Ketidaksengajaan

1142 Kata
Yuna pun segera memakai seragam café itu. Ia merasa dirinya sudah resmi bergabung sebagai staff dicafe itu. ‘Senang banget akhirnya bisa part time juga, G-Force tunggu aku ya, aku akan menjadi Freely royal.’ Ucapnya dalam hati kegirangan. “Kau baru masuk hari ini ya?” tanya seorang wanita muda yang tampak cantik. Yuna menoleh asal suara itu. “Ah…iya benar, ini hari pertamaku bekerja. Mohon bantuannya.” Balas Yuna menundukkan kepalanya. Wanita itu tersenyum ramah. “Aku akan mengarahkan dan menjelaskan apa yang harus kau lakukan, ayo ikut aku.” Ajak wanita itu menuju meja kasir. Yuna pun segera mengikutinya. Yuna diajari oleh wanita itu mengelola keuangan dikasir. Ia jadi banyak belajar. Yuna juga sempat bertanya nama wanita itu, namanya adalah Hwang Bora. ‘Wajahnya sudah cantik bahkan namanya juga tak kalah cantik.’ Tutur Yuna dalam hati sedikit iri. Ia juga berharap bisa mendapatkan salah satunya. ‘Seandainya namanya cantik ataupun wajahnya cantik’ batin Yuna berandai-andai, tapi ia sudah merasa bersyukur atas segala nikmat yang Tuhan berikan padanya, yang terpenting ia lahir kedunia adalah anugerah yang terindah. Jae Hoon merebahkan badannya ke ranjang, ia merasa lega para hyungnya sudah pulang dan bisa sendirian lagi. Ia memandang langit-langit kamarnya berfikir apa sebaiknya mengembalikan kalung itu kepada gadis bernama YUNA atau lebih baik disimpan saja disitu sampai gadis itu mencarinya. Ia juga merasa tidak enak jika barang milik orang lain ada padanya dalam waktu lama. “Hmm….” Jae Hoon tampak bingung. ‘Apa yang harus kulakukan? Besok sepertinya aku hanya latihan sebentar di gedung dan langsung kembali ke apartement. Apa besok aku coba mencari gadis itu? tapi kemana? Aku tidak tau dimana gadis itu berada, sungguh misterius’ batinnya masih memandang langit-langit sembari menghayal. Besoknya Jae Hoon segera terbangun dan mendapati dirinya terlambat menuju gedung latihan tempat G-Force berlatih skill dance. “Oh My God” teriak Jungkook melihat jam di ponselnya. Ia sudah telat selama 1 jam karena ia ketiduran. Bahkan para member banyak menghubungi Jae Hoon namun dirinya lupa kalau ponselnya sempat ia silent sehingga suaranya jadi tidak terdengar. “Bodohnya diriku” ucap Jae Hoon langsung segera bangun mengambil handuk dan masuk kedalam kamar mandi untuk bersiap-siap. Bau parfum menyengat menyelimuti ruangan kamarnya. Ia sudah rapi dengan pakaian dan sepatunya. Kini ia tinggal turun kebawah untuk mengendarai mobilnya supaya cepat sampai. Jae Hoon segera tancap gas dengan cepat karena dirinya sudah sangat terlambat dan enggak enak dengan para hyungnya yang harus menunggu dirinya datang. Jae Hoon mengendarai mobil dengan tergesa-gesa. Ia tahu itu adalah hal yang berbahaya tapi mau bagaimana lagi, kalau ia tidak ngebut, bisa-bisa ia tidak latihan hari ini. “Tring…tring…tring.” Ponsel Jae Hoon berdering, tampak seseorang menelponnya. Jae Hoon menatap ponselnya melihat siapa yang menelponnya. Ia pun segera mengangkatnya. “Yeoboseyo.” Ucap Jae Hoon sembari menyetir mobilnya. “Heyy...kau dimana sih, tidak ada kabar, dihubungi dari tadi ga diangkat. Apa yang kau lakukan? Kita udah nungguin dari tadi nih, bisa-bisanya kau menghilang.” Celoteh Dowon emosi. Jae Hoon menjauhkan ponselnya dari telinga karena Dowon berteriak cukup keras membuat telinganya sakit. “Iyaa, tunggu sebentar, dikit lagi aku sampai, lagi dijalan nih..” “Jangan lama-lama, buruan kemari, yang lain udah pada ready.” Jelas Dowon. “Iyaa sebentar yaa…aku dikit lagi sam….” Jae Hoon yang tampak tidak konsen memperhatikan jalan sambil menelpon tidak sadar ada seseorang dari kejauhan. ‘Huaaaa’ teriaknya terkejut bukan main, BRUUK.’ Ia segera rem mendadak tepat didepan seorang gadis. Ia hampir saja menabrak gadis itu. Suara telpon masih terdengar. Tampaknya Jae Hoon belum sempat mematikan telponnya ketika kejadian itu berlangsung. “Jae Hoon-ah, kau kenapa? Kau gapapa? Apa yang terjadi?” tampak Dowon menanyakannya melalui telpon, ia sangat khawatir takut terjadi apa-apa dengan adik bungsunya itu. Jae Hoon tidak sempat menjawab telpon Dowon, ia langsung segera mematikannya karena dirinya sangat terkejut dan panik. Jae Hoon mencoba mengatur nafasnya yang tidak karuan itu. ‘Apa yang terjadi? Apa aku udah gila ya? Aku hampir menabrak seorang gadis?’ Jae Hoon sangat panik dan takut kalau gadis itu kenapa-napa. Ia memutuskan untuk keluar menemui gadis itu untuk meminta maaf atas kesalahan fatal yang ia lakukan. Sebelumnya Jae Hoon mengambil topi untuk berjaga-jaga agar publik tidak mengenalinya. Ia pun membuka pintu mobil dan mencoba menghampiri gadis itu. Jae Hoon berjalan dengan hati-hati untuk melihat keadaan gadis itu. Jae Hoon mendekati gadis itu yang tampak terduduk lemas menghadap kearah mobilnya. “Kau-ga-papa?” tanya Jae Hoon sedikit terbata-bata. Gadis itu memegang dadanya dengan kedua tangannya. Wajahnya kelihatan pucat dan shock. Pikirannya tidak karuan, gadis itu masih menatap mobil Jae Hoon yang tepat berada di depannya. “A-akuu-min-ta-maaf ya.” Ucap Jae Hoon sembari mengulurkan tangannya mencoba membantu gadis itu berdiri. Terlihat banyak sekali orang yang memperhatikan mereka berdua. Karena kejadian yang mencengangkan itu cukup menarik perhatian orang yang lewat disekitaran situ. Gadis itu perlahan menatap Jae Hoon yang mengenakan topi, gadis itu tidak bisa melihat wajah laki-laki yang sudah membuatnya terjatuh lemas hingga membuat jantungnya seperti ingin copot. “Heyyy, apa kau sudah gila? Aku hampir saja mati tahu.” teriak gadis itu masih terduduk dengan lemas. Gadis itu tidak terlalu banyak bereaksi, karena badannya masih terasa lemas dan kaku. Jae Hoon menatap ngeri, namun ia beranikan diri untuk lebih mendekatinya. “Aku benar-benar minta maaf, ini adalah kecelakaan yang telah ku perbuat.” Jae Hoon menundukkan kepalanya dengan menyesal. Ia baru sadar gadis itu adalah seorang siswi SMA. Jae Hoon merasa terpukul karena hampir menabrak seorang siswi sekolah. Gadis itu menerima uluran tangan Jae Hoon dan mencoba berdiri. Gadis itu masih terpaku diam ia tidak bisa berkata apa-apa. Jae Hoon yang sedang tergesa-gesa jadi bingung harus berbuat apa. Disatu sisi ia ingin segera pergi dari situasi ini karena memang dirinya sudah terlambat dan harus segera sampai, namun ia tidak tega melihat wajah gadis itu yang masih sangat shock dan kaget, wajahnya pun masih pucat. Jae Hoon mengajaknya untuk duduk di tepi jalan. “Mau aku ambilkan minum?” tanya Jae Hoon pada gadis itu. Gadis itu tampak melamun lalu ia mengangguk. Jae Hoon pun segera kemobil untuk memberikannya air minum yang ia bawa untuk dirinya. “Ini, minum dulu.” Jae Hoon segera memberikan botol minum itu. Gadis itu meminumnya perlahan. Jae Hoon memandangi gadis yang tengah meminum airnya itu. Gadis itu segera menutup botol minumnnya dan memberikannya pada Jae Hoon. “Makasih.” Ucapnya sambil mengelap air yang masih tersisa dimulutnya. “Ne?” Jae Hoon heran. ‘Kenapa ia tidak marah padanya? Padahal tadi jelas-jelas gadis itu memakinya? Tapi malah berterimakasih?’ pikir Jae Hoon aneh. “Kau gak marah padaku? Bukankah tadi kau sempat berkata kasar memakiku? Aku benar-benar minta maaf karena hampir menabrakmu, aku tahu itu hal yang sangat mengerikan.” Jelas Jae Hoon sangat menyesal. Jae Hoon menatap wajah gadis itu. ‘Eh tunggu dulu deh, kayanya aku pernah lihat gadis ini, tapi dimana ya’ pikir Jae Hoon lagi mengingat-ingat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN