Tidak ada yang tahu bagaimana perasaan yang kita miliki dalam hati.
Kadang cara terbaik untuk melihatnya hanya dengan pergi atau mencoba untuk tidak peduli.
Bianca sudah mengepal tangan kuat dan menggeleng sembari memperhatikan sahabatnya yang sudah tampak kacau berantakan. "Benar-benar dah tu si Gavin! Bikin gue mau gampar muka b******n tu bocah!" geram Bianca saat ia menemukan Tata sudah menangis dihadapannya. "Mau dia apasih? Seenaknya banget sama lo!" erangnya kembali. "Kebiasaan Ta, udah terlalu sering dia kayak gini-in elo."
Tata masih tersedu-sedu dihadapan sahabatnya itu, menepis air mata yang terus mengalir dikelopaknya, ia tidak tahu harus menceritakan ini dengan siapa selain Bianca. "G--gue pikir, Gavin serius sama gue..."
"Ta--" hela Bianca. Helaan putus asa dan juga kecewa, karena ia sudah sering memberitahu Tata untuk tidak berharap lebih. Untuk tidak menyerahkan seluruh hatinya pada playboy seperti Gavin. "Lo tahu kan Gavin dapat gelar iblis? Dia itu playboy! Satu Danirian juga tahu dan kenal sama itu cowok!"
Tata mengangguk. Saking seringnya Bianca mengatakan itu, tidak terhitung pula sebanyak apa ia menepisnya. "Dia janji sama gue buat berubah, Bi.." erang Tata lagi. "Gavin janji buat perbaiki semuanya sama gue."
"Janji?" beo Bianca. "Lo percaya janji yang dibuat cowok modelan Gavin? Enggak Ta. Enggak pernah ada yang benar-benar berhasil nepatin janji yang dibuat pas lagi bahagia." yakin Bianca lagi.
Atau saat inilah Tata harus mengakui bahwa semua orang memang bodoh saat jatuh cinta? Benarkan? "Gavin jalan sama Tessa, Bi." kata Tata lagi, begitu menyesakkan dan juga payau. "Gavin batalin janji kerumah gue demi pergi sama Tesaa," racaunya dengan air mata yang tidak kunjung berhenti. "Untuk apa dia dekatin gue? Apa cuma untuk mainin gue?"
Bianca mendekat, menghela napas lalu menepis air mata sahabatnya itu. Memeluk Tata hangat dan berujar disana. "Besok gue coba ngomong."
Tata menggeleng cepat. Tidak, Bianca tidak perlu ikut campur. Ini urusannya dengan Gavin, Tata tidak ingin Bianca terlibat. "Enggak usah Bi, nanti Ga--"
"Apa? Tenang aja." sela Bianca cepat. Tata terlalu mengkhawatirkannya, padahal Gavin memang pantas diberi pelajaran. "Gue Bianca, gue bisa aja kasi pelajaran ke petinggi Danirian yang satu itu karena udah nyakitin sahabat gue!" sambungnya menegaskan. "Gavin tuh b******n Ta. Selalu aja dia ngeremehin perasaan yang lo punya..."
Membiarkan Tata terdiam tanpa mampu mengatakan apa-apa lagi. Tadi, Bianca baru saja selesai makan malam dengan Ayahnya ketika panggilan dari Tata membuat ia mengerutkan dahi.
Lantas, saat suara tangisan Tata memekik telinganya, Bianca mengerutkan dahi bingung. Hingga Tata menjelaskan poin-poin utamanya, barulah Bianca bereaksi. Akhirnya, menghampiri sahabatnya itu adalah pilihan Bianca.
Selalu saja, Tata yang periang akan selalu menangis karena Gavin. Bianca sudah sering menasehatinya, memberinya saran bahwa jangan selalu terbuai oleh sosok itu. Gavin playboy, petinggi Carswell yang satu itu senang dengan banyak wanita. Itu sebabnya, Bianca tidak ingin Tata terluka seperti ini. Tidak ingin Tata terjebak terlalu jauh dengan ungkapan manis yang sering Gavin katakan.
Namun, satu yang paling kentara sekali, kita tidak akan pernah berhasil menasehati seseorang yang sedang jatuh cinta. Seberusaha apapun kita memberinya saran, itu sama dengan percuma. Seperti saat ini, sejak tadi Bianca berusaha memberinya gambaran betapa menyebalkannya Gavin, memberi u*****n sarkas untuk berandalan Danirian yang satu itu, juga menjabarkan betapa banyak laki-laki diluar sana yang mengagumi Tata, tapi percuma karena sahabatnya itu masih saja tetap memuji sang Black Devil yang satu itu.
Apalagi saat Tata berusaha untuk berpikiran baik pada satu hal yang sudah membuatnya nangis sesenggukan, membuat Bianca menghela napasnya panjang. "Gavin lagi ada urusan kali ya sama Tessa? Atau mereka lagi ngebahas sesuatu?" yakin Tata lagi. Berusaha untuk tidak berpikiran buruk.
"Bahas apa? Gavin sama Tessa enggak sekelas! Buat apa mereka ketemuan tanpa maksud yang jelas?!" geram Bianca lagi. Apa Tata masih tidak mengerti? "Apapun alasannya, setidaknya dia harus ngabarin lo. Bukan pergi gitu aja."
"Gue coba nanya Gavin nanti..." jelas Tata lagi. "Siapa tahu emang Gavin sama Tessa lagi ada urusan bareng."
"Terus? Kenapa lo nangis kejer kalau pikiran lo sendiri bisa bayangin mereka lagi ada kerjaan?" geram Bianca. Benar-benar si Tata minta digepengin kepalanya. Bianca menyilangkan kedua kakinya diatas ranjang Tata. Menatap sahabatnya itu garang, "Ta, jangan hubungin tuh cowok sialan lagi!" sambungnya menegaskan.
Tata menggeleng. Jika saja ia bisa seperti itu. "Enggak bisa Bi, gue juga bakal ketemu Gavin dikelas..." Tata menyahut sedih.
"See? Gue capek nasehatin lo. Udah sering kan? Udah berapa kali Gavin giniin lo! Lo dibuat terbang sesaat, nanti di hemp--"
"Lo tahu gue naksir Gavin dari kita kelas satu Bi..." erang Tata kemudian. "Gue udah sejauh ini, masa gue harus nyerah?"
"Kan, coba lihat?" sela Bianca cepat. "Percuma, mau gue sengamuk apapun, lo bakal tetep belain tuh anak." decak Bianca malas. "Gavin terlalu sering lo maafin. Itu sebabnya dia mudah ngelakuin kesalahannya lagi!"
Tata tidak lagi menjawab, ia hanya mengerucutkan bibirnya masam. Rutukan Bianca berhasil membuatnya berhenti menangis. Benar memang semua yang Bianca katakan, ia terlalu serang memaafkan Gavin. Terus, apalagi yang harus dilakukannya? Dekat dengan Gavin saja seperti mendapatkan semua kebahagiaannya. Lalu mencoba untuk menjauhi cowok itu? Harus Tata akui bahwa ia pasti menyerah lebih dulu. Tidak akan ada alasan apapun yang membuatnya tidak menoleh pada Gavin. "Bi..." erang Tata kemudian. Menatap Bianca payau. "Lo pasti enggak akan ngerti rasanya jadi gue, bertahun-tahun nampung perasaan ini."
"Gue tahu." sergah Bianca. Membalas tatapan Tata malas. "Karena gue bakal berpikir ratusan kali buat jatuh cinta sama cowok-cowok modelan Gavin."
Meneguk ludahnya, Tata hanya berdecak. "Semoga aja lo kena karmanya."
"Loh kenapa jadi gue?" sela Bianca. "Enak aja." sambungnya. Lalu ia menatap Tata lagi sebelum berujar.
"Yaudah, gue nginap dirumah lo deh malam ini." kata Bianca pertama. "Jangan nangis-nangis lagi, lo kayak orang kesurupan tahu nggak??" kesal Bianca.
Sementara Tata sudah terkekeh disana. Tidak ada yang patut ia syukuri selain bisa menjalin persahabatan dengan Bianca. Kemudian Tata memeluk sahabatnya itu kuat, membuat mereka berakhir dengan perang melempat bantal, karena Tata hanya ingin orang-orang tahu betapa ia bahagia memiliki Bianca dalam hidupnya.
"Alana mana?" tanya Bianca akhirnya, mereka sudah merebahkan diri diatas ranjang Tata. Lelah setelah membuang emosi dengan pertempuran singkat menggunakan bantal tadi.
Tata mengedikkan bahu sebelum berujar. "Mau jalan sama Titan." jawab Tata kemudian. "Emang ada yang lebih penting selain tuh setan?"
Bianca terkekeh, mengangguk kemudian, lalu berujar lagi. "Titan tetap nomor satu. Kita mah nomor dua yak?"
"Gapapa, nanti suatu saat ada yang jadiin lo nomor satu dalam hidupnya." ledek Tata. "Makanya, cari cowok sana. Gue cariin mau??"
Bianca yakin sepertinya kepala Tata sudah kebentur sesuatu karena sahabatnya itu mulai meracau. "Ogah ah. Cowok tuh semua sama. Enggak bisa dipercaya." tolak Bianca cepat.
Tata hanya menggeleng, tidak juga berani memaksa sahabatnya itu, karena Bianca akan selalu berdiri dengan keputusannya. "Yaudah, serah lo. Kalau udah jatuh cinta nanti, jangan sampai lupain gue." kekeh Tata lagi. "Bi--makasih ya selalu ada buat gue."
Dengan Bianca yang sudah kembali melempar bantalan pada wajah Tata. Telak.
"BIANCAAAA!!" teriak Tata kesal. Tapi terlambat karena Bianca sudah berlalu untuk mengambil beberapa cemilan yang memang tersedia banyak didapur Tata.
Setidaknya malam itu, pembahasan mereka tidak berhenti disitu saja, karena Tata dan Bianca menceritakan banyak hal sampai keduanya lelah.
***
Titan masih bertahan diruang tamu Alana. Sengaja menunggu gadis itu sejak tadi, sementara dirinya masih berbincang dengan orang tua Alana.
Dengan jaket kulit dan celana jeansnya, Titan mampu membuat kedua orang tua Alana berdecak kagum melihat penampilannya. Selalu seperti itu, karena Titan putra sahabat mereka. Sean dan Alice tidak pernah mengkhawatirkan itu.
"Mau kemana Titan?" tanya Tante Alice pertama. Menatap wajah putra sahabatnya itu dengan wajah berseri-seri. "Mau kencan?"
Titan terkekeh, menggeleng geli sebelum berujar santai. "Mau ngajak Alana jalan-jalan aja, Nte. Bosan diapart sendirian."
"Kirain mau ngajak Putri Om yang cantik kencan." goda om Sean kemudian. "Kamu kayak begini benar-benar mirip papa kamu."
"Makasih om, tapi Titan lebih ganteng dari Papa." sahut Titan geli. "Oh ya, katanya minggu depan papa sama mama mau datang lagi."
Om Sean mengangguk. "Iya tahu, om sudah diterror lebih dulu."
Sementara Titan terkekeh setelahnya. Hingga kehadiran Alana menghentikan pembicaraan mereka. Titan tidak lepas memperhatikan penampilan Alana yang selalu berhasil membuatnya terpaku.
"Pa, Ma. Alana pergi dulu ya?" pamit Alana kemudian.
Sean mengangguk, mengecup pangkal kepala putrinya sebelum berujar. "Hati-hati, kasi tahu Titan jangan ngebut."
"Iya, mana berani sih dia mau ngebut kalau lagi sama Ana. Udah Ana pukulin tuh kepalanya." decak Alana geli.
Membiarkan semua yang disana tertawa, sementara Alice masih merengkuh pinggang putra sahabatnya disana. Mengikuti mereka hingga keambang pintu utana. "Jangan pulang kemalaman ya, Titan."
Titan mengangguk kemudian, membawa Alana dalam rangkulannya, lalu berujar. "Tenang aja, enggak Titan bawa kabur anak kesayangan om, sama tante ini."
"Yaudah, Ana pergi dulu. Dadah ma, pa!" lambai Alana kemudian.
Hingga motor Titan berlalu dari halaman, Sean dan Alice tersenyum hangat.
"Apa mereka sampai akhir akan tetap seperti ini?" tanya Alice pada suamianya.
Sean menggeleng geli. "Semua keputusan ada dimereka, biarkan saja. Mereka masih terlalu muda..."
"Tapi papa tahu kan? Putri kita sangat menyukai putra Altair itu?" decak Alice lagi.
Sean hanya mengangguk sebagai jawaban. Tidak juga menjawab, karena ia tahu Titan dan Altair memiliki sifat yang sama.
Sean mengenal dekat Altair, jadi ia juga memahami putra sahabatnya itu. Gambaran Altair dimasa lalu, kini terpampang jelas diwajah Titan. Hal itu pula yang membuat Sean tidak banyak bertanya selain menyerahkan semua itu pada putrinya.
Sementara itu Titan membawa Alana menuju satu tempat yang sudah menjadi tujuannya. Titan harus memberitahu Alana perihal taruhan itu. Jadi harus ada harga yang dibayarnya.
Titan mengerti Alana adalah sahabat Bianca. Jadi, Titan tahu pasti sulit untuk mengatakan itu semua. Tapi ia tidak ingin diremehkan oleh para petinggi Carswell yang lain. Tidak, Titan tidak akan menyerah begitu saja. Jadi apapun yang akan ia perjuangkan, Titan harus tetap meyakinkan Alana untuk itu.
Setelah menempuh perjalanan hampir satu jam, Titan menghentikan ninjanya disebuah restoran mewah yang menjadi favoritnya dengan Alana.
Membawa gadis itu dalam rangkulannya, Titan membiarkan Alana merasakan debaran itu dengan gila. Membiarkan Alana mengulum senyumnya sejak mereka memasuki restoran ini. Alana tahu bahwa Titan memang terlalu sering melalukan hal-hal manis seperti ini.
"Tumben banget ngajakin kesini." kekeh Alana kemudian, menatap Titan lekat, karena penampilan cowok itu benar-benar membuat Alana bungkam. Menghipnotisnya. "Cakep lagi, mau ngapain sih?" ledek Alana, berpikir hal-hal baik mengenai mereka. Hingga pikirannya menerawang jauh bahwa ia berharap Titan ingin menyatakan perasaannya.
Titan mengulum senyumnya, menarik kursi untuk Alana, kemudian duduk dihadapan gadis itu. Memperlakukan Alana dengan baik, padahal Titan tidak tahu sekeras apa Alana menahan untuk tidak mengatakannya.
"Gue mau ngomong sesuatu." kata Titan pertama. Ia masih menyunggingkan senyumnya, memikirkan bagaimana ia harus mengatakan rencana bodoh itu pada Alana.
Alana meneguk ludahnya. Merasakan jantungnya yang mulai menggila. Apa Titan akan menembaknya? Apa Titan ingin mengatakan sesuatu tentang hubungan mereka?? Alana masih menahan diri, setelah mereka memesan sesuatu, ia menunggu Titan mengatakan hal baik itu. "Mau ngomong apa?" tanya Alana kemudian. Penasaran.
Titan berdeham, menatap sahabatnya itu lekat, ia mengunci pandangan mereka. Mendekat, Titan membawa tangan Alana dalam genggamannya. Membiarkan Alana dengan wajah berseri-seri, perlakuan Titan memporakporandakan pertahanan Alana.
"Na--" tegur Titan pertama. Menatap Alana lekat.
Alana menaikkan kedua alisnya, menyunggingkan senyum karena wajah Titan membuatnya geli.
"Gue punya taruhan dan rencana sama anak-anak." jelas Titan pertama. Melihat ekpresi wajah Alana yang terlalu sulit ia dedikasikan. "Gue harus dekatin Bianca selama sebulan." sambung Titan kemudian, tidak lagi menggunakan basa-basi karena ia harus mengatakan itu secepatnya.
Wajah yang tadinya berseri bahagia kini mendadak sirna. Alana tersentak, menarik uluran tangannya, lalu menatap Titan payau. Lagi, Titan selalu berhasil membuat perasaanya kacau.
"Ana--" erang Titan lagi. Menggeleng payau. "Gue harus menangin taruhan ini."
Alana menengadahkan kepalanya lagi untuk menatap cowok itu. Membiarkan Titan melihat kedalam matanya. "Tan--" ujar Alana gamang. "Bianca sahabat gue, dan lo mau jadiin Bian bahan taruhan bodoh ini???"
"Sebulan doang. Lagian gue cuma main-main." rayu Titan lagi. "Kalau gue kalah, gue harus nyerahin mobil kesayangan gue. Masa lo tega?"
"Gila! Lo benar-benar gila, Titan!" geram Alana kemudian. Menggeleng tidak percaya karena Titan mengajaknya pergi hanya untuk membicarakan ini?
Titan masih menatap sahabatnya itu lekat. Semua yang ia lakukan harus dalam persetujuan Alana. "Gue mau buktiin, kalau tuh cewek gila bakal bertekuk dikaki gue."
"Lo enggak bisa mainin perasaan orang sembarangan Titan!" geram Alana lagi. Bodoh! Tidak bisakah Titan mengerti?
"I don't care, Ana. Bian bukan cewek yang harus gue jaga perasaanya."
"Terus? Kenapa lo harus izin sama gue??!!" sela Alana cepat. "Kenapa lo harus bahas ini semua sama gue?"
"Lo bilang, lo benci liat gue dekat sama Bianca, Ana. Itu sebabnya gue ngasi tahu lo! Gue gamau lo salah paham."
Menghela napas, Alana mengedikkan bahu. Memilih nenyeruput minumannya yang sudah datang, ia memalingkan wajah. "Terserah lo."
Titan tersenyum setelahnya. "Sebulan doang. Mungkin, gue bakal mati-matian naklukin dia. Setelah itu, gue bakal buang tuh cewek jauh-jauh. Oke?"
Alana hanya berdecak, namun Titan lega telah mengatakannya. "Maaf kalau nanti gue jarang jemput lo sekolah. Gue harus buat anak-anak percaya kalau gue berhasil."
"Jangan sampai terjebak sama permainan yang lo buat, Tan." pesan Alana kemudian. Ia sudah menatap Titan lekat. Jika memang Titan ingin melakukannya, maka akan Alana biarkan. Paling tidak, jika semuanya sudah mulai tak terkendali, Alana akan bertindak.
Titan mengangguk sebagai jawaban. "Tenang aja. Lo tahu gue."
Dan perkataan Titan benar-benar membuat Alana bungkam. Jika Titan tengah memikirkan langkah apa yang harus ia lakukan. Alana hanya terdiam dengan semua isi kepalanya, karena ia terlalu mengkhawatirkan itu. "Bianca bukan cewek yang mudah." jelas Alana kemudian.
Titan mengangguk cepat. Ia mengerti itu. "Gue tahu. Gue udah mikirin rencana untuk itu." sahut Titan kemudian.
"Gimana kalau Bianca akhirnya suka benaran sama lo?" tebak Alana. Takut-takut kalau itu sampai benar terjadi. Apa Alana harus merelakan Titan? Tidak. Tidak akan pernah.
"Terserah dia. Karena gue enggak bakal pernah suka sama tu cewek gila." kata Titan meyakinkan. Menegaskan itu agar Alana mengerti.
"Tan--" imbuh Alana kemudian. "Apa lo bakal selalu ada buat gue??"
Titan mengangguk cepat. "Off Course. Lo sahabat gue, Ana. Lo tetap jadi yang pertama."
Mendecih, Alana kembali memalingkan wajahnya. Sampai kapan? Sampai kapan Titan akan mengatakan bahwa mereka hanya sebatas sahabat??
Alana tidak tahu harus mengatakan apa lagi, karena menyembunyikan rencana Titan saja sudah membuatnya merasa bersalah. Namun kembali lagi, Alana akan tetap menyetujui semua permintaan Titan, karena Titan adalah segalanya.
Kini, tugas Alana hanya pura-pura tidak mengetahui itu. Lalu menanti, apakah Bianca akan mengatakannya jika memang Titan mulai bergerak untuk mendekatinya?
Selain tidak ada yang dapat menebak bagaimana semua itu terjadi, ketakutan dalam semua itu hanya terbukti bahwa kesalahan terbesar adalah bermain-main dengan hati.
***