XVII. Hukuman Lagi

3003 Kata
Lagi, seperti saling yang terus bertaut. Keduanya tidak lepas mempertontonkan peranan mereka. Hingga semua tahu bahwa mereka kadang kala tampak saling kalut. Sudah dua pulut menit terlewati dan Bianca masih terus menepis keringatnya. Menatap Titan disebelahnya, bohong jika Bianca tidak terpana. Bagaimana sosok dewa itu benar-benar membuatnya kelimpungan. Titan berdiri tegap disampingnya, dengan dua tangan masih tersimpul disakunya, pancaran panas terik pagi ini tidak menghalangi cahaya itu menusuk tepat diwajah sempurna Titan. Tampan bak dewa yunani? Sialan. Benar, Bianca tidak bisa menolak fakta itu. Memperhatikan Titan sejak tadi, tanpa berhenti, Bianca terpana karena Titan tidak bereaksi atau terusik dengan panas yang menyerang mereka. Tetesan peluh dan bulir-bulir keringat merembes hingga melewati wajahnya. Meneguk ludahnya, Bianca tidak tahu apa yang salah. Tapi tujuan akhir tatapannya adalah bibir milik setan itu. Seolah-olah mengacau isi kepalanya bahwa Bianca baru saja merasakan itu kemarin. Bianca mematung cukup lama, hingga suara yang tidak asing itu menegurnya. Buru-buru Bianca menyadarkan dirinya sendiri. "Ngapain sih lo?!" tegur Titan kemudian. Walaupun matanya masih menatap lurus kedepan, ia tahu gadis gila disampingnya ini terus menatapnya. Gelagapan, Bianca buru-buru memalingkan wajahnya. "Pede lo, gue lagi liat nyamuk!" sahutnya asal. "Lah? Gue nanya lo ngapain? Bukan nanya kenapa lo liat gue." kekeh Titan. Jawaban yang Bianca berikan sendiri membuat Titan tahu gadis itu memang sedang menatapnya. "Sekarang lo harus mengakui kalau lo emang ngeliatin gue dari tadi." Bodoh. Bianca benar-benar bodoh. Kenapa ia jadi terbata? Tidak ada yang salah dengan mereka. Lantas menghela napas, Bianca memilih untuk tidak menjawab itu. Tapi tidak dengan Titan, ia tidak akan menyerah hingga gadis itu mengakuinya. Terkekeh, Titan menggeser sedikit tubuhnya, menatap gadis gila itu dan berujar. "Gue tau, gue cakep." "Najis. Kerasukan lo?" gerutu Bianca malas. Tidak menoleh, karena ia tahu Titan pasti besar kepala. "Kerasukan babi bercula seribu." ngawur Titan. Terkekeh sendiri. "Jadi, silahkan jawab. Kenapa lo liatin gue?" "Gue enggak liat lo!" sela Bianca cepat. Masih tidak menoleh, ia tetap tidak ingin menatap Titan. Tidak ingin kebohongannya terlihat jelas. "Sumpah, ngapain gue harus liatin lo? Kurang kerjaan banget." "Sesulit itukah buat lo ngaku?" imbuh Titan. "Tinggal ngaku aja ribet banget." Menghela napas panjang. Bianca akhirnya memutar tubuhnya dan menatap Titan lekat. Menaikkan kedua alisnya dan berdecak. "Udah gue bilang, gue--" "Ini--" potong Titan cepat. "Ini lo lagi liat gue." Menggeleng kepalanya, Bianca kembali ke posisi sebelum berujar. "Sakit jiwa lo." Menyunggingkan senyumnya. Titan mengedikkan bahu. "Lo juga." sahutnya. Mengerti bahwa perdebatan itu tidak akan berakhir, Titan berdecak kembali. "Diem deh lo, gara-gara lo gue berakhir disini." "GUE?" protes Bianca. "Buka--" "Apa? Emang lo! Kalau gue gak ketemu lo digerbang belakang, gue pasti lolos kali ini." sindir Titan lagi. Memotong ketika Bianca bahkan belum sempat menyelesaikan ucapannya. Menghela napas, Bianca menggeleng tidak percaya. Tidak pernah ada habisnya berdebat dengan Titan sialan ini. "Shut up setan. Jangan buat pagi gue suram karena debat sama lo." geram Bianca akhirnya. Titan baru saja ingin menyahut, ketika barisan dibelakang memotongnya. "Eh, diam. Bu Nadine kesini!" tegur Dennis, anak kelas sebelah. Bianca dan Titan sama-sama menoleh, memperhatikan guru kesayangan mereka itu dengan malas sebelum bersiap ditempat masing-masing. Hal itu puka yang akhirnya berhasil membuat Titan dan Bianca sama-sama bungkam. Dan kedatangan Bu Nadine kebarisan mereka, bertepatan dengan upacara yang sudah berakhir. Memberi celotehan ringan pada beberapa siswa yang datang terlambat hari ini, mereka dibebaskan begitu saja setelah mendengarkan ceramah panjang itu. Tapi tidak dengan Bianca dan Titan. Menggeleng tidak percaya, Bu Nadine menunjuk Titan dan Bianca secara bergantian. "Kalian berdua? Ikut saya keruang BK!" geramnya. Tidak ada aba-aba atau wujud kasihan untuk dua orang pembuat onar itu. "BU--" decak Bianca. Menggeleng parau. "SEKARANG!!!" potong Bu Nadine lagi. Membiarkan Bianca meringis, sementara Titan menghela napas sebelum melangkah lebih dulu. Hingga akhirnya mereka kembali keruangan ini lagi. Baik Titan maupun Bianca sama sekali tidak menampilkan sorot penyesalan itu. Seperti biasa, jika Bianca hanya menyilangkan kaki dengan santai, Titan masih merebahkan kepala diatas kursi ruangan tersebut. Sudah seperti memasuki kelas sendiri karena Titan dan Bianca pemecah rekor masuk ruangan itu terbanyak. Mencatat nama kedua siswa itu dibuku hitam, Bu Nadine berujar lagi. "Bagaimana lagi saya harus menghukum kalian?!" Bianca menggeleng pertama. Menatap guru medusa dihadapannya dengan wajah memelas. "Bu, saya ada ulangan nih--" bujuk Bianca. Tahu betul bahwa bertatapan dengan Bu Nadine hanya membuang-buang waktu. "Terserah Bianca! Saya harus menghukum kalian lebih berat kali ini!" decak Bu Nadine lagi. Tidak peduli alasan apapun yang ingin Bianca katakan padanya. Menatap Titan setelahnya, bu Nadine menggeleng kuat. "Kamu Titan!" "Ya bu? Kenapa? Saya cakep?" kekeh Titan. Menaikkan kedua alisnya, karena menggoda bu Nadine adalah hobinya. Menggeleng, bu Nadine berdecak. "Kenapa baju kamu seperti itu?!" geramnya pertama. "Dasi?! Ikat pinggang? Kaos kaki? Kemana semuanya?!" "Laondry bu. Semalam lupa diambil." sahut Titan santai. Memang, Titan pernah memusingkan semua atribut sekolahnya? Tentu jawabannya tidak. "Alasan kamu Titan. Saya bakal laporin kamu ke papa kamu setelah ini." ancam Bu Nadine kembali. Merasa selama ini celotehannya sama sekali tidak digubris. "Yah bu, enggak asik ah. Inikan masalah saya sama perlengkapan sekolah, besok saya pakai deh." janji Titan. Bukan karena ia takut, lagi pula papanya hanya akan berceramah. Titan hanya malas mendengarkannya. Mengabaikan Titan, Bu Nadine berpaling pada Bianca. Sementara gadis itu sudah memainkan kukunya dengan jenuh. "Kamu Bianca!" geram Bu Nadine. "Rambut kamu! Sudah berapa kali saya bilang disekolah ini tidak boleh pirang?!" "Iya bu, besok Bian hitamin, pakai spidol." sahutnya santai. Sementara tawa Titan langsung pecah disebelahnya. "Benar-benar ya kamu Bian!" geleng Bu Nadine lagi. "Saya kasi surat panggilan buat Ayah kamu!" "Percuma bu, ayah saya jarang dirumah." sahut Bianca asal. "Kalaupun ibu kasi, saya enggak yakin ayah saya bakalan datang. Tapi coba aja kalau ibu mau." Mengatur napasnya, Bu Nadine menyapu dadanya dengan sabar. Selalu habis kata-kata setiap memarahi kedua siswa bangor tersebut. "Mendingan ibu ke uks, terus tensi. Takutnya Tensi ibu naik..." saran Bianca lagi. Memandang bu Nadine polos. Titan sendiri mengangguk. Menyetujui. "Nanti saya suruh anak-anak beliin obat buat ibu." Titan menambahkan. Memukul meja dihadapannya dengan kasar. Bu Nadine berdiri. "Bersihkan perpustakaan sampai jam kedua!" putusnya. "Dan--kalau sampai saya kesana dan kalian tidak ada, kalian berdua akan saya skors seminggu!" Bianca berdiri lebih dulu, mengangguk santai dan berujar. "Enggak masalah bu, perpustakaan doang kan?" "Saya tau kalian tidak membantu pak Dadang kemarin!" sela bu Nadine cepat. Menatap Bianca dan Titan garang. "Kalau kali ini saya tahu ka--" "Iya bu iya. Udah ah, jangan ngomel lagi." potong Titan cepat. Ia memberi kode agar Bianca segera angkat. Lantas keduanya berpamitan. Mendorong punggung Bianca dengan tangannya, Titan mengajak gadis itu pergi, hingga keduanya segera berlalu meninggalkan ruangan itu. Membiarkan bu Nadine menggeleng tidak percaya. Sepertinya, kali ini, ia benar-benar harus tensi. "Lo benaran bersihin gudang?" tanya Bianca ketika keduanya sudah berjalan beriringan. Titan hanya mengedikkan bahu sebelum terus melangkah. Hingga, sampai pada koridor kelas sepuluh, Titan menemukan dua adik kelasnya sedang duduk didepan kelas. Dan mereka yang akan menjadi targetnya. "Eh, lo!" tegurnya. Kedua cowok itu berdiri, membungkuk sesaat sebelum berujar. "Iya kak?" "Gantiin gue beresin perpus. Gue ada urusan." kata Titan kemudian. Sama sekali tidak ada embel-embel atau permohonan meminta tolong. Membulatkan mata, Bianca terkekeh mendengar perintah tersebut. Yang artinya, Bianca juga tidak perlu repot melakukan hukuman bodoh itu. Namun sialan, karena perkataan Titan selanjutnya membuat Bianca menggeram. "Sama Bianca. Lo bantu-bantu aja dia." titahnya dan berlalu dari sana. Membiarkan Bianca yang sudah mematung ditempatnya. "SETAN SIALAN!" teriak Bianca geram. Membiarkan kedua adik kelasnya hanya terkekeh takut-takut dihadapannya. Menatap kedua adik kelasnya itu. Bianca menghela napas sebelum berujar. "Eh, lo bedua!" tegur Bianca garang. "I-iya kak..." sahut mereka gelagapan. Menormalkan kembali wajahnya. "Cari satu cewek buat temanin lo. Terus kasi tau gue nyuruh beresin perpus. Sampe istirahat kedua. Kalau udah, lapor sama gue ke kelas." suruh Bianca lagi. "Atau kalau bu Nadine datang, langsung kabari gue. Gimanapun caranya. Oke?" Keduanya hanya mengangguk serempak, barulah mereka bernapas lega ketika langkah Bianca sudah menjauh. Karena, tidak juga ada yang berani melawan kehendak Titan dan juga Bianca. Mereka tahu, bagaimana kedua orang itu berperan penting bagi Danirian. Oke. Mungkin mereka bisa mengabaikan fakta bahwa Bianca adalah perempuan. Tapi orang-orang disekitar kakak kelasnya itu dan juga lingkup pertemanan yang Bianca miliki, membuat keduanya manut tanpa banyak bertanya lagi. *** "Gila! Lo benar-benar gila!!" kekeh Tata pertama. Menepuk tangan dengan riuhan saat Bianca baru saja memasuki kelas. Disusul oleh teman-temannya yang lain, mereka menyambut Bianca nyaring. Penuh sorakan dan juga ejekan. Tapi Bianca sama sekali tidak menghiraukan itu. Memutar bola matanya jengah, ia memutuskan untuk duduk dibangkunya. "Kenapa bisa barengan sama Titan?" timpal Alana kemudian. Penasaran. Tentu saja, dari semua ledekan itu, menemukan Titan bersama Bianca lebih membuatnya penasaran. Merebahkan kepala diatas meja, Bianca menghela napas sebelum berbalik untuk menatap Tata dan Alana bergantian. "Gue sama Titan ketahuan lompat gerbang belakang." ujarnya malas. "Jadi, kita enggak punya pilihan. Pak Didi mergokin." "Terus, dimana Titan sekarang?" sahut Alana cepat. Seolah-olah dari semua informasi yang Bianca berikan, Alana hanya ingin tahu keberadaan Titan. Tidak lebih dari apapun. Menatap sahabatnya itu, Bianca tersenyum setengah terpaksa. "Sorry to say, Ana. Dia sahabat lo, lo tanya aja sana." "Digudang kali, Gavin bilang mereka masih digudang." Tata yang memotong. Barulah Bianca mampu bernapas lega. "Nah! Tata udah jawabkan??" ujar Bianca malas. Lalu ia menatap Alana. Bianca tidak salah kan? Ia pasti benar menebak bahwa Alana hanya sakit datang bulan seperti biasa. "Lo dah sembuh??" Mengerutkan dahi bingung, Alana berujar. "Kok lo tahu gue sakit??" "Anak-anak ngasi tahu, gue balapan semalam." jelas Bianca. Menatap Tata sesaat untuk melihat reaksi sahabatnya itu, karena Bianca tahu, Tata pasti akan heboh. "Tumben?" "Udah tahu. Gavin ngasi tahu," kekehnya. Maka tidak heran jika Alana juga terlihat santai. Dia pasti sudah dikasi tahu Titan. "Gue cuma sakit perut. Hari pertama, u know?" jelas Alana kemudian. "Emang dasar Titannya aja suka lebay." Nah! Bianca benar-benar menggeleng. Tebakannya benar. Perkataan Alana juga tepat sekali. Titan memang lebay. "Bener. Tuh setan emang lebay bukan maen." "Lo buruan gih Na minta kepastian." potong Tata cepat. Tidak ingin sahabatnya itu berada diambang ketidakpastian seperti dirinya. "Apalagi coba yang mau ditunggu?" "Kepastian apa? Dia sahabat gue." sela Alana. Tidak mengerti kenapa Tata terus mendesaknya. Alana tidak akan memulai itu lebih dulu. Bianca dan Tata serentak saling tatap sebelum membuat ekpresi seperti ingat muntah. "Udah deh, jangan nyembunyiin terus!" ledek Tata lagi. "Kelihatan jelas tahu gak?" "Si setan itu juga pasti suka lo kok. See? Dia bahkan rela batalin balapan gede itu buat lo?" yakin Bianca. "Dia rela nyerahin apapun cuma buat lo mastiin lo baik-baik aja." Alana tidak menjawab. Ia hanya memikirkan perkataan Bianca dan juga Tata. Menerka-nerka semua kegilaan ini, lalu terbuai pada keinginan yang semakin membelenggu. Berteriak dalam hati, bolehkah? Benarkah Bolehkan Alana memimpikan Titan, bahwa tentang mereka bisa lebih dari pada ini? Bianca sendiri tersenyum kecut. Untuk semua pertanyaan itu, untuk semua apapun yang ia katakan, aneh karena perasaannya juga ikut kacau. Bianca sendiri tidak mengerti. Aneh. Tapi, menepisnya lagi-lagi, Bianca memilih berbalik badan. Tidak ingin terlibat dalam pembicaraan mengenai Titan lagi. Alana sendiri sudah terlihat mengimang banyak pemikiran. Lantas ketika Bianca menunduk, ia mengerutkan dahi saat menemukan sebuah coklat dan secarik kertas sudah berada dikolong mejanya seperti biasa. Membaca tulisan itu dengan jengah, Bianca mulai mengejanya. Jangan sampai telat lagi kayak senin-senin sebelumnya. Happy Monday, My Athena..." Dan Bianca benar-benar meremas kertas tersebut. Membuangnya asal sebelum memberi coklatnya pada Tata. Sudah cukup ia berpikir banyak hal hari ini. Bianca tidak ingin memusingkan dirinya sendiri. "Lagi??" tanya Tata heran. Tapi ia pula sudah bersiul girang. Bianca mengangguk malas. "Biarin aja, lumayan, ngisi perut selama pelajaran." Tata pula setuju, sebelum membuka asal coklat silverqueen tersebut. Mematahnya menjadi tiga, ia membaginya pada Bianca dan Alana. Yang tentu saja langsung ditolak Alana, karena sahabatnya itu tidak suka manis. Dan pembicaraan mereka mengenai Titan benar-benar terhenti. "Semoga, besok dikasi yang lebih dari pada ini." mohon Tata. Merapalkan doanya dengan polos. Bianca ikut melakukannya. Menyunggingkan senyum geli. "Duit kek sekarung, ya gak??" imbuh Bianca. "Amin!" sahut Tata dan Alana serentak. Bianca hanya terkekeh, sebelum kembali merebahkan kepalanya diatas meja. "Ta, kalau Bu Nana datang, bangunin ya. Gue tidur dulu, ngantuk." "Dasar, yodah sono. Gue nungguin Gavin..." kekeh Tata. Dan Bianca benar-benar memejamkan mata. Menghiraukan pekikan teman-teman sekelasnya, tidur adalah pilihan terbaik yang Bianca buat. Karena berdebat dengan Titan sejak tadi pagi, menguras seluruh tenaganya. Huh, bahkan dalam mata terpejamnya, bagaimana bisa si setan itu terus menguasai isi kepalanya? *** Kedatangan anak Danirian, sudah disambut hangat oleh seluruh pasukan Aerebos. Bagaimana pasukan itu sudah berjejer rapi dengan beberapa tongkat baseball, semuanya tersenyum meremehkan pada seluruh pasukan Carswell. Mungkin, pasukan Carswell tidak sebanyak pasukan Aerebos. Benar-bebar berbanding terbalik seperti berhadapan dengan Ocean kemarin. Namun, untuk semua keahlian, tidak perlu diragukan. Para petinggi Carswell memiliki banyak strategi untuk menghancurkan sang lawan. Mereka pula sudah menyusun rencana untuk memamerkan kemenangan kali ini. Jika, pasukan Carswell sudah mengibarkan bendera berlambang singa dengan berani, pasukan Aerebos ikut meninggikan bendera mereka. Suara sorakan dan ejekan sudah saling sahut menyahut. Tapi para petinggi Carswell masih tetap tenang. Berandalan Titan hanya terkekeh, menyimpan kedua tangan disakunya, tapi mata tajamnya tidak berhenti menghujani sang lawan dengan kilatan marah. Gavin yang sedang mengikat bandana dikepalanya, sibuk mempersiapkan diri untuk pertempuran kali ini. Arkan yang dengan santainya masih menghidupkan rokok, hanya terus menikmati benda candu itu. Terlalu berlagak untuk santai, karena tahu tidak ada yang pernah mereka takutkan. Aiden yang sibuk mengingat tali sepatunya, membuat sang lawan menatap kesibukannya sebelum memberikan jari tengan pada pasukan Aerebos. Lalu, ada Zidan yang kini sudah bersiul meledek. Membandingkan pasukan mereka dengan milik sang lawan, tapi Zidan tahu, pasukan Aerebos tidak ada apa-apanya dengan pasukan Carswell yang terlatih. "Siap?" tanya Titan pertama. Meneliti seluruh pasukannya dibelakang, ia memperhatikan seluruh pasukannya untuk terus meyakinkan bahwa mereka tidak akan pernah kalah. "PASUKAN CARSWELL??!!" teriak Gavin kemudian. Menggelegar ditengah sana. "SIAP!" sahut semuanya serentak. Seluruh pasukan Carswell tidak akan gentar pada apapun yang mereka hadapi. "Kita enggak perlu senjata, kita pakai otak." kata Arkan kemudian. Menegaskan itu agar mereka semua mengerti. "Usahain buat ngehindar, lo semua pasti selamat." Aiden menambahkan. Tidak ingin ada yang terluka diantara mereka. "Cuma tongkat baseball? Enggak ada apa-apanya, Right??" kekeh Zidan. Ikut menenangkan. Semuanya mengangguk serempak, mempersiapkan diri sementara para pemimpin masing-masing kubu sudah berdiri digaris terdepan. "Segitu doang pasukan lo?" ujar Gading pertama. Pemimpin SMA Aerebos itu menatap Titan remeh. Yang langsung diikuti oleh pasukannya yang lain. Pasukan Aerebos memang menantang maut. Apa mereka tidak tahu siapa lawannya kali ini? "Benar-benar cari mati tu orang." decak Arkan kemudian. "Setelah yang terakhir kali, masih belum jera juga ternyata." Titan menarik panjang hisapan rokoknya, membuang benda itu asal, lalu menginjaknya kuat. Memutar-mutar sneakernya, membuat perlakuan Titan menjadi arah pandangan sang lawan. "Gue bisa ngancurin lo dengan sekali injakan doang." "Halah," sela Gading cepat. "Besar omong lo." sambungnya, menyahut tidak suka. Melupakan bagaimana terakhir kali mereka kalah. "Gue dengar, Raja bilang, semalam lo batalin tanding, kenapa? Takut sama anak Aerebos?" tantang Gading lagi. Masih tidak gentar dengan sorot kemarahan yang Titan berikan. "Oh ya, gue dengar, pemenang balap semalam anak Danirian. Boleh minta nomornya? Mau gue urus?" sambung Gading lagi. Mendengar itu, Titan mengepal tangannya kuat. Kali ini, pembahasan itu tidak hanya antara mereka, tapi Bianca ikut didalamnya. Dan hal itu pula yang mendadak membuat emosi Titan tersulut. "Tan, udah. Koyak aja rahang tuh bocah." geram Gavin kemudian. "Raja benar-benar nyari mati. Enggak cuma disirkuit, seharusnya dia ada disini. Pengen gue patahin kakinya!" tambah Zidan setelahnya. "Dia kalah telak disirkuit, tapi masih aja ngomongin kita?" "Gue urus sisanya." Aiden berseru marah. "Setidaknya, pasukan gue. Enggak pengecut kayak pasukan lo!" putus Titan akhirnya. Tidak ingin memperpanjang pembicaraan yang entah sampai kapan ini. Merenggangkan seluruh tubuhnya, Titan memberi aba-aba. Meninggikan tangannya, lalu menghitung mundur jari-jarinya. Hingga aba-aba itu berada di hitungan terakhir, semuanya bergerak maju. Para peringgi Carswell sudah melangkah ketengah lapangan. Dan tawuran, benar-benar dimulai. Titan berada digaris akhir, bukan, bukan karena ia takut. Tapi karena perkataan Gading mengenai Bianca membuat emosinya mendidih pada seisi kepala. Berseru, Titan berlari, menemukan objek yang harus ia hancurkan, ia berteriak dengan tangan yang sudah bersiap memukul wajah Gading telak. Disana, Gading sama sekali tidak siap akan kehadiran Titan. Ia sudah terkecoh oleh beberapa pasukan Carswell yang menyerangnya. Hingga kedatangan Titan, membuatnya tidak fokus memperhatikan itu. Mengeluarkan banyak darah, Gading sudah terpental atas pukulan yang baru sekali didapatkan. Mengelap bekas darah dijemarinya, Titan tidak berhenti. Ia masih menindih Gading dengan kakinya, membuat erangan putus asa dari cowok itu mengalun nyaring, tapi persetan, Titan tidak peduli. "Bangun t*i!" pekik Titan. Menendang tubuh yang sudah tidak berdaya itu. "Lo mau patah dibagian mana?" tantang Titan lagi. Menginjak tangan Gading dengan kakinya. "Disini?" katanya. Lalu berpaling diatas kaki Gading, Titan berujar lagi. "Atau disini?? Lo bebas milih." "Tan--" erang Gading. "Gu--ARGHHHHH!" teriaknya. Lalu, semua pasukan Aerebos berlari. Memilih meninggalkan Gading, karena tangannya sudah benar-benar dipatahkan oleh Titan. Maka, tunjukan lagi pasukan mana yang berhasil melawan pasukan Carswell? Maka jawabannya tidak ada. Tongkat baseball bahkan tidak berarti apa-apa dimata siswa Danirian itu. Apalagi, saat Gading berdiri tergopoh dan ketakutan. Teriakan kemenangan bersorak nyaring. "CARSWELL????" teriak Zidan bangga. "MENANG!!!" jawab semuanya serempak. Dan mereka, memutuskan untuk kembali ke basecamp, mendapati pengobatan seperti biasa untuk yang terluka. Mungkin, tongkat baseball belum cukup gila untuk membuat pasukan Carswell hancur. Right? Karena kemenangan kali ini, memberi bukti. "Gue belum puas, tapi mereka dah keburu lari." geram Zidan pertama. "Ini bahkan belum setengah jam." "Malu. Benar-benar buat malu!" kekeh Gavin lagi. "Sakit jiwa, buang-buang waktu gue aja buat turun lapangan." Aiden mengangguk. Menyetujui. "Yang nantang siapa, yang kalah siapa? Ampun." rutuk Aiden kesal. "Seharusnya enggak kita ladenin aja." "Cabut aja, yok Tan?" ajak Arkan kemudian. Sebaiknya mereka memang harus secepatnya pergi. "Gue nyusul. Jemput Alana dulu." kata Titan kemudian. Tapi ia tidak berhenti menyunggingkan senyum puas atas keberhasilan mereka kali ini. "Haduh, bucin!!" singgung Gavin. Mengabaikannya, Titan hanya berlalu dengan ninjanya. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, karena para sohibnya sudah pasti akan menyelesaikan itu. Tapi, pikiran Titan tidak lepas dari kemenangan yang Bianca dapatkan. Seperti menamparnya bahwa tiba-tiba, kekhawatiran itu berpusat pada gadis gila tersebut. Namun mengenyahkannya, Titan menggeleng kuat. Mengkhawatirkan Alana saja sudah memusingkan, untuk apa ditambah orang lain lagi?? Maka, Titan salah menyimpulkan. Jawabannya, hanya ada dalam setiap perdebatan yang terjadi. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN