Kalung

1384 Kata
Besoknya.... "Hey banguun" Teriak seseorang meneriaki telinga Yuna. "Aduh apasih" Yuna memukul wajah orang itu menggunakan bantal. "Songong banget kau ya" ucap Yohan. Yuna terkekeh kekeh melihat oppanya. "Apa kau sibuk hari ini?" Tanya Yohan pada Yuna yang masih setengah sadar. "Hey, kau dengar aku tidak?" tanyanya jengkel. Yohan kembali memukul wajah Yuna dengan bantal. "Ihhh...apaan sih, apa maumu?" Tanya Yuna mendengus kesal. Selalu saja oppa mengganggunya disaat hari libur. "Kau butuh uang kan?" "Eh, bagaimana kau tahu?" Tanya Yuna sedikit penasaran. "Kau mau membeli album idol mu itu kan? Aku menemukan part time untukmu nanti kau tinggal datang saja ketempatnya" Yohan segera memberikan sebuah kertas bertuliskan alamat sebuah café. Yuna tampak masih bingung. Tumben-tumbenan Yohan baik padanya, Yuna tampak curiga namun ia urungkan niatnya karena ia juga butuh uang. "Jadi, aku nanti kerja disini?" Tanya Yuna lagi. Yohan mengangguk. "Kau hanya tinggal masuk saja, bilang saja adiknya Yohan, mulai besok kau sudah boleh kerja" jelas Yohan meyakinkan Yuna. "Tapi kau harus menjaga rahasiaku daari eomma oke?" Yohan mengangkat jari kelingkingnya, melakukan perjanjian dengan Yuna. Tuh kan benar yang Yuna pikirkan, pasti ada maunya. ‘Ckckck....Emang ga pernah ikhlas memberikan bantuan tanpa embel-embel sesuatu' batin Yuna menaikkan satu alisnya. Yuna sedikit bingung. "Merahasiakan apa?" tanyanya pura-pura. "Aku akan ke club malam ini dan minum bersama teman, awas kau membeberkannya" ancam Yohan menatap tajam Yuna. "Bwahahahaha" Yuna tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Yohan. "Memangnya oppa sudah berani minum? Lagi pula oppa masih dibawah umur, lebih baik gausah. Kalau mabuk bagaimana siapa yang mau menggotongmu" larang Yuna menegaskan. "Gausah segala nasihatin, kalau kau melarangku, sini kembalikan kertasnya" ancam Yohan. “Ett...jangan gitu dong.” Ujar Yuna memelas. Yohan kemudian segera berjalan keluar menuju pintu kamar Yuna. "Hey, oppa" teriak Yuna. "Tentu saja aku tidak akan melakukannya, janji" Yuna mengacungkan jari kelingkingnya. 'Huh menyebalkan banget deh, selalu aja pake acara mengancam segala bikin repot' desah Yuna. Tapi untungnya ia tidak perlu repot-repot mencari lagi. "Eh tapi kau mengajak pacar barumu itu ya?" goda Yuna tersenyum misterius. Yohan menjadi salah tingkah karena godaan adiknya itu. "Hey hey...tentu saja tidak, hanya bersama teman" balasnya sedikit emosi. Yuna tertawa nakal. "Lakukan semaumu aku tidak peduli dengan apa yang akan kau lakukan, aku hanya ingin kerja dan membeli apa yang kubutuhkan." Ucap Yuna tampak acuh tak acuh. Yohan menatap sinis Yuna dan segera pergi dari kamar Yuna. Yuna tidak peduli dengan tingkah oppanya karena dirinya masih cukup mengantuk. Tapi sepertinya ia ingin keluar mencari udara segar. 'Hari ini enaknya kemana ya' Yuna segera memeriksa ponselnya dan mencari cafe yang sedang popular untuk dikunjungi. 'Nah ini dia' Yuna menunjuk cafe Deondaemun yang berlokasi di Gangnam. "Sebaiknya aku kesana bersama teman" Yuna segera menelpon Soobin dan Gerry. Karena hari ini Seung Ji tidak bisa datang karena ada urusan lain. "Hey, kita ke cafe yuk" ajak Yuna pada Gerry dan Soobin di telpon. Mereka seegra mengiyakan dan bersiap menuju cafe. 'Pakai baju apa Ya' pikir Yuna bingung. "Ah...aku punya baju dari appa hadiah ulang tahun tahun lalu, pakai itu saja deh, udah lama ga pakai" Yuna segera memakai sepatu dan berjalan keluar rumah menuju cafe. "Hai, maaf aku terlambat" jelas Yuna. Ia memakai short dress ungu dengan sepatu kets putih. Tampak sangat anggun. "Woww...tampilanmu boleh juga" celetuk Gerry menatap Yuna. "Apa-apaan kau" bentak Soobin. "Yuna memang sudah cantik sejak dulu, kenapa kau baru sadar hah?" omel Soobin sambil menatap tajam Gerry yang sedari tadi senyum menggoda. "Hey hey apasih kalian, ayo kita pesan makanan. Kalian mau apa?" Tanya Yuna menatap menu yang ada di meja. "Aku mau ini saja deh" ucap Gerry menunjuk tteokpokki. "Jauh jauh kesini malah pesan tteokpokki, memangnya kau tidak mau pesan menu lain?" omel Yuna pada Gerry yang terlihat tidak punya pilihan lain. "Terserah padaku dong" Gerry menatap Yuna sebal sembari melipat tangannya di d**a. Soobin menggelengkan kepalanya melihat dua temannya yang ribut. Beberapa menit kemudian pelayan datang membawakan pesanan mereka. Mereka pun segera melahap pesanan yang telah tersedia dimeja makan. "Kalian tau ga?" celetuk Yuna tiba-tiba sembari menyeruput minumannya. "Ng?" balas Gerry masih mengunyah tteokpokki yang ia pesan. "Kemarin aku ketemu sama Jae Hoon oppa" teriak Yuna pada dua temannya yang masih sibuk makan. "Hah? Bagaimana ceritanya?" Tanya Gerry memiringkan kepalanya heran. "Kau ga mimpi kan? Itu pasti hanya hayalanmu saja" ucap Soobin menyangkal pembicaraan Yuna. Yuna memanyunkan bibirnya. "Kenapa sih kalian ga percaya, huh sebal. Padahal aku beneran ketemu tau, Jae Hoon oppa benar-benar tampan" Yuna menopang dagunya tersenyum memikirkan kejadian waktu itu. Ia sudah tau temannya pasti gaakan percaya, tapi mulutnya gatal ingin membeberkan kejadian malam itu yang benar-benar nyata bagi Yuna. Gerry melambaikan tangannya di depan wajah Yuna. "Jangan ngayal mulu oi, habiskan aja dulu makananmu" Yuna mengerutkan keningnya dan melanjutkan kembali makan. 30 menit kemudian mereka telah selesai menghabiskan makanan. "Setelah ini mau kemana?" Tanya Soobin sembari menyeruput es Americano. "Sebenarnya aku ditawari part time oleh oppa. Bagaimana menurut kalian?" Tanya Yuna memastikan. Gerry terlihat berpikir. "Sebaiknya terima saja tawaran itu, lumayan dapat uang buat jajan" Gerry mengacungkan jempolnya. "Memangnya kau butuh uang untuk apa?" Tanya Soobin. "Kalian kan tahu aku suka sekali G-Force seperti yang aku ceritakan tadi, aku harus membeli album G-Force yang baru supaya bisa ikut fansign. Kalau minta sama Eomma beuhhh...bisa diomelin habis-habisan" cerita Yuna menggidik membayangkan Eommanya yang mengomelinya. "Ikut fansign itu untung-untungan, tidak semudah itu. Kau juga harus rela menghabiskan banyak uang untuk membeli album mereka" jelas soobin. "Huh, memang benar sih" Yuna mendesah sedih. "Iya juga sih, tapi kau harus mencobanya siapa tau keberuntungan ada padamu" ucap Gerry menyemangati Yuna. "Aaaaa...kau memang yang terbaik, aku akan berusaha" Yuna mengedikan mata kanannya pada Gerry. "Fighting" tekad Yuna mengangkat kedua tangannya keatas. Soobin hanya diam melihat Yuna dan Gerry. 'Sebaiknya aku tanya oppa lagi deh buat mastiin' batinnya. Siang itu anggota G-Force tengah berada di acara S-net Ncountdown untuk comeback sekalian promosi album baru mereka The Future Life. Jae Hoon tengah bersiap comeback dengan lagu baru dipanggung Ncountdown bersama anggota G-Force lainnya. Ia menggerak gerakkan tangan dan kakinya untuk latihan pemanasan. Ia sungguh tidak sabar untuk memberikan perform terbaiknya untuk fansnya Freely. "Lihat-lihat Jae Hoon bersemangat sekali" Dowon menunjuk Jae Hoon. pada member lain. "Ia memang maknae aktif kan" balas Taejun. Tinggal beberapa menit lagi mereka akan tampil membawakan lagu Step by Step yang baru saja dirilis. "Semuanya, ayo bersiap-siap" perintah Minki sang leader. Semua anggota G-Force bersiap menaiki panggung. Saat itu juga terdengar teriakan Freely yang menyemangati mereka. "Kim Minki, Song Junmin, Park Dowon, Seo Taejun Kang Jae Hoon G-Force" suara fanchart nya. G-Force memposisikan bagian masing-masing, lalu musik segera di nyalakan. Perform pun dimulai. Mereka pun selesai membawakan lagu baru mereka dan kembali turun dari panggung. "Huuaaaa, aku lelah" ujar Taejun mengulet. "Hey lihat itu kita" tunjuk Dowon ke layar televisi. "Jae Hoon-ah, high note mu kerenn" puji Junmin memegang pundak Jae Hoon. Jae Hoon hanya tersenyum. Setelah aktvitas mereka selesai. Semua member bersiap untuk pulang karena tidak ada lagi yang harus dikerjakan. "Aku pulang duluan ya" Jae Hoon melambaikan tangan pada semua member. Sesampainya di apartement. "Huaaaa...." Jae Hoon membaringkan badannya di ranjang. "Ngantuk banget hari ini" ucapnya. Tenggorokannya tiba-tiba kering. Ia lalu berjalan menuju dapur untuk meminum segelas air putih. Tak sengaja ia menengok ke bawah dan mendapati sebuah kalung emas berwarna putih terjatuh di dekat kulkas. 'Kalung siapa ini ya' pikir Jae Hoon bingung. Jae Hoon memutar-mutar kalung tersebut dan menemukan tulisan seperti sebuah nama. 'Y U N A' "YUNA?" Tanya Jae Hoon pada dirinya. 'Siapa gadis itu? Memangnya aku pernah membawa seorang gadis ke apartementku?" Tanya Jae Hoon lagi. Jae Hoon mencoba mengingat kejadian yang telah lalu, agar bisa menemukan jawabannya. Namun ia masih belum menemukan apapun. 'Ah gatau ah' Jae Hoon segera berjalan menuju ruang tengah dan melempar kalung itu ke sofa tanpa berfikir panjang. Lalu ia berbalik lagi dan kembali berjalan kearah sofa dan mengambil kalung itu kembali. Jae Hoon masih sangat penasaran. Ia menatap lekat kalung itu dan terus membaca nama yang ada di kalung itu. 'Oh' tiba-tiba Jae Hoon teringat sesuatu. Gadis yang waktu itu mengejarnya saat ia ke mini market. Jae Hoon sedikit terkejut. 'Jangan-jangan kalung ini punya gadis itu' terkanya masih menatap kalung bertuliskan 'YUNA'. Jae Hoon berniat untuk menyimpan kalung itu di sebuah kotak berbentuk hati dan menaruhnya di lemari kaca dekat kamarnya. Jae Hoon berniat ingin memberikan kalung itu ketika ia bertemu dengan gadis bernama Yuna itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN