Seseorang menjentikkan jarinya didepan wajah Yuna. Yuna segera membuyarkan lamunannya. “Ehh…loh, kau kok disini?” tanya Yuna masih mengangkat satu kaki dan tangannya memegang telinga. “Aku habis dari toilet, by the way kauu…kau dihukum?” kata Gerry tertawa puas. “Heyy, kenapa kau malah tertawa? Senang melihat aku dihukum?” balas Yuna kesal, ia memanyunkan bibirnya. “Kok bisa? Memang kau melakukan apa?” tanya Gerry masih sedikit tertawa. “Bukan urusan mu, aku ini kok yang dihukum kenapa kau kepo sekali si urusan orang ckckck….menyebalkan.” teriak Yuna tanpa sadar ia membuat keributan di sekitar lorong kelas. Gerry menatap sekitar. “Kau berisik banget tahu, orang-orang jadi pada dengar kau teriak.” Bisik Gerry ditelinga Yuna. Yuna membelalakkan matanya. “Ehh…apa iya? Perasaan tadi aku ngomongnya ga kencang banget deh.” Jelas Yuna mengingat perkataannya barusan.
Miss Lee Yuri yang sepertinya mendengar teriakan Yuna segera menghampiri Yuna dan memarahinya. “Yunaaa, sudah aku kasih hukuman tapi kau sepertinya tidak jera ya. Habis bel istirahat kau segera keruangan miss, karena miss akan kasih hukuman lagi untuk anak sepertimu.” Jelasnya menatap tajam Yuna dengan sangat ketus. Yuna jadi ngeri melihatnya. Ia tidak menduga akan jadi seperti ini. Yuna segera menatap tajam Gerry. “Heyy, ini semua karenamu, aku jadi kena hukuman lagi,” desis Yuna emosi, ia berusaha memukul Gerry tapi Gerry menghindari serangannya. Gerry menunjukkan giginya tersenyum canggung. “Sebaiknya aku pergi dulu ya.” balasnya melambaikan tangan pada Yuna.
“Gerryyyyy...awas kau yaa, akan kuhabisi kau saat bel isirahat nantii.” Omel Yuna kesal. Terlihat Gerry yang sudah lari kabur karena situasinya yang tegang dan tidak bersahabat sedikit pun. Yuna yang masih sangat emosi mencoba menenangkan dirinya. ‘Akan kubunuh kau Gerry’ ancam Yuna bertekad dalam hati.
Bel istirahat berbunyi, Yuna segera menurunkan satu kakinya dan tangannya yang pegal dan kaku karena dihukum selama 3 jam pelajaran miss Lee Yuri. “Aduhh….sakit banget pegel.” Ucapnya mencoba mereggangkan otot tangan dan kakinya. Ia segera duduk dibangku.
“Yunaaa, ayo kita ke kantin.” Teriak Mijoo dari luar kelas. Mijoo memang tidak sekelas dengan Yuna tapi mereka jadi dekat karena satu frekuensi.
“Oh…Mijoo, kau duluan saja. Aku ada urusan lain.”
“Urusan apa? Ayo biar kutemani.” Ucapnya meyakinkan.
“Aku bisa sendiri, nanti kau kuhubungi kalau sudah selesai.” Balas Yuna menolak.
Mijoo pun mengangguk mengerti. Ia segera berjalan keluar kelas menuju kantin dengan anak-anak yang lain.
Soobin segera menghampiri Yuna. “Kau gapapa? Pasti melelahkan berdiri disana sampai pelajaran miss Yuri selesai.” Kata Soobin menatap Yuna yang masih memegang tangannya yang pegal.
“Sangat melelahkan,” balas Yuna. “Oh iya, kalau kau melihat Gerry tolong katakan padanya aku akan membunuhnya” desis Yuna serius. Soobin yang tidak tahu menahu cukup terkejut dengan ucapan Yuna. “Untuk apa kau membunuh Gerry? Ia tidak berharga untuk kau bunuh, tidak menguntungkan.” Terang Gerry dengan mimik meledek. “Benar juga kau, kalau begitu biar ku pukul saja dia.” Yuna menunjukkan kepalan tangan kanannya dihadapan Soobin, ia seperti bersiap akan memukul habis Gerry. Soobin memegang tangan Yuna dan menurunkannya. “HAHAHA….Sudahlah, ayo kita ke kantin untuk mencari Gerry.” Jelas Soobin menarik tangan Yuna. Yuna menahan tarikan Soobin. “Aku harus ke ruang guru dulu, ada urusan dengan miss Yuri.” Terang Yuna melepaskan genggaman Soobin. “Oh begitu, yasudah aku kekantin duluan ya, kalau kau sudah selesai disana, cepat menyusul.” Jelasnya segera berjalan menuju kantin.
Setelah Soobin pergi, ia mencoba meluruskan badannya yang pegal dan kaku, ia pun bertekad menuju ruang guru menemui miss Lee Yuri yang sedang menunggunya. Ia harus mencoba rileks dan tenang.
Yuna memasuki ruang guru, berjalan menuju meja miss Lee Yuri, terlihat miss Yuri yang duduk di bangkunya sembari melipat kedua tangan dimeja seperti menunggu kehadiran Yuna.
Yuna yang menyadari sikap miss Yuri sangat disiplin dan galak. Ia segera jalan cepat menuju mejanya. Yuna segera membungkukkan badannya dihadapan miss Yuri. Ia mencoba tersenyum ramah. Miss Yuri menatap Yuna dengan malas. “Aku akan memberikanmu hukuman lagi karena telah mengacaukan pembelajaran, jadi kau harus membuat essai 100 halaman ditulis tangan kumpulkan dalam waktu 3 hari. Yuna membelalakkan matanya kaget. ‘Hah buat essai 100 halaman dalam waktu 3 hari? Udah gila kali ya, sehari aja gaakan nyampe 20 halaman, tangan udah pasti mau patah rasanya’ batin Yuna ngedumel. “Tapi miss, bukankah itu terlalu cepat waktunya?” bantah Yuna menatap ngeri
miss Yuri. “Jadi kau mau membantah perintah saya? Kau itu kan hanya murid yang
menuruti perintah guru, kalau kau melakukan kesalahan sudah seharusnya saya
memberikan kamu hukuman yang sesuai dengan perbuatanmu.” Jelas miss Yuri dengan
nada ketus.
“Ta..tapi saya tidak melakukan perbuatan yang merugikan sekolah dan hanya
bersuara dengan kencang, kenapa hukumannya berat seperti ini?” Yuna tidak
berhenti membantah ucapan miss Yuri hingga membuat miss Yuri meledakkan
emosinya.
“Kau membantah terus ya perintah saya, keliling lapangan sekarang 50
putaran, jangan balik kalau kau belum selesai, miss akan mengawasimu dari
sini.” teriaknya mengeluarkan nada emosi. Yuna mendesah. Ia merasa bodoh segala
membantah perintah miss Yuri, dengan berat hati ia segera meninggalkan ruang
guru dan berlari menuju lapangan untuk menerima hukuman.
‘Seharusnya aku diam saja gausa terlalu banyak adu mulut’ pikirnya menyesali
ucapannya yang membuatnya menderita seperti ini. Yuna pun segera berlari menuju
lapangan dimana cuaca sedang terik-teriknya, matahari bersinar sangat terang
membuat Yuna kepanasan dan gerah. ‘Aduh panas banget’ keluh Yuna masih berlari
sendirian dilapangan. Terlihat banyak siswa dan siswi dari atas dan bawah
menonton Yuna yang tengah berlari sendirian di lapangan. Sejujurnya itu
adalah momen yang sangat memalukan untuknya. Dalam sekejap dirinya menjadi pusat
perhatian semua orang dimana itu adalah waktu istirahat bagi para siswa dan
siswi. Yuna tidak peduli dan tetap melanjutkan hukumannya yang sangat melelahkan
itu. Yuna ngos-ngosan berlari cukup lama, ia baru mencapai 10 putaran, tapi
badannya sudah tidak kuat lagi. Yuna memang memiliki fisik yang cukup lemah dan
ia mudah lelah dalam situasi yang membuatnya terlalu banyak mengeluarkan
tenaga.
Yuna terkejut menyadari wanita yang berdiri didepan itu adalah gurunya yaitu
miss Yuri. ‘Lah kenapa dia ada disana?’ Yuna semakin bingung. ‘Sebaiknya aku
kabur aja deh, daripada ketauan bisa mati aku’ Yuna mencoba mencari jalan
berlawanan arah, ia mengambil langkah besar menuju tembok belakang sekolah yang
biasa dipakai murid bandel untuk kabur. Yuna menengok ke sekeliling, ia pun
memberanikan diri untuk memanjat tembok itu dan melompat kebawah, tapi ia tidak
pernah melakukan hal gila seperti ini, ia takut kalau dirinya akan jatuh dan
ada orang lain yang melihatnya. Itu sungguh hal yang menyakitkan dan memalukan.