Rasa suka berporos pada siapa yang berhak mendapatkannya. Dibumbui pada takdir yang kadang kala selalu kita inginkan, lalu mendapati bagian lain dalam perkembangan yang disajikan.
Seperti kita jatuh cinta, lalu ada orang lain lagi dibelakangnya. Yang selalu memantau kita, menjadikan kita objek paling sukar didapatkan, lalu hanya dapat melirik saat ada perkumpulan.
Kemudian, kisah itu diperjelas pada setiap bait kata yang terus mengalir tanpa terkira. Dan Bianca, mungkin berada dalam fase dari yang tak sepenuhnya ada.
Seperti saat ini, Bianca dan Tata sudah berjalan di sepanjang koridor sekolahnya. Sebagian siswa sudah pulang, hanya tersisa beberapa anak yang masih bermain dilapangan yang tampak. Bianca dan Tata masih membicarakan banyak hal. Tidak juga mengira bahwa mereka sendiri akan setelat ini nantinya.
"Alana mana?" tanya Bianca pertama. Setelah keluar dari jam pelajaran terakhir lebih awal, Bianca masih tidak menemukan keberadaan sahabatnya yang satu itu.
Tata sendiri sudah mengedikkan bahu. Segala hal mengenai Alana adalah sesuatu yang tidak perlu dipertanyakan lagi. "Bi, kayak masih perlu dijawab aja." erang Tata kemudian. "Udah dibawa kabur sama setan." sambungnya. Tidak perlu dikahwatirkan karena mereka akan tahu kemana Alana setiap kali sahabatnya itu menghilang.
Bianca sendiri sudah mengangguk, menyetujui. "Iya ya, ngapain gue nanya lagi?" erangnya. "Dimana ada Ana, disitu juga Setan berada." imbuh Bianca lagi. Menahan kekehan geli.
"Lo bisa enggak sih? Sehari aja akur sama Titan?" tanya Tata. Mengerjapkan mata pada sahabatnya tersebut. Menunggu jawaban dari Bianca atas pertanyaan yang lagi-lagi sudah dapat ditebaknya. Lalu, saat Bianca mengedikkan bahu, Tata terkekeh. See? Selalu seperti itu. Entah sampai kapan.
"Enggak bisa Ta, dia hobinya bikin gue tensi!" jawab Bianca malas. Memutar bola matanya jengah. "Jadi untuk akur yang lo maksud? Gue gatau bisa kerealisi apa kagak!"
"Lo juga sih, sekali-sekali coba ngalah. Lo tau kan setan hobinya gangguin manusia??" ujar Tata lagi, meyakinkan bahwa Bianca tidak perlu selalu berdebat dengan sang dewa yang satu itu.
"Iya, tapi--setan, kalau enggak dilawan, bakal terus-terusan ganggu!" potong Bianca cepat, mengerucutkan bibirnya masam. "Lo ah, ngapain sih ngomongin tuh bajigur? Kayak baru tahu aja."
"Hati-hati loh, nanti lo malah naksir. Lo tau kan, benci dan cinta bedanya tipis??" ledek Tata setelahnya. Senang sekali menggoda Bianca untuk masalah itu. "Gue enggak tahu sih sampe kapan itu terjadi."
Bianca terkekeh. Menggelengkan kepala kuat. "Sorry b***h. Enggak akan!"
"Yakin?? Jangan sampai aja nanti lagu Yura Yunita keluar." kekeh Tata kemudian. "Mau gue nyanyiin nih?"
Mengerutkan dahi, Bianca menatap tajam sahabatnya itu. "Hah? Gak jelas lo!"
"Kucinta--padamu, namun kau milik sahabatku, dilemaaaa~~~"
Memukul pundak Tata, Bianca memberi cubitan kecil pada sahabatnya itu. Melemparkan Tata jari tengahnya. "Sialan lo!"
Tata sendiri sukses tertawa terbahak. "Makanya, gue kan cuma bilang." imbuhnya. "Aneh, kok marah. Suka beneran??" goda Tata lagi.
Memberi kepalan tangannya diwajah Tata, Bianca berujar geram. "Ngomong lagi lo! Gue gampar!" ancamnya. Menjulurkan lidah, Tata hanya meledek sahabatnya itu semakin puas. Hingga membuat Bianca menggerutu. "AWAS LO!" geram Bianca. Yang dibalas Tata dengan kerlipan mata menggoda.
Hingga sebuah ninja menghadang mereka menghentikan langkah Bianca dan Tata. Memutar bola mata malas, Bianca bisa menebak siapa yang baru saja membuka helm fullface dihadapannya itu.
Dengan senyum menggoda, Gavin menyeringai puas. "Gue bawa Tata, boleh?" izinnya pada Bianca pertama.
Mengedikkan bahu, Bianca mendorong sahabatnya. "As u wish."
Tata mengulum senyumnya, menatap Bianca dengan wajah berseri-seri. "Enggak papa nih gue tinggalin lo?"
Menjijikan. Bianca tahu Tata hanya pura-pura tidak enakan padanya. "Dih, jangan sok-sokan deh. Gue mandiri, enggak manja kek lo!" sahut Bianca kemudian.
Mengangguk ria, Tata mendekati Gavin, menerima uluran helm dari cowok itu, lalu menaiki ninjanya cepat. Menatap Bianca geli sebelum melambaikan tangan menggoda.
"Lo pulang sama siapa?" tanya Gavin pada Bianca ketika ia dan Tata sudah bersiap untuk pergi.
Bianca sudah mengedikkan bahu. Tidak ada yang perlu dipikirkan, ia bisa pulang dengan siapa saja. "Gue bisa naik angkot." jelasnya kemudian. "Udah sana aja, nanti pajak jadian jangan lupa!" imbuh Bianca lagi.
"Bi--apaan sih!" potong Tata malu-malu. Padahal dalam hati ia bersorak girang. Bianca sendiri hanya menampilkan wajah geli pada sahabatnya itu.
Menyadari bahwa Alana tidak ada. Gavin berdecak. "Eh, Alana udah dijemput Titan??"
Tata yang menyahut dibelakangnya. "Udah," katanya pertama. "Kayak enggak tahu aja Titan dan Ana selengket apa." sambung Tata lagi. Lalu ia menatap Gavin, memperhatikan penampilan cowok itu. Tata mendengar kabar bahwa tadi Danirian sempat tawuran dengan anak-anak Aerebos. Lantas memutuskan untuk memastikan itu, Tata berdecak kembali. "Apa tadi lo pada habis tawuran?"
Gavin mengangguk sebagai jawaban. Menyeringai. "Ditantangin anak Aerebos." jelas Gavin kemudian. "Anak-anak juga lagi dibasecamp."
"Astaga? Lo enggak kenapa-kenapa?" tanya Tata kemudian. Mendadak panik. "Ada yang luka?"
Gavin menggeleng cepat. Berusaha meyakinkan. Gemas sendiri dengan teman sekelasnya yang satu ini. "Enggak apa-apa. Ini kalau kenapa-kenapa juga gue enggak bakal ada disini, jemput lo."
"Iya juga ya," sela Tata. Setidaknya, melihat Gavin baik-baik saja dengan wajah songongnya itu dapat membuat Tata lega. "Kenapa lagi sih? Ada masalah?"
"Kayak biasa." kekeh Gavin. Tetap santai. "Tenang aja, jangan khawatirin gue."
"Gimana gak khawatir sih Vin?" erang Tata. Apakah cowok ini tidak mengerti sebanyak apa perasaan yang ia miliki? Apakah Gavin tidak melihat sebanyak apa rasa sukanya untuk cowok b******n ini? Segala u*****n. Segala desas-desus dan berita mengenai Gavin, segala hal tentang betapa playboy dan gilanya cowok ini, tapi Tata tetap memperhatikannya. Melihatnya selama bertahun-tahun mereka sekelas. Bisakah Gavin menatap relungnya lebih dalam? "Lo enggak tahu rasanya jadi gue."
"Tata..." erang Gavin setelahnya.
Bianca sendiri masih terdiam mendengarkan. Tidak berhenti memperhatikan percakapan dua orang dihadapannya. Tapi satu yang paling membuatnya bertanya-tanya, salahkah? Bianca ingin tahu apakah Titan juga baik-baik saja? Konyol memang. Tapi kenapa ia tiba-tiba kepikiran setan itu? Untuk apa pula pikirannya terbesit pada manusia menyebalkan itu? Jadi sebagai gantinya, Bianca berdecak. "Apa anak Danirian baik-baik aja?"
Meneliti Bianca dengan saksama. Gavin terkekeh. Menarik kedua sudut bibirnya sebelum berdecak. "Mau nanya siapa sebenarnya? Jangan basa-basi." goda Gavin kemudian.
"Paansih." sergah Bianca malas. Sialan memang. Apa kentara sekali? "Udah deh, males gue."
Barulah Gavin tertawa puas. "Pasukan Carswell baik-baik aja." kekehnya. "Pemimpin utama juga baik-baik aja. Kalau itu yang mau lo tahu."
"Gue enggak nanya Titan yah!" sela Bianca cepat. Menghela napas panjang. "Plis deh."
Gavin mengangguk sebagai godaan terakhir. Tata sendiri masih terkekeh dibelakangnya. Kemudian, beralih menatap Bianca lebih dalam, Gavin berujar lagi. "Bi, gue duluan deh ya. Gapapa nih?" pastinya lagi. "Apa mau gue suruh Aiden atau Arkan buat jemput lo?"
"Enggak perlu. Gue bisa sendiri." tolak Bianca cepat. Kemudian memberi kode dengan tangannya, ia mengusir dua orang yang lagi kasmaran dihadapannya, setidaknya Bianca tahu bagaimana wajah Tata sudah berseri bahagia. Dan ia juga mendukung itu semua, tentu atas dasar kebahagiaan Tata. "Anterin sahabat gue sampai selamat. Awas aja lo kalau Tata sampai kenapa-kenapa." ancamnya.
Gavin hanya memberikan jari jempolnya, menghidupkan ninjanya lalu berlalu dari sana.
Membiarkan Bianca menggeleng geli atas kelakuan dua orang itu. Tapi, bagaimana kebahagiaan Tata terpati diwajahnya, Bianca ikut bahagia atas sahabatnya itu. Kemudian memilih melangkah menuju halte depan sekolah, Bianca menghela napas berat. Tertampar pada kenyataan bahwa ia akan selalu sendiri.
Padahal Bianca tidak tahu, seratus meter dibelakangnya--ada seseorang yang sudah tersenyum melihatnya.
***
Titan baru saja menghentikan ninjanya di halaman rumah Alana. Merangkul pundak sahabatnya itu, lalu mengikuti Alana masuk kerumahnya.
Sebuah rumah yang sudah menyambut Titan hangat sejak dahulu. Menjadikan Titan nyaman setiap kali datang kerumah ini. Sebuah rumah yang tidak pernah mengingkari kedatangannya, hingga Titan mampu menyimpulkan nyamannya disana.
Apalagi Om Sean dan Tante Alice sudah menganggapnya seperti anak sendiri. Membuat Titan selalu merasa dihargai setiap kali bersama orang tua Alana tersebut.
Seharusnya Titan bergegas ke basecamp mengingat seluruh pasukan carswell sudah disana. Namun, rengekan Alana menghentikan niatnya. Memilih untuk tetap tinggal dirumah gadis itu, Titan tidak dapat berbuat banyak. Lagi pula, memang ada yang lebih penting selain Alana??
"Mana orang rumah?" tanya Titan pertama, menelusuri rumah Alana dan tidak menemukan tanda-tanda siapapun disana. "Lagi pergi ya?"
Ana mengedikkan bahu dan berujar pelan. "Ada kok, Pak Jaguar dikebun, mbok Ita didap--"
"Maksud gue Om Sean sama Tante Alice, Ana." potong Titan cepat. Membuat Alana langsung terkekeh disebelahnya.
"Kayak enggak tau aja," sela Alana malas. "Bonyok gue kan sibuk. Sama kek bonyok lo." kekeh Alana, membuat Titan mengangguk membenarkan.
"Abis berantem lagi tadi?" tanya Alana kemudian. Ia sudah merebahkan diri di ranjang kamarnya. Sementara Titan memilih duduk disofa panjang yang terletak dipojok kanan kamar itu. Memilih menghidupkan sebatang rokoknya, Titan bersender pada jendela utama. Tapi matanya tidak lepas setiap kali memperhatikan Alana.
"Seperti biasa." jawab Titan santai. Menoleh untuk menemukan wajah masam sahabatnya itu. Ia terkekeh pada detik selanjutnya.
"Enggak capek apa?" gerutu Alana. "Berantem mulu, pukul-pukulan mulu. Seneng banget emang ngancurin muka anak orang?"
Titan masih terkekeh. Mengangkat kedua alisnya geli. "Hei! Kenapa lo ngomel sih?"
"Lo sih! Gimana kalau suatu saat semuanya bakal balik ke lo? Lo yang kalah, lo yang luka-luka?" cetus Alana lagi. Seharusnya Titan mengerti bagaimana ketakutannya kali ini. "Gimana kalau lo kenapa-kenapa?"
Membuang rokoknya asal. Titan berdiri dari sofanya, mendekat pada Alana--ia duduk disamping gadis itu, menyapu rambut Alana lembut. "Lo kenapa? Tumben banget."
Alana menepisnya, mengesampingkan tubuhnya agar berhadapan dengan Titan, ia mendengus. "Gue khawatir! Puas lo??"
Terkekeh, Titan tertawa disebelah gadis itu. Mengacak-acak rambut Alana, ia berujar lagi. "Gak ada yang perlu lo khawatirin. Lo lupa gue siapa?"
Menghela napas berat Alana berujar lagi. "Iya deh, serah. Enggak pernah mau dengerin gue."
"Bukan gitu Ana..." erang Titan. Mengulum senyumnya karena wajah menggemaskan Alana benar-benar membuatnya geram.
"Apa? Mau kayak gimana lagi coba gue ngomong? Pergi dijam pelajaran. Datang telat, pulang paling awal. Lo t--"
"Iya-iya!" potong Titan. Menutup mulut Alana dengan tangannya. "Masakin gue aja dulu, gue laper. Berhenti ngomelnya, oke??" mohon Titan.
Mendorong Titan kasar, Alana berdiri dan berlalu dari kamarnya. Mengerucutkan bibirnya masam, sementara Titan sudah merebahkan diri diranjang gadis itu.
"YANG ENAK YA!" pekik Titan dan terkekeh karena Alana benar-benar membuatnya geli sendiri. Titan tidak tahu harus mengatakan apa selain ia bahagua atas persahabatan mereka.
Lalu, ketika sebuah suara berbunyi, Titan menemukan satu pesan masuk diponsel Alana. Membuka ponsel itu tanpa permisi, Titan segera membacanya. Menemukan siapa pengirim pesan tersebut, Titan mendapatkan sebuah ide untuk mengusiknya. Tidak tahu kenapa ia melakukan ini, tapi Titan hanya ingin menggoda gadis itu.
Bianca Dialova
Ana, nyontek pr buat besok. Gue ketiduran tadi, jadi enggak ngerti.
Alana Humeera
Oke, nanti malam gue langsung kasi. Mau ketemuan dimana? Ada banyak PR nya.
Bianca Dialova
Serah lo, dimana aja nanti gue samperin. Ambil kerumah lo juga, gapapa.
Alana Humeera
Jalan Khatulistiwa aja, gue kebetulan mau belanja lewat sana.
Bianca Dialova
Oke, jamberapa?
Alana Humeera
7. Jangan telat, awas aja lo.
Bianca Dialova
Enggak takut lo? Disana jalannya gelap?
Alana Humeera
Ada lo kan? Ngapain gue takut?
Bianca Dialova
Repot banget sih, kenapa enggak gue kerumah lo aja?
Alana Humeera
Gue kan sekalian mau belanja Bian. Kasian lo jauh-jauh.
Bianca Dialova
Lo kayak enggak tau gue aja deh Na.
Alana Humeera
Udah pokoknya jangan telat nanti, lo tuh ratunya telat. Gue enggak mau ya nunggu lama-lama.
Bianca Dialova
Iya, iya. Bawel lo!
Titan terkekeh, benar-benar menahan perutnya karena meladeni pesan bodoh itu. Namun, bagaimana Bianca membalasnya membuat Titan tertantang. Senang jika akhirnya gadis gila itu berhasil masuk dalam perangkapnya.
Lantas, menghapus pesan itu cepat, Titan meletakkan ponsel Alana kembali. Puas sendiri karena ia berhasil mengerjai gadis gila yang satu itu.
Hingga langkah kaki Alana mulai terdengar, Titan berusaha menahan kekehan geli yang sejak tadi tidak kunjung mereda.
"Kenapa lo senyum-senyum? Serem amat." tegur Alana pertama. Ia sudah datang dengan semangkuk spagheti Bolognese ditangannya, menyerahkan makanan itu pada Titan, Alana menggeleng tidak percaya. "Sekalian aja lo pindah kesini, numpang makan doang lo dirumah gue!"
"Kata Bokap gue, dulu nyokap lo juga sering minta traktir bokap gue. Balas budi!" kekeh Titan. Membuat Alana memukul lengan cowok itu.
"Dasar! Pamrih lo!" ketus Alana. Yang dibalas Titan dengan kedipan mata menggoda.
"Apa besok ada pr?" tanya Titan akhirnya. Teringat pembahasannya dengan Bianca tadi. Ia harus memastikan untuk melancarkan semua ini.
Alana mengangguk. "Makanya, jangan cabut tadi." ucapnya malas. "Sok-sokan banget nanya pr, dikerjain juga palingan enggak."
"Kirim ke gue soalnya, nanti gue kerjain." pinta Titan setelahnya.
Alana terlonjak tentu saja. Apa ia tidak salah dengar? Lantas terkekeh, Alana berdecak. "Lo? Mau ngerjain Pr? Kesambet apa?" ledeknya.
"Gabut aja." sahut Titan. Menatap Alana dengan senyum menyebalkan. "Kirim aja ntar, oke?"
"Males." tolak Alana cepat. "Biar aja lo peringkat terakhir!" Sambung Alana. Menelusuri pandangannya pada Titan, membiarkan matanya berpusat pada semua yang cowok itu lakukan.
Titan yang sedang menyuapi makanan yang sudah dibuat gadis itu, meneguk minumnya, lalu sesekali menatap Alana. "Enggak mungkin kan?"
Sisongong ini. Alana tidak tahu harus bagaimana selain mengatakan ia ingin ini lebih dari sekedar tatapan bodoh itu. Ia ingin ini lebih dalam dari semua ini. Tapi bisakah? Apa sebenarnya perasaan yang Titan miliki untuknya? Bagaimana bisa Alana baik-baik saja disaat tatapan itu seperti menjerumus kepadanya?
Sementara Titan, Masih melahap spagheti buatan Alana, ia berujar kembali. "Gak mungkin, Ana. Walaupun gue jarang masuk kelas, gue enggak pernah tuh keluar dari lima besar." beo Titan kembali. Menekankan itu untuk membanggakan dirinya sendiri.
Dengan Alana yang tidak lagi menjawab, karena semuanya benar. Titan pintar, setidaknya itu yang bisa Alana katakan. Walaupun jarang mengikuti pelajaran, Titan bisa mengerti dalam waktu cepat. Mempelajari itu tanpa perlu dijelaskan, lalu memahami semuanya dengan caranya sendiri. Aneh memang, tapi begitulah sang dewa mengetahui semua itu. Mengingkari bahwa Titan bodoh juga percuma. Karena nyatanya, si songong itu benar-benar bisa segalanya.
Handal dalam matematika, pintar dalam hapal-hapalan, dan jagoan dalam olahraga. Segala objek impian yang berhasil Titan menangkan semua. Hanya saja, si dewa yang satu itu terlanjur malas setiap kali berhadapan dengan lembar-lembar kertas.
Kemudian membalas tatapan Titan sama tajamnya, Alana bersiul bangga. "Kalahin gue dong." bangga Alana. "Lo selalu dinomor 4, naik kesatu bisa enggak??" ledek Alana lagi.
Titan menggeleng sebagai jawaban. "Nanti lo nangis." sahut Titan cepat. "Cukup waktu SMP aja lo nangis karena gue lebuh unggul."sambung Titan menggoda.
Alana sendiri sudah mengerucutkan bibirnya masam. Menatap Titan galak. "Enak aja, gue enggak nangis karena itu ya!"
"Masa?" goda Titan, menjulurkan lidahnya menggoda. Lantas ketika ingatan mengenai Bianca terbesit. Titan tiba-tiba saja berujar. "Mending lo tantang sahabat lo aja, biar enggak b**o-b**o banget."
Mengerutkan dahi, Alana berpikir sejenak. "Bianca maksud lo?" Lalu Titan mengangguk sebagai jawaban. "Bian pintar kok, dia cuma males aja." bela Alana. "Dia jago gambar tahu!"
Tapi, memangnya Titan peduli? "Bilangin jangan molor mulu. Jadi cewek harus pintar." ujar Titan kembali. "Enggak usah bego."
Menatap Titan tidak suka, Alana berdecak malas. Kenapa random sekali tiba-tiba membahas Bianca? Aneh banget. "Kenapa sih? Sewot banget sama Bian, suka??" tanya Alana tidak suka.
Menyeringai, Titan berujar lagi. "Cemburu?"
"Ogah!" ketus Alana, lalu berdiri untuk mengambil minuman. Memilih untuk menghindari tatapan Titan adalah tujuan terbaik dari segala hal yang dirasakannya.
Alana benar. Kenapa Titan tiba-tiba membahas gadis gila itu? Lalu membiarkan Alana berada didekatnya, ia berujar. "Btw, spaghetinya enak. Buatan mbok?" tanya Titan lagi. Masih tidak berhenti menggoda sahabatnya itu.
Memutar bola matanya jengah, Alana menatap tajam cowok itu. "Enak aja, gue yang buat!" protes Alana. "Susah payah gue buatin, malah bilang buatan mbok."
"Iya deh percaya..." kekeh Titan. "Buatan sahabat gue yang cantik ini."
"Emang gue Tedi!!" geram Alana lagi. Dengan Titan yang sudah berdeham untuk menyetujuinya.
Titan pergi setelah menyelesaikan makannya. Meninggalkan rumah Alana setelah beberapa percakapan panjang mereka, lalu memutuskan untuk pergi dan datang ke basecamp Carswell.
Namun sepanjang perjalanan, Titan membiarkan pikirannya berkutat dengan hal konyol yang sudah ia katakan pada gadis gila itu--Bianca. Senang sendiri karena ia akan mengerjai sang musuh.
***