XXI. Setan Menyebalkan

3063 Kata
Kemarahan yang tidak tahu berasal dari mana. Tapi satu yang tampak jelas agar semua melihat dan menerawang. Ikatan itu seperti memberi jawaban. Setelah banyak drama sepanjang perjalanan menuju kelas, Aiden dan Arkan bernapas lega karena mereka berhasil menahan Bianca. Gavin dan Zidan sendiri hanya geleng-geleng seraya membantu menengahi setiap sahut-sahutan antara Titan dan Bianca mulai menggelegar pada seluruh koridor. Bahkan bagaimana mereka menjadi objek utama yang ditonton banyak siswa atas perdebatan Bianca dan Titan tidak membuat kedua orang itu berhenti. Sementara mereka setengah mati untuk terus menenangkan diri. Lantas saat langkah mereka terhenti tepat didepan kelas 12 IPS 3, semuanya mengerang. Pintu kelas sudah tertutup, yang menandakan bahwa pak Desta sudah berada didalam kelas. "Haduh, mampus..." gerutu Gavin pertama. Mengerang. "Cepat banget t*i pak Desta masuk kelas." "Cepat pala lo!" Zidan memotong cepat. "Kita udah telat dua puluh lima menit gila!" Tahu bahwa mereka terjebak dan tidak punya pilihan lain, Arkan berujar. "Tan, lo masuk dulu ye." pinta Arkan pertama. "Nanti gue nyusul diam-diam." Zidan mengangguk cepat. Membenarkan saran sohibnya itu. "Gue ikut lo Kan." "Gue juga," tambah Aiden kemudian. "Gue mau dipaling belakang, setelah lo semua masuk." Arkan tidak akan mau kalah. Jika memang mereka semua harus disemprot oleh amukan pak Desta, maka Bianca dan Titanlah orang pertama yang harus kena. Karena dua orang itu mereka terlambat selama ini. "Lo sama Bian harus masuk pertama." tekan Arkan kembali. Menatap Titan dan Bianca bergantian. Bianca sendiri sudah menggeleng tidak percaya. Hanya untuk masuk kelas para berandalan ini repotnya minta ampun. "Gila, bawel banget lo semua." sergah Bianca pertama. "Tinggal masuk doang, apa susahnya sih?" Menyetujui gadis itu Titan menghela napas panjang. Sejak tadi ia hanya berdiri untuk mendengarkan semua ocehan teman-temannya tersebut. Merasa bahwa tidak ada pergerakan jika ia tidak bergerak, Titan melangkah maju dan mendorong pintu kelas pertama, membuat semua teman sekelasnya tercengang, sementara sang guru sudah menggeleng kepala dari tempatnya. Menatap ke-enam siswa itu dengan kilatan marah, pak Desta memekik. "Titan! Sini kamu!" geram pak Desta pertama. Titan sendiri hanya melangkah dan menuruti. "Kagak pake aba-aba udah tancap gas aja. Benar-benar dah si setan," Arkan berujar tidak percaya. Memasuki kelas dengan langkah pelan, disusul Gavin, Zidan dan juga Aiden. Bianca juga mengikuti, namun baru saja lima langkah, suara Pak Desta kembali memekik kelas. "KALIAN BERLIMA JUGA KESINI!" geramnya. "CEPATAN!" Tata sudah menyunggingkan senyum dari bangkunya. See? Lihat apa yang terjadi jika sahabatnya itu tidak mau mendengarkan omongannya. "Mampus lo!" pekik Tata kemudian, meledek Bianca yang sudah menatapnya gamang. Ke-enamnya sudah berdiri sejajar, Bianca diujung kiri, sementara Titan diujung kanan. Ditengah-tengahnya ada Arkan, Zidan, Gavin dan juga Aiden. Angkat dari bangkunya, pak Desta menelusuri ke-enam siswa dihadapannya dengan tatapan tidak percaya. Selalu. Selalu seperti ini. Dan orang-orangnya juga tidak ada yang lain. Berhenti tepat dihadapan Bianca, pak Desta menatap gadis itu dengan penuh selidik sebelum berujar. "Bianca? Kamu dari mana?!" tanyanya pertama. Menggeleng karena tingkah siswanya yang satu itu. "Kamu ini." Menggigit bibirnya, Bianca tengah memikirkan alasan yang tepat untuk ia karang. "Dipanggil bu Dyta tadi pak." jawab Bianca beralasan. Hanya itu ide yang muncul dikepalanya. Membuat para petinggi Carswell menoleh, lalu menatap Bianca tidak percaya. Cewek gila! Melihat kebenaran diwajah Bianca, pak Desta kembali memastikan. "Benar? Kamu tidak berbohong??" tanya pak Desta kemudian. Bianca mengangguk cepat, tidak ingin meragukan dirinya sendiri. Lalu beralih menatap kelima pembuat obar dihadapannya, pak Desta berujar lagi. "Kalian berlima? Alasan apa yang akan kalian jelaskan sama saya?" "Saya bantu pak Dadang pak digerbang depan, kasian tadi pak Dadang bersihin selokan sendirian" Arkan beralasan pertama. Mengikuti Bianca dengan jawaban konyolnya. "BOHONGG PAKKK!!" teriak teman sekelasnya serempak. Membuat riuhan itu kembali memekik kelas. Mereka tahu bahwa Arkan yang membantu pak Dadang adalah sebuah ketidakmungkinan. Membuat Arkan sendiri melemparkan jari tengahnya diam-diam pada seluruh teman sekelasnya tersebut. "Saya bantu Pak Joko sama Pak Didi ngawas siswa yang telat pak..." Zidan ikut membela diri. Sementara pak Desta hanya mengangguk-angguk. Mendengarkan semua alasan tidak masuk akal seluruh siswa dihadapannya. "Saya bantu pak Jaka pak diruang guru." Gavin berujar juga, tidak mau kalah dengan yang lainnya. "Saya juga pak, saya tadi beresin wc cowok. Bapak taukan baunya kayak gimana? Busuk banget pak!" Aiden berdecak juga. "BOHONG PAKKK, BOHONG!!" teriak teman sekelasnya serempak. Masih tidak membiarkan petinggi Carswell tersebut terbebas dari hukumannya. "SSST! DIAM KALIAN!" geram Pak Desta. Membuat semua siswa itu bungkam, tapi tak khayal kekehan geli masih memenuhi seisi kelas. Kemudian melihat Titan yang tak kunjung memberi alasan, pak Desta mendekati sang putra donatur terbesar di Danirian tersebut. "Kamu Titan, apa alasan yang ingin kamu katakan??" kata pak Desta, beliau beralih menatap Titan lebih lekat dan intens. "Ketemu bu Nadine pak. Dia senang banget manggil saya tiap pagi." terang Titan, alasan yang sangat masuk akal. Menepuk kedua tangannya, Pak Desta mengangguk. "Hebat ya alasan kalian semua..." "Huh, benar pak. Tanya aja kalau bapak enggak percaya." Arkan menyahut. "Sayangnya--pak Dadang hari ini enggak masuk Arkan. Kamu bantu pak Dadang yang mana?" sinis pak Desta. Membuat Arkan terdiam, lalu meneguk ludahnya hambar. Sementara kekehan geli, langsung berhamburan seisi kelas. "Mungkin maksudnya pak Dadang tukang bakso deket rumah saya pak!" teriak Savira menggoda. "Atau Pak Dadang tukang galon dekat rumah saya pak!" Anta ikut meledek. Membuat Arkan menatap tajam kedua teman sekelasnya tersebut. "Alasan kalian tidak ada satupun yang saya percaya." gerutu pak Desta tajam. "Yah pak--" protes mereka serempak. "Kalau begitu, begini saja." jeda pak Desta pertama. "Kemarin saya ada kasi tugas supaya kalian mengerjakan dirumah. Benar??" "Benar pak!!" sahut siswa dikelas serempak. Sementara Bianca menggigit bibirnya kuat, para petinggi Carswell hanya menyunggingkan senyum geli. "Untuk kalian berenam, yang mengerjakan silahkan dikumpul dan duduk dibangku kalian masing-masing." kata pak Desta pertama. Menjelaskan. "Dan--untuk yang tidak mengerjakan, harap tetap berdiri disini." Gavin bersiul nyaring, disusul Aiden dengan teriakan puas, lalu ada Zidan yang sudah mengangkat kedua tangannya girang, dan tidak ketinggalan Arkan yang melompat senang. Sementara Bianca membulatkan mata tidak percaya, Titan mengacak rambutnya frustasi. "Lo semua ngerjain pr?" tanya Titan pertama. Menghentikan langkah ke-empat sahabatnya yang hendak menuju bangku mereka. Keempat petinggi Carswell itu mengangguk geli. Lalu berujar serempak. "Yoi, lo kagak ngerjain emang?" ledek mereka. "s**t!" Umpat Titan dengan suara kecil. Membulatkan mata tidak percaya. "Udah tau ada tugas, masa lo gak ngerjain sih Tan???" ledek Arkan lagi. Melewati sahabatnya itu lalu mengumpulkan tugas yang sudah diconteknya dari Gavin semalam. "Tau ah, lo tuh niat sekolah kagak sih??" Gavin ikut menimpali. Setelah Tata memberinya contekan dan memaksanya untuk mengerjakan, Gavin pun menyetujui itu. "Susah-susah pak Desta ngasi contoh. Lo malah kagak ngerjain satupun, benar-benar dah!" tambah Zidan lagi, ikut memanas-manasi sahabatnya itu. "Mau jadi apa, lo ini?" "Kasian pak Desta, punya murid macam lo." ikut Aiden. Menggeleng geli. "Pr MM itu penting, Titan." Titan hanya mengumpat dengan gerakan bibirnya. Memberi semua lontaran kasar untuk ke empat sahabatnya itu. Sialan, sejak kapan Gavin dan yang lain mau mengerjakan tugas?! Menoleh untuk melihat Alana, Titan mengerang saat gadis itu sudah memalingkan wajahnya. 'Ish! Seharusnya gue dengerin nasihat Tata!' erang Bianca frustasi. Menggeleng payau, lalu mengerucutkan bibirnya masam saat Tata hanya tertawa dari tempatnya. "TITAN, BIANCA!" gusar pak Desta kemudian. Menegur keduanya dengan pekikan garang. "Ya pak!" sahut keduanya malas. "Apa yang kalian lakukan hingga tidak membuat tugas dari saya?!" tanya pak Desta kembali. Sengaja menekankan itu. "Saya kemarin mau ngerjain bareng pak sama Alana. Tapinya enggak jadi karena saya dikerjain sama orang gak jelas!" sindir Bianca. Menatap Titan garang, karena hukuman ini disebabkan oleh setan sialan itu. "Ini bukan tugas kelompok, Bian. Kamu bisa mengerjakan sendiri. Right?" sahut Pak Desta lagi. "Kamu Titan! Saya tahu kamu bisa menyelesaikannya. Kenapa kamu tidak mengerjakannya?!" "Saya lupa pak." sahut Titan santai. "Manusiawi kan pak kalau lupa?" Pak Desta menggeleng gusar. Menatap Titan dan Bianca bergantian. "Selalu saja kalian berdua. Datang terlambat, baju sekolah enggak rapi, bu Nadine sampai pusing setiap kali ngomelin kalian!" "Bu Nadine punya tensi pak, saya udah bilang kok jangan marah-marah..." cetus Bianca. Kelewat santai meskipun sudah dimarahi. Menghela napas panjang, pak Desta menggeleng tidak percaya. "Berdiri di lapangan selama jam pelajaran saya." "Pak--yang lain deh. Nyapu? Bersihin wc? Beresin perpus??" rayu Bianca. Membayangkan bagaimana harus berjemur ditengah terik matahari membuat Bianca meringis. "Sekarang, atau bapak tambah sampai bel pulang??" ancam pak Desta. Membuat Bianca menghela napas dan segera mengikuti Titan yang sudah melangkah keluar kelas lebih dulu. Membiarkan ledekan teman-teman sekelas mereka, bergema seisi ruangan. "SIALAN! INI SEMUA KARENA LO!" protes Bianca saat keduanya sudah berada dikoridor. Meneriaki Titan dengan sumpah serapah yang sejak tadi ditahannya. "LO BENAR-BENAR ISH!" Tapi Titan tidak peduli tentu saja. Menoleh menatap Bianca, ia berdecak. "Dasar lo aja yang b**o. Soal begitu doang lo kagak bisa??" Apa katanya? Apa Titan memang tidak pernah berkaca? "Lo sendiri? Emang lo bisa?! Kenapa enggak lo kerjain kalau emang lo bisa??" rutuk Bianca lagi. Menatap wajah menyebalkan Titan, seperti tidak ada habisnya untuk membuatnya gusar. "Bisalah, gue kagak b**o kayak lo!" jawab Titan santai. Mendekat, Bianca memukul kepala Titan. Membuat Titan menoleh lalu menatap gadis itu geram. "APA HEH APA?" tantang Bianca. Menyimpan kedua tangan diatas dadanya, kemudian membalas tatapan Titan tanpa takut. Mungkin, satu-satunya orang yang berani memukul Titan hanya Bianca. Gadis gila itu, ia selalu memenangkan amarah Titan setiap kali berhadapan dengannya. "Balasan karena lo ngerjain gue semalam!" tambah Bianca lagi. "Lo tahu?! Lo tu SETAN NYEBELIN!!" Titan sendiri sudah terkekeh. "Nyebelin? Tumben? Biasa juga lo ngumpat gue." decak Titan geli. "Ini mau!" potong Bianca. "Setan sialan, setan b******n! b******k! Ish t*i! Lo buat gue kena gigit nyamuk selama berjam-jam! Kalau aja gue demam berdarah, awas lo kagak bayar biaya rumah sa--" "Iya gue bayarin, sakit aja dulu sono." potong Titan cepat seraya mengedikkan bahunya santai. Membulatkan mata, Bianca memberi Titan jari tengah sebelum berlalu meninggalkan cowok itu lebih dulu. Sementara Titan terkekeh, menyunggingkan senyumnya geli, apalagi saat punggung Bianca mulai menjauh ketengah lapangan, Titan mengulum senyumnya. Sesuatu yang menyenangkan saat berhasil memberi pelajaran pada gadis gila itu. Lantas, bagaimana jawabannya jika Titan sengaja tidak mengerjakan prnya?? Tapi menepis alasan itu, Titan kembali merutuki dirinya saat membayangkan wajah gusar Alana dikelas tadi. Kemudian, berjalan ketengah lapangan, Titan tidak punya pilihan lain. Lagi pula, dua jam bukan waktu yang lama, right?? Mungkin bagi Titan dan Bianca hukuman mereka adalah musibah. Tapi, tidak dengan beberapa siswa Danirian. Sebagian memilih untuk bolak balik wc hanya untuk melihat wajah sang dewa--Titan. Bagaimana rahang runcingnya, mata tajamnya serta tetesan keringan yang kerap ditepis dari dahinya membuat beberapa kaum hawa menjerit frustasi oleh aksi cowok itu. Kemudian, beberapa terang-terangan duduk didepan kelas hanya untuk menyaksikan bagaimana wajah mengagumkan Bianca ditengah panas matahari. Bibir menggodanya, juga rok yang benar-benar menggiurkan membuat beberapa siswa laki-laki senang memperhatikan itu. Sebuah rasa yang tidak masuk akal, berteriak dalam d**a, dan memberontak untuk segera menemukan. Membiarkan Titan dan Bianca tidak menyadari itu. Bianca menepis keringatnya, merutuki dirinya karena lagi-lagi ia ditempatkan bersama Titan sialan ini. Menoleh, ia mendapati wajah songong itu masih terpejam, menghalau terik matahari yang menyerang keduanya. Bianca menahan napasnya, tidak tahu harus bereaksi seperti apa, tapi satu hal yang mampu Bianca katakan disela-sela tegukan ludahnya--bahwa Titan benar-benar menakjubkan dengan wajah kelelahan itu. Sialan! Bianca terhipnotis oleh wajah itu lagi dan lagi. Tapi, menepisnya Bianca menepuk kepalanya cepat. Tidak boleh, setan sialan ini milik sahabatnya! Apa sih yang Bianca pikirkan?? Huh!! "Jangan pingsan lo!" ujar Titan tiba-tiba. "Gue enggak sudi ngangkat cewek gendut kayak lo!" "Dih, siapa juga yang mau diangkat sama lo." Sahut Bianca ketus. Titan memiringkan wajahnya, mensidekapkan tangan didada seraya berujar. "Terus? Kalau lo pingsan, gue diam? Mau dikatain apa gue nanti, pengecut??" Memutar bola matanya jengah, Bianca ikut membalik tubuhnya. Membuat posisi mereka berhadapan. "Apasih! Gue enggak bakal pingsan, lo tenang aja!!" "Bagus. Masa cewek jadi-jadian kayak lo bisa pingsan?" "Setan. Diem deh lo. Capek gue ngomong sama lo! Dan--sorry! Gue gak gendut!" Menyunggingkan senyumnya, Titan hanya mengedikkan bahu, menoleh pada ruangan kelasnya yang baru saja tertutup kembali, ia berbalik badan dan berlalu. "HEH, MAU KEMANA LO??" teriak Bianca. "Cabut." jawab Titan asal. "Lo pikir gue mau nurutin perintah si tua itu?" Bianca terdiam sesaat, merapikan dasinya asal, lalu ikut melangkah pergi. Benar juga, untuk apa mereka berjemur? Selain buang-buang waktu, juga tidak ada gunanya. Karena, baru lima belas menit saja seragam Bianca sudah basah seperti mandi sebaskom, huh! "Bener. Tumben lo pintar." kekeh Bianca ketika langkahnya dan Titan sudah beriringan. "Sorry, gue emang pintar. Kagak kayak lo, bisanya ngepet doang." ledek Titan. "t*i lo!" geram Bianca. Sementara Titan sudah terkekeh disebelahnya. Menyenggol punggung cowok itu, Bianca berlalu lebih dulu. Tidak ada yang mempedulikan perkataan pak Desta. Baik Titan maupun Bianca, keduanya tidak ambil pusing. Lagi pula, memang Titan dan Bianca pernah menjalankan hukuman yang diberikan? Namun, tidak ada yang tahu, dari jauh, seseorang berkacamata sudah memperhatikan perdebatan Bianca sejak tadi. Tersenyum seiring punggung Bianca menjauh, sosok itu tidak berhenti memperhatikan Bianca. Mendambanya tanpa terkira, karena Bianca akan selalu menjadi My Athena--nya. *** "Ana, lo marah sama gue?" tanya Titan lembut ketika ia sudah duduk disamping gadis itu. Menatap sahabatnya dengan penuh perasaan bersalah, walaupun Titan sendiri tidak mengerti apa yang salah. "Ana..." Memalingkan wajah, Alana merubah posisi duduknya. Memilih menatap jendela, ia menghindari tatapan Titan. Menghindari segala usaha yang cowok itu lakukan untuk berbicara padanya. Alana harus memberi Titan pelajaran, setelah semua yang ia ingatkan kemarin, Titan bahkan tidak menggubris itu semua. Kini, Titan bahkan datang seolah-olah tidak terjadi apapun, padahal sejak tadi Alana sudah mengkhawatirkan sosok itu. "Iya deh maaf kalau gue buat cewek cantik ini marah..." rayu Titan kembali. Tahu bahwa Alana tidak akan pernah marah lama. "Maafin gue ya? Tega banget ngehindar dari tadi..." Gila, mungkin pemandangan Titan memohon hanya berlaku untuk Alana. Bagaimana dia menumpahkan semua rayuannya agar Alana tidak perlu memarahinya. Bagaimana sosok itu memohon hanya untuk didengar oleh gadis itu, Titan melakukan segala cara. Menghela napas panjang, Titan berdecak kembali. "Atau lo marah karena gue ngerjain Bian??" tebak Titan setelahnya. "Lo marah karena gue isengin sahabat lo itu? Atau karena gue enggak ngerjain PR pak Desta?!" Alana masih tidak menyahut. Menatap nanar jendela, ia terus mendengarkan semua rengekan Titan. Alana juga tidak tahu bagaimana menyampaikannya, entah ia gusar karena Titan tidak mendengarkannya atau karena ia cemburu Titan dihukum bersama Bianca sahabatnya. "Ana..." gerutu Titan lagi. "Ngomong dong, nanti gue beliin eskrim?" Geram, Alana menoleh. Menatap Titan lekat, lalu memenjarakan tatap mereka disana. Membiarkan Titan melihat kemarahan yang Alana tunjukkan melalui matanya. Hening, tidak ada yang bersuara. Alana hanya terus memutar bola matanya malas, sementara Titan sudah tersenyum dihadapannya. "Maaf, ya??" erang Titan lagi. "Maafin gue..." Alana hanya berdeham. Tidak juga mampu setiap kali wajah menggemaskan itu terus merengek dihadapannya. Tapi seperti itulah keberadaan Titan memenangkan segalanya. Apapun yang Titan lakukan, Alana akan menjadi si paling memaafkannya. "Kenapa coba lo ngisengin Bian?? Kasi gue alasan supaya gue bisa lega maafin lo." Titan menyunggingkan senyumnya, lalu berujar santai. "Seneng aja ngerjain tu cewek gila." "Karena senang doang? Lo suka main-main kayak begitu??" geram Alana. Mendengus malas. "Happy lo kayak begini?" "Ana--gue cuma ngasi pelajaran. Dia selalu nyontek semua tugas lo." kata Titan pertama, beralasan. Walaupun Titan tidak tahu kenapa ia melakukannya. Alana menggeleng. Tidak ada alasan semudah itu. "Tapi enggak perlu sampai kayak gitu. Gimana kalau ada apa-apa sama Bian?" "Enggak mungkin Ana. Dia cewek gila, orang-orang keburu takut mau ngeganggu." jawab Titan geli. Menyunggingkan senyumnya. "Tenang aja." "Emang, lo mau tanggung jawab kalau ada apa-apa sama Bian??" beo Alana. Menekankan itu agar Titan sadar pada apa yang diperbuatnya. Titan mengangguk. Dan anggukan Titan malah membuat Alana meringis. "Gue bakal tanggung jawab kalau dia kenapa-kenapa." yakin Titan. "Tapi buktinya, dia baik-baik aja kan?" Alana tidak ingin Titan bertanggung jawab atas orang lain. Titan miliknya, Titan sahabatnya, dan semua yang ada pada Titan hanya untuk ia satu-satunya. "Gue enggak suka lo dekat sama Bianca." jujur Alana kemudian. Tidak tahu kenapa ia seberani itu untuk mengatakannya, namun bagaimana Titan dan Bianca terus bersama membuat Alana gusar. Membuat sesuatu dalam relungnya menjadi lepas kendali. Membulatkan mata, Titan terlonjak mendengar pengakuan itu. Tidak tahu harus menanggapi bagaimana. Lantas, baru saja Titan ingin menjawab, suara yang tidak asing kembali memekik telinga. "Berduaan doang mas--mbak? Nanti yang ketiganya setan loh..." ledek Tata pertama. "Iya, lo setannya." Titan yang menyahut cepat. Bianca meletakkan sebungkus roti dan teh kotak dihadapan Alana. Lalu berujar lagi, "Makan nih, lo jangan sok-sokan gak mau makan. Asam lambung naik nanti baru tahu rasa!" "Makasih Bian..." ujar Alana tulus. Lalu kembali menoleh pada Titan, cowok itu-- hanya menaikkan kedua alis, lalu menyapu rambut Alana lembut. "Pulang sekolah sama gue aja. Gue mau ngajakin lo ke suatu tempat. Jangan ngambek lagi." pesan Titan pertama. "Hati-hati makan rotinya, takut lo diracunin!" sindirnya lagi seraya menatap Bianca. Lalu berlalu meninggalkan kelas. "HEH MULUT LO, DASAR SETAN GAK JELAS!!" teriak Bianca geram. Membuat Titan terkekeh saat suara itu memekik pada koridor yang tengah ia lalui. Apalagi saat melewati Bianca yang menatapnya masam, Titan hanya menjulurkan lidah meledek. Kemudian Titan mengacak rambutnya frustasi. Perkataan Alana benar-benar membuatnya kacau. Sahabatnya itu, Alana selalu berhasil mengacaukan segala isi kepalanya. "CIE!!" ledek Tata saat hanya tersisa mereka bertiga disana. "Dimanis-manisin apa lo sama setan itu?" "Gue enggak apa-apa kok, enggak perlu marahin Titan karena masalah semalam." jelas Bianca akhirnya. "Gue sama dia udah ngebahas itu tadi." Alana mengangguk. "Iya, dia juga udah minta maaf..." "Dih, sama lo aja ngalah teros, coba sama yang lain, boro-boro." rutuk Tata kesal. Bianca terdiam, hanya manggut-manggut menyetujui. "Apasih yang lo suka dari cowok songong itu??" "Semuanya, Titan segalanya buat gue..." sahut Alana, mempertegas itu. "Bi, lo nanya sama orang yang lagi kasmaran. Dari kepala sampai kaki juga bakalan tetep segalanya dah..." ledek Tata. Membuat Bianca terkekeh, sementara Alana mengerucurkan bibirnya masam. Jika Bianca sudah sibuk dengan ponselnya, Alana terus memperhatikan apa yang sahabatnya itu lakukan. "Bi, lo ngapain aja tadi dilapangan sama Titan??" tanya Tata. Masih mengunyah cemilan yang dibelinya dari kantin. "Emang lo mau gue sama Titan ngapain? Kayang???" gerutu Bianca kesal. Terbahak, Tata menahan kekehannya, "Maksud gue debatin apa lagi, soalnya gue enggak yakin kalian adem ayem disono." "Banyak. Lo tahu sendiri gimana tu cowok ngeselinnya!" imbuh Bianca malas. "Bi, Titan gak ngomong apa-apa?" tanya Alana kemudian. Membuat Bianca menggeleng sebagai jawaban. Menggigit bibirnya pelan, Alana terdiam sejenak. Memutar kembali ingatan tentang pembicaraannya dengan Titan, hell, kenapa Alana harus mengatakan itu! Apa yang ia takutkan?? Bianca sahabatnya. Seharusnya Alana tidak perlu mengkhawatirkan apapun. "Coba sekali aja liat Titan dari sisi yang beda. Dia baik kok." ujar Alana lagi, meyakinkan kedua sahabatnya. Membuat Tata dan Bianca mengangguk, lalu keduanya tidak ingin memusingkan itu lagi. Segala hal dalam diri Titan adalah kesempurnaan bagi Alana. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN