LXXIV. Balas Dendam

1885 Kata

Bianca masih berdiri sembari memperhatikan pantulah dirinya pada cermin besar dikamarnya. Dengan kaos putih dan rok seatas lutut, Bianca menambahkan sebuah bando kecil dikepalanya, memutar-mutar tubuhnya girang, ia memberi sentuhan terakhir dibibirnya dengan sebuah liptint. Mengulum senyumnya, Bianca bahkan bisa mendengar bagaimana gemuruh pada detak jantungnya. Tanpa perlu merasakan itu, Bianca sudah dapat menebaknya. Hari ini Titan mengajaknya kencan. Itu sebabnya, Bianca memilih berdandan. Menggunakan baju terbaik yang ia punya, paling tidak Bianca ingin Titan melihatnya lebih dari pada sebelumnya. Dandanan sederhana yang hanya bisa dilakukan Bianca walaupun hanya dengan make up dan juga polesan tipis pada kedua sisi wajahnya. Ketika sebuah klakson mengejutkan Bianca, ia berlari ke

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN