Mimpi atau Kenyataan?

1188 Kata
Akhirnya ia telah sampai di minimarket dan segera mencari pesanan oppanya. 'Haruskah aku habiskan uangnya?' pikirnya nakal. Yuna yang cukup nakal mencoba mengambil beberapa snack, minuman, dan juga mie instant. 'Kapan lagi coba bisa jajan banyak, kalau bukan uang sendiri rasanya sangat puas' batinnya tertawa jahat. "Selamat sore, silahkan taruh disini belanjaannya" ucap penjaga kasir. Yuna segera mengeluarkan belanjaan yang dia taruh di keranjang. 'Ternyata banyak juga ya, waduh kalau uangnya kurang gimana nih' pikirnya khawatir. Eonni penjaga kasirnya mulai menghitung belanjaan Yuna. "Eh eonni stop stop" Yuna memperlihatkan gigi kelincinya. "Ini gausah deh" ucap Yuna menyingkirkan minuman kalengan yang dia sempat taruh di keranjang. "Yang ini juga gausah deh" ucapnya lagi. Eonni penjaga kasir sepertinya sedikit bingung dan kesal dengan tingkah Yuna yang banyak mengurungkan beberapa barang yang mau di bayar. "Totalnya jadi 20.000 won" jelas eonni penjaga kasir. Yuna mengambil dompetnya dan menghitung uang yang diberikan oppanya. 'Hah, uangnya kurang?' batin Yuna panik. "Permisi, Eonni boleh aku balikin beberapa barang?" Tanya Yuna sangat malu sembari membuang wajahnya. Bahkan ia enggak mau menatap wajah eonni itu. "Ye? Maksudnya mau dibalikin? Tapi sudah dibayar kan, tidak bisa dikembalikan" ujar eonni itu sedikit menaikkan nada suaranya. 'Harus bagaimana ini? Aku tidak membawa uang cadangan lagi' batinnya panik. Yuna masih senyum senyum malu dan panik setengah mati. Keringetnya mengucur deras di wajahnya. "Eonni, uangku kurang jadi bagaimana ya?" Tanya Yuna bingung. Eonni itu memasang wajah yang memerah dan cukup emosi menanggapi Yuna. "Jangan Tanya aku, tanyakan pada dirimu sendiri kenapa belanja banyak kalau uangnya enggak ada, hadeuh anak zaman sekarang banyak gaya emang" Eonni itu tampak kesal dan berkacak pinggang. Yuna jadi ngeri melihatnya. Antrian di belakang cukup banyak lagi. Waduh gawat banget deh. "Kau kalau gapunya uang jangan main ambil aja, kami jadi harus menunggu lama tahu" jelas salah satu pembeli dengan ketus. “Kalau tahu diri enggak bakalan ambil banyak barang sih” desis pembeli yang berada di belakang Yuna. Yuna memegangi kepalanya dengan panik. 'Ia ingin menelpon oppanya tapi ternyata ia lupa membawa ponselnya' Kesialan yang terus menghampiri. Ditengah kebingungannya, tiba-tiba seorang laki-laki tinggi berambut hitam menghampiri kasir dan menanyakan soal total belanjaan yang Yuna beli. Yuna melongo kebingungan melihat laki-laki itu membayarkan kekurangan belanjanya. "Oh....Terima...kasih" ucap Yuna sedikit heran sekaligus terpesona. Laki-laki itu segera keluar dari minimarket disusul Yuna yang ingin mengucapkan terimakasih yang lebih dalam kepada laki-laki baik hati itu. "Permisi, hey" teriak Yuna. Laki-laki itu menengok lalu berpaling lagi. "Hey, iya kamu" Yuna tergopoh-gopoh mengejarnya sambil membawa belanjaannya yang cukup banyak itu. "Heyy" Yuna kembali berteriak karena lelaki itu tidak kunjung menengok. Lalu tiba-tiba ia berhenti di depan sebuah taman. Menengok ke belakang memandang wajah Yuna yang hampir membeku kedinginan karena mengejarnya. Laki-laki itu menghampiri Yuna yang tengah kewalahan membawa belanjaan sambil berlari ditengah salju yang cukup lebat itu. Akhirnya Yuna bisa berhenti mengejar laki-laki itu. Ia kembali berkata. "Permisi, a...aku ing...in ber...ter...ima..ka..si....h" ucap Yuna terbata-bata. Tepat saat itu badan Yuna mengingil kedinginan, bola matanya berputar seperti orang bingung lalu kepalanya pusing. Ia memegangi kepalanya dengan erat, lalu tiba-tiba pandangan matanya buram. Gelap. Brukk….Yuna pingsan. Di sebuah ruangan yang cukup luas. Yuna tengah tertidur di sofa dengan selimut yang tebal. Perlahan Yuna membuka matanya. Beberapa detail ruangan yang terlihat di depan matanya. Ruangan yang asing bahkan Yuna tidak pernah melihat ruangan itu. Ruangan yang penuh dengan lukisan dan beberapa pajangan yang tertata rapih di sebuah lemari kaca. 'Dimana aku? Apa aku dibawa oleh orang jahat? Apa aku diculik? Apa aku akan dibunuh? Oh tidak.... Eomma aku bahkan belum membahagiakanmu, aku minta maaf' batin Yuna memikirkan hal-hal buruk yang akan terjadi. Perasaannya kini campur aduk. Cemas, takut, gelisah, panik, ingin segera pulang dari sana. Yuna kemudian mencoba bangun dari sofa yang ia tiduri. Yuna masih melihat sekeliling ruangan itu. 'Apa yang telah terjadi? Aku sungguh tidak mengingat kejadian yang telah terjadi padaku, bagaimana ini? Apa aku bisa pulang kerumah? Oh iya, belanjaan oppa. Aduh aku lupa taruh dimana' Yuna berkomat kamit sendirian di ruangan yang cukup luas itu. "Oh, kau sudah bangun?" tiba-tiba sebuah suara terdengar dari ruangan depan yang gelap, sepertinya ia tidak menyalakan lampunya. Sesosok bayangan hitam yang berbicara pada Yuna mulai mendekat. Yuna terkejut melihat bayangan gelap seorang laki-laki di ruangan depan sambil membawa sesuatu ditangannya. 'OMG, somebody help me" Yuna takut laki-laki itu akan berbuat macam-macam dan melakukan hal yang buruk padanya. Yuna kemudian bersiap mencari sebuah alat yang bisa membantunya jikalau laki-laki itu akan berbuat hal yang mengerikan. Yuna buru-buru mencari dan menemukan sebuah benda seperti pemukul tongkat baseball di dekat meja televisi. Yuna mengambilnya dan bersiap mengayunkan tongkatnya pada laki-laki itu. Yuna sudah memasang gaya ala pemain baseball yang sedang bersiap memukul bola baseball. Laki-laki itu perlahan mulai terlihat dari tempat Yuna berdiri. Tanpa basa basi Yuna langsung mengeluarkan jurus andalannya dan memukul laki-laki itu menggunakan tongkat baseball, dengan cukup kencang. Yuna sungguh tidak memperhatikan wajah laki-laki itu. Pikirannya hanyalah ia sangat takut berada di tempat asing. "Aw....hey hey, tolong hentikan" ucap laki-laki itu. Suranya sedikit serak. Barang yang tengah dipegang oleh laki-laki itu adalah sebuah gelas yang berisi cokelat panas, yang tiba-tiba tumpah dan pecah menimbulkan suara bising yang cukup keras. Yuna segera menghentikan perbuatannya. "Oh, maafkan aku" ucap Yuna menundukkan kepalanya. Gelas yang dipegang laki-laki itu sekarang hanya tinggal retakan yang berserakan di lantai. "A...aku akan bersihkan lantainya" Yuna kemudian bergegas ingin mencari lap dan juga pel untuk membersihkan lantai. Laki-laki itu menahan lengan Yuna dan menariknya mendekati wajah laki-laki itu. Saat itu juga Yuna sungguh terkejut melihat wajah laki-laki itu. "Astaga" Yuna membelalakan matanya begitu lebar. Mulutnya mangap dan kedua tangannya menyentuh bibir. "Ka-ng Ja-e Hoon?" ucap Yuna tidak percaya. Laki-laki yang ada dihadapannya itu adalah Kang Jae Hoon member G-Force. Walau itu bukan biasnya, tapi Yuna tetap menyukainya karena ia menyukai kelima member G-Force walau baginya Seo Taejun yang pertama. "Kenapa kau memukulku?" Tanya laki-laki itu sembari mengernyitkan dahinya sedikit kesal pada Yuna. Yuna masih terdiam seribu bahasa. Melamun memandang wajah laki-laki itu yang ada dihadapannya. Laki-laki yang bernama Jae Hoon itu segera menjentikkan jarinya dihadapan Yuna untuk membuyarkan lamunannya. "Apa kau baik-baik saja?" tanyanya dingin. Yuna menggelengkan kepalanya. "Ten..tu saja tidak" balas Yuna. Bagaimana dia bisa baik-baik saja. Ini adalah sebuah kehaluan sekaligus hal yang tidak mungkin pernah terjadi di kehidupan nyata. Tapi bagaimana bisa seorang Kang Jae Hoon muncul dihadapannya seperti ini. Bagaikan mimpi yang menjadi kenyataan. 'Yuna tolong sadarlah' pikirnya. Ia segera menepuk kedua pipinya untuk menyadarkannya dari dunia khayalnya. "Sepertinya kau sudah tak waras ya" celetuk Jae Hoon memandang Yuna yang masih kaku berdiri. "Lebih baik cepat bersihkan lantainnya, lengket tahu" perintah Jae Hoon lagi. "Dan setelah ini sebaiknya kau cepat pulang, aku harus tidur besok ada jadwal yang cukup padat" ucapnya. Jae Hoon segera berjalan menuju kamarnya dan menutup pintu segera setelah berbicara pada Yuna. Yuna masih keheranan melihat idolanya yang jelas terlihat langsung di depan mata kepalanya sendiri. 'Apakah ini takdir dari Tuhan? Tolong berikan aku kesempatan untuk bisa bertemu terus dengannya' Yuna kemudian berjalan menuju dapur dan mencari lap serta pel untuk membersihkan gelas yang dia tumpahkan. Yuna kemudian menepuk dahinya. "Bodoh sekali aku, kenapa harus memukulnya. Aku harus minta maaf dengan benar padanya" gumam Yuna sendirian.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN