Seperti rollercoaster, kita sering kali berada dalam posisi yang menegangkan. Membuncang perasaan pada setiap tatap yang begitu membingungkan.
Lalu tersadar bahwa sejak awal tidak pernah untuk kita.
Bagai menginginkan tapi terhalang, juga ingin memiliki tetapi terkekang.
Dan Bianca tidak punya cukup alasan untuk memusingkan ini. Sebuah kotak persegi sudah berada didepan rumahnya. Sudah berada disana entah sejak kapan. Menoleh, Bianca mencari-cari si pengirim, namun nihil karena keadaan depan rumahnya sudah kosong total. Memperhatikan sekelilingnya dengan seksama juga seperti percuma, karena Bianca tidak dapat menemukan siapapun disana.
Menghela napas, Bianca akhirnya membawa kotak itu lalu memasuki rumahnya. Duduk pada ruang tamunya, Bianca mulai membaca secarik kertas yang terdapat tepat diatas kotak tersebut.
To : My Athena...
Ini bukan hadiah yang besar, tapi gue harap lo senyum saat nerimanya. Semoga suka Bianca.
Mengoyak kertas tersebut, Bianca membuangnya asal. Sialan! Siapa orang ini? Kenapa dia terus mengacaukan Bianca dengan semua terorr ini?!
Bohong jika Bianca bisa terus mengabaikannya, sudah hampir satu tahun teror ini menyerangnya. Walaupun hanya sekedar hadiah-hadiah kecil, atau coklat yang hampir setiap hari berada di kolong mejanya, juga segala keperluan Bianca yang kadang sering diberi sebagai hadiah, Bianca tidak mengerti darimana orang ini dapat mengetahuinya.
Orang ini tahu rumahnya, dia tahu semua yang Bianca butuhkan. Dan, yang menjadi pertanyaannya adalah siapa dia? Apakah dia senang melakukan ini? Bianca memang sering mengacuhkan semua pemberian itu, tapi jika setiap hari seperti ini, Bianca juga butuh tahu.
Dia pasti siswa Danirian. Dia pasti salah satu dari sekian banyak siswa disekolahnya. Oke, Bianca masih bisa mencoba untuk mengabaikannya, namun, jika pada saatnya rasa ingin tahu Bianca membelenggu tanpa terkira, Bianca bersumpah ia akan menemukan sosok itu. Bagaimanapun caranya.
Bianca hanya ingin tahu, paling tidak katakan apa yang dia inginkan. 'My Athena?' kekeh Bianca, memang apa yang ia lakukan sampai diberi gelar seperti itu? Huh! Sialan!
Mencoba menormalkan emosinya, Bianca membuka kotak bingkisan itu. Menemukan sebuah sepatu vans berwarna putih, ia menggigit bibirnya kuat. Penerorr ini, dia tahu apa yang Bianca suka. Lagi pula, sepatu sekolah Bianca sudah koyak, mau tidak mau ia akan menerima ini. Anggap saja sebuah hadiah yang Tuhan beri.
Bianca kemudian merebahkan diri di sofanya. Menatap nanar langit-langit rumahnya, seraya memikirkan banyak hal.
Apalagi mengenai si pengirim ini. Entah sebuah coklat yang selalu ada diloker mejanya, pesan yang terus memberitahunya mengenai informasi dan bendera Carswell saat ia lomba dengan Titan, tapi aneh, setiap Bianca mencoba untuk mencari tahu, entah itu sekedar bertanya pada teman-temannya, mereka semua sama sekali tidak mengetahui itu. Hingga Bianca sendiri heran, kapan peneror ini melakukan aksinya?
Bianca tahu ada banyak hal yang terus merasukinya disaat-saat seperti ini. Pikiran, ingatan, kekacauan dan segala kejadian yang mendadak menyerangnya. Lantas saat sekelabat hal mengenai ayahnya berganti dikepalanya, Bianca tahu Basir pasti tengah berjuang untuknya. Ayahnya pasti tengah bekerja, maka Bianca akan terjebak pada fakta bahwa ia akan selalu sendiri.
Aneh, karena pikirannya mendadak kacau atas semua yang terjadi hari ini. Kemudian memutuskan membuka ponselnya, Bianca menemukan sebuah pesan dari Titan.
Mengerutkan dahi, Bianca mulai membacanya.
Setan Sialan
Ana, nyuruh gue minta maaf sama lo.
Bianca Dialova
Gak.
Setan Sialan
Yaudah serah.
Bianca Dialova
Yaudah
Setan Sialan
Gue kagak sengaja ngerjain lo semalam.
Bianca Dialova
Oh ya?
Setan Sialan
Abis, lo b**o. Pr gampang masih nyontek.
Bianca Dialova
Trserah gue. Bukan urusan lo!
Setan Sialan
Urusan gue. Lo ganggu Ana.
Bianca Dialova
Benar-benar dah lo, b******k bgt!
Setan Sialan
I'm.
Memutar bola matanya, Bianca menghela napas panjang. Setan yang satu itu, Bianca tahu Titan tidak mungkin seniat itu untuk meminta maaf padanya. Huh, untuk apa? Lagi pula Bianca tidak butuh maaf dari si songong itu! Lihat? Setelah mengerjainya semalaman? Tanpa rasa bersalah berandalan itu tidak menunjukkan penyesalannya.
Bianca Dialova
So, gue enggak butuh maaf dari setan kayak lo.
Setan Sialan
Eh babi, kalau Ana kagak nyuruh, gue juga ogah mau minta maaf sama cewek jadi-jadian kayak lo.
Bianca Dialova
Lo bodoh dong kalau gitu, mau aja disuruh-suruh?
Setan Sialan
Gue pintar dari lo!
Bianca Dialova
Gak nanya tuh!
Dibaca. Bianca mengulum senyumnya, ia tidak akan pernah membiarkan Titan merasa puas setelah mengacaunya.
Akhirnya, melempar ponselnya asal, Bianca memutuskan untuk memejamkan mata diatas sofa. Sudah terlalu lelah untuk membayangkan apa yang terjadi hari ini, Bianca butuh istirahat paling tidak untuk membuatnya tenang sesaat.
***
Titan menghembuskan napas gusar. Sialan, Bianca memang senang mempermainkannya. Lagi pula, jika bukan karena Alana, ia tidak sudi meminta maaf dengan gadis gila itu. Karena Titan sendiri sudah dapat menebak apa yang akan Bianca katakan sebagai jawaban atas permintaan maafnya itu.
Membuang ponselnya asal, Titan memejamkan mata. Terbaring diatas sofa basecamp, ia masih bertahan disana bersama empat petinggi lainnya.
Memperhatikan wajah suntuk sahabatnya, Aiden, Arkan, Zidan dan Gavin terkekeh. Tahu betul sorot tersebut selalu terlihat seperti itu setiap kali Titan selesai berdebat dengan Bianca. Bahkan tanpa Titan memberitahu pada merekapun, mereka tahu jawabannya.
"Gue tebak, maaf lo ditolak?" kekeh Arkan pertama. Ia sudah duduk dihadapan Titan, dengan rokok yang masih tersimpul manis dibibirnya, Arkan tiba-tiba memikirkan sebuah rencana besar.
"Lagian dah, tega bener lo ngerjain Bianca." Aiden menambahkan. "Gitu-gitu dia cewek, t*i. Diusilin ke tempat gelap."
"Seneng banget ngerjain tu cewek. Nanti suka." Gavin menimpali. Sementara matanya masih fokus dengan ponsel dilayarnya. Ia hanya senang menggoda Titan. "Suka sama benci, beda tipis."
"Halah, lo tuh urusin si Tata. Di embat orang juga baru tahu rasa!" Zidan berujar sarkas. Dengan Gavin yang hanya mengedikkan bahu malas.
Membuka mata perlahan, Titan memilih untuk bangun dari tidurnya, duduk kembali, ia mengatur napasnya. Menegapkan tubuhnya sebelum meraih sebatang rokok diatas meja. Titan mengedarkan pandangan pada satu persatu sahabatnya yang menyebalkan disana, lantas berujar. "Gue terlalu ramah sama tu cewek gila."
"Ramah?" kekek Arkan lagi. Menggeleng tidak percaya. "Yang ada lo kayak mau bunuh tuh cewek." sambungnya. "Benar-benar sakit lo nyuruh Bian jalan sendirian ke Khatulistiwa. Itu jalan gelap bego."
Menyeka anak rambutnya, Titan berdecak kembali. "Emang ada yang berani ganggu tuh cewek?"
Aiden, Arkan, Zidan dan Gavin kembali menggelengkan kepala geli. Selalu seperti itu, Titan seolah-olah tidak pernah melihat siapa dan bagaimana dia memperlakukan Bianca. Tapi bagaimana jika hanya dengan melihat wajah sahabatnya itu, mereka tahu ada yang salah pada Titan?
"Gedek gue. Dia pikir dia siapa?" imbuh Titan kembali. "Gue juga najis mau minta maaf." geram Titan lagi. Membuang asap rokoknya kasar.
"Udah, orangnya juga kagak ada disini. Ngapain lo marah??" decak Aiden geli. "Sehari coba, akur dikit. Enggak buat lo mati kan?"
Titan mengangguk. Memang tidak membuatnya mati, tapi membuatnya hilang kendali. "Iya kagak, tapi buat gue pengen ngebunuh tu anak." geram Titan setelahnya. Dengan semuanya yang sudah tertawa disana.
"Ngapain coba lo mikirin maaf dari Bian? Biasa juga lo kagak peduli." sindir Zidan. Merasakan bahwa ini tidak seperti biasanya.
Titan terdiam, memikirkan perkataan sahabatnya yang satu itu. Benar, untuk apa Titan memikirkan maaf dari gadis itu? Ia Titan. Seharusnya tidak ada yang perlu Titan kalutkan. Kenapa pula ia harus berkutat pada jawaban Bianca yang jelas-jelas Titan sendiri mengerti atas mereka tidak akan semudah itu.
"Ngerasa bersalah kan lo?" tanya Zidan kembali. Mengedipkan sebelah mata menggoda. "Kepikiran?"
Barulah Titan menggeleng cepat seraya menatap sahabatnya itu malas. "Sakit lo gue rasa." erangnya. "Ngapain gue kepikiran tuh cewek gila?"
Bersiul, Zidan hanya mengangguk-angguk malas tanpa ingin berdebat lagi.
"Tumben lo masih disini? Kagak nyamperin Alana? Katanya tadi mau keluar sama tu cewek?" Gavin berujar, mengalihkan pembicaraan seputar Bianca. Menemukan Titan terjebak lebih lama dibasecamp membuat semuanya penasaran.
Mengedikkan bahunya malas, Titan hanya menyahut. "Nanti malam. Ana ada urusan sekarang."
Arkan menepuk tangannya tiba-tiba, membiarkan seluruh perhatian disana hanya tertuju padanya, ia mengedipkan sebelah mata menggoda. Mungkin ini saat yang tepat untuk merencanakan itu semua. "Karena pembahasan kita kagak pernah lari dari Bianca dan Alana, gue punya rencana." kata Arkan pertama dengan wajah tengilnya itu. Menyeringai karena ide ini tiba-tiba saja terlintas dari benaknya. Dan ia ingin lihat apa yang akan terjadi setelahnya.
"Elah, udah. Kagak bakal beres kalau begini." kekeh Gavin, menyudahi itu. Karena ia sudah tahu permintaan Arkan selalu tidak masuk akal.
Begitu pula Zidan. Selalu saja jika Arkan ingin menyampaikan sesuatu, ini tidak akan berakhir baik. "Gue juga dah nebak, ini gila pasti."
Dan hanya Titan yang sudah menaikkan alisnya. Penasaran dan juga menunggu. Jadi ia menatap Arkan lekat sebelum berdecak. "Apa?" tanya Titan akhirnya.
Arkan membungkuk sedikit tubuhnya, membiarkan tatapan seluruh sahabatnya masih berpusat kepadanya, ia menatap Titan tajam. Dan membiarkan Zidan, Aiden dan Gavin untuk tetap mendengarkannya. "Gini--hubungam lo sama Alana, mau dibawa kemana?"
Mengerutkan dahi tidak mengerti, Titan menghunus tatapan tajamnya tepat dimanik Arkan. Tidak tahu apa sebenarnya yang ingin sahabatnya itu katakan. "Apa? Kagak jelas t*i!" geram Titan setelahnya. "Kenapa tiba-tiba Alana?"
"Udah, jawab aja dulu, jangan ngegas setan!" gerutu Arkan tidak mau kalah. "Jawab aja kata gue." beonya kembali.
Tapi tidak hanya Titan yang kelimpungan. Aiden, Zidan dan Gavin juga kebingungan disana. "Lagian, pertanyaan lo udah kayak lagu t*i!" sela Aiden setelahnya.
"Jawab dulu, baru gue kasi tahu rencananya." goda Arkan lagi. Ia sudah memikirkan ini matang-matang.
Titan sendiri terdiam sejenak sebelum memikirkan banyak hal. Apa yang harus ia katakan dan bagaimana peranan Alana yang sebenarnya. "Mau dibawa kemana?" tukas Titan kembali. Tapi lagi-lagi hanya satu jawaban yang menjadi puncak dari segala hal yang diketahuinya. "Alana sahabat gue, udah berapa kali gue harus bilang itu?" sambung Titan malas.
"Oke, Alana sahabat lo. Apa hubungan lo sama tuh cewek bakal ketahap yang serius?" tanya Arkan lagi, memasang wajah seriusnya, yang malah berhasil membuatnya diledek habis-habisan. "Apa lo dan Alana dalam waktu dekat ini akan ngubah persahabatan kalian menjadi lebih dalam lagi?"
Titan hanya mengedikkan bahu sebagai jawaban. Tidak juga tahu harus mengatakan apa. Tapi Titan hanya tidak ingin kehilangan Alana. Tidak ingin sahabatnya itu merasa bahwa persahabatan mereka kacau begitu saja karena perasaan mereka sendiri.
"Gini--" kata Arkan kemudian. Menatap Titan lebih intens dari sebelumnya. "Kita buat taruhan disini."
"Taruhan apa t*i?!" sahut Zidan cepat. Merasa bahwa kata-kata itu saja sudah pasti akan mengacaukan banyak hal untuk kedepannya.
Tapi Arkan tetap pada keputusannya. Lantas mengedipkan mata ia berujar puas. "Kalau Titan bisa naklukin Bianca, kita kasi sesuatu." imbuhnya, menaikkan kedua alisnya. Sementara ke-empat sahabatnya hanya terdiam dengan rencana gila Arkan barusan.
Tentu Aiden menjadi orang pertama yang akan menyela itu. Arkan benar-benar tidak waras. "Ngapa jadi Bianca anjir? Kagak ada salah tuh cewek." protes Aiden pertama.
Tapi Gavin dan Zidan malah menyetujui rencana Arkan. Setelah semua yang terjadi, segala hal mengenai Bianca dan Titan memang patut dipertanyakan hingga akhir. "Gue setuju!" Gavin menyahut cepat.
"Gue juga!" Zidan menambahkan. Penuh antusias dan seringai puas.
Titan sendiri sudah menggeleng. Rencana itu pula bukan sesuatu yang patut Titan penuhi hanya karena teman-temannya ingin. "Ngapa jadi gue t*i??" geram Titan kemudian. "Naklukin tu cewek gila?" geleng Titan tidak percaya. Yang benar saja!
Arkan sudah melipat kedua kakinya diatas sofa. Semakin menggebu-gebu karena Zidan dan Gavin mendukungnya. "Tiga lawan dua." sergah Arkan pertama. "Gavin sama Zidan setuju loh, ayolah!" rayu Arkan lagi. "Gue sama yang lain capek setiap ngeliat lo berantem sama Bianca."
"Asli cui, setiap hari, lo benar-benar sedikitpun kagak pernah akur sama tuh cewek." imbuh Gavin. Mungkin rencana Arkan hanyalah sebuah permainan belaka. Tapi membayangkan bagaimana Titan akan berurusan dengan Bianca membuat semangat mereka membabi buta.
"Bayangin kalau sekarang lo harus ngalah untuk dapatin tuh cewek?" geleng Zidan. "Seru banget, Tan. Asli!"
Aiden sendiri masih menggeleng. Menatap sahabatnya disana satu persatu. "Gabut banget dah lo semua?" erangnya. "Jangan gila! Bianca bisa marah!" sela Aiden. Masih memikirkan konsekuensi kedepannya.
"Udah deh, Den. Main-main doang. Bianca kagak bakal tahu." Zidan menyela. "And, lo tahu Bianca gimana."
Merasa tertantang, Arkan semakin menyuarakan semangatnya. "Gimana? Satu bulan. Gue kasi lo satu bulan buat ngejar tu cewek?"
Mengerutkan dahi lagi, Titan menggeleng cepat. "Lo semua tau, gue anti sama tuh cewek gila!"
"MAKANYA!" decak Arkan lagi. "Itu sebabnya gue buat taruhan ini."
Gavin terkekeh, "Lo takut?" tantangnya pada Titan. "Karena tahu lo enggak akan bisa dekatin Bianca?"
"A-ah," kekeh Zidan. "Benar juga sih kata lo Vin, soalnya mustahil kan Bianca mau ama ini setan?"
Menyunggingkan senyumnya, Titan menaikkan kedua alis. "Takut? Lo yakin?"
"Terus? Apa yang buat lo nolak taruhan ini?" tanya Zidan lagi.
Haruskah Titan mengatakan bahwa ia tidak ingin Bianca terluka jika sampai gadis gila itu tahu rencana mereka ini? Atau, haruskah Titan mengatakan bahwa ia tidak ingin melakukannya karena tahu dia akan menjadi sangat b******n nanti? Namun memilih untuk membungkam mulutnya, Titan hanya mengedikkan bahunya asal.
"Tahun lalu kita main truth or dare." jelas Arkan pertama. "Tahun ini--" jeda Arkan lagi. "Kita mainin Bianca. Lo semua tahu tuh cewek menakjubkan."
"Benar-benar kayak t*i mulut lo, Kan." ucap Aiden. "Kasian yayang Bianca gue." potong Aiden lagi.
"Kalem." Gavin menyambung. "Emang, lo kagak penasaran gimana entar Titan berjuang dekatin cewek yang jelas-jelas selalu gedek sama dia?" kekeh Gavin.
Aiden diam sejenak. Memikirkan banyak hal ini, tapi jika memang tujuannya hanya untuk melihat Titan mampu atau tidak, detik selanjutnya Aiden menyeringai. "Oke. Gue setuju! Gue yakin Titan bakal ditolak seribu persen!"
"t*i!" geram Titan lagi. Ia terdiam untuk memikirkan semua rencana bodoh itu. Mengacak rambutnya asal, Titan meneguk ludahnya hambar. Memikirkan tantangan konyol dari sahabatnya itu, Titan tidak ingin salah langkah.
Karena Titan percaya, jika ia melakukannya, ia bukan hanya salah langkah, tapi juga terjebak dengan semua permainan itu. Entah siapa yang salah dan pasrah, Titan tidak ingin.
Menyimpan jari-jari diatas bibirnya, Titan masih memikirkannya. Sementara keempat sahabatnya hanya terus menggodanya, mengacaukan seluruh pikirannya. Mengecoh pada semua andai-andai yang Titan kalutkan. Yang ia takutkan.
"Sebulan doang, buktikan dong kalau lo bisa naklukin tuh cewek." Arkan berujar lagi. "Setiap tahun kita bikin permainan payah. Gue cuma mau tahun ini lebih berkesan."
"Benar Tan," tambah Zidan kembali. "Kasi lihat ke kita semua kalau lo bisa luluhin Bianca, yang notabennya musuh lo."
"Kalau gue berhasil?" potong Titan cepat. Sudah cukup semua intimidasi itu, ia akan membuktikannya.
Semuanya terkekeh. "Lo bebas kasi pilihan lo." Zidan yang menjawab. "Oke Kan?"
Arkan mengangguk. "Apapun, semua yang lo mau."
"Asal kagak minta beli pesawat pribadi, gila mau pt-pt berapa kita?" gerutu Gavin. "Kalau mobil, gue masih sanggup."
Titan terkekeh. "Gue gak butuh barang-barang yang lo sebutin."
"Lagian gue kagak yakin lo berhasil." Aiden menyahut setelahnya, masih bersikeras. "Secara, kita semua kenal Bian."
"Oh ya? Emang ada yang berani nolak pesona gue?" sela Titan dengan bangga.
"Bianca berani." Arkan memotong cepat. "Gue malahan kagak ngeliat sedikitpun rasa suka dimatanya setiap kali ngeliat lo." kekeh Arkan kemudian. "Pasti lucu, kalau akhirnya anjing sama kucing akur."
"t*i!" geram Titan. "Gue bakal buktiin."
"Sebulan, cukup?" tantang Arkan lagi.
"Lebih dari cukup." jawab Titan kemudian. Matanya dan Arkan benar-benar berpendar disana. Mempertontonkan bahwa taruhan ini akan Titan selesaikan dengan baik.
"Sekarang taruhannya." kata Arkan pertama. "Lo mau bertaruh apa?" tanya Arkan lagi. "Kalau lo kagak berhasil, lo serahin mobil kesayangan lo ke kita?"
Terkekeh, Titan mengangguk sebagai jawaban. Mereka pikir Titan takut? "Oke. Mobil. Gimana kalau gue yang menang?" tanyanya lagi.
"Up to you. Lo mau apa dari kita?" Gavin yang menyahut kembali.
Berpikir sejenak, Titan berdeham, sebelum berujar. "Pakai boxer keliling lapangan di sekolah, selama setengah jam."
"s**t! KAGAK!" Gavin berteriak pertama. Menggeleng cepat karena permintaan Titan benar-benar tidak masuk akal.
"Kagak Tan! Kagak! Gue masih punya harga diri!" Aiden ikut bersuara. Menolak itu keras-keras.
"Gue juga kagak! Arkan aja! Dia yang ngajak taruhan!" protes Zidan kemudian. Menggeleng.
"t*i! Lo bertiga juga setuju tadi!" geram Arkan kemudian. "Tan--"
Titan tertawa nyaring. See? Sahabatnya itu hanya senang memberi pilihan, namun tidak suka dengan pilihan orang lain. Tertawa keras, Titan tidak ingin permintaannya diganggu gugat.
"
Yaudah, taruhan batal." kekeh Titan kemudian. "Kalau lo berempat setuju, gue juga setuju."
"s**t!" geram Arkan lagi. Mengedarkan pandangan pada keempat sahabatnya itu. "C'mon! Titan kagak bakal menang men! Ini Bianca, cewek paling anti sama dia!"
Titan hanya mengangguk-angguk geli. Menyeringai dengan senyum mengejeknya, mungkin keempat sahabatnya ini memang senang meremehkannya.
"Tan, sepuluh menit doang deh." rayu Gavin cepat. "Jangan setengah jam, gila kali lo..."
"Lima deh lima!" bujuk Aiden juga. "Lima menit deh Tan," sambungnya setengah memohon. "Atau jangan disekolah deh, dikompleks rumah gue aja."
"Gila, lo mau malu-maluin kita depan semua orang??" rutuk Zidan kesal. "Depan anak-anak Danirian?"
"Setengah jam. Atau kagak sama sekali." putus Titan. Keputusan yang sudah final jika mereka ingin taruhan ini dimulai.
"Sialan lo!" gerutu Arkan kesal. "Kalau gitu, lo kagak cuma naklukin, lo harus pacarin Bianca. DEAL?!" yakin Arkan. Ia mengulurkan tangannya pada Titan.
"Kan--" protes Gavin. Membulatkan mata nenatap sahabatnya itu. Walaupun ia ragu Titan bisa, tapi konyol membayangkan mereka menggunakan boxer keliling lapangan sekolah.
"Oke." sahut Titan cepat. Membalas uluran tangan Arkan disana. "DEAL!"
Arkan mengedipkan sebelah matanya, mengangguk puas. "Udah, gue yakin Titan gak bakal menang. So, santai aja."
"Awas lo!" geram Zidan juga. "Kalau sampai Titan berhasil, gue pindahin telinga lo dikaki."
"Yang benar aja jingan?" kekeh Arkan.
"Ini rahasia. Jangan ada yang bilang sama Bianca atau sama siapapun." jelas Arkan lagi.
"Gue bakal bilang Alana." kata Titan kemudian. Ia harus memberitahu gadis itu untuk rencana ini."Gue gak mau Ana salah paham karena ini."
"Gila! Bianca sahabat Alana! Ini kagak bakal berhasil kalau lo ngasi tahu tuh cewek." papar Aiden kemudian. "Kemana sih isi otak lo itu?"
Melempar rokoknya asal, Titan angkat dari duduknya. "Biar gue yang jelasin sama Alana." yakinnya. "Just one month. Gue bakal buat Bianca bertekuk sama gue." katanya dan Titan berlalu dari sana.
Mereka pula tidak punya pilihan selain membiarkan Titan mengurus itu dengan Alana. Jadi mereka hanya saling tatap sebelum memperhatikan punggung Titan yang mulai menjauh.
"BUKTIKAN! LO PASTI KAGAK SABAR LIAT KITA PAKAI BOXER DOANG KAN??" teriak Arkan. Terkekeh geli.
"UCAPIN SELAMAT TINGGAL BUAT MOBIL KESAYANGAN LO!" Zidan memekik lagi, terlalu yakin bahwa Titan tidak mungkin menang.
"JANGAN BUAT SEORANG DEWA MALU!" kekeh Gavin juga, ikut berteriak.
"TERAKHIR! JANGAN SAMPAI LO YANG JATUH CINTA!" Aiden memekik seiring dengan langkah Titan yang mulai hilang dari bilik pintu.
Mungkin perkataan Arkan, Gavin dan Zidan bukan masalah. Namun, apa yang Aiden teriakan terakhir kali benar-benar mampu menghentikan langkah Titan didepan pintu. Memikirkan perkataan sialan itu, Titan menghela napas berat.
Apa katanya? Jatuh cinta sama cewek gila itu? Yang benar saja!
Titan tidak mungkin melakukannya. Titan bisa menata semua hal yang ia inginkan, termasuk menyukai seseorang. Karena sampai kapanpun, Bianca tidak pernah ada dalam kamusnya.
Titan harus segera pulang, bersiap-siap untuk bertemu Alana, lalu mengatakan rencana konyol Arkan barusan. Memberitahu pada gadis itu semua rencana mengenai taruhan mereka kali ini. Setidaknya Alana harus memahami bahwa apa yang akan ia lakukan hanya sebuah permainan belaka.
Lagi pula, Bianca--gadis gila itu, dia memang cocok untuk dipermainkan. Maka, akan Titan tunjukan permainan itu selama sebulan.
Padahal Titan tidak tahu, ada yang mampu menjebak dari semua permainan itu, membuat kita jatuh dan terkurung, lalu menjelma menjadi sesuatu yang lain.
Pikiran Titan sudah terlalu jauh, permainan itu bahkan mampu menjebak jika salah satunya terlalu meremehkan itu.
***