Yuna membuka pintu kamar oppanya. Namun ia tidak menemukan dimana oppanya
berada. 'Dimana sih dia berada, padahal lagi dibutuhkan bukannya muncul'
Seketika eomma mengagetkan Yuna yang tengah berada dikamar Yohan.
"Apa yang kau lakukan disini?" Tanya eomma heran. "Bukannya
kau habis keluar rumah?" Tanya eomma lagi pada Yuna yang terkejut.
"Ah...tadi aku habis bertemu teman di café lalu aku langsung pulang
lagi" jelas Yuna pada eomma yang tampak tidak percaya. Eomma tampak
menatap tajam Yuna. Lalu membisikkan sesuatu ke telinga Yuna.
"Kau menghabiskan uang berapa bersama temanmu itu?" Tanya eomma
mengecilkan suaranya.
Yuna tampak ngeri mendengar ucapan eommanya. Sepertinya dikit lagi eomma
akan mengamuk. Huaaaa membayangkannya saja sudah mengerikan.
Yuna nyengir sembari menelan ludahnya. "Aku hanya...membeli
minuman" balas Yuna berbohong. Ia tau banget kalau eomma engga suka kalau
Yuna menghabiskan uang hanya untuk hal yang tidak berguna, karena kehidupan
mereka sudah tidak seperti dulu lagi, sehingga eomma selalu mengatakan
'berhematlah' tapi tetap saja kami tidak mendengarkan, sehingga selalu kena
omelan.
"Jangan berbohong kau ya, eomma sudah tau apa yang ada dipikiranmu.
Dasar anak nakal" eomma memukul pundak Yuna menggunakan bantal saking
kesalnya.
"Aaaa...eomma sakit, tolong hentikan" teriak Yuna berusaha
membujuk eomma untuk berhenti memukulnya.
"Hey, ada apa ini ribut-ribut?" Tanya appa yang baru saja sampai
dirumah. Ia segera menghentikan pukulan eomma dan memeluk Yuna erat.
"Ada apa ini?" Tanya appa kebingungan.
"Tanyakan saja sana sama anakmu itu" jelas eomma sebal lalu segera
keluar dari kamar oppa.
Appa heran melihat situasi yang tidak ia ketahui.
"Yuna ada apa ini sebenarnya? Kenapa eomma memukulmu?" Tanya appa
butuh penjelasan.
Yuna menarik nafasnya pelan. "Appa, aku takut" Yuna kembali
memeluk erat appa.
Bagi Yuna appanya lah yang terbaik ketika eomma terus memarahinya, tapi appa
selalu melindungi Yuna. Bahkan Yuna lebih merasa dekat dengan appa dibanding
eomma. Karena appa selalu tau apa yang Yuna suka dan tidak suka. Appa juga
selalu mendukung keputusan Yuna. Makanya Yuna selalu nyaman berada di samping
appanya.
Tidak beberapa lama kemudian Yohan telah pulang dan sampai di kamarnya. Ia
memiringkan kepalanya heran dengan situasi tegang yang terjadi di kamarnya.
"Apa yang terjadi?" Tanya Yohan bingung melihat kamarnya
berantakan. Lalu Yohan menatap Appa yang masih memegang erat Yuna.
Yohan kemudian membuka mulutnya sembari mengomel.
"Yunaaaa...rapikan kembali bantal dan gulingku, cepat" perintah
Yohan menatap tajam Yuna yang masih berada dalam pelukan appa.
Appa kemudian berdiri menatap Yohan kesal. "Kau baru saja melihat Yuna
dimarahi eomma dan ketakutan, sementara kau menyuruhnya dan mengomelinya
seperti itu, berhentilah melakukan hal itu, Yuna adalah adikmu, cobalah untuk
menjadi kakak yang baik baginya" jelas Appa. Kemudian meninggalkan Yohan
yang tampak bengong diam seperti patung.
Yuna kemudian berdiri dan melihat Yohan yang masih terdiam.
"Sekali-kali kau harus mendengarkan perkataan appa juga, jadilah oppa yang
baik untukku dan juga keluarga" ucap Yuna menasihati Yohan lalu ia segera
keluar dari kamar Yohan.
Yohan sungguh heran dengan keluarganya yang bertindak aneh. Padahal ini
bukan salahnya, tapi kenapa malah ia yang jadi sasarannya.
"Hadeuuhhh" desisnya bingung.
Besok paginya, Yuna bersiap untuk berangkat ke Sekolah. Ia tengah memakai seragam
sekolahnya, lalu ia menguncir rambutnya menggunakan kunciran dan menghias
rambut depannya menggunakan jepitan bunga yang lucu. Kini Yuna telah siap untuk
berangkat sekolah.
Yuna menuruni anak tangga menuju dapur untuk melihat menu apa yang sudah
disiapkan oleh eomma.
"O...Yuna, kau sudah rapi," ucap appa tersenyum. Melihat
penampilan Yuna yang tampak berbeda membuat appa membelalakan matanya.
"Ini sungguh kau? Kau tampak berbeda. Sungguh cantik" puji appa
kagum. Membuat pipi Yuna memerah.
"Ah appa bisa aja deh" balas Yuna masih tersipu.
Yohan menatap heran Yuna sembari nyeletuk. "Cantik apanya, make up nya
ketebelan tuh, mana boleh ke sekolah dandan begitu, kalau kau ketahuan
bagaimana hah?"
Yuna mengernyitkan dahinya. "Hey, suka-sukaku dong, memangnya siapa kau
melarangku melakukan apa yang ku suka? Dasar bisanya cuma komen aja" Yuna
emosi.
"Memang benar kok, Tanya saja pada teman mu nanti" balas Yohan
sembari meledek.
"Hey...sudah-sudah" Teriak eomma sembari membawa sarapan pagi.
"Tiap pagi pada berantem aja kerjaannya. Eomma pusing denger kalian
mengoceh tiada henti" jelas eomma.
Yuna yang memang cukup takut dengan eomma menundukkan kepalanya. Sementara
Yohan yang tampak santai malah membalas ucapan eomma dengan berani.
"Eomma harus lihat Yuna baru saja mendandani dirinya dengan make up
yang cukup tebal" tunjuk Yohan kearah wajah Yuna.
"Heyyy" teriak Yuna kesal. "Yunaaa...kenapa kau menggunakan
make up ke sekolah, cepat hapus sekarang juga" teriak eomma marah dengan
wajah yang mengerikan.
Yuna yang tampak terkejut segera berlari menuju kamar untuk menghapus make
up yang baru saja dia poles.
Yohan tampaknya cukup puas dengan menggoda adiknya itu.
"Sayang, kenapa kau menyuruh Yuna menghapusnya? Yuna tampak cantik
dengan make up itu" jelas appa menjelaskan.
Eomma hanya diam tidak membalas ucapan appa. "Sayang" jelas appa
memanggil eomma.
"Apaa? Apa kau mau mati?" jelas eomma emosi.
Appa langsung terdiam seperti patung lalu segera menyelesaikan makanannya.
Yuna pun segera berangkat sekolah dengan menaiki bus. Yuna berangkat dengan
mood yang buruk. Ini semua adalah kesalahan Yohan. "Dasar oppa gila"
teriak Yuna dari dalam bus.
Semua orang kemudian menengok kearah Yuna yang tampak tidak sadar bahwa ia
telah berteriak di dalam bus yang membuat orang-orang cukup terganggu.
Yuna kemudian menyadari bahwa banyak orang mentapnya dengan heran seperti
mengatakan bahwa gadis itu gila.
Yuna tersenyum kaku. Kemudian menundukkan kepala sembari mengatakan
"Maaf semuanya, menganggu perjalanan kalian" Yuna sungguh malu dan
ingin segera cepat-cepat turun dari bus.
Jae Hoon sedang asik menonton tv sembari menikmati cemilan di ruang tamu
apartementnya. Dirinya senang akhirnya bisa meluangkan waktunya istirahat
sejenak. 'Beginilah menikmati hidup sesungguhnya' batinnya mengangkat kepalanya
menyender ke sofa.
Ting tong...ting tong. Suara bel pintunya berdering.
Jae Hoon heran siapa yang jam segini mengunjungi apartementnya, padahal ini
jadwal liburnya. Ia agak segan membukakan pintu karena ia malas kalau ada yang
menganggu waktu liburnya. Namun bel pintu terus berbunyi dan tidak lama suara
dering ponsel Jae Hoon berbunyi.
Jae Hoon segera mengambil ponselnya dan mengangkat telepon yang tidak lain
dan tidak bukan adalah dari membernya sendiri. 'hadeuh' hela Jae Hoon sedikit
kesal. Jae Hoon berfikir ngapain membernya datang ke apartementnya padahal lagi
gaada schedule.
"Yeoboseyo?" ucap Jae Hoon.
"Heyy...Kang Jae Hoon cepetan bukain pintunyaa, kita udah nunggu di
depan" teriak Dowon salah satu member G-Force.
Jae Hoon terkejut dengan suara teriakan Dowon yang kaya klakson mobil.
"Iya...iyaaaa, bentar otw bukain nih" Jae Hoon bergegas berlari
menuju pintu takut-takut Dowon ngamuk disana bisa repot bikin berisik penghuni
yang lain.
Jae Hoon segera membukakkan pintu dan ia melihat dua member BTS Dowon dan Taejun mengunjungi apartementnya.
"Tumben kalian kemari, ngapain? Bukannya ini hari istirahat ya? Emang
kalian ga istirahat?" tanya Jae Hoon memastikan. Ia bukannya menyapa dan
senang dengan kehadiran dua membernya tapi malah to the point langsung menembak
dengan pertanyaan seperti itu seakan ngomong kaya 'ngapain kalian disini?
mending balik aja dah soalnya ini kan hari libur kita' begitulah kira-kira yang
mau ia ucapkan.
Dowon dan Taejun langsung masuk. Mereka bawa dua tote bag dan langsung
dikeluarkan di meja dapur. "Ini apa?" tanya Jae Hoon heran.
"Emang kalian mau pada ngapain disini?" tanya Jae Hoon lagi menatap
bawaan mereka.
Taejun menatap Jae Hoon dan mengatakan "Tenang aja, kita cuma mau
makan disini doang kok" Taejun tersenyum sembari mengangkat kedua
alisnya.
"Wajah kau kenapa Hoon? Santuy ajalah, kita kan jarang ketemu kalo lagi
libur, mending nikmatin momen kebersamaan kita selagi masih ada waktu
yegak?" ucap Dowon menyenggol Taejun dengan sikunya. Taejun
mengangguk-angguk "Yap benar, masih mending nih kita bawain makanan, ayo
buruan dimakan dah laper nih." Taejun memegang perutnya yang kosong.
Jae Hoon hanya diam mematung. Dalem hatinya 'Ini apaan dah, pasti mereka
lama kalo disini, belom ngaso dulu hadeuhh waktu buat tidur cuma hayalan doang
deh'
Akhirnya Dowon, Taejun, dan Jae Hoon makan bareng di ruang tamu. Mereka
memakan makanan yang dibawa Dowon dan Taejun. Jae Hoon yang tadinya malas
makan malah dia yang paling semangat.
"Bukankah kau bilang malas makan? Ngapa jadi kau yang paling banyak
makannya?" celetuk Taejun nunjuk makanan yang Jae Hoon habisin.
Jae Hoon menatap tajam Taehyung. "Wae?" tatapannya
seakan mengintimidasi. Taejun langsung mengurungkan niatnya bertanya lagi dan
lanjut makan.
"Jae Hoon-ah, liat deh foto kita waktu masih pre debut" tunjuk
Dowon melihat foto member G-Force pre debut dipajang samping tv.
"Masih unyu-unyu banget dulu, apalagi si Dowon make up nya tebel
banget" celetuk Taejun menatap Dowon ngakak.
Jae Hoon ikut tertawa. "Dulu Dowon hyung eyelinernya tebel banget udah
kek penyanyi rocker ckckck...." Jae Hoon menambahkan. "Eyelinernya
setebel beban hidupnya hahahaha" tambah Taejun ketawa terbahak-bahak. Ia
seneng banget jailin Dowon.
Dowon menatap tajam mereka berdua. "Hey, walau begini aku lebih tua
dari kalian berdua jadi jangan kurang ajar ya" Dowon mengangkat tangannya
menunjukkan tinjuannya.
Taejun dan Jae Hoon bukannya takut malah jadi ketawa karena cara ngomong
Dowon yang super gemas kaya pengen dicubit kalo perlu bawa pulang dibungkus
HAHAHAHA.