Latihan

1260 Kata
Jae Hoon sudah tiba di gedung tempat latihannya dan segera memasuki ruangan latihan yang cukup besar itu, dimana ruangan tersebut dikelilingi oleh kaca-kaca besar khusus untuk dance practice. Disana terlihat para hyungnya yang tengah duduk melingkar dilantai sambil berdiskusi serius. Jae Hoon yang tampak tidak enak karena telah mengacaukan semuanya seakan tidak ingin menatap para hyungnya. Ia berjalan lurus dengan tangan kanan memegang tas besar berisi baju ganti dan peralatan olahraganya sembari menundukkan kepalanya yang tertutup topi. “Hey, Hoon-ah.” Teriak salah satu member yang ternyata adalah Dowon. Jae Hoon mengangkat kepalanya melihat Dowon segera bangun menghampirinya. “Kau gapapa?” tanyanya khawatir sambil memegang bahu Jae Hoon. Jae Hoon menggelengkan kepalanya. “Aku baik-baik saja, ayo mulai latihannya sekarang.” Ujar Jae Hoon berjalan menaruh tasnya dan mengambil baju gantinya. Ia pun segera keruang ganti pakaian dan kembali dalam beberapa menit. “Oke, baiklah kalau semua sudah komplit kita mulai saja sesi latihan ini ya, karena 1 minggu lagi kalian akan tampil di Music Bang dan dalam waktu dekat kalian akan mengadakan tour konser, jadi persiapkan diri masing-masing, berlatih yang cukup jangan sampai terlalu memaksakan diri sampai jatuh sakit, jaga kesehatan kalian karena itu adalah hal yang utama.” Nasihat couch yang melatih para member G-Force. Para member pun mengangguk mengerti. Disusul Jae Hoon melakukan hal yang sama. Mereka pun segera memulai sesi latihan dance untuk beberapa lagu utama yang membutuhkan dance. “One...two...three...four...five...six...seven...eight.” teriak couch dengan lantang. Para member menari dengan sangat gigih dan serius karena mereka ingin tampil se perfect mungkin untuk Freely. Setelah selesai menari, dilanjutkan dengan melatih vocal dengan bernyanyi sesuai bagian part yang didapat, mereka menghabiskan waktu diruang latihan sampai seharian penuh. Sampai tiba mereka untuk istirahat dahulu karena capek dan letih seharian menari dan menyanyi tanpa henti. Jae Hoon menyenderkan badannya di kaca besar ruang latihan. “Haaaahh, lelah sekali.” Ucapnya sambil menggoyangkan kepalanya ke kiri dan kanan untuk menghilangkan pegal. Taejun join duduk di samping Jae Hoon. “Hey, darimana kau? Sampai telat begitu. Gak biasanya kau se ngaret itu, setau ku cuma Dowon si manusia paling ngaret diantara kita.” kata Taejun memulai obrolan. “Oh…aku ada urusan mendadak yang harus ku kerjakan lebih dulu, jadi aku telat banget datangnya.” Jelas Jae Hoon berbohong. Padahal ia mengalami momen yang cukup menegangkan tapi ia urungkan niat untuk mengatakannya. “Masa? Kau kan selalu cerita kalau ada apa-apa, tapi kali ini sepertinya berbeda.” Ujar Taejun curiga ia mengernyitkan dahinya penasaran Jae Hoon jadi bingung harus berkata apa, ia berasa diteror oleh hyungnya itu. “Apa sih hyung, gaada apapun yang disembunyikan kok. Semua yang kukatakan itu benar.” Bela Jae Hoon. Taejun mengangguk angguk antara percaya dan tidak, lalu ia berdiri untuk mengambil minum. Jae Hoon sedikit lega dengan kepergian hyungnya, ia sangat tahu dirinya itu tidak bisa berbohong sama sekali. Pernah sewaktu-waktu ia berbohong tapi langsung ketauan karena mimik wajahnya yang tampak innocent seperti bayi. Ia sebenarnya tidak suka berbohong, tapi demi kebaikannya ia akan coba menyimpannya sendiri. Mereka pun menyelesaikan latihan sampai tengah malam, dimana Jungkook sudah sangat lelah untuk balik ke apartementnya. Ia pun memutuskan untuk tidur di ruang latihan saja daripada ia harus balik dengan keadaan mata sudah sangat mengantuk. “Hoon-ah, kau tidur disini malam ini?” tanya Junmin menatap Jae Hoon yang merebahkan posisinya dilantai. “Ah….iya, aku malas pulang jadi aku tidur disini saja sampai besok, baru aku balik.” Jelas Jae Hoon. Junmin mengangguk. “Kalau begitu hyung pulang dulu, karena yang lain sudah pulang jadi kau disini sendiri bersama para staff yang lembur sampai besok pagi.” Ujar Junmin menjelaskan. Jae Hoon mengangguk mengiyakan sambil memejamkan matanya ia menjadikan tangannya sebagai sandaran kepalanya. Ia pun bersiap untuk tidur. Yuna berlari menuju kelas karena dirinya memang sudah sangat telat. ‘Sepertinya pelajaran pertama sudah mulai nih’ batin Yuna menerka-nerka masih sambil berlari sekencang angin. Ia pun menghentikan langkahnya sambil berdiri didepan pintu kelas. Ia sangat takut untuk masuk karena sebelumnya ia belum pernah datang terlambat seperti ini. ‘Gimana kalu dapat hukuman karena ia telat?’ gumam Yuna panik. Namun ia tetap berusaha memasang wajah datar dan membuang kepanikannya. Ia pun membuka pintu berjalan menuju mejanya dengan anggunly. Seisi kelas menatapnya dan mengikuti langkah Yuna sampai menuju mejanya. Soobin yang tadi tertidur segera bangun mendongakkan kepalanya menatap Yuna yang tengah dimarahi miss Yuri. “Yuuunaaaa..” teriak Miss Lee Yuri. Yuna yang bersiap duduk kembali berdiri tegak menghadap gurunya itu. “Kenapa datang terlambar? Memangnya kau tidak bisa melihat jam? Sekarang jam berapa hah? Ckckck…anak ini benar-benar ya tidak disiplin datang tepat waktu. Sekarang cepat kamu berdiri di luar ruang kelas mengangkat satu kaki dan kedua tangan memegang telinga.” Perintah miss Lee Yuri dengan ketus. Ia menatap tajam Yuna yang berdiri mematung masih belum bergerak. “Kenapa kau diam saja? Cepat lakukan perintah miss.” Jelasnya lagi dengan nada marah. Yuna terkejut dengan nada suara miss Lee Yuri yang seram dan mengerikan itu. Ia pun segera mengangguk berjalan menuju luar kelas menuruti ucapan miss Yuri. Soobin yang merasa kasihan hanya bisa menatap Yuna yang akan menjalani hukumannya diluar kelas. Ia tidak bisa berbuat apa-apa karena miss Yuri memang terkenal galak dan tidak ada ampun. Yuna merasa dirinya sial banget harus berhadapan dengan miss Lee Yuri pada jam pertama dimana dirinya telat datang. “Hadeuhhhh sial banget sih, coba aja ga telat.” Ucapnya mengoceh tanpa henti diluar kelas. “Eh tapi….aku beruntung sih, walau telat dan hampir ketabrak mobil oleh idola sendiri, tapi ketemu Jae Hoon untuk kedua kalinya itu anugerah terindah yang pernah kumiliki ga sih. Kehokian yang gabisa didapatkan oleh siapapun kecuali hanya Yuna seorang.” Ucapnya lagi mengoceh sendiri sambil melamun membayangkan hal itu terjadi lagi untuk ketiga kalinya, karena ia punya senjata untuk mengajak Jae Hoon bertemu, itu adalah kalungnya yang disimpan oleh Jae Hoon. Sebenarnya kalau kalung itu disimpan oleh Jae Hoon dan enggak dibalikin pun ia akan ikhlas dan senang karena Jae Hoon pasti nanti akan terus mengingatnya, tapi kalung itu pemberian dari neneknya yang sudah meninggal. Dimana sang nenek berpesan agar Yuna terus menggunakan kalung itu karena ia terlihat sangat cantik ketika memakainya. Dulu Yuna memang sangat dekat dengan neneknya, bisa dibilang Yuna keseharian tinggal bersama neneknya sebelum keluarganya tidak semapan dulu lagi dan mengharuskan mereka berpisah kota karena appa Yuna mencoba membuka bisnis di Gangnam. Yuna jadi jarang menengok nenek di Daegu, hingga mendapat kabar kalau nenek kritis karena sakit. Keluarga Yuna pun kembali ke Daegu untuk melihat keadaan nenek yang tengah kritis. Disitu Yuna menangis tiada henti, ia mengingat setiap momen berharganya dimana dirinya sangat bahagia tinggal bersama neneknya yang sangat ia sayangi. Hingga akhirnya sebelum neneknya meninggal, ia menitip pesan kepada Yuna ‘Carilah pasangan yang membuatmu bahagia, nenek ingin melihatmu selalu tersenyum sepanjang hari karena senyuman Yuna adalah senyuman terindah bagi nenek, nenek akan selalu mengawasimu dari atas, semoga Yuna mendapatkan laki-laki yang selalu mencintai dan menyayangi Yuna dengan tulus.” titah nenek diakhir hidupnya. Itu adalah pesan terakhir yang masih terngiang-ngiang dipikiran Yuna bahkan sampai sekarang. Ia juga heran kenapa nenek memberinya pesan seperti itu, padahal waktu itu umurnya masih sangat muda dan belum mengerti tentang pacaran apalagi menuju jenjang yang serius dengan laki-laki manapun. Semakin memikirkannya semakin membuat Yuna bingung maksud dari perkataan neneknya itu. Ia jadi tidak terlalu menggubris perkataan neneknya itu. Lalu nenek juga memberikan Yuna sebuah kalung bertuliskan namanya sendiri yaitu ‘YUNA’ dan memakaikannya dileher Yuna. Itu adalah momen yang mengharukan bagi Yuna. Ia berjanji akan terus memakai kalung itu dan menyimpannya sebagai sebuah kenangan indah bersama neneknya yang tidak akan pernah terlupakan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN