Gak terasa selama 3 jam an mereka mengobrol di kamar Jae Hoon.
"Hoon, kau suka tipe cewe yang kaya gimana?" celetuk Taejun
sembari becanda.
Jae Hoon shock tiba-tiba ditanya kaya begitu ama hyungnya. "Eh, kok
tiba-tiba sih?" tanya Jae Hoon kaget. Dia keliatan panik karena waktu itu
dia pernah bawa cewe ke apartementnya, cewe itu adalah Yuna yang enggak sengaja
mereka bertemu di mini market.
Jae Hoon agak gugup buat jawabnya, ia takut ketauan hyungnya kalo dia udah
pernah bawa cewe ke apartementnya.
"Ya gapapa lah, kan kita kepo aja lagian kau kan udah gede juga Hoon,
ceritalah biar seru" bujuk Dowon si paling kepo.
"Hyung udah ah gausa bahas gituan ih, lagi ga mood buat bahasnya"
bantah Jae hoon gelagapan.
"Kok kau jawabnya begitu sih, kaya takut ketauan gitu" ledek
Taejun menatap Jae Hoon yang lagi kebingungan.
"Enggak kok, udah yaa mending hyung berdua pulang, aku mau tidur
ngantuk nih" usir Jae Hoon sembari mendorong keduanya keluar dari kamar.
Sebelum sempat keluar, mata Taejun melirik lemari kaca yang ada di sebrang
tempat tidur Jae Hoon. "Et, sebentar" ucap Taejun sembari berjalan
menghampiri lemari kaca.
Jae Hoon kaget karena Taejun berjalan mendekati lemari kacanya. Ia lupa kalau dirinya
menaruh kalung milik gadis bernama Yuna itu di lemari kacanya. 'Kalau ketauan
habis deh, bisa di cengin ama hyung-hyungnya nanti kalau ketemu' batin Jae Hoon
was-was.
Taejun menatap tajam lemari tersebut dari atas kebawah bersiap untuk buka
pintunya, Jae Hoon bergegas segera menahannya membuka pintu. "Hyung,
ngapain sih udah buruan keluar, waktu kalian udah abis saatnya pulang"
usir Jae Hoon lagi.
Taejun pun akhirnya menurut dan segera keluar di ikuti Dowon yang
sedari tadi bengong keliatan ngantuk matanya.
"Yauda hyung pulang dulu ya, makasih udah ngizinin kita maen disini,
lain kali hyung bawain makanan yang lebih banyak lagi ya" kata mereka
sembari membungkukkan badan.
"Hyung gausa sering-sering main ya, biar gantian nanti Jae Hoon yang
main ke tempat hyung" balas Jae Hoon sembari senyum maksa. Mereka pun
segera berjalan keluar pintu dan Jae Hoon segera menutup pintu dengan hati
lega. 'fiuhh..hampir saja' batinnya.
Jae Hoon merasa lega bahwa tidak ada seorang pun yang tau bahwa dirinya
pernah membawa seorang gadis ke apartementnya, karena hal ini bisa saja menjadi
skandal bagi dia yang notabennya seorang kpop idol. ‘Aku harus terus
merahasiakannya’ pikir Jae Hoon.
Pokoknya ia harus segera memberikan kalung itu pada gadis bernama Yuna yang
ia temui malam itu. Ia tidak mau kalung itu menjadi sebuah tameng untuk dirinya
sendiri. Walau ia sendiri tidak tahu keberadaan gadis itu, tapi ia bertekad
akan mencarinya. Ia tidak ingin berurusan lagi dengan gadis itu, yang
terpenting baginya adalah ia bisa hidup tenang tanpa ada yang mencurigainya.
Setelah pulang sekolah....
“Hey, Yuna, mau kemana hari ini?” teriak Soobin dari kejauhan. Yuna segera
menoleh asal suara yang memanggil namanya itu. “Wae Soobin-ah?” tanya
Yuna sembari menggigit satu potong roti keju.
“Mau ngajak nonton, aku ada 2 tiket nonton film nih, rencananya mau ngajak
buat nonton bareng” ajak Soobin mengangkat kedua alisnya.
Yuna menatap bingung. “Haduh gimana ya, hari ini hari pertama aku part time,
jadi gabisa nonton bareng, maaf ya soobin” ucap Yuna menolak.
Soobin menundukkan kepalanya dengan kecewa.
“Gimana kalau kau ajak Mijoo saja, dia kan suka nonton film pasti dia
seneng” usul Yuna. “Eh tuh Mijoo pas banget” Yuna menunjuk Mijoo yang hendak
berlari menghampiri mereka.
Soobin langsung segera menyilangkan kedua tangannya membentuk huruf X dan
melambai kearah Yuna seolah jangan mengatakan apapun. Yuna melongo tidak paham
apa maksud dari sinyal yang Soobin tunjukkan itu. Yuna tampak tidak peduli dan
segera berteriak kearah Mijoo. “Hey Mijoo, kau mau nonton ga?” tawar Yuna
kepada Mijoo spontan.
Soobin bingung Yuna langsung nyeletuk gitu aja. “Nonton?” tanya Mijoo
memastikan perkataan Yuna. Yuna mengangguk. “Iyaa, Soobin udah beli tiketnya
tapi aku gabisa nemenin, jadi kau aja yang gantiin ya.” kata Yuna menyenggol
bahu Mijoo sembari menggoda.
“Eh serius? Mau banget, udah lama engga nonton bioskop lagi” tutur Mijoo
tersenyum cerah. Ia menatap Soobin dengan hangat. Soobin tersenyum kecut.
Dirinya tidak menyangka bakal begini keadaannya.
“Bagus lah kalo gitu, aku pergi duluan ya. Mau kerja nih hari pertama” ucap
Yuna sambil jalan duluan melewati mereka berdua.
Yuna pun tiba di tempat kerja yang direkomendasikan oleh oppanya. ‘Wah bagus
juga tempatnya’ batin Yuna menatap bangunan cafe itu.
Yuna pun segera melangkah masuk dengan perasaan gugup.
“Osowaseyo” teriak salah satu pelayan.
“Ada yang bisa saya bantu?” tanyanya menatap Yuna yang masuk sendirian. Yuna
tampak linglung tapi ia memberanikan diri bertanya pada pelayan itu. “Permisi
mau tanya, aku dapet rekomendasi part time disini, apa benar disini lagi buka
lowongan part time?” tanya Yuna memastikan.
“Oh benar, memang café kami sedang membuka lowongan part time untuk kasir”
kata pelayan tersebut mengiyakan.
Yuna bernafas lega. “Apa kau sudah mempersiapkan berkas-berkas yang
diperlukan?” tanya pelayan itu.
Yuna panik, karena ia tidak diberitahu oppanya kalo disuruh bawa
berkas-berkas. Yuna pun memberanikan diri untuk mengatakan kalau Yohan yang
merekomendasikannya.
“Maaf sebelumnya, tapi aku tidak membawa berkas yang eonni ucapkan tadi,
tapi aku dapat rekomendasi part time disini dari oppa ku Kim Yohan” ucap Yuna
mencoba tenang.
Pelayan tersebut mengernyitkan dahi. “Tunggu sebentar ya, saya tanya manajer
saya dulu” ucapnya lalu segera berjalan menuju ruang staff meninggalkan Yuna
sendirian.
Yuna pun segera duduk untuk menenangkan dirinya. Karena ini pertama kalinya
dia bekerja di suatu tempat asing, ia sendiri tidak punya pengalaman apapun
selain mengikuti organisasi. Makanya ia sempat gugup dan nervous dalam
menghadapi lingkungan yang baru.
Beberapa menit kemudian pelayan itu datang lagi bersama seorang pria
berbadan six pack memakai jas warna hitam dan celana bahan hitam dengan sepatu
kets yang tengah berjalan menghampiri Yuna.
Yuna segera berdiri dan membungkukkan badannya. Lalu menyapa pria itu. “Annyeong
haseyo” ucap Yuna tersenyum hangat.
Pria itu pun balik menundukkan kepala dan menyapa Yuna. “Annyeong haseyo, kamu Yuna ya?” tanya pria itu yang tiba-tiba memanggil namanya. Yuna heran
‘kenapa pria itu bisa tau namanya padahal ini kali pertamanya bertemu pria itu’
batinnya kebingungan.
Yuna langsung membalas “Oh iya benar sajangnim”
Pria itu langsung tertawa saat Yuna mengatakan sajangnim. Yuna heran kenapa
ia tertawa. Yuna pun langsung berkata “Apa ada yang salah dari ucapan saya?”
tanya Yuna.
“Oh…enggak kamu gasalah, kalo mau panggil saya, panggil nama saja, nama saya
Lee Jun. panggil Jun-ssi aja, biar akrab. Saya manajer di café ini” ucapanya.
Yuna tertawa kecil. “Oh begitu ya, apa boleh? Kalo begitu aku panggil
Jun-ssi ya” jelas Yuna lagi.
Pria bernama Jun itu mengangguk. “Silahkan” katanya.
“Kau adiknya Yohan ya?” tanya Jun-ssi.
“Oh, iya betul” balas Yuna sembari menganggukkan kepalanya.
“Kalau gitu, langsung aja kerja ya, seragammu ada di loker di dalam ruang
staff, kamu saya tempatin dibagian kasir nanti ada pegawai yang bantuin kamu
dan membimbing kamu bekerja di hari pertama, kalo ada yang mau ditanyakan lagi
bisa keruangan saya ya.” ucap Jun-ssi.
Yuna menangguk dan tersenyum mengerti. “Gamsahamnida.” Yuna
membungkukkan badannya.
‘Mungkinkah ini kekuatan orang dalam? Chanel Yohan kece juga’ batinnya
tertawa girang. ‘Kayanya aku harus berterimakasih sama Yohan oppa nih udah
ngasih kesempatan buat part time disini, btw dia kenal Jun-ssi dari mana ya,
hmmm mencurigakan’ batin Yuna lagi penasaran banget. Ia udah bertekad saat
pulang nanti mau langsung ditanyakan ke oppanya.