Ada satu hal yang kadang kala memopori, sebuah bahagia yang tercipta saat kemarahan timbul setelahnya.
Para petinggi Carswell dan seluruh pasukannya sudah berkumpul dibasecamp mereka seperti biasa. Rutinitas yang selalu mereka lakukan setiap kali pertempuran selesai. Entah itu mereka kalah dan mereka menang, mereka akan selalu berada disana. Setidaknya untuk membicarakan dan berbagi banyak hal setelah hari-hari panjang nan melelahkan itu.
Duduk asal pada gedung menyeramkan yang disulap menjadi mewah tersebut, tidak mengherankan beberapa dari mereka senang berlama-lama disana. Hanya untuk berdiam atau terjaga.
Sebuah bilyard yang berdiri ditengah ruangan, tempat bermain ps yang terletak diujung kanan dekat pintu utama. Juga sofa-sofa panjang yang dibiarkan mengisi beberapa ruang. Beberapa orang memilih untuk berlalu setiap melewati gedung menyeramkan ini, padahal tidak ada yang tahu, jika memasukinya lebih dalam dan melewati sebuah pintu transparan, semua ruangan menakjubkan ini akan terlihat.
Tentu saja semua bangunan dan gedung-gedung yang menjadi basecamp itu milik tuan Kennedy. Maka, tidak mengherankan Titan menggunakan tempat itu untuk basecamp mereka. Tentu atas izin dari papanya.
"Kalian liat gimana muka ketakutan anak-anak Aerebos tadi??" kekeh Zidan pertama. Menanyakan itu pada seluruh pasukan carswell disana. Senang sekali dalam membicarakan kemenangan kali ini.
"Apalagi waktu Titan mukul Gading. Semuanya langsung tegang." kekeh Aiden juga, membayangkan bagaimana pasukan Aerebos tadi seperti kehilangan induknya.
"Buset, sempat-sempatnya lagi berantem tegang." sahut Arkan cepat. Membiarkan semua yang disana menatapnya heran. Tapi mereka mengerti apa yang Arkan maksud.
"Belum pemanasan kali tadi pagi, makanya bediri pas berantem." timpal Aiden kemudian.
"t*i! m***m lo!" Gavin memotong cepat. Membuat gelak tawa memecah seisi ruangan disana.
Barulah Arkan membela. "Maksud gue, mukanya yang tegang, bukan anunya!"
"Anunya apa?" sahut Titan ketika ia baru saja memasuki basecamp. Membuat beberapa pasukan yang ada disana menunduk kecil untuk memberikan salam hangat pada pemimpin tertinggi itu.
"Burung lo!" Zidan menimpali. Membuat Titan melempar sahabatnya itu dengan bantalan sofa. Hingga membuat semua yang disana lagi-lagi terkekeh geli.
"Baik-baik aja kan lo semua?" tanya Titan kemudian. Menelusuri semua pasukan Carswell yang masih tersisa disana. Ia memperhatikan satu persatu pasukannya. "Kabarin gue kalau ada yang luka."
Mereka mengangguk serempak. "Aman kak!"
"Good." jelas Titan. Lalu duduk disamping Gavin, ia memilih untuk merebahkan diri disofa itu. Setidaknya, melihat pasukannya baik-baik saja membuat Titan lega.
"Bukannya lo abis ngantar Tata?" tanya Titan lagi. Menaikkan sebelah alisnya pada Gavin karena sosok itu sudah berada bersamanya.
"t*i! Lo bilang mau kebengkel? Nipu!!" geram Aiden kemudian. Gavin terkekeh. Sialan, dari mana Titan tahu?
"Lo tau dari mana?" protes Gavin kemudian. Heran, karena yang tahu cuma Bianca, atau Tata mengatakannya pada Alana? Dan gadis itu memberi tahu Titan?? Tapi, untuk apa Gavin memusingkannya? Semua orang juga tahu dia dan Tata dekat.
"Kemarin katanya kagak mau, kata lo Tata cerewet. Kata lo Tata banyak omong. See? Kemakan ludah sendiri kan lo?" sindir Titan.
"Lagian, emang--playboy kayak lo bisa cuma sama satu cewek?" ledek Aiden, ikut menyuarakan kekehannya.
"Vin, vin! Nanti aja, giliran Tata dah diambil orang, baru lo nyesel." sindir Arkan. Sengaja menekankan setiap kalimatnya seraya menatap Titan, Arkan ingin sahabatnya yang satu itu ikut tersindir.
Menoleh, Titan menatap tajam sahabatnya itu. "Sialan! Apa lo liat-liat gue?"
"Dih, pede! Gini-gini gue enggak suka batang. Sorry!" Arkan memperjelas. Membiarkan gelak tawa kembali pecah didalam sana. "Gue nornal."
"Oke, gue ngerti maksud Arkan. Gini, secara umum nih, coba lo semua denger." jelas Aiden, ia berdiri untuk meluruskan itu. "Menurut lo semua, Alana cantik kagak?"
"CANTIK!" jawab semuanya serentak.
"Apa coba yang kurang? Juara kelas, pinter, cantik, anggun. Bener gak?" tambah Aiden lagi. "Sempurna!"
"BENERRRR!" kata mereka lagi. Sangat patuh dengan semua yang para petinggi Carswell katakan.
Menoleh pada seluruh pasukan Carswell disana, mereka menunduk kembali saat Titan menatap mereka tajam.
"Nah, baru bilang Alana cantik dan pintar aja lo dah resah. Terus kapan mau kasi kepastian sama tuh cewek??" kekeh Aiden lagi. "Keburu diembat!"
"Alana sahabat gue." jawab Titan malas. Tidak mengerti kenapa semua sohibnya itu terus mendesaknya untuk memberi kepastian pada Alana. Oke, Titan tahu ia menyayangi Alana. Menomorsatukan gadis itu diatas segalanya. Tapi Titan tidak punya perasaan dalam relungnya. Tidak ada yang khusus disana.
"Oh, jadi lo enggak mau macarin sahabat lo sendiri?" cetus Zidan geli. "Pacarin Bianca aja? Dia kan musuh lo?" usul Zidan lagi.
Melempar sisa rokok pada Zidan, Titan berujar lagi. "Najis. Enggak ada cewek lain? Kenapa juga lo ngasi gue babi model gitu."
Mereka terkekeh. "Tan, lo tuh sama Bianca cocok kalau di liat-liat." Gavin menambahkan. "Serius anjing!"
"Bianca cantik kok. Ya, walaupun lebih cantik Alana sih. Tapi Bian tuh unik..." Aiden memuji tulus. "Eh enggak deh, cantikan Bianca menurut gue."
"Bener, Bianca tuh punya segalanya yang enggak cewek-cewek punya." Gavin ikut membela.
"Iyalah, karena dia cewek jadi-jadian." Titan memotong. Lalu berdiri, "Udah deh, gue mau cabut dulu. Gerah."
"Ah Tan, lo baru aja datang!" tahan Zidan kemudian. "Sini dulu."
"Gue ada urusan." jawab Titan setelahnya.
Tapi selalu saja, semua orang tahu urusan yang Titan maksud. Lagi-lagi tidak pernah ada orang lain kan?"
"Halah, palingan Alana lagi." tebak mereka serempak.
Mengedikkan bahu, Titan mengalihkan pembicaraan. "Lo semua. Pulang gih. Udah mau malam." suruhnya pada semua pasukan Carswell.
Mengangguk, mereka menuruti. Lalu Titan melangkah cepat, meninggalkan basecamp, ia harus kembali ke apartemen.
Setidaknya, ia sudah memiliki rencana untuk apa yang akan ia lakukan nanti malam. Dengan senyum yang tersungging dibibirnya, Titan menyeringai puas.
***
Dengan jaket kulit berwarna hitam dan celana jeans abu-abunya, Bianca turun dari kamarnya yang terletak dilantai dua. Bersiul menuruni tangga, ia tersenyum saat menemukan Basir sedang menonton diruang tengah.
Berlari, Bianca memeluk Ayahnya dari belakang. Terkekeh saat Basir mencolek hidungnya, ia duduk tepat disamping ayahnya tersebut. Masih ada setengah jam waktu yang Bianca punya untuk menemui Alana. "Ayah enggak pergi?" tanya Bian pertama. Memastikan bahwa kali ini Ayahnya tidak membuatnya khawatir.
"Enggak, sayang. Libur dulu hari ini." jawab Basir kemudian. "Bian mau kemana?"
"Ketemu sama Alana. Mau ngambil tugas sekolah." jelas Bian kemudian. "Kalau gitu Bianca pergi dulu ya, yah?"
Mengangguk, Basir mencium kening putrinya. "Hati-hati, jangan ikutan balap lagi. Kamu ya, benar-benar keras kepala..."
"Lagian Bian menang kan? Lumayan buat bantu Ayah." kekeh Bianca, tersenyum tulus pada Ayahnya. Tentu Bianca melakukan semua hal bahaya itu hanya untuk meringankan beban ayahnya.
Basir menyapu rambut Putrinya lembut. Menatap Bianca lekat. "Tapi, balapan bahaya buat cewek. Ayah masih mampu kok ngehidupin kita..."
"Ayah, Bian gapapa kok. Lagian, malam ini juga Bian enggak balapan." yakin Bianca memastikan ayahnya untuk percaya. "Tapi--enggak tau kalau malam-malam besok." ledek Bianca dan berlalu dari sana.
Membiarkan Basir berteriak, lalu menggeleng geli karena putrinya yang satu itu. Mungkin, Basir harus mengatakan ini--ia bersyukur memiliki Bianca dalam hidupnya.
Bianca baru saja menaiki angkot, mengingat Jalan Khatulistiwa lumayan jauh, Bianca tidak mungkin sampai tepat waktu dengan berjalan kaki.
Lagian, Alana aneh banget. Ngapain coba ngajak Bianca ketemuan ditempat gelap itu? Udah kayak lesbian aja. His, amit-amit.
Tentu Bianca tahu jalan itu. Beberapa orang malah menghindari jalanan tersebut karena terkenal menyeramkan. Tapi demi mendapatkan contekan itu, tentu Bianca tidak peduli.
Memilih untuk tidak mengomentarinya Bianca menyetujui itu. Lagi pula ia butuh menyalin pr tersebut, lantas dimanapun Alana ingin bertemu, akan Bianca sanggupi. Setidaknya itu lebih baik daripada bertemu dengan bu Nadine kembali. Ruang BK lebih menyeramkan daripada hanya sekedar jalanan gelap.
Sementara itu, Titan masih merebahkan diri disofa panjang rumahnya. Jarum jam sudah menunjukkan angka tujuh. Dan sialnya, sejak tadi pula Titan merasa resah.
Titan pula tidak bergerak untuk menemui Bianca. Untuk apa? Titan sengaja mengerjai gadis gila itu. Melihat bagaimana keberaniannya, tapi nanti saja, Titan butuh untuk menormalkan pikirannya.
Kenapa juga Titan memusingkan gadis gila itu? Tapi tidak bisa juga mengabaikannya, akhirnya Titan memutuskan untuk beranjak.
Yang akhirnya malah gagal karena ponselnya berbunyi. Sebuah panggilan dari Alana membuat Titan mengurungkan niatnya untuk pergi.
"Lo dimana?" tanya Alana ketika panggilan itu baru saja tersambung.
Menyunggingkan senyumnya, Titan berujar. "Apart."
"Tumben? Enggak keluar?" kepo Alana lagi. Sangat tidak biasa mendengar sahabatnya itu hanya berdiam diapartnya sendirian.
"Bentar lagi kali." kekehnya. "Kenapa Ana?"
"Enggak kerumah?" tanya Alana kemudian. "Pr buat besok, lo gak ngerjain?"
Titan hanya menyeringai, seharusnya Titan menyetujui itu tanpa berpikir. Seharusnya ia langsung angkat dan berlalu kerumah sahabatnya. Tapi aneh karena Titan malah menggeleng. Walaupun Alana tidak melihat itu. "Gue lagi ada urusan."
Maka, kalian bisa menebak urusan apa yang dewa itu lakukan? Mengerjai sang gadis gila--Bianca.
"Urusan apa?" tanya Alana lagi, "Mau berantem lagi?" tebaknya.
"Enggak Ana. Nanti aja gue kasi tahu, gue mau cabut dulu. Oke?"
Alana mengangguk dari sebrang sana. Setidaknya jawaban itu mampu membuatnya tenang. "Jangan lupa makan." pesannya.
"Iya, lo juga." sahut Titan cepat.
"Prnya jangan lupa dikerjain, besok Pak Desta masuk. Lo tau kan tuh guru paling benci anak-anak gak ngerjain pr?" gerutu Alana lagi.
"Iya Ana, astaga bawel banget." kekeh Titan setelahnya. Selalu seperti itu. Di omeli Alana adalah hal yang biasa.
"Yaudah, hati-hati." decak Alana. Mengangguk, Titan kemudian memutuskan sambungan.
Titan menoleh pada pergelangan tangannya, sudah setengah jam terlewati dari janji pertemuan.
Menarik jaket kulitnya kasar, ia meninggalkan apart lalu berlalu dengan ninjanya.
Dalam hiruk piruk orang yang berlalu lalang, Titan menyeringai sepanjang jalan. Menantikan ketakutan diwajah Bianca, lalu membayangkan betapa ia berhasil mengerjai gadis gila itu.
Lagi pula, persetan dengan pr Pak Desta, Titan bisa menyelesaikannya jika memang ia niat. Maka, tidak ada yang lebih penting selain wajah ketakutan Bianca harus ia temui.
Katakan bahwa Titan gila, tapi benar, aneh karena ia merasa tertantang setiap kali berdebat dengan Bianca.
Bukan, bukan karena Titan menyukai gadis itu, karena itu tidak akan pernah ada dalam kamusnya. Tapi karena Titan ingin memberikan gadis gila itu sebuah pelajaran. Bahwa dewa, akan selalu memenangkan segalanya.
***
Bianca berdecak kesal. Menghela napas kasar karena sejak tadi panggilan untuk Alana selalu teralihkan.
"Kemana sih tu anak?"
"Gila kali. Biarin gue nunggu selama ini?"
"Gelap! Banyak nyamuk!"
"Benar-benar dah! Ish!"
Bianca terus menggerutu. Kesal, karena Alana benar-benar membuatnya berdiri seperti orang bodoh. Membuatnya berada ditempat perjanjian mereka seperti orang t***l.
Menyerah, Bianca menyimpan ponselnya kembali. Menghentikan panggilannya karena ponselnya juga sudah mati.
Sialan, kenapa Bianca harus mengkhawatirkan pr itu? Lagi pula, hukuman dari pak Desta juga tidak berat. Tapi, mengingat kembali perkataan bu Nadine, Bianca mengurungkan niat untuk mendapat hukuman baru, karena ia tidak ingin di skors lagi.
Memikirkan hal baik, Bianca masih berdiri dengan sabar. Mungkin saja Alana terjebak macet? Atau ada suatu hal yang membuatnya harus telat datang kemari.
Bianca bukan cewek penakut, itu sebabnya ditengah jalan gelap seperti ini ia tidak takut apapun. Bianca hanya terus menggaruk lengannya karena terlalu banyak nyamuk disana.
Hening. Bianca menoleh ke sekeliling, masih tidak ada tanda-tanda kehadiran Alana. Orang-orang berlalu lalang juga tidak ada. Hingga jam dipergelangan tangannya sudah berada di angka sembilan, Bianca memutuskan untuk pergi.
Kali ini, persetan dengan tugas itu. Bianca tidak peduli lagi. Mengerucutkan bibirnya masam, ia melangkah cepat. Apalagi saat beberapa suara aneh mulai terdengar sejak dua puluh menit yang lalu.
Maka, akan Bianca buat Alana menjelaskan semua ini. Huh! Tidak juga bisa marah, karena Alana adalah sahabatnya.
Padahal Bianca tidak tahu, dibalik semak-semak ujung yang terletak dibelakangnya, Titan sudah menyeringai puas, menahan gelak tawanya karena sejak tadi ia menghidupkan sesuatu yang menyeramkan dari ponselnya.
Bohong kalau Bianca berani, karena wajah ketakutan gadis gila itu benar-benar membuatnya geli. 'Mampus lo!' kekeh Titan dalam hati.
Tapi, sepanjang malam itu, Titan berahir memikirkan kenapa ia melakukan ini?? Apa yang salah dengannya?
Dengan wajah ditekuk masam, Bianca memasuki rumahnya dengan gusar. Melewati Basir begitu saja, Bianca memutuskan untuk langsung ke kamarnya. Setelah berdiri hampir tiga jam, Alana benar-benar membuatnya kehilangan tenaga.
Mencharger ponselnya, Bianca kembali turun untuk menghampiri ayahnya. Menemukan Basir masih menonton televisi diruang tengah rumahnya, Bianca kembali duduk disamping Ayahnya tersebut.
"Hei, hei? Kenapa sih?" tegur Basir pertama. "Apa yang buat putri ayah mukanya kusut begini?" ledek Basir lagi. Geli sendiri karena Bianca tadi hanya melewatinya begitu saja. Basir tahu, jika sudah seperti itu ada sesuatu yang membuat putrinya itu kesal.
"Alana tadi ngajak ketemuan, Bian dah nungguin hampir tiga jam, tapi tuh anak gak datang-datang!" geram Bianca kesal.
"Enggak coba di hubungin dulu? Mungkin aja kan Alana berhalangan?" saran Basir kemudian.
Menghela napas panjang, Bianca menatap Ayahnya garang. "Bian udah coba nelpone, tapi teralihkan terus. Ish! Gatau ah! Kesel!!"
Basir terkekeh. Menyapu rambut putrinya lembut, lalu berujar. "Udah, jangan ngambek karena begini doang. Masa Bian mau berantem karena hal kecil begini?"
"Tapi Bian kesel ayah! Mana ditempat gelap banget lagi! Banyak nyamuk, Alana aneh banget tau! Ish!" gerutu Bianca lagi. Tidak berhenti menyalurkan semua kekesalannya.
"Yaudah-yaudah, besok Bian coba tanya aja baik-baik. Kalian kan sahabatan? Masa mau musuhan karena batal ketemuan?" ledek Basir lagi.
Mengerucutkan bibirnya masam, Bianca mengangguk. "Sebenarnya, Bianca tuh ketemuan mau nyontek pr."
"Dasar! Kamu ini! Kenapa enggak kerjain sendiri?" imbuh Basir lagi, menggeleng geli karena pengakuan putrinya tersebut.
"Susah ayah. Bianca benci sama gurunya!" jujur Bianca kemudian. Masih membuat pembelaaan. "Sama pelajarannya juga."
"Emang dasar kamu aja nakal. Ayah sering dengar kabar tentang Bian disekolah." kekeh Basir lagi. Tapi, ia juga tidak mempermasalahkan itu. Bianca berhak bahagia atas masa mudanya.
Bianca tertawa setelahnya, mengerjapkan mata, lalu menjulurkan lidahnya. "Ayah juga nakal waktu SMA!"
"Ayah wajar, ayahkan cowok--Bian." bela Basir lagi.
"Emang, cewek enggak boleh nakal?" decak Bianca. "Bian juga cuma sering telat aja kok, enggak aneh-aneh."
"Telat? Tidur diperpus? Jam terakhir sering kabur? Berantem sama adik kelas? Itu yang katanya enggak nakal?" kekeh Basir. Menggeleng tidak percaya dengan semua fakta itu.
"Ayah--"
"Iya, iya. Ayah enggak marah kok. Bian berhak bahagia dengan cara sendiri." jawab nya tulus. "Asal Bian tahu batasan kan?"
Menatap ayahnya gamang, Bianca berujar lagi. "Ayah enggak marah?"
"Enggak." yakin Basir.
Mengedipkan sebelah mata, Bianca angkat dari duduknya. Mencium pipi ayahnya lembut, dan berujar kembali. "Kalau gitu, Bian naik dulu. Ayah masuk sana kekamar, tidur lagi..."
"Iya, sebentar lagi juga ayah tidur." jelas Basir.
Bianca mengangguk, lalu berlalu dari sana. Lantas, berhenti ditengah tangga rumahnya, Bianca berteriak. "Kalau nanti dipanggil ke sekolah, jangan lupa datang ya ayah!" pesan Bianca manis.
Membulatkan mata, Basir menggeleng, lalu berteriak. "BIAN!! AWAS KAMU YA!"
Mengedikkan bahu, Bianca terkekeh geli, lalu menghilang dari anak tangga. Tidak pernah terasa selega ini setiap kali berbincang dengan Ayahnya.
Mungkin beberapa mengatakan Basir ayah yang galak, padahal mereka tidak tahu Basir memiliki segalanya yang tidak orang lain punya. Meskipun tubuhnya dipenuhi tato, Basir memang tampak menyeramkan, tapi dia Ayah terbaik yang Bianca miliki.
Kemudian, Bianca merebahkan diri diranjangnya. Membuka ponselnya kembali untuk memastikan kabar dari Alana, tapi nihil.
Lantas, menemukan pesan lain, Bianca mengerutkan dahi saat melihat pesan itu berasal dari Titan.
Setan Sialan
Ngapain lo ditempat gelap sendirian? Mau cari tempat sepi buat ngepet?
Membaca pesan itu berkali-kali, Bianca berusaha memahaminya. Sialan, darimana Titan tahu?
Bianca Dialova
Iya, gue mau ngepet ke apart lo!
Setan Sialan
A-ah, sayangnya duit gue diatm semua.
Bianca Dialova
Ya gue ambil atm lo lah!
Setan Sialan
Coba aja kalau bisa. Apart gue udah dikasi mantra. Biar lo kagak bisa tembus.
Bianca Dialova
Darimana lo tau gue ada disana?
Setan Sialan
Apasih yang gue gatau? Lo mau nyontek pr Ana aja gue tau.
Meremas ponselnya kasar, Bianca menyadari sesuatu yang ganjal disini. Sialan, jangan-jangan semua pesan Alana tadi Titan yang membalasnya??
Bianca Dialova
Tai! Lo yang ngerjain gue tadi???
Setan Sialan
Buat apa? Buang-buang waktu
Bianca Dialova
Setan lo! Awas aja lo besok!
Setan Sialan
Cup-cup, mau apa lo? Mau nyium gue lagi?
Bianca Dialova
Najis! Lo jangan sok kecakepan deh tolong!
Setan Sialan
Emang gue cakep, gimana?
Bianca Dialova
Pede lo! Ana doang kalik yang bilang lo cakep.
Setan Sialan
Satu sekolah, gue udah vote. Mau liat hasil votenya?
Bianca Dialova
Terserah lo deh, enggak ada habisnya ngomong sama setan kayak lo!
Setan Sialan
Ye b**o, gue ngetik bukan ngomong. Pantes aja lo peringkat terakhir, lo b**o.
Menghela napas panjang, Bianca melempar ponselnya kasar. Tidak ingin lagi membalas pesan setan sialan itu, ia memutuskan untuk memejamkan mata.
Besok, Bianca harus mendengar penjelasan Alana. Paling tidak, kecurigaannya benar, bahwa Titan yang mengerjainya.
'SIALAN! TITAN BENAR-BENAR SIALAN!' teriak Bianca dari kamarnya. Menggeram, ia mengepal tangannya, Titan benar-benar tidak pernah membuatnya tenang barang sehari.
***