Bertemu Kembali?

1301 Kata
Gadis itu menatap Jae Hoon. “Aku tidak sengaja memakimu karena aku sangat shock dan terkejut ketika mobilmu melaju dengan cepat kearahku, untunya kau berhasil mengerem tepat waktu, kalau engga aku pasti sudah terbaring di rumah sakit.” Jelas gadis itu lirih. Jae Hoon memikirkan hal itu, tapi ada benarnya juga. Untungnya ia cekatan langsung rem, kalau engga entah apa yang terjadi. “Kalau gitu, aku antar kau pulang saja ya.” Usul Jae Hoon. Gadis itu menolak. “Aku bisa sendiri.” Ucapnya segera berdiri dari tempat duduk. Jae Hoon yang merasa ia harus bertanggung jawab karena telah membuat gadis itu celaka merasa ini bukan hal yang tepat. Jae Hoon menarik lengan gadis itu. Gadis itu tertarik kearah Jae Hoon, mata mereka berdua bertemu. Gadis itu terkejut dan segera menutup lengannya. “Omo,” ia masih shock menatap mata Jae Hoon. Jae Hoon memiringkan kepalanya heran. “Ada apa?” tanyanya bingung karena gadis itu tampak terkejut melihat dirinya. Jae Hoon kembali berfikir. ‘Apa jangan-jangan ia mengenali Jae Hoon sebagai idol?’ pikirnya. “Kau tau aku?” tanya Jae Hoon lagi. Gadis itu menatap tajam Jae Hoon. “Kau...Kang Jae Hoon?” ucap gadis itu sedikit berbisik. Jae Hoon melongo, ia tidak tahu gadis itu akan mengenalinya, padahal ia sudah memakai topi, oh iyaa ia lupa kalau mereka sempat bertatapan. Jae Hoon menaruh telunjuknya ditengah bibir. “Ssst..jangan bilang siapa-siapa ya, ini rahasia.” Jelasnya. Gadis itu menjadi salah tingkah karena ia tidak tahu harus berkata apa. Ternyata yang menabraknya itu seorang idol terkenal Kang Jae Hoon. “Aku sedang terburu-buru karena ada jadwal yang cukup padat, jadi aku akan mengantarmu dulu lalu ketujuan ku, bagaimana? Supaya aku merasa lega sudah bertanggung jawab atas kelalaianku.” Terang Jae Hoon bijak.’ Gadis itu kemudian mengangguk mengiyakan. “Kau bisa mengantarku ke SMA Eunsang.” “SMA Eunsang?” ucap Jae Hoon memastikan. Oh iya, ia lupa kalau gadis itu memakai seragam sekolah. “Yup, sepertinya sudah mau telat.” Ucap gadis itu sembari melihat jam ditangannya. Jae Hoon pun mengajak gadis itu masuk kedalam mobil. Jae Hoon segera menancap gas untuk mengantar gadis itu. “Aku boleh bicara?” tanyanya menatap Jae Hoon yang sedang menyetir. “Ya, silahkan.” “Kau….kau sama sekali tidak mengenaliku? Tanya gadis itu menatap Jae Hoon. Jae Hoon segera menengokkan kepalanya kearah gadis itu. Ia mengernyitkan dahinya menatap wajah gadis itu. “Sama sekali tidak, memangnya kita pernah bertemu?” tanya Jae Hoon memegang setirnya. Gadis itu menyilangkan kedua tangannya. “Heyy, bagaimana kau bisa sudah lupa? Kau kan yang menyelamatkanku. Aku merasa sudah diselamatkan olehmu dua kali, walau yang kedua kau hampir membunuhku.” Jelasnya tertawa kecil. Jae Hoon mengangkat alisnya bingung. “Kau….aku pernah menyelamatkanmu sebelumnya?” Jae Hoon berfikir sejenak. ‘Apa jangan-jangan gadis itu..’ ‘BRUK’ Jae Hoon rem mendadak. “Heyyyy, kau ingin membunuhku ya? Kenapa kau kebiasaan sekali sih ngerem mendadak seperti ini? Bikin gila saja.” Omel gadis itu kesal dan takut dirinya akan kenapa-napa lagi. Ia bahkan tidak sadar sudah mengomeli seorang idol papan atas. Jae Hoon menatap tajam gadis itu yang masih mengomelinya. “Kau….kau Yuna?” tanya Jae Hoon bertekad. ia samar-samar mulai mengenali wajah gadis itu. Jae Hoon memang tidak bisa mengenali setiap wajah wanita yang ia temui, karena job nya sebagai idol menjadikannya harus bertemu dengan banyak orang, dimana ia tidak bisa mengingat wajah mereka satu per satu. Gadis itu membuka mulutnya melongo. “Kau…kau mengenaliku?” gadis bernama Yuna itu tersenyum lebar, ia sangat senang mengetahui idolanya mengenalinya untuk kedua kali. “Bagaimana kau tahu namaku?” tanya Yuna. Ia bahkan belum sempat mengatakan namanya ketika bertemu Jae Hoon sebelumnya. “Ahh….aku lupa memberitahumu, kalungmu ada padaku. Kalung yang bertuliskan ‘YUNA’.” ‘Kalung? Ah….aku baru ingat, kalungku tidak ada.’ Batin Yuna memegang lehernya. Bagaimana bisa ia lupa kalung itu tidak menempel dilehernya, padahal kalung itu sangat berharga untuknya. Ia merasa dirinya sudah teledor menghilangkan barang yang sangat berharga itu, tapi untungnya kalung itu tidak hilang di tempat yang tidak diketahui. Ia senang mengetahui Jae Hoon yang menemukannya. Ia bahkan membayangkan kalung itu dipegang Jae Hoon dan ditaro di tempat yang aman dan pastinya spesial. Mata Yuna menatap keatas membayangkan scenario yang ia buat sendiri. ‘Seperti dalam sebuah drama saja.’ Batin Yuna senyum sendirian. “Tapi…bagaimana bisa ada padamu?” ujar Yuna menopang dagunya. “Entahlah, terjatuh begitu saja.” Terang Jae Hoon mengangkat kedua bahunya. “Mencurigakan.” kata Yuna menunjuk Jae Hoon yang masih menyetir. “Heyyy…..apa maksudmu? Kau pikir aku sengaja mengambil kalungmu itu? Aku tidak melakukan apapun tahu.” Jae Hoon menyela ia tidak mau dituduh yang aneh-aneh. “Mungkin saja kan.” Ledek yuna nakal. Jae Hoon menatap Yuna sedikit jengkel. “Aish…terserah apa katamu lah, yang jelas aku tidak berbohong.” Jae Hoon mengalah. Yuna tertawa puas. “HAHAHA….yauda sekarang mana kalungku, ayo cepat kembalikan.” Jungkook memegang celananya, namun tidak ada dicelananya. “Coba kau cari ditasku.” Ucap Jae Hoon menunjuk tasnya dibelakang. Yuna segera mengambilnya. Ia menggeledah isi tas Jae Hoon namun tidak menemukannya. “Tidak ada.” Jelas Yuna masih mencari-cari sampai kedalam. “Yang benar? Terus dimana ya” pikir Jae Hoon. “O…iyaa, aku masih menaruhnya di lemari kacaku.” Ujar Jae Hoon mengingat-ingat. Yuna memanyunkan bibirnya. “Heyy, kenapa kau ga bilang? Aku sudah menggeledahnya sampai dalam tahu.” Ucap Yuna bete. ‘Tuh kan benar, pasti ditaro di tempat yang spesial.’ Jae Hoon tertawa kecil. “Sorry, aku lupa.” Tring…tring….tring ponsel Jae Hoon berdering. “Ponselmu bunyi tuh.” Tunjuk Yuna. Jae Hoon segera mengangkatnya. “Jae Hoon-ah, kau dimana? Kau tidak apa-apa?” terdengar suara laki-laki tampak khawatir dari ponsel Jae Hoon. “Ne, aku baik-baik saja, aku lagi dijalan, aku minta maaf sudah membuat kalian menunggu lama.” Kata Jae Hoon merasa tidak enak. “Ya sudah, berkendaralah dengan hati-hati ya, jangan terburu-buru, keselamatanmu adalah yang terpenting.” Nasihat hyungnya. Jae Hoon mengangguk mengerti. “Jae Hoon-ah, jangan lupa kau punya hutang padaku.” Suara seseorang yang tampak tidak asing di telinga Yuna. ‘Eh tunggu deh, itu kaya suaranya siapa ya’ terka Yuna bertanya-tanya. Jae Hoon segera mematikan ponselnya. “Itu siapa?” tanya Yuna penasaran. “Oh…itu para hyung.” “Apa suara laki-laki diakhir itu adalah Seo Taejun?” tanya Yuna memastikan. Jae Hoon menatap Yuna sambil memiringkan bibirnya. “Iyap betul, kenapa?” “Hmmm…aku, apa boleh aku ketemu sekali dengan Taejun oppa?” tanya Yuna sedikit ngeri. “Taejun oppa? Kenapa kau memanggilnya begitu?” larang Jae Hoon sebal. “Ahh…itu karena aku merasa dekat dengannya.” Jae Hoon tertawa kecut. “Sejak kapan kau dekat dengan Taejun hyung, kau bahkan tidak pernah bertemu dengan dia.” “Itu karena kau, aku jadi merasa dekat dengan member G-Force.” Jelas Yuna. Jae Hoon hanya mengangguk-angguk masih tertawa kecil. Mereka pun akhirnya sudah sampai didepan sekolah Yuna yaitu SMA Eunsang. “Ini sekolahmu?” tanya Jae Hoon menatap sekitar. “Yup betul, sebaiknya aku masuk dulu karena sepertinya aku sedikit telat.” Ucap Yuna melihat sekitar yang tampak sepi, ia tidak terlihat siswa dan siswai berkeliaran disekitar sekolah. “Oiya, kau masih harus mengembalikan kalungku. Untuk berjaga-jaga aku akan memberikan nomorku, ini tolong simpan ya dan jangan lupa hubungi aku jika kau ada waktu luang, karena kalung itu sangat berharga untukku.” Yuna segera berjalan menuju gerbang sekolah dengan melambaikan tangannya kearah Jae Hoon Jae Hoon memperhatikan langkah Yuna sampai ia menghilang dari kejauhan. Itu adalah pertemuan kedua mereka yang tidak disengaja. ‘Apakah ini adalah garis takdir yang sudah ditentukan, atau memang ketidaksengajaan yang terjadi membuat mereka berdua bertemu kembali hingga menjadi semakin dekat dari waktu ke waktu. Hal seperti ini hanya terjadi di dalam sebuah drama, tapi jika kita menginginkannya apa bisa menjadi kenyataan yang mungkin?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN