Saat itu Soobin melihat Yuna dari kejauhan. ‘Oh….itu Yuna kan? Ngapain dia
disitu lari-lari sendirian? Cuaca juga panas banget, cari mati apa dia ya’
batin Soobin heran. Soobin segera menghampiri Yuna yang masih berlari pelan.
“Yunaaa” teriak Soobin menghampirinya. Yuna yang seluruh badan dan wajahnya
basah dipenuhi keringat menengok kearah Soobin. “Oh…hey Soobin.” Ucapnya lemah.
“Kau ngapain panas-panasan disini? Udah makan siang belum?” tanya Soobin
menatap khawatir Yuna. “Ah….aku belum nih, aku dapat hukuman dari miss Yuri
jadi aku harus melakukannya.” Jelas Yuna tersenyum lemas. “Hah? Kau mendapat
hukuman? Bukankah tadi miss Yuri hanya menghukummu di luar kelas? Kok sekarang
sampai seperti ini? Berarti tadi kau ke ruang guru mendapat hukuman lagi dari
dia?" tanya Soobin bertubi-tubi, ia tidak berhenti bertanya dan
mengkhawatirkan kondisi Yuna..
“Aku juga tidak tahu, mungkin ini kesalahanku karena terus membantah
perintahnya.”
“Soobin, aku lanjut lari lagi ya, soalnya aku harus segera menyelesaikan 50
putaran, sekarang tinggal 38 putaran lagi.” Ucapnya lirih sambil berjalan pelan
mengelilingi lapangan.
Soobin membelalakkan matanya. “Apa? 50 putaran? Sudah gila ya, itu kan
banyak banget, mana mungkin kau bisa nyelesain putaran itu sampai 50.” Soobin
yang tidak percaya dan kesal dengan hukuman yang miss Yuri berikan pada Yuna
membuatnya jadi emosi tapi disatu sisi ia sangat khawatir kalau Yuna akan
kecapean dan sakit karena melakukannya terlalu keras seperti itu.
Soobin pun segera berlari mengejar Yuna dan menemaninya berlari bersama.
Soobin mengejar Yuna hingga mereka berlari sejajar. Yuna menengok kesamping
kanannya terlihat Soobin ikut berlari bersamanya. “Soobin, apa yang kau
lakukan?” tanya Yuna bingung.
“Aku akan menemanimu menjalani hukuman.” Jelasnya tersenyum simpul. Yuna
memukul pundaknya. “Hey, gak usahh, kau kan enggak bersalah, untuk apa
membantuku?”
“Hmm….gaada, cuma gabut sih.” Ucap Soobin mengedipkan sebelah matanya. Yuna
pun tertawa geli melihat tingkah random Soobin. Berkat kehadiran Soobin ia jadi
tidak merasa lelah dan capek karena ada teman untuk berbincang.
“Oh iya, mengenai Gerry aku sudah bertemu dengannya, tapi ia gak tau kalau
kau sedang menjalani hukuman.” jelas Soobin.
“Ah….bocah itu menyebalkan, semua karena dia aku jadi seperti ini, setelah
hukumanku selesai aku akan langsung menemuinya untuk membantuku menyelesaikan
essai yang miss Yuri perintahkan padaku.” Tekad Yuna serius.
Soobin mengangguk mengerti. “ Aku akan membantumu juga menyelesaikan hukuman
essai mu.”
“Kauu…kau terlalu banyak membantuku, sebaiknya aku dan Gerry saja yang
mengerjakannya, kau kan tidak melakukan kesalahan apapun.” Tatap Yuna pada
Soobin. Ia merasa tidak enak kalau Soobin terus membantunya. Ia jadi merasa
berhutang banyak padanya.
“Memangnya apa salahnya? Aku khawatir padamu, aku tidak mau kau kecapean dan
aku ingin kau tahu bahwa aku….” Belum selesai Soobin berbicara terlihat Mijoo
dan Seung Ji menghampiri Yuna dengan tergesa-gesa.
“Yunaaaaaaaaaa” teriak Mijoo memeluk Yuna yang sudah bermandikan keringat.
“Badanmu basah dan wajahmu berkeringat, sudah ayo cepat ke toilet ganti
baju.” Mijoo menatap Yuna khawatir kalau bestienya itu kecapean karena terlalu
lelah.
“Engga bisa Mijoo, aku harus melakukannya, miss Yuri sedang mengawasiku dari
ruang guru.” Jelas Yuna menatap gedung ruang guru.
“Ih apa-apaan sih dia itu, aku kesal sekali dengannya seenak jidat
memberikan hukuman pada cewe baik seperti mu.” ujar Mijoo tidak terima.
“Ngomong-ngomong, Soobin kau ngapain disini? kau juga dihukum?” tanya Mijoo
menatap Soobin yang berdiri dibelakang Yuna.
“Ah….enggak, aku hanya menemani Yuna.” Jelasnya menatap kearah Yuna. Yuna
mengernyitkan dahinya menatap Soobin. Mijoo menatap curiga pada keduanya.
“Yunaa, kau sebaiknya udahan saja, tadi miss Yuri ada dibawah, sepertinya
dia mau pergi kesuatu tempat ada urusan lain.” Ujar Seung Ji meyakinkan Yuna.
“Tahu darimana kau?” tanya Yuna gak percaya. “Tentu saja Gerry, dia lagi
pantengin pergerakan miss Yuri.” Balas Seung Ji lagi. Yuna bingung dan heran
ngapain si Gerry mantau miss Yuri, padahal gaada hubungannya sama dia. ‘Setelah
dipikir-pikir mungkin Gerry ingin membantuku dan meminta maaf atas apa yang
terjadi, kita lihat saja kelanjutannya’ batin Yuna menerka-nerka.
Karena teman-temannya menyuruhnya berhenti, ia pun menurut dan langsung
keluar dari lapangan menuju loker tempat Yuna menyimpan baju cadangan
kalau-kalau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan seperti sekarang ini. Bisa
gawat kalau ia tidak menyimpannya, nanti satu kelas akan menghirup aroma
menyengat keringat Yuna yang harum semerbak. Yuna pun segera berlari menuju
toilet untuk mengganti bajunya.
Setelah selesai ia segera menuju kelas dan merebahkan tubuhnya di meja. Ia
sudah tidak konsentrasi untuk mengikuti pelajaran berikutnya. Bahkan perutnya
kosong dan ia tidak bertenaga. Bel istirahat telah berakhir dengan perut Yuna
yang masih kosong.
Yuna tidak b*******h dan ia sudah terlalu capek untuk mengikuti pelajaran.
Ia pun izin kepada ketua kelas untuk ke uks, rencananya ia ingin merebahkan
otot lengan dan kakinya di ranjang uks.
Yuna celingak celinguk membuka pintu uks. ‘Tidak ada orang’ batinnya menatap
sekitar. Ia pun mencoba berjalan mendekati ranjang uks dan bersiap untuk
merebahkan badannya yang sudah sangat penat itu. Ahhh....pegal, capek, lelah,
letih itulah yang dirasakan Yuna saat ini. rasanya ia ingin rebahan seharian
penuh untuk menghilangkan rasa lelahnya.
Yuna terbangun dari tidurnya. ‘Hoaaaammm….” Ia mengangkat kedua tangannya
keatas sambil memijat- mijat bahunya. Terlihat suasana hening tak
terdengar suara apapun.
Yuna mencoba berjalan menuju pintu uks untuk mengecek keadaan ruang kelas.
Saat itu juga Yuna tertegun melihat ruang kelas yang sudah kosong dan sepi.
Yuna membelalakkan matanya lebar-lebar. ‘Hah ini orang-orang pada kemana? Kok
sepi banget?’ batin Yuna masih celingak celinguk. Ia heran kenapa gaada satu
orang pun yang membangunkannya di uks kalau memang sudah waktunya pulang. Yuna
melihat tas di bangku para murid masih ada. ‘Aneh’ batinnya kebingungan. Hari
ini pun enggak ada pelajaran diluar lapangan, terus pada kemana ya yang lain?
Yuna pun segera memasuki ruang kelas mengambil ponselnya untuk mengecek jam.
‘Sekarang jam 4 sore, seharusnya ia sudah pulang sih, tapi karena melihat tas anak-anak
masih ada di kelas ia jadi bingung mau pulang atau enggak. ‘Oh iya, ini kan
sudah waktunya aku pergi part time’ gumamnya sembari melihat kembali jam di
ponselnya.
Yuna pun sudah tidak memperdulikan teman-temannya yang menghilang, ia pun
segera mengambil tasnya dan bersiap untuk cabut dari sekolah.
Yuna berjalan melewati setiap lorong kelas, terlihat anak-anak kelas lain
ada didalam kelasnya masing-masing, sedangkan kelas Yuna gaada seorang pun yang
terlihat. ‘Makin aneh aja deh’ batin Yuna lagi sambil menggidik takut.
“Jangan-jangan anak-anak satu per satu menghilang diambil hantu atau monster
seperti di film-film lagi” ucapnya ngawur sambil memikirkan hal yang
tidak-tidak.
Ia pun bergegas menuruni tangga menuju lapangan. Terlihat barisan murid sedang
berjejer disana. Yuna memicingkan matanya untuk melihat siapa murid-murid itu.
“Oh itu kan, Soobin” ucapnya menunjuk Soobin yang berdiri dibaris belakang.
‘Lho ngapain dia disitu? Berarti itu anak-anak kelas ya pada baris disitu’
batin Yuna menerka-nerka. Yuna kemudian melirik kearah lain, terlihat seorang
wanita berusia sekitar 30 an sedang berdiri dihadapan para murid. Yuna mencoba
memicingkan sekali lagi matanya untuk melihat jelas siapa wanita itu.