Katanya, yang setia bakal kalah sama yang selalu ada. Namun, dua objek itu hanya terus terbagi tanpa tahu maksud yang sebenarnya.
Beberapa beranggapan benar, lalu sebagian mengatakan tidak seperti itu adanya.
Mungkin, sebenarnya, tidak ada yang patut dipermasalahkan, seseorang bebas mencintai, hanya tinggal mengatakan kemana arah hatinya berlari.
Seperti Senin pagi, sebagian orang membenci hari ini. Katanya, Senin adalah wujud dari monster tanpa bentuk yang terus mengusik setiap manusia setelah enam hari terlewati dengan sangat membosankan.
Apalagi bagi para siswa, Senin adalah satu hari yang hampir sebagian siswa ingin lewati tanpa permisi. Dan Upacara Bendera Senin pagi di SMA Danirian, sudah dimulai sejak setengah jam yang lalu.
Titan, sang dewa dari segala dewa, berandalan itu baru saja meninggalkan apartemennya dan berlalu dengan ninjanya. Dengan helm fullfacenya, mungkin benda itu satu-satunya pelindung yang dapat Titan gunakan dari sorotan tidak percaya orang-orang yang melihatnya. Sisanya, dari leher ke kaki, jangan dipertanyakan. Semuanya kacau balau. Kaos putih dan seragam yang dibiarkan terbuka. Tidak menggunakan dasi dan ikat pinggang, juga kaos kaki yang tidak juga ada. Benar-benar gambaran paling tidak masuk akal bagi seorang siswa.
Sebuah gambaran paling gila untuk titisan Dewa yang satu itu. Lagi pula, selain untuk menemui Alana disekolah, emang Titan punya tujuan lain? Dia tetap akan menjadi pewaris Kennedy. Bagaimanapun dia bertingkah. Melanjutkan perusahaan Papanya, lalu hidup bahagia. See? Tidak ada yang patut Titan khawatirkan selain itu.
Jika semua orang takut melewatkan Upacara Senin pagi karena hukumannya. Mungkin ketiadaan Titan menjadi bukti, bahwa beginilah rantai kehidupan yang sesungguhnya.
A-ah, jangan melupakan para petinggi Carswell yang lain. Arkan, Aiden, Zidan dan Gavin, keempat petinggi Carswell tersebut, juga memilih mengunci diri di gudang belakang seperti saat ini. Tanpa pernah menghiraukan setiap pertemuan dan upacara yang dilaksanakan dilapangan. Benar-benar angkatan sialan.
"Berapa jam lagi sampai upacara kelar?" tanya Aiden pertama. Masih memijat pangkal kepalanya, sementara tangannya sudah tersimpul sebatang rokok.
"Empat puluh menit." sahut Zidan kemudian. Ikut menghidupkan sebatang rokok, ia merebahkan kepalanya diatas kursi gudang yang ada.
"Titan dah bangun?" tanya Arkan. Tidak menemukan sang pemimpin itu sejak tadi. Tapi tidak heran, Titan memang akan selalu seperti itu.
Gavin yang mengangguk. "Dia udah read chat di grup."
"Dia tahu?" sela Arkan lagi.
Menoleh, semuanya ikut mengerutkan dahi. "Tau apa anjir?" protes Gavin. Tidak mengerti dengan pertanyaan mendadak Arkan.
Menggeleng tidak percaya, Arkan menatap ketiga sahabatnya malas. Apasih yang g****k-g****k ini tahu? "Anak Aerebos ngajak berantem." jelas Arkan kemudian. Mengingatkan itu sebuah ancaman yang datang dari sekolah lain.
Ber-oh ria dan mengangguk serempak. Zidan berdecak. "Gue rasa, si dewa tahu segalanya." kekeh Zidan. Tidak ingin mempermasalahkan hal itu.
Membuat ketiga yang lainnya hanya mengangguk, lalu kembali fokus untuk membicarakan strategi perkelahian mereka nanti. Harus ada alasan untuk semua yang terjadi. Lantas selalu ada rencana atas apa yang akan dilewati.
"Seharusnya Aerebos tahu gimana akhirnya anak Ocean kemarin." jelas Gavin pertama. Menyunggingkan senyum mengejek, karena sekolah lain senang meremehkan Carswell. Seolah-olah keberadaan mereka sendiri masih abu-abu.
"Mereka cari mati namanya." goda Arkan kemudian. Mengedipkan sebelah mata. "Danirian kagak takut apapun, huh?"
"Lo udah nerima tantangan itu?" tanya Zidan, menebak. Karena hanya Arkan yang mendengar kabar itu. Jadi, Arkan selalu tahu apa yang dia lakukan.
Mengangguk, Arkan berdecak. "Aman."
Gavin ikut menimpali. "Sendiri juga gue berani ngelawan tu curut."
Menatap Gavin mengejek, Arkan meledek. "Halah, lo selalu butuh gue." katanya membanggakan diri.
Cepat Gavin menggeleng. Tidak ingin harga dirinya runtuh begitu saja. "Itu karena waktu itu, gue lagi gak enak badan." Gavin beralasan.
Manggut-manggut mengejek, Arkan berujar kembali. "Iya dah, yang waras ngalah." putus Arkan kemudian.
"Udah ngasi tau anak-anak yang lain?" tanya Zidan lagi. Melihat Aiden yang sejak tadi sibuk dengan ponselnya. Tentu Aiden yang akan mengabari itu pada seluruh pasukan Carswell.
Aiden mengangguk. "Gue dah nyebarin ke grup." sahutnya enteng. "Belum dibaca, masih upacara kali. Tapi sebagian ada yang udah jawab."
"Mereka bisa ikut?" imbuh Zidan. Memastikan sekali lagi untuk menyusun rencana.
Aiden sendiri sudah mengembuskan asap rokoknya. Menyunggingkan senyum seraya berujar. "Emang, ada yang berani gak ikut?" kekeh Aiden.
Dan pembahasan mereka kembali berlanjut. Menghiraukan upacara yang tengah berlangsung, begitulah para petinggi Carswell itu menguasai Danirian.
Sementara itu disisi lain, Bianca baru saja menghentikan langkahnya pada gerbang belakang SMA Danirian. Mengatur napasnya yang berpacu gila, Bianca merasakan bagaimana jantungnya berdebar tidak karuan. Setelah mengejar angkot untuk cepat sampai agar bisa mengikuti upacara tepat waktu, usahanya lagi-lagi berakhir sia-sia. Sialan. Kapan sih ia bisa bangun lebih pagi daripada ini? Kenapa alarm yang dinyalakannya bahkan tidak ia dengar?
Setelah menyelesaikan balapannya semalam, Bianca pulang dengan perasaan bahagia. Menceritakan segala hal pada Ayahnya, dan menyidang Basir karena kemarin berhasil membuat Bianca khawatir. Yang akhirnya, pembicaraan mereka malah berakhir hingga larut malam.
Kini, Bianca sudah menyenderkan tubuhnya pada tembok besar belakang gerbang Danirian. Sudah terlambat hampir satu jam, maka Bianca harus mencari cara untuk tidak ketahuan oleh pak Didi.
Hingga suara ninja yang sangat tidak asing membuat Bianca menengadahkan kepalanya. Ia memutar bola mata jengah, Bianca tahu siapa yang tengah turun dari motornya itu. Siapa lagi? Kalau bukan dewa sialan, Titan?
Berjalan mendekat, Bianca memperhatikan cowok itu. Menggeleng kepala geli, karena anak-anak Carswell terkenal dengan gayanya yang urak-urakan. Mungkin, Bianca terlalu menghakimi Titan. Padahal ia tidak tahu, Titan juga sedang memperhatikannya.
Baju ketat dan rok seatas paha, penampilan Bianca mampu menghipnotis semua kaum adam di SMA Danirian. Kecuali, Titan tentu saja.
Dengan rambut panjangnya dibiarkan tergerai, Bianca menambah sensasi kaki jenjangnya tanpa kaos kaki. Hanya berlapiskan sneakers putih, Bianca benar-benar membuat semua guru tidak habis pikir dengan penampilan gadis itu.
Menatap tajam gadis gila dihadapannya, Titan berdiri tepat dihadapan Bianca. Menyimpan kedua tangannya didalam saku, ia memiringkan kepala untuk melihat Bianca. "Ngapain lo?"
Seperti satu yang saling ingin membunuh. Bianca memutar bola matanya jengah. "Menurut lo?" jawab Bianca malas. Tidak pernah cukup baik setiap kali berhadapan dengan Titan.
Titan sendiri sudah tertawa. Selalu. Tidak pernah ada kamus untuk berbicara baik-baik dan sopan setiap kali mereka berdua berhadapan. "Mau ngepet? Masih pagi juga." goda Titan.
Memberi jari tengah pada dewa menyebalkan itu, Bianca berujar. "Mau musnahin setan."
"Oh ya? Emang lo bisa?" tantang Titan menyeringai pada gadis itu.
Bianca sendiri sudah mengedikkan bahu santai. "Bisalah, buktinya semalam gue nempatin posisi pertama. Sayangnya si setan enggak ada, jadi dia enggak bisa gangguin gue." kekeh Bianca. Menyeringai puas.
Menggeram, Titan merasa diremehkan. Bagaimana wajah menyebalkan itu terang-terangan menyindirnya. Ia semakin menatap Bianca tajam. Yang tentu tidak diindahkan Bianca sama sekali. "Lo menang juga karena gue kagak ada."
"Oh ya?" kekeh Bianca. Ia sudah menaikkan sebelah alisnya. Meremehkan. "Gue rasa karena lu emang cupu deh." singgung Bianca kembali. "Emangnya, Alana sakit apa sampe lo relain balap itu? Palingan datang bulan, ye gak?" tebak bianca.
Titan sendiri sudah menatap gadis itu lekat. Membiarkan Bianca melihat binar dikedua matanya. Titan ingin menunjukkan bahwa tidak ada yang lebih penting selain Alana. Balapan itu sendiri memang keharusan untuk menunjukkan siapa dirinya, tapi Alana sendiri adalah segalanya. "Lo enggak akan tahu artinya ketakutan dan kekhawatiran karena lo enggak pernah ngerasain itu."
Apa katanya? A-ah, Titan bahkan tidak tahu apa saja yang Bianca takutkan. Kemana saja kekhawatirannya selama ini. Tapi tentu setan itu tidak akan ingin tahu. Jadi Bianca pula tidak perlu mengatakannya. Lantas membalas tatapan Titan saja tajamnya, Bianca berdecak. "Oh karena lo takut dan khawatir Ana kenapa-kenapa?" beonya. "Oke-oke, gue paham. Sorry, gue lupa kalau Alana adalah dunia lo."
Selesai mengatakan itu, Bianca tidak melihat Titan menjawabnya. Sosok itu hanya terus menatapnya. Jadi Bianca berujar kembali. "Apa? Benarkan?" ledek Bianca lagi.
Titan selesai membahas itu. Jadi ia berdecak sebagai gantinya. "Setidaknya, lo enggak malu-maluin Danirian." jelas Titan, mengedikkan bahu sebelum memilih untuk meninggalkan gadis itu. Titan mengambil aba-aba untuk memanjat gerbang, lalu menoleh sesaat untuk menatap Bianca. "Kalau sampai lo kalah, lo benar-benar bikin malu sekolah kita." sambungnya dan melompat, membiarkan Bianca yang sudah mengerucutkan bibirnya masam. Tapi Titan terkekeh puas setelah itu.
Menghela napas, Bianca masih mematung menatap tembok didepannya. Atau lamunannya kali ini karena pembahasannya bersama Titan barusan. Sialan. Kenapa Titan selalu datang dan membuatnya memusingkan banyak hal? Lantas merapikan roknya. Bianca mulai menaiki gerbang dengan hati-hati, lalu ikut melompat.
Bianca pikir Titan sudah pergi, sialan karena cowok itu hanya menyeringai di sebelah pak Didi--satpam yang sudah menatap Bianca garang.
"Tuh pak anaknya, saya telat karena nolongin Bianca tadi."
Mengerutkan dahi, Bianca melongo. Memikirkan apa yang Titan katakan pada Pak Didi, ia menggeleng setelahnya. "Bohong pak!! Saya juga baru ketemu dia dibelakang!"
Mendekat, Pak Didi melangkah pada Bianca. Menarik telinga gadis nakal itu, sebelum berujar. "Kamu ya yang waktu itu lari?!"
"Enggak pak, ini pertama kalinya saya lompat." sahut Bianca cepat. Mencari alasan dan juga pembelaan. "Titan tadi yang ngajarin..."
"Eh babi, mulut lo!" potong Titan cepat. Menatap Pak Didi dengan wajah sedih, Titan berujar lagi. "Saya udah saranin lewat depan aja." hindar Titan, masih membalas tatapan Bianca dengan kekehan menyebalkan. Tapi ia juga tidak ingin menjadi sasaran.
Bianca sendiri menggeleng cepat. "Enggak pak, Titan yang maksa saya untuk lompat. Serius deh! Masa bapak enggak percaya?" erang Bianca kembali. "Saya mana mungkin sih lompat-lompat gerbang begini pak?"
Titan benar-benar tertawa ditempatnya. Menatap Bianca tidak percaya. "Lo enggak mau jadi artis aja? Sumpah cocok, akting lo!"
"Paansih!" geram Bianca. Menatap Titan galak. Ia tidak ingin dipermalukan dilapangan dihari cerah ini. Apalagi bersama Titan sialan ini. Tidak. Bianca harus menghindari bencana itu.
Pak Didi sendiri sudah menggeleng seraya menatap dua siswa pembuat onar dihadapannya dengan gelengan tidak percaya. "Tidak ada alasan atas apapun yang terjadi. Saya memergoki kalian. Dan kalian harus tetap dihukum."
"Pak--" potong Bianca. Menggeleng kuat. "Ayo dong, Titan aja ya? Plis..."
"Napa jadi gue? Enak aja lo!" sela Titan cepat. Tidak terima.
Menggeram, pak Didi berdecak kembali. "Kalian berdua, sekarang juga ikut saya ketengah lapangan." ujar Pak Didi lagi. Beliau sudah menarik tangan Bianca, sementara Titan mengikuti dari belakang. Tidak juga bisa menolak karena kini mereka sudah ketahuan.
"Pak-pak, sakit ih telinga saya! Giliran Titan aja enggak dijewer!" protes Bianca pertama.
"Kamu itu anak perempuan Bianca. Kamu tahu, melompati pagar bukan hal yang patut dilakukan oleh seorang perempuan?" ceramah Pak Didi kemudian.
"Jadi, karena Titan cowok dia tetap enggak salah kalau manjat gerbang??" rutuk Bianca lagi, masih tidak terima karena pak Didi hanya menyudutkannya.
"Bian! Kamu itu, sudah salah. Masih saja protes. Cepat, ikut saya ketengah lapangan. Kalian berdua harus dihukum, selama upacara masih berlangsung!" geram pak Didi.
Menghela napas pasrah, Bianca mengerucutkan bibirnya masam. Menoleh untuk melihat Titan dibelakangnya, ia sudah menemukan cowok itu hanya mengedikkan bahu dan tersenyum dengan muka songongnya seperti biasa. Titan sialan! Ketemu cowok itu, benar-benar sebuah bencana!
Bianca tidak tahu harus bagaimana lagi selain menyimpulkan ini, bagaimana sorot kaum hawa disana menjerit saat ia dan Titan melewati seluruh barisan kelas.
Tapi, bukan Bianca namanya jika ia meringis, karena kini, ia hanya berjalan santai saat pak Didi akan membawa mereka kesudut lapangan yang panas. Barisan yang di-isi dengan siswa-siswa terlambat dan tidak memakai atribut lengkap. Maka Bianca dan Titan adalah pemecah rekor semua itu.
"Kak Titan, yatuhan--cakep banget..."
"Kayak vampire gak sih? Si Edward cullen??"
"Kayak Jack di Titanic! Ganteng banget kan??!"
"Eh, kayak Peter Parker juga!"
"Enggak-enggak, Kak Titan tuh benar-benar dewa."
"Gue mau bawa pulang, boleh enggak?!"
"Hus, kalian sadar diri aja deh. Enggak liat kak Alana secantik apa?"
Menggeleng tidak percaya, Bianca merutuki telinganya karena mendengar seluruh kekaguman itu. Seperti tidak ada habisnya, semua pujian itu selalu terarah pada Titan. Benar-benar kurang kerjaan dan tidak waras. Untuk apa mereka memuji setan ini? Titan bahkan tidak peduli sama sekali. Apa memang Danirian dipenuhi oleh siswa-siswa sakit jiwa?
Hingga mereka melewati barisan kelas dua belas, seluruh teman sekelasnya menyoraki.
"Sekalian aja, satu jam sebelum bel pulang nanti baru datang."
"Hebat! Pemecah rekor masuk buku hitam terbanyak!"
"Gue salut sama lo, BI!"
Menghela napas malas, Bianca tahu teriakan itu berasal dari teman sekelasnya. Memutar bola matanya, Bianca hanya memberi jari tengah pada teman sekelasnya disana. Menemukan Tata dan Alana yang sudah melambaikan tangan kepadanya, kedua sahabatnya itu terkekeh meledeknya.
"BARISAN KELAS DUA BELAS! DIAM!"
Dan teriakan dari pembina, barulah membuat semuanya bungkam. Bianca menghentikan langkah saat Titan mendadak berhenti.
"Ngapain lo?" tanya Bianca akhirnya.
Titan hanya berlalu, mengabaikannya, sementara pak Didi ikut meneriakinya. Namun, saat pemimpin Carswell itu tetap berjalan ke kelasnya, hingga semua perhatian benar-benar tertuju pada Titan. Titan menghentikan langkahnya dihadapan Alana, menatap gadis itu lekat sebelum berujar. "Ke uks gih. Muka lo pucat." katanya, menyentuh wajah Alana dengan tangannya, Titan mengkhawatirkan sahabatnya tersebut. Sahabat? Yang benar saja!
"Gapapa Tedi, gue udah mendingan." erang Alana. Membiarkan perlakuan Titan hanya tertuju padanya. "Sana gih..."
Tata sendiri sudah menggeleng tidak percaya. Menatap Titan geli. "Tan, udah lah. Sono kebarisan, nanti lo diteriakin noh!" ujar Tata akhirnya.
"Diem lo." sahut Titan malas. "Gue ngomong sama Ana, enggak sama lo."
"Benar-benar t*i lo!" geram Tata setelahnya. Bukankah niatnya baik? Bukankah ia hanya tidak ingin Titan diteriaki guru-guru walaupun itu sudah sering terjadi? "Terserah deh, dikasi tahu malah ngamuk." sambungnya. Tata menggeleng tidak habis pikir. Tentu ia tahu alasan kenapa Bianca sering merecoki berandalan ini. Titan memang pantas mendapatkannya.
Mengacak rambut Alana, Titan berlalu dari sana. Membiarkan seluruh kaum hawa daru beberapa barisan masih menjerit frustasi, karena perlakuan Titan pada sahabatnya itu benar-benar gila.
Bianca hanya menggeleng, lalu melangkah lebih dulu ke sudut lapangan. Menoleh untuk melihat para guru, Bianca menyeringai saat seluruh guru hanya menggeleng dan menatapnya garang.
***