Yuna mengambil ancang-ancang, ia bersiap untuk memanjat tembok yang cukup
tinggi itu. ‘1…2….3’ ia segera memanjat memegang ujung tembok, namun naas dia
kehilangan keseimbangan hingga tangannya terlepas dari pegangannya. ‘Huaaaa’
teriak Yuna panik sekaligus takut.
“Haaaapppp” seseorang menangkap badannya yang hampir terjatuh ke tanah,
karena Yuna cukup berat ia pun kehilangan keseimbangan dan mereka berdua pun
terjatuh bersama.
“Awwww…” desis Yuna. Yuna mencoba membangunkan badannya yang terjatuh
menimpa orang itu. ia segera menengok kearah orang itu dan terkejut ketika
melihat wajahnya. “Heyyyyy” teriak Yuna menatap orang itu yang ternyata adalah
Gerry. “Lhooo, kau Yuna toh? Kukira orang lain” ucapnya tidak tahu.
“Kau pikir aku siapa hah? Lagi kau kemana saja, aku mencarimu tapi
sepertinya kau menghindariku. Apa kau tau apa saja yang terjadi padaku hari
ini? Aku harus keliling lapangan 50 putaran dan mendapat hukuman lagi menulis
essai 100 halaman dalam waktu 3 hari. Coba kau bayangkan betapa menyiksa beban
yang harus ku tanggung.” Cerocos Yuna tanpa henti. Ia berbicara dengan cepat
seperti orang ngerap. Gerry menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia juga
merasa kasihan pada Yuna, sejujurnya ia tidak tahu kalau miss Yuri itu sangat
galak dan gila hukuman.
“Aku….aku tadi ada urusan, aku juga membantumu loh mengatakan bahwa miss
Yuri sudah pergi karena ada urusan melalui Seung Ji, lagi pula itu tidak sepenuhnya
salahku, tapi aku akan membantumu Yuna menyelesaikan hukuman essaimu, tenang
saja.” Jelas Gerry mengacungkan jempol kanannya kehadapan Yuna. Yuna tersenyum
jengkel. “Aku baru saja melihat miss Yuri di lapangan, anak-anak kelasku
sepertinya sedang di hokum oleh dia” ucap Yuna. Lucas membelalak. “Serius? Tadi
aku baru melihatnya pergi, aneh banget” gumam Gerry bingung.
Yuna mengernyitkan dahinya. “Sesuai dengan perjanjian yang sudah ku sahkan
sendiri, karena kita sudah bertemu sebaiknya aku membunuhmu dulu, baru aku
menyelesaikan tugasku.” Ucap Yuna mengepalkan tangan kanannya keatas untuk
menakuti Gerry.
“Heyyy….hey…heyyyy, perjanjian apa sih? kau tidak perlu melakukannya kan?”
pinta Gerry memelas. “Kalau kau membunuhku, bagaimana aku bisa membantumu
menyelesaikan tugasmu? Kalau aku gentayangan dan menjadi hantu, apa aku yang
hantu ini bisa membantu manusia mengerjakan tugasnya di dunia?” Terang Gerry
membela diri
Dasar menyebalkan ada aja kelakukannya yang bikin Yuna jadi serba salah.
“Hah, terserah kau saja lah, sebal dengar ucapanmu, sekarang sebaiknya kau
bantu aku manjat tembok ini, karena aku ada part time jadi harus segera
kesana.” Jelas Yuna menatap Gerry.
“Kau mau kabur ya, dasar murid nakal, kau pantas mendapat hukuman” ancam
Gerry tersenyum meledek. Yuna menatap Gerry seakan ingin menerkamnya bagai
harimau.
Gerry memperlihatkan giginya dengan takut. “Berarti kalau seperti ini, deal
ya impas, karena aku sudah membantumu kabur, kau tidak perlu memarahi ataupun
mencoba membunuhku lagi,” ujar Gerry meyakinkan Yuna.
Yuna mendesah pelan. “Yaa terserah kau saja” ia sudah malas meladeni tingkah
Gerry yang jago bernegosiasi ia pun mengalah dan sudah memaafkan Gerry yang
telah berbuat onar.
Mereka pun berhasil melompat dan segera berlari karena takut ada yang
melihat mereka kabur.
“Yunaaa” teriak Gerry mengejar Yuna yang sudah berlari lebih dulu. Yuna
menengok kebelakang melihat Gerry. “Wae?” tanya Yuna menghentikan
langkahnya. “Aku lupa bilang sesuatu” ucap Gerry.
Yuna menaikkan alisnya. “Apa?” tanyanya lagi.
“Hari ini aku ada kencan buta, doakan aku yaaa” ucapnya berlari menghampiri
Yuna.
“Hah kencan buta? Kau ikut begituan? Memangnya cewe-cewe dikelas kurang
menarik buatmu?” ledek Yuna menahan tawa. “Heyyy, aku hanya ingin mencoba
melakukannya, aku sering melihat orang-orang melakukan kencan buta jadi aku
penasaran, banyak gadis cantik dalam kencan buta, bukankah begitu?” jelasnya.
Yuna menghela nafas. “Yay a ya, terserah kau saja, semoga berhasil, kabari
kalau kau sudah menemukan pujaan hati” ucap Yuna tersenyum meledek.
“By the way aku duluan ya, takut telat nih” ucap Yuna melambaikan
tangannya, ia buru-buru berlari mencari bus untuk ia naiki.
Jae Hoon perlahan membuka matanya. ‘Dimana aku?’ batinnya menatap sekitar.
Oh iya ia baru ingat, semalam ia menginap di ruang latihan ini karena ia sudah
terlalu mengantuk.
Jae Hoon menatap jam dinding disana, ternyata sudah jam satu. ‘Astaga’
gumamnya kaget. Siang banget ia bangunnya, pelor apa gimana ya. para staf juga
engga pada bangunin, apa karena Jae Hoon terlihat capek dan lelah makanya ia
dibiarkan tidur sampai siang bolong.
Ia segera keluar untuk mencari udara segar. Tak lupa memakai topi dan masker
agar tidak ketahuan. ‘kruyukkk’ perutnya terasa kosong karena ia belum lapar,
ini juga udah siang bolong harusnya ia bukan lagi sarapan tapi makan siang.
Ia pun memutuskan mencari tempat makan terdekat karena perutnya sudah
terasa lapar.
Ia berjalan sambil melihat sekeliling. ‘Kayanya café ini boleh juga nih’
batinnya menatap café bernama Shindeung. Ia pun segera masuk dan memesan
makanan dan minuman. Setelah itu ia segera mencari kursi kosong dipojokkan agar
tidak terlalu ketara dan dilirik oleh orang-orang. Jae Hoon mencoba sibuk
melihat ponselnya agar ia bisa terus menunduk. Ia membalas chat hyungnya Dowon
yang menanyakan dirinya dimana. Jae Hoon pun segera membalas ia mengatakan
kalau dirinya berada di café Shindeung yang berdekatan dengan gedung
latihannya.
Jae Hoon memainkan ponselnya sambil sesekali ia melihat sekitar, ‘Seandainya
saja ia hanyalah orang biasa yang tidak perlu bersembunyi dibalik topi dan
masker, pasti akan sangat menyenangkan melihat betapa bebasnya dirinya, gerak
geriknya juga tidak perlu dipantau 24/7 oleh publik’ batinnya berandai-andai.
Baginya kehidupan idol sangatlah sulit, dimana dirinya harus dituntut sempurna
luar dalam, idol juga sangat rentan terkena hate comment jika melakukan
kesalahan, terkadang kesalahan yang tidak dilakukan pun tetap di hate, sebegitu
bencinya orang-orang terhadap idol yang mereka tidak kenal di dunia nyata. Dating pun menjadi skandal yang sangat besar, apalagi idol tersebut namanya sudah besar, pasti akan diincar terus bagaimanapun caranya. Intinya jika tidak kuat mental mending engga usah mencoba menjadi seorang idol, karena memang tidak seindah yang dibayangkan orang-orang.
Jae Hoon mendesah pelan. ‘Tapi ini adalah jalan yang aku ambil, aku harus menikmatinya selagi diberikan kenikmatan menjadi seorang idol yang diimpikan oleh semua orang, menjadi terkenal, memiliki banyak fans, uang mengalir deras, memiliki banyak koneksi. Aku tidak akan menyesalinya lagi’ gumamnya bertekad.
“Permisi, ini pesanannya” ucap pelayan café menghampiri meja Jae Hoon. Ia
segera menaruh makanan dan minuman yang Jungkook pesan di meja.
“Pesanannya sudah komplit ya, apa ada lagi yang bisa saya bantu?” tanyanya
menatap Jae Hoon. Jae Hoon segera menundukkan kepalanya. “Tidak ada,
terimakasih” balas Jungkook tersenyum kecil yang jelas-jelas senyuman itu tidak
terlihat oleh pelayan café. “Baik, sama-sama” pelayan itu segera pergi
meninggalkan Jae Hoon.