Pada pertemuan yang terus terjadi, tatap kita memang tidak pernah mengingini, namun tidak ada yang tahu dengan hati.
Kita hanya terus memenjara kekesalan dalam setiap temu, padahal pada relung terdalam selalu ada jawaban bahwa kita juga saling menjamu.
Kehadiran Bianca tepat ketika bel masuk belum berbunyi adalah sebuah ketidakmungkinan. Sebuah pemandangan yang membuat semua orang membulatkan mata tidak percaya. Melongo dan sebentuk keterkejutan lain yang terang-terangan mereka perlihatkan.
Ratunya telat, ratunya dihukum, ratunya tidur. Mungkin, tiga objek itu terus menjadi pacuan untuk mengingat siapa Bianca. Dan--kehadirannya saat ini membuat gelak tawa dari teman sekelasnya tidak terelakkan. Heran sekaligus tidak percaya.
"Wiiih!! Tumben banget Bi?"
"Kesambet apa lo?"
"Menang togel?"
"Masih lima belas menit nih sebelum bel masuk??"
"Yakin nih lo yang dateng?"
"Bianca kagak punya kembaran kan?"
"Excuse, me?!"
Bianca menghela napas panjang, memutar bola matanya jengah sebelum membalas ocehan teman-teman sekelasnya tersebut. "Berisik. Diem deh." katanya ketus. "Ribut banget cuma karena gue datang kepagian."
"Keajaiban soalnya si medusa ini datang awal." Tata yang menyahut. Terkekeh saat menemukan wajah sahabatnya itu sudah berkerut masam. "Kenapa sih?" sambungnya geli. "Dan sorry Bi, ini bukan kepagian. Bentar lagi bel juga bunyi."
Bianca sama sekali tidak peduli atas itu semua. Ada satu tujuan yang membuatnya semenggebu ini untuk datang secepatnya. Menelusuri pandangannya kesekeliling, Bianca mencari-cari sosok yang menjadi pacuannya sejak semalam. "Alana belum datang??" tanya Bianca pertama. Masih mempertegas kedatangannya yang lebih awal dari biasanya. "Atau udah datang tapi belum masuk kelas?"
Mengangguk, Tata mendorong dagunya pada pintu utama saat Alana terlihat baru saja memasuki kelas. "Tuh anaknya."
Mengikuti arah pandang Tata, Bianca langsung menatap Alana lekat. "Titan udah datang?" alih Bianca setelahnya, bertanya pada Tata karena Alana belum sampai dibangkunya. Ia sudah tidak sabar untuk segera bertemu setan yang satu itu setelah semua yang dia lakukan.
Mengedikkan bahu, Tata mencoba untuk tidak peduli. "Udah kali, mana gue tahu. Noh tanya sama ceweknya."
Setelahnya, saat Alana sudah duduk dimejanya, Bianca dan Tata membalikkan badan mereka serempak. Seperti yang setiap hari mereka lakukan. Bianca tidak berhenti memperhatikan Alana, ia harus tahu semua yang terjadi sejak semalam. Jika Tata mengerutkan dahi heran, Bianca sudah siap dengan semua pertanyaannya.
"Na." tegur Bianca pertama. Menatap sahabatnya yang satu itu dengan garang. Alana hanya menaikkan kedua alisnya. Menunggu. "Lo semalam ngajak gue ketemuan?" tanya Bianca lagi.
Alana menggeleng cepat. Sangat cepat, karena ia sama sekali tidak mengerti apa yang Bianca katakan. Mengerutkan dahinya bingung ia berdecak. "Enggak, mau ngapain emang?"
"s**t!" umpat Bianca. Mengacak rambutnya frustasi. Benar, kecurigaannya benar sejak semalam. b******n. Titan benar-benar berhasil mengerjainya.
Alana sendiri sudah menatap Bianca tidak mengerti. Sementara Tata juga terdiam. Tidak mengerti kenapa Bianca mengumpat. "Kenapa Bi??" potong Alana cepat. Bertanya. "Gue dirumah aja kok semalam."
"Tau ih, kenapa woi?" tambah Tata juga. Ikut penasaran. "Bikin takut aja lo..."
Menggeleng cepat, Bianca menatap Alana dan Tata bergantian. Menghela napas panjang, ia berujar pertama. "Kemaren siang, lo dimana?" tanya Bianca lagi. Masih terus memusatkan perhatiannya pada Alana. Bianca harus memperjelas dan mempertegas semua ini.
"Dirumah." decak Alana. Kelimpungan sendiri karena Bianca tiba-tiba seperti mengintrogasinya. "Kenapa sih?? Bikin penasaran aja!" erang Alana kemudian. "Everything ok, kan?"
Bianca menggeleng tentu saja. Apa kata Alana? Semuanya baik-baik saja? Setelah membuatnya menunggu berjam-jam ditempat gelap seperti itu. Tapi Bianca tidak menyalahkan sahabatnya itu, ia hanya tidak percaya bahwa Titan mengerjainya melalui Alana. "Sama siapa lo dirumah?" kepo Bianca lagi.
"Bi ah, gila, kenapa sih!" rutuk Tata sebal. Tidak mengerti kenapa Bianca bersikeras atas itu semua. "Jelasin sama gue sama Ana. Nyeremin deh lo,"
"Sama Titan kan??" tebak Bianca langsung. Tidak ingin lagi bertele-tele. "Kemarin siang, Titan dirumah lo?"
Alana terdiam sesaat, sebelum mengangguk sebagai jawaban. "Hu'uh, dari balik sekolah Titan dirumah gue."
Poor. Bianca tidak percaya Titan sebajingan itu. Apa setan tersebut tidak berpikir panjang saat mengerjainya? Apa Titan tidak berpikir apa saja yang bisa terjadi padanya? Apa bagi Titan, Bianca sama sekali hanya seorang gadis bodoh? Sialan. Bianca tidak tahu harus bagaimana selain ia merasa marah dan juga ingin menangis. "Setan itu ngerjain gue!" jelas Bianca akhirnya. "Dia ngebalas chat gue pakai hape lo!" geram Bianca.
Alana sudah membulatkan mata tidak percaya. Apa ini alasan Titan tersenyum siang kemarin? Apa ini jawaban atas apa yang ingin diceritakan cowok itu padanya? Mengenai Bianca kah semua ini?
"Serius? Emang Titan bilang apa?" tanya Alana lagi. "Dia enggak ngomong apa-apa sama gue,"
Mengepal tangannya kuat, Bianca berdecak. "Lo ngajak gue ketemuan di jalan Khatulistiwa. Lo tahu kan betapa gelapnya jalan itu?" decak Bianca. "Lo tahu kan Ana, betapa bahayanya seorang cewek ada disana? Malam-malam tanpa satupun orang yang nemanin?"
Alana menggeleng payau. "Bian..." erangnya, merasa bersalah bahwa tidak tahu Titan melakukan itu. "Gue sama sekali enggak tahu, kalau tahu gue bakal marah banget lo tahu kan?"
Tata sendiri sudah menambahkan. "Buset, jalan yang serem itu?" katanya. "Lo beneren datang kesana?"
Oke. Bianca mulai dengan Alana. "Gue enggak marah sama lo. Karena gue udah curiga kalau itu ulah Titan." jelas Bianca kemudian. Beralih menatap Tata. "Gue kesana karena mau nyalin PR pak Desta."
"Lagian elah, kenapa mau-mau aja sih ketemuan disana?" geleng Tata tidak percaya. "Kalau lo dibegal atau diculik gimana? Buset."
"Habis katanya Alana sekalian mau belanja, terus lewatin jalan itu. Ya gue percaya lah." imbuh Bianca. "Gue kan enggak tahu kalau setan itu yang ngerjain. b******k emang." geram Bianca setelahnya. "Mana Titan sekarang?" sambungnya malas. Ia sudah berdiri dari bangkunya, berniat untuk menemui berandalan itu.
Menghela napas panjang, Alana benar-benar tidak mengerti jalan pikiran Titan. Sebenarnya, apa sih yang cowok itu inginkan? Kenapa dia mengusik Bianca sejauh ini. Lantas menatap Bianca gamang, Alana berujar. "Digudang kayaknya. Palingan bentar lagi masuk?" ujar Alana. "Mau ngapain? Bentar lagi kita pelajaran Pak Desta, Bi?"
Tata mengangguk cepat. "Iya Bi, mending lo salin pr gue dulu! Sini!" bujuk Tata. Tahu betul dengan sifat sahabatnya yang satu itu. "Setelah itu, mau lo bunuh sekalian juga gapapa tuh setan."
"Tata..." erang Alana, memotong cepat.
Terkekeh, barulah Tata menyengir lebar. Lupa bahwa Alana selalu menomorsatukan cowok itu.
Tapi mengabaikan kedua sahabatnya, Bianca berbalik badan dan berlalu. Tidak peduli dengan bel masuk yang baru berbunyi, Bianca harus memberi pelajaran untuk setan sialan itu. Apapun yang terjadi, bertemu Titan saat ini adalah tujuan utamanya. Titan harus mendapatkan kemarahan yang sudah disimpan Bianca sejak semalam. Berandalan sialan.
"Aduh, perang lagi nih pasti!" gerutu Tata pertama. Mengangguk kepalanya yang tidak gatal. Ia menatap Alana, "Gimana dong?"
Alana mengedikkan bahu, ia juga tidak mengerti harus bagaimana. Tapi membahas Titan juga bukan saat yang tepat. "Bianca keras kepala banget sih? Nanti dicariin pak Desta gimana?!" erang Alana kemudian. Hanya itu yang dipikirkannya saat ini.
Tata mengangguk membenarkan. Bianca--sahabatnya itu memang tidak bisa dipaksa. Dia akan selalu mendengarkan semua kata hatinya. Jadi, saran apapun yang ia dan Alana berikan, jika Bianca tidak peduli, dia tidak akan mengindahkan itu. "Mending lo kasi tahu Titan suruh masuk kelas." usul Tata kemudian. "Sekalian aja biar mereka berantem disini."
Alana sendiri punya saran lain. "Kenapa enggak lo aja nyuruh Gavin masuk?" protes Alana kemudian. "Otomatis Gavin bakal ngajak Titan dan anak-anak."
Berpikir sejenak, Tata mengangguk kemudian. Lalu keduanya terkekeh, kemudian mengeluarkan ponselnya, mereka menghubungi para petinggi Carswell tersebut. Setidaknya mereka harus membantu Bianca terbebas dari hukuman pak Desta, walaupun itu hanya satu persen kemungkinan, karena Tata dan Alana yakin sebentar lagi pak Desta bakal memasuki kelas.
"Lagian, masa lo enggak tahu sih Titan ngerjain Bian?" tanya Tata pertama. Menatap Alana penuh selidik.
"Gue lagi masakin Titan makanan." jelas Alana kemudian. "Kayaknya waktu gue masak, Bianca chat. Jadi Titan yang ngebalas itu." sambungnya. Membuka notifikasi pesannya dengan Bianca. "Nih," katanya menunjuk pada Tata. "Pantesan gue enggak tahu, chat Bian dihapus..."
Tata sendiri menggeleng tidak mengerti. "Benar-benar dah si Titan. Tegaan banget ama Bian." ucapnya. "Syukur aja Bian enggak kenapa-kenapa."
Alana pula ikut mensyukuri itu. Lalu ketika panggilan dan pesannya tak kunjung mendapat balasan, ia berdecak. "Titan enggak angkat panggilan gue." rutuk Alana kesal. "Apa Bian sudah sampe digudang?"
"Gavin juga. Ini panggilan terus teralihkan." timpal Tata pasrah. "Ngapain sih mereka lama-lama digudang? Udah tahu ini pelajaran pak Desta!"
"Lo susulin gih, Ta." saran Alana kemudian. "Kasi tahu Titan, gue mau ngomong." sambungnya. "Entar kalo pak Desta datang, biar gue pikirin alasannya."
Tata terdiam sejenak. Memikirkan saran sahabatnya itu, lalu berdiri. Benar, apa boleh buat? Ia harus membantu Bianca untuk yang satu ini. Namun, baru satu langkah Tata melewati mejanya, seluruh teman sekelasnya yang tadi berhamburan dikelas sudah berlari dan duduk rapi.
"PAK DESTA DATANGG!" pekik mereka serempak. Menyiapkan diri untuk tampak baik-baik saja dan seperti siap belajar.
Menghela napas, Tata menggeleng frustasi. Terlambat sudah untuk membantu Bianca. Tata hanya mengerang dalam hati. Jika Bianca dihukum, maka Titan dan yang lain juga pasti kena. Setidaknya, sahabatnya itu tidak akan sendirian.
Menoleh pada Alana, Tata menemukan gelengan frustasi dari sahabatnya itu. Akhirnya, keduanya sama-sama pasrah. Tidak juga dapat berbuat banyak, karena para petinggi Carswell dan Bianca adalah paket lengkap yang sering diceramahi dan juga target utama amukan dari seluruh guru di Danirian.
***
"Pagi kak Bian."
Bianca hanya melambaikan tangan dan berlalu melewati beberapa adik kelasnya itu dengan ogah. Ia tidak ingin berbasa-basi saat keadaannya sudah sangat kacau. Bianca harus sampai kegudang untuk bertemu Titan.
Menghiraukan seluruh panggilan dari beberapa adik kelasnya itu, Bianca melangkah secepat yang ia bisa. Lebih baik seperti itu daripada membuang waktunya. Persetan dengan hukuman yang akan ia dapatkan dari pak Desta nanti. Bianca tidak pernah takut untuk itu. Saat ini juga, ia harus tahu kenapa Titan seperti itu. Melangkah dengan cepat, Bianca mengerucutkan bibirnya masam. Kesal sendiri karena Titan benar-benar mempermainkannya.
Coba sebut, siapa yang mampu menahan diri untuk tidak memukul wajah setan itu? Bianca bahkan sudah siap untuk menggoresi muka songong Titan dengan kuku-kukunya jika memang perlu.
Apalagi wajah garang Bianca pagi ini membuat beberapa adik kelasnya memilih untuk mundur saat ia berjalan disepanjang koridor kelas sebelas menuju gudang. Mungkin menghindari Bianca yang galak adalah yang terbaik dari pada menyapa gadis itu.
Hingga langkahnya hampir sampai pada gudang utama itu, sosok yang dicarinya baru saja keluar dari sana, dan Bianca buru-buru mendekatinya. Melipat kedua tangannya didada, sementara dagunya sudah terangkat tinggi. Ia menatap Titan penuh kebencian. "HEH, SETAN!" geramnya pertama. "Sini lo! Gue mau ngomong!"
Menyunggingkan senyum mengejek, Titan hanya memiringkan kepala, tetap tenang, sementara kedua tangannya masih tersimpan disaku celananya. Ia tidak menjawab, gantinya Titan hanya menatap Bianca lekat dengan kedua alis terangkat. Menunggu.
Aiden, Zidan, Arkan dan Gavin sudah menggeleng dari tempatnya. Seperti biasa, mereka berempat sudah hapal diluar kepala apa yang akan terjadi setelah ini.
"Neng Bian, ngagetin aja." ujar Aiden pertama. Mengulum senyumnya. "Kali ini, apa lagi?"
Arkan ikut menimpali. Memperhatikan gadis gila dihadapannya yang sudah penuh dengan kilatan marah. "Haduh. Masih pagi, udah mau perang aja nih dua ondel-ondel."
"Kayak kucing mau kawin aja lo bedua." Zidan ikut berujar. "Kagak ada habis-habisnya."
Gavin sendiri sudah menghela napas panjang. Berusaha untuk menyadarkan Bianca bahwa ini bukan waktu yang tepat. "Harus depan gudang banget lo berdua mau berantem??"
"Diam lo," sahut Bianca galak. Setelah dengan sabar mendengarkan ocehan keempat cowok itu, Bianca sendiri tidak berhenti pandang-pandangan dengan Titan sejak tadi, masih dengan tatapan penuh permusuhan. "Gue enggak ngomong sama lo berempat. Gue mau ngomong sama nih setan!" sela Bianca langsung. "Dan lo semua gue persilahkan untuk pergi, kecuali si songong ini!"
"Buset galak banget neng Bian..." Aiden mengerang pertama. "Gue tungguin deh, takut lo diapa-apain sama Titan."
Arkan ikut mengangguk. "Gue juga, gue bantu jaga lo. Oke?" sarannya.
Sementara Zidan dan Gavin saling pandang sebelum menggeleng geli.
Titan hanya menatap Bianca sesaat, mengedikkan sebelah matanya lalu berlalu melewati Bianca. Tanpa peduli semua yang ingin gadis itu katakan.
"Eh! Mau kemana lo!" rutuk Bianca. Berusaha menyamai langkahnya dengan milik Titan. Yang tentu saja tidak dihiraukan cowok tersebut. Setan itu, enak saja dia pergi tanpa sepatah kata. Bianca butuh penjelasan. "Ngomong sama gue dulu baru lo pergi! b******k!" sambungnya kesal.
Lalu, baru saja Bianca ingin meraih lengan Titan untuk menghentikan cowok itu, ketika dari arah belakang seseorang sudah merangkulnya.
"Nanti aja berantemnya. Kita masuk kelas dulu, pak Desta takutnya udah datang." Aiden menimpali, membawa gadis itu lebih dulu dalam pelukannya. Sementara Zidan ikut mendorong tubuh Bianca.
Bianca menggeleng tidak terima. Meronta semampu yang ia bisa walaupun percuma karena Aiden benar-benar mengurungnya dalam pelukan cowok itu. "Ish! AIDEN! Gue ma--"
"Nanti aja, Bian." yakin Aiden kembali. "Lo mau dihukum??" potongnya cepat. "Apa marahin tuh setan sekarang lebih penting? Enggak ada gunanya, dia enggak bakal denger."
Tentu amukin setan itu lebih penting saat ini. Setelah semua yang dia lakukan, Bianca juga pasti akan berakhir mendapatkan masalah.
"Gue udah pasti dihukum karena setan itu!" geram Bianca kemudian. Menatap Aiden malas. "Dan marahin dia sekarang itu penting, Aiden."
"Hus, hus! Nanti kita urusin, masuk kelas dulu yok!" ajak Arkan setelahnya. Menatap Bianca lekat untuk menenangkan gadis itu. "Kita enggak tahu apa yang buat lo sengamuk ini. Tapi sekarang bukan saatnya."
Menghela napas, Bianca tidak dapat berbuat banyak, permintaan dan saran dari Aiden dan Arkan membuatnya pasrah. Lantas menoleh, Bianca sudah menemukan Titan tengah menjulurkan lidah meledeknya. Membiarkan Bianca memberi jari tengah pada cowok itu, sementara matanya sudah melotot garang.
"Sekangen itu ya lo sama gue? Sampe nyamperin ke gudang segala?" kekeh Titan pertama. Menggoda, sementara wajah galak Bianca sudah membuatnya tertantang.
Memperlihatkan wajah menjijikan, Bianca menggeleng cepat. "Dih najis! Gila lo! Kangen? Yang ada gue mau gampar lo! Sini lo sini!" sergah Bianca garang.
Aiden masih memegangnya, geli sendiri karena menahan Bianca dan Titan setiap kali dua orang itu akan berantem benar-benar sangat melelahkan.
"Sekali aja woi, akur dikit kenapa sih lo bedua?!" ucap Zidan malas. Menghela napas karena Bianca dan Titan akan selalu seperti itu. "Benar-benar muak gue,"
"Lama-lama lo bedua cocok. Suer dah!" Gavin menambahkan.
Arkan menyetujui, mengangguk cepat karena dalam setiap pertemuan Bianca dan Titan akan selalu mempermasalahkan banyak hal.
Tapi Titan menyahut cepat, berjalan lebih dulu, lalu menoleh untuk menelusuri Bianca dari kepala hingga kaki. Kemudian menatap gadis itu, mengunci pandangan mereka sesaat dan berujar geli. "Gue? Sama cewek modelan babi begini? Kenapa enggak lo suruh gue macarin botol kecap?"
"Enggak ada hubungannya t*i!" gerutu Arkan. Membuat Aiden, Zidan dan Gavin langsung tertawa ngakak.
"SIAPA JUGA YANG MAU SAMA BUNGKUS PERMEN KAYAK LO???" teriak Bianca tidak terima. "NAJIS! TAU GAK NAJIS?!"
Masih membuat Arkan, Aiden, Zidan dan Gavin terkekeh geli. Keempat petinggi itu terus menikmati perdebatan Titan dan Bianca. Benar-benar selalu tertantang setiap kali Titan dan Bianca adu mulut.
"Gue juga ogah sama lo. Cantik kagak, bar-bar iya." ledek Titan dan melangkah lebih dulu.
Membiarkan beberapa adik kelas hanya terpaku pada apa yang tengah mereka perhatikan. Bagaimana kehadiran Bianca ditengah-tengah para petinggi Carswell itu menjadi tontonan menggemaskan.
Beberapa dari mereka juga memilih untuk mengintip dari jendela kelas, entah untuk melihat Titan sang dewa, atau para petinggi yang lain. Atau mungkin, ada juga yang bertahan hanya untuk melihat Bianca--gadis gila pemberani yang satu itu.
***