JANI Aku memeluk Papi erat, tak henti-hentinya mengucapkan kata maaf karena sudah menuduh dan menghakiminya begitu saja tanpa bukti apa-apa. “Udah ah, apaan sih!” “Jani mau ngomong bedua sama Papi, boleh?” tanyaku. “Ya boleh lah! Mana ada anak gak boleh ngomong sama orangtuanya!” seru Mami. “Yaudah, mau di mana?” “Lha, kamu yang ajak, masa kamu yang nanya?!” ujar Papi. “Di kamar Jani aja Pi!” kataku. Aku pamit ke Mami, Vissa, Argha, om Beni, Malik dan tentu saja Indra. Duhh Indra, nanti kita ngobrol berdua yaaa!! Papi memegang pundakku dari belakang, mendorongku, kemudian kami berjalan ke kamarku. Aku membuka pintu dan Papi menutupnya dari dalam. “Sok penting banget sih kamu, dek! Sampe harus ngomong empat mata gini.” Ujar Papi sambil berjalan ke kasurku dan duduk di situ. “Maa

