barusan. Lo jatoh sendiri? Aneh banget!"
Meski harus menurunkan sedikit harga dirinya, Titan berujar. "Gue jatuh karena ngindarin lo!" alasan Titan. "Dan lo mau langsung pergi gitu aja?"
"Terus? Lo mau apa? Mau gue ganti rugi??" geram Bianca lagi. "Mau reka ulang supaya gue aja yang jatuh? Supaya gue aja yang luka? Gitu mau lo?"
Titan terdiam sejenak, bertingkah seperti tengah memikirkan sesuatu. Lalu menyeringai setelahnya, "Emang lo mampu ganti rugi motor gue?" kekehnya. Menggoda gadis itu. "Lo yakin?"
Sialan! Titan benar-benar sialan. Bianca menutup mulutnya, memutuskan untuk tidak menjawab itu. Tidak mungkin, Bianca tidak mungkin mampu mengganti semua lecetan dimotor setan itu. Bianca tidak perlu menebak berapa banyak uang yang Titan habiskan untuk ninjanya, itu sebabnya membayangkannya saja Bianca tidak sudi. "Gila! Lo benar-benar enggak waras!" geram Bianca akhirnya.
Mengedipkan sebelah mata, Titan beujar menggoda. "Yes, I'm."
"Gue udah telat sepuluh menit buat masuk! Debat sama lo emang gak akan pernah ada ujungnya!" rutuk Bianca kesal. "Lagian, tumben banget lo lewat depan? Ngapain coba? Kenapa kagak lompat gerbang belakang kayak biasanya?"
Titan menyunggingkan senyumnya. Tenaganya masih sangat banyak untuk menggoda gadis ini. "A-ah, segitu perhatiannya ya lo sama gue?"
Bianca jelas-jelas mengerutkan dahi tidak mengerti. Apa Titan terbentur keras? Karena pembicaran mereka sudah mulai tidak nyambung. "Serah lo." kata Bianca akhirnya, sebelum melanjutkan. "Terus mau lo apa? Gue pegel jongkok disini."
Titan terkekeh dan berdecak. "Kalau gitu, ambil motor gue, bawa, terus lo obatin gue." titah Titan kemudian.
Lagi, Bianca menggeleng cepat. "Kagak!" tolaknya. "Enggak penting banget t*i, buat apa gue ngobatin lo? Suruh Alana lah!"
"Jadi, lo milih buat ganti rugi semua kerusakan motor gue daripada cuma ngobatin?" kekeh Titan lagi. "Oke, gue malah senang untuk itu."
"Itu bukan salah gue!" sela Bianca. Masih bersikeras, ia sudah menatap Titan geram. Membiarkan pandangannya tertuju pada sosok menyebalkan itu. "Kenapa lo nuduh gue sih sejak tadi!"
"Terserah lo, gue bisa buat tagihan atas nama lo. So, pilihan ada di lo." jawab Titan santai. Tentu Titan dapat menebak apa yang akan menjadi pilihan Bianca.
Mengepal tangannya kuat, Bianca berdiri. Menatap Titan garang, sebelum berlalu. Bukan, bukan untuk memasuki gerbang Danirian, namun untuk mengambil ninja Titan yang terpental sepuluh meter dari mereka. Sialan! Bianca tidak punya pilihan selain melakukan ini!
Dari tempatnya, Titan menyunggingkan senyumnya. Berhasil, Titan benar-benar melakukannya. Merelakan ninjanya dan tubuhnya, Titan hanya butuh satu bulan untuk menyelesaikan permainan ini.
"Lo mau lompat gerbang belakang?" tanya Bianca akhirnya. Ia sudah berada diatas ninja Titan, berhenti tepat disamping cowok itu. Dan gelengan Titan, semakin membuat Bianca tidak mengerti.
Berdiri, Titan meraih helmnya, menyerahkannya pada Bianca sebelum berujar lagi. "Ke apart gue. Lo harus ngobatin gue lebih dulu."
Membulatkan mata, Bianca berdecak. "b**o! Lo mau kita berdua alpa??"
Mengedikkan bahu, Titan menyeringai. "Gue bisa nyuruh anak-anak buat surat sakit untuk kita."
"Tan--"
"Ke apart sekarang. Lo mau pak Didi sama pak Joko liat kita masih disini??"
Menghela napas, Bianca memasang helm Titan kasar dikepalanya. Membiarkan cowok itu duduk dijok belakangnya, Bianca pun mulai melajukan ninja tersebut meninggalkan gerbang utama Danirian.
Untuk yang pertama kalinya Bianca bolos dengan pemimpin Carswell ini. Bianca juga tidak memikirkan itu, memang lebih baik adalah melanjutkan tidurnya yang sempat diganggu Tata.
Jadi sepanjang perjalanan, Bianca dan Titan hanya terdiam dalam hening yang mereka ciptakan. Tidak tahu juga harus bagaimana, karena Bianca sudah kelimpungan, sementara Titan masih mengulum senyumnya dengan bangga.
Namun menyadari itu, Titan lebih dulu membuka suara. "Lo--" katanya pertama. "Tumben juga tadi kagak telat?" pekiknya.
Bianca mengedikkan bahu, yang tentu dapat Titan perhatikan dari belakang. "Bukan urusan lo."
See? Titan benar-benar tertawa. Sialan, Bianca memang tidak semudah itu untuk ia permainkan. Bagaimana Titan harus memulai semua ini disaat objek utama saja sudah membuatnya hampir hilang kendali?
Tapi bohong jika Titan tidak menunggu, karena ia rela bangun lebih pagi dari sebelumnya hanya untuk rencana ini. Singgah ditepi jalanan untuk menunggu kedatangan Bianca diDanirian tadi, Titan sudah merencanakannya. Jadi ia bertahan, memikirkan gerbang mana yang akan Bianca lewati, hingga menemukan gadis itu turun dari angkot dan berjalan dengan wajah menyebalkan menuju gerbang utama, Titan memulai semua rencananya itu. Dan kini, harus ia akui ide itu tidak terlalu buruk.
Bianca memelankan lajunya, memperhatikan Titan dari spion, ia terkekeh saat menemukan rambut si songong itu sudah hancur berantakan. Tapi bukan itu tujuannya, Bianca harus meluruskan segala hal mengenai Gavin dan Tata disini, agar paling tidak Titan dapat memberitahukan itu pada sahabatnya. "Ini soal Gavin," ujar Bianca kemudian.
Dan Titan mengangguk dari belakang. "Hm?" ucapnya. "Kenapa dengan Gavin?"
"Bisa tolong gue buat pukulin enggak muka sahabat lo itu?" imbuh Bianca kemudian. Tanpa basa-basi. "Semalaman dia buat Tata nangis. Terus tadi pagi datang seolah enggak ada apa-apa. b******k banget emang."
Terkekeh, Titan menyahut dari belakang. "Bukan urusan lo juga kan? Kenapa lo yang keki?"
Benar. Titan benar. Seharusnya Bianca tidak peduli lagi mengingat Tata saja tega meninggalkannya sendirian. Jadi menghela napas panjang, Bianca tidak lagi menyahut.
Hal itu pula sukses membuat Titan kembali terbuai dalam seluruh pikirannya. Tentu bukan perihal Gavin, tapi mengenai banyak hal yang berpusat pada gadis gila didepannya ini. Segala hal yang harus Titan lakukan dan ia perjuangkan untuk lagi-lagi memenangkan taruhan ini.
Namun lamunan Titan berhenti, ketika
sebuah mobil polisi dibelakang sana tampak melaju seperti mengejar mereka, jadi menyentuh punggung Bianca, Titan menepuk pelan tubuh wanita itu dan memekik. "Cepatin laju lo. Polisi dibelakang ngejar kita," pekik Titan, suaranya tertahan oleh desiran angin. "Gue enggak pake helm lo tahu, sebaiknya lo lebih cepat lagi. Anggap aja lo lagi di sirkuit."
Menoleh sesaat, Bianca meneguk ludahnya. Sialan! Titan benar-benar membawa mimpi buruk dalam hidupnya. Namun juga, bukan hanya itu, untuk pertama kalinya Bianca merasakan kebebasan ini. Melajukan ninja Titan dengan gila, Bianca terkekeh sepanjang perjalanan.
Tanpa tahu bahwa sejak tadi pula Titan mengulum senyumnya, memperhatikan tawa bahagia Bianca dari spionnya.
***