Jae Hoon mencoba menyeruput minumannya itu. “Ah….segarnya” ucapnya. Jae Hoon segera menarik piring berisi makanan yang ia pesan lalu melahap makanan itu kedalam mulutnya. Ia sudah sangat lapar, hingga membuatnya buru-buru memakannya.
Sepuluh menit berlalu, Jae Hoon telah menyelesaikan makanan dan minumannya. Ia menatap sekitar, mencari kekanan dan kekiri sosok orang yang ia tunggu. “Jimin hyung kemana sih, lama banget ya ditungguin belum datang-datang juga” gumamnya sedikit bete menunggu.
Waktu menunjukkan pukul tiga lewat, dimana Jae Hoon masih duduk dipojok café sampai ia hampir tertidur menunggu kehadiran Dowon yang tak kunjung datang. Sayup-sayup matanya mulai tertutup. Padahal kalau dipikir-pikir dirinya baru saja terbangun pukul satu, namun ia sudah mengantuk lagi saja. ‘Sepertinya aku pelor’ batinnya.
Tak selang beberapa lama, Dowon muncul dengan pakaian hitam serba tertutup. Jimin segera memesan pesanannya dan berjalan lurus menuju meja pojok yang Jae Hoon tempati, ia sedari tadi sudah memantau dari kejauhan.
“Hey” teriaknya kecil, takut orang lain terganggu. Dowon menyenggol siku Jae Hoon. Jae Hoon segera bangun menyadari ada orang lain yang menganggu tidurnya. Ia menatap Dowon sayup-sayup. “Oh…” ucapnya masih berfikir. “Heyy…kau sampai ketiduran ya? Maafkan aku, tadi dijalan macet dan aku ke ATM dulu” jelasnya. Dowon segera duduk bersebrangan dengan Jae Hoon. “Kau…sudah menghabiskan makananmu?” tanyanya menatap piring kosong diatas meja. Jae Hoon mengangguk. “Karena kau lama jadi aku habiskan saja, aku sangat lapar” jelas Jae Hoon sembari memegang perutnya yang sudah terisi kembali
“Ngomong-ngomong hyung, kenapa pakaianmu mencolok seperti idol sih” Jae Hoon menatap pakaian yang Dowon kenakan dari atas sampai bawah. “Aku kan memang idol” jelasnya sombong. “Tapi pakaian ini terlalu mencerminkan seorang idol, pakaian serba hitam, topi, dan masker” terang Jae Hoon menunjuk pakaian Dowon yang terlalu kentara. “Kau mengoceh terus ya, aku mau pesan saja lah” Dowon segera berjalan menuju kasir untuk memesan.
Ia pun segera kembali selesai memesan. “Jadi kau sudah mempersiapkan untuk tour nanti?” tanya Dowon memulai. “Yap, aku sudah mempersiapkannya, aku berharap Freely akan suka” terang Jae Hoon tersenyum simpul. Beberapa menit kemudian pesanan Dowon pun tiba, ia segera melahapnya didepan Jae Hoon yang sudah lebih dulu memakannya. Jae Hoon memainkan ponselnya. Ia mencari-cari berita update yang bisa ia baca.
“Hoon-ah, jangan lupa hari ini nanti malam kita ada latihan sampai pagi untuk tour, besoknya kita persiapan latihan untuk comeback” jelas Dowon sembari menyeruput minumnya. Jae Hoon mengangguk. “Aku tidak lupa kok, aku akan melakukan yang terbaik” ucapnya sembari mengacungkan jempolnya. Tak terasa mereka berbincang-bincang sampai waktu menunjukkan pukul empat lewat.
Terlihat seorang gadis memakai seragam SMA memasuki pintu masuk café dengan tergesa-gesa. Jungkook memperhatikan gadis itu. ‘Seragamnya tampak tak asing baginya’ ia masih mencoba memikirkan dimana ia pernah melihat seragam itu. Gadis itu segera memasuki dapur menuju loker untuk mengganti pakaiannya. Beberapa menit kemudian gadis itu kembali dengan mengenakan seragam café tersebut. Ia berjalan menuju kasir untuk menggantikan shiftnya sebagai kasir.
Jae Hoon menatap tajam gadis itu. “Hyung” panggil Jae Hoon. “ng?” balasnya sambil menatap layar ponselnya. “Aku mau pesan minuman lagi” jelas Jae Hoon. “Hah? Kau mau pesan lagi?” tanyanya memastikan. Jae Hoon mengangguk. “Kau mau?” tanyanya.
Dowon menggelengkan kepalanya. “Engga, udah penuh perutku” ungkapnya mengangkat bajunya menunjukkan perutnya yang sudah terisi penuh. Jae Hoon tertawa melihat tingkah hyungnya yang memamerkan perutnya. “Aku tahu abs mu yang terbaik, enggak usah pamer lah hyung” ledek Jae Hoon. “Hey, kau pasti iri kan bilang saja” jelas Dowon gamau kalah. “Terserah padamu lah” balas Jae Hoon.
Ia segera berjalan menuju kasir untuk memesan minuman. Ia melihat menu minuman yang tertera di café itu. “Hmm…yang mana ya” ucapnya. “Ne?” tanya gadis kasir itu. “Kau bingung ingin pesan minuman apa ya?” tanyanya lagi. Jae Hoon kaget padahal ia hanya bersuara kecil tapi gadis itu mendengarnya. “Ah…iya, bisa kau pilihkan untukku yang mana yang enak?” pinta Jae Hoon menatap gadis itu, ternyata ia adalah Yuna gadis yang tempo hari ia temui. “Oh…baik, karena cuaca sedang terik, kau membutuhkan minuman yang menyegarkan tenggorokanmu, kau bisa mencoba ini, ini termasuk best seller di café kami” ucapnya menjelaskan sambil menunjuk minuman yang ada di menu.
Jae Hoon mengangguk-angguk mengerti. “Kalau begitu aku pesan yang kau pilihkan ya” ujarnya sembari mengeluarkan dompetnya. “Ah…baik” jelas gadis itu menghitung total pesanan Jae Hoon. “Apa ada tambahan lain?” tanyanya lagi. Jae Hoon menggelengkan kepalanya. “Tidak ada, tapi aku punya pertanyaan.” Ungkapnya.
“Kalau boleh tau apa ya?” tanya gadis itu sopan.
“Kau…kau gadis si pemilik kalung bernama Yuna itu bukan?” tanya Jae Hoon meyakinkan.
Yuna terkejut. ‘Jangan-jangan..’ batinnya menerka-nerka. 'Kalung? bukankah aku memakai kalung?' batin Yuna sambil sontak memegangi lehernya untuk memastikan apakah kalung yang ia kenakan melingkari lehernya.
"Enggak ada, kalung itu tidak terlilit di leherku, berarti kalung itu terlepas dan terjatuh, apa pria ini baru saja menemukan kalung kesayangan milikku?' pikir Yuna tampak merasa bodoh karena bisa-bisanya ia tidak menyadari kalung itu hilang padahal kalung istimewa itu pemberian neneknya.
“Tunggu dulu, sepertinya aku mengenali sosok pria ini' batin Yuna menebak-nebak.
"kau…kau Jae Hoon oppa?” tanyanya memastikan dengan yakin. Yuna menatap wajah Jae Hoon tajam, ia tidak begitu yakin karena wajah Jae Hoon tertutup masker dan topi. “Bagaimana aku bisa melihat wajahmu kalau kau menutupinya” Yuna memanyunkan bibirnya. “Tapi…tapi kenapa kau bisa kesini?” tanya Yuna penasaran. Dari semua café kenapa harus café ini. ‘Apalagi semua ini, ini beneran kebetulan atau memang takdir yang ketiga kalinya?’ Yuna tidak percaya dengan keberuntungannya.
“Kenapa kau terkejut begitu, bukankah kita berjanji akan bertemu lagi? Karena barangmu masih ada padaku?” ucap Jae Hoon menaikkan alisnya. Yuna mengangguk. “Ya, kau benar”
“Tapi, apa tidak ada yang mengenalmu disini?” bisik Yuna pelan. “Pasti banyak yang mengintaimu” Yuna menatap sekeliling takut-takut ada paparazzi mengumpat untuk memotret mereka berdua. Jae Hoon menatap sekitar. “Tidak ada yang mengenaliku, pokoknya aman” Jae Hoon tersenyum meyakinkan. Yuna mengernyitkan dahinya. “Oh iya, kau mau membayar cash atau debit?” tanya Yuna. Jae Hoon segera menyodorkan debitnya. “Pakai ini saja” ujarnya. Transaksi pun sudah selesai.
“Oppa, duduk dimana?” tanya Yuna. “Ah…disana” Jae Hoon menunjuk kursi di pojokan café yang juga diduduki oleh seorang laki-laki berbaju serba hitam.
Yuna menatap penasaran. “Itu siapa?” tanyanya menunjuk laki-laki dimeja Jae Hoon.
“Ah itu Dowon hyung, dia menemaniku disini” jelas Jae Hoon. “Hah? Serius? Dowon oppa disini?” teriak Yuna. “Ssssstt” Jae Hoon menghentikan mulut Yuna dengan telunjuknya. Yuna terbelalak kaget. Ia jadi salah tingkah dengan perlakuan Jae Hoon. ‘Apa ini? Ini adalah fanservice gratis yang terbaik’ batinnya deg degan, jantungnya sudah sangat tidak aman lagi.
“Jangan berteriak, nanti orang-orang akan mendengarnya, sebaiknya aku kesana dulu, kalau kau ada waktu, aku akan menemuimu dan memberikan barangmu, sekalian ucapan perpisahan” terangnya berlalu menuju mejanya kembali. Yuna masih melamun menatap langkah kaki Jae Hoon yang sudah seperti model internasional. ‘Bahkan cara jalannya pun seperti model, dia memang sempurna’ batin Yuna tersenyum sendirian.
“Permisi, saya mau pesan” ucap seorang pembeli berdiri dihadapan Yuna. Yuna segera membuyarkan lamunannya. “Eh..oh iya, mau pesan apa?” tanya Yuna sedikit kikuk.
Yuna kembali memikirkan perkataan Jae Hoon diakhir. ‘Tapi katanya tadi ucapan perpisahan? Maksudnya kita tidak akan pernah bertemu lagi?’ batin Yuna sedikit kecewa. Baru saja ia diajak terbang ke langit, tiba-tiba sekarang ia harus merasakan jatuh secepat ini. Ia berharap semoga semua itu tidak terjadi.
“Hoon-ah, kau lama sekali disana” ujar Dowon menatap curiga. “Padahal kau hanya pesan minum” Dowon melihat struk pesanan Jae Hoon.
“Tadi, aku ke toilet dulu” jelas Jae Hoon berbohong. Sampai detik ini, ia tidak mengatakan apapun kepada hyungnya mengenai gadis yang selalu ia temui akhir-akhir ini. Ia berusaha menyimpannya sendiri agar tidak ada seorang pun yang tahu selain ia dan gadis bernama Yuna itu.
Mereka berdua sudah selesai berbincang-bincang di café tersebut. Dowon menatap jam ditangannya. “Kita harus segera kembali untuk latihan” ajaknya, ia segera beranjak bangun dari kursinya. Jae Hoon mengikuti gerakan Dowon. Mereka pun berjalan menuju pintu keluar. Terlihat Yuna menatap kepergian Jae Hoon yang sama sekali tidak menatap kearahnya. ‘Kenapa dia mengabaikanku? Padahal aku tepat berada dihadapannya’ Yuna mencibir.