Apartement

1288 Kata
Setelah ia membersihkan lantainya hingga menjadi seperti sedia kala. Yuna kemudian memberanikan diri mengetuk pintu kamar Jae Hoon. "Permisi" ucap Yuna sedikit takut. Ia takut akan membuat biasnya kesal karena menganggunya. Masih tidak ada jawaban. Akhirnya Yuna kembali bersuara cukup keras. "Permisiii" sembari mengetuk pintu kamar. "Heyy, apalagi?" omelnya sembari membuka pintu. "Kau ganggu waktu tidur ku tahu" Jae Hoon menatap sebal Yuna. Yuna menundukkan kepalanya cemas. "A-aku sudah membersihkan lantainya, apa sekarang aku boleh pulang?" Tanya Yuna mencoba tersenyum. "Pulang saja, lagipula kau sudah sehat sepertinya" "Ah begitu ya, tapi aku punya sedikit masalah" balas Yuna lagi. Jae Hoon terihat mulai hilang kesabaran. "Apalagi?" tanyanya sedikit ketus. Yuna menatap ngeri. Namun ia masih berusaha agar Jae Hoon merespon pembicaraannya. "Aku tidak punya uang untuk naik taksi, apa aku boleh pinjam uangmu dulu? Nanti pasti akan aku bayar jika kita bertemu lagi" Yuna tersenyum sembari memelas padanya. Jae Hoon mendesah. "Huaah...berapa yang kau butuhkan?" tanyanya berusaha tenang. Yuna menatap Jae Hoon dengan wajah memelas, namun Jae Hoon memalingkan wajahnya seolah tidak ingin dilihat Yuna. "Terserah oppa saja, yang penting aku bisa pulang" jelas Yuna sungguh berterima kasih. "O-oppa?" kata Jae Hoon tidak percaya. "Bukankah ini kali pertama kita bertemu? Bisa-bisanya kau memanggilku oppa" Yuna tersenyum bingung. "Terus aku harus memanggilmu apa? Ahjussi?" tanyanya polos. Jae Hoon menghela nafas panjang. Ia sebal dengan jawaban sembrono Yuna, bisa-bisanya dirinya yang masih muda di panggil Ahjussi. "Hey...kau pikir aku sudah tua? Jangan memanggilku seperti itu." ucap Jae Hoon menatap tajam Yuna. Yuna menundukkan kepalanya. "Baik kalo gitu aku akan memanggilmu Jae Hoon-ssi" Jungkook menggelengkan kepalanya. "Panggil saja oppa biar cepat kelar urusannya" ucap Jae Hoon. Yuna mengangguk mengerti. "Baik oppa" Yuna kemudian berjalan menuju ruangan depan, menatap Jae Hoon yang tengah berdiri melihat Yuna pulang. "Terimakasih ya, oppa sangat baik" Yuna melambaikan tangannya pada Jae Hoon. "Hey hey, ini bawa barangmu, sepertinya kau lupa" tahan Jae Hoon menunjukkan sesuatu. Yuna sedikit terkejut. Ia hampir lupa kalau habis berbelanja di mini market. Lalu Yuna segera bergegas untuk pulang kerumahnya dengan hati riang gembira seperti habis dapat jackpot. Sebelumnya.... Hari itu sangat dingin karena turun salju. Jae Hoon baru saja pulang setelah press conference album baru. 'Huh...sungguh melelahkan' batinnya sembari melemparkan badannya ke ranjang. "Kruyuuk" bunyi suara perut Jae Hoon terdengar cukup nyaring. Jae Hoon memegangi kepalanya, ia baru sadar sedari tadi ia belum makan, perutnya terasa sangat lapar. Jae Hoon segera membuka kulkas berharap menemukan sesuatu yang bisa dimakan. Ternyata nihil. Tidak ada apapun disana. 'Apa sebaiknya ke mini market?' gumamnya. Tapi ia cukup lelah. Tapi tetap harus terlihat sehat di depan fans. 'Aku akan segera berganti baju menuju mini market' Jae Hoon mencari mantel hangat dan topi serta masker untuk berjaga-jaga jikalau ada yang mengenalinya sebagai anggota G-Force. Walau hanya sebentar, tapi anginnya sangat dingin. Jae Hoon segera mengunci pintu kamarnya dan bergegas turun menggunakan lift. Jae Hoon berlari di tengah salju yang mulai berjatuhan. 'Huaahh...dingin banget, aku harus cepat-cepat balik lagi ke apartement, ayo kita membeli ramen dan s**u pisang' pikir Jae hoon sembari masih berlari. Jae Hoon membuka pintu mini market. Lalu ia langsung buru-buru mencari ramen dan s**u pisang kesukaannya. Tapi ia bimbang ketika melihat tteokpokki dan odeng berjejer di kemasan dekat ramen. Ia juga hampir lupa membeli nasi kemasan. 'Sebaiknya beli saja semua deh' pikir Jae Hoon. Lalu ia segera berjalan menuju kasir untuk cepat-cepat membayar. "Ye? Maksudnya mau dibalikin? Tapi sudah dibayar kan, tidak bisa dikembalikan" ujar eonni itu sedikit menaikkan nada suaranya. "Eonni, uangku kurang jadi bagaimana ya?" Tanya Yuna bingung. 'Aduh, ada apa lagi ini. Kenapa gadis itu merepotkan sekali sih' Jae Hoon yang masih menunggu antrian menjadi tidak sabar karena perutnya sudah sangat lapar. 'Apa sebaiknya aku saja yang membayar kekurangannya biar masalahnya cepat selesai dan segera kembali ke apartemen' usul Jae Hoon dalam hati. "Biar saya saja yang membayar kekurangannya" tiba-tiba Jae Hoon berjalan kedepan kasir dan memberikan sejumlah uang kepada penjaga kasir. "Oh...Terima...kasih" ucap gadis itu sedikit heran sekaligus terpesona. Jae Hoon segera berjalan menuju pintu sembari tergesa-gesa. 'Haduh, aku sudah sangat lapar, bagaimana ini?' Jae Hoon berjalan dengan cukup cepat di tengah salju yang menghalangi jalannya. Samar-samar Jae Hoon mendengar suara teriakan. Tapi ia abaikan, lalu suara itu terdengar lagi memanggil seseorang, tapi siapa orangnya? Akhirnya Jae Hoon memalingkan wajahnya ke belakang. Ia melihat seorang gadis tengah mengejarnya. 'Bukankah ia gadis yang di mini market itu' terka Jae Hoon bingung. 'Ngapain segala mengejarnya' batin Jae Hoon heran. Ia pun segera berjalan menghampiri gadis itu dan menanyakan apa maunya. Namun tiba-tiba gadis itu pingsan di tengah salju yang cukup lebat. Jae Hoon terkejut, ia langsung berlari mendekati gadis itu dan mencoba mengangkatnya, namun ia bingung harus membawa gadis ini kemana karena ia tidak tahu dimana rumah gadis ini berada. Setelah dipikir-pikir akhirnya Jae Hoon pun memutuskan untuk menggendongnya menuju apartementnya. 'Aduh gawat nih, semoga tidak ada yang melihat hal ini' pikirnya sedikit takut, karena ia adalah seorang idol yang jelas-jelas dipantau 24/7 oleh banyak orang terutama sasaeng yang banyak menguntit kehidupannya. Jae Hoon membawa gadis itu ke sofa ruang tengah. Berharap gadis itu segera bangun agar Jae Hoon bisa bebas melakukan apapun. 'Aku harus buat ramen dan tteokpokki' Jae Hoon segera membuka bungkus ramen daan tteokpokki. Ia memasaknya dan segera memakannya di ruang tengah sembari menyalakan televisi. "Akhirnya perut ku sudah kembali tidak keroncongan lagi" ucap Jae Hoon berbicara sendiri. Jae Hoon menatap wajah gadis yang tengah tertidur di sofanya. "Kenapa ia mengikutiku ya?" Tanya Jae Hoon bingung. Jae Hoon melihat barang-barang yang dibeli gadis itu di mini market tadi. Gadis itu membeli banyak sekali makanan dan minuman. 'Memangnya ia mau pesta apa? Segala membeli bir" dengus Jae Hoon sebal. Lalu ia kembali membereskannya kedalam plastik. Sudah hampir 1 jam, Jae Hoon menunggu gadis itu bangun. Tapi entah kenapa ia tidak kunjung bangun. 'Bagaimana kalau ia punya penyakit lain? Bagaimana kalau ia mati? Aku sudah membawanya kesini lagi, seharusnya aku tidak melakukannya' sesal Jae Hoon kemudian. Ia memegang tangan gadis itu, masih dingin. Jae Hoon segera mengambilkan selimut untuk menghangatkannya. Ia pun berencana ingin membuatkan secangkir cokelat panas untuknya jika gadis itu sudah bangun. Jae Hoon segera beranjak ke dapur. Beberapa menit kemudian Jae Hoon kembali ke ruang tengah untuk melihat keadaan gadis itu. Kondisi ruang depan yang Jae Hoon lewati gelap dan ia lupa menyalakan lampunya. Saat itu gadis yang tertidur di sofa perlahan terbangun dan tengah terduduk di sofa. Matanya melihat sekeliling seperti orang kebingungan. Saat itu gadis itu menatap kearah Jae Hoon dengan sangat terkejut. Jae Hoon yang sedang membawa secangkir cokelat panas segera menghampiri gadis itu. Tiba-tiba gadis itu tengah mengayunkan sebuah tongkat kearah Jae Hoon. Iya, gadis itu memukul Jae Hoon dengan pemukul baseball miliknya. Jae Hoon yang tidak siap harus menerima pukulan yang cukup keras dari gadis itu. "Hey hentikan" Jae Hoon berteriak. Dan"Praangg" gelas yang Jae Hoon pegang terjatuh dan pecah menimbulkan kebisingan. Gadis itu terkejut dan menghentikan perbuatannya. Jae Hoon menatap tajam gadis itu. Gadis itu menundukkan kepalanya meminta maaf karena telah memukul Jae Hoon. Jae Hoon yang berniat ingin memberikan cokelat panas kembali mengurungkan niatnya, ia menjadi tidak nyaman dan ingin gadis itu segera keluar dari tempatnya. Gadis itu menatap Jae Hoon dan terkejut, karena Jae Hoon lupa memakai masker dan topi untuk menutupi wajahnya. "Ja-e Ho-on?" teriaknya terkejut. Jae Hoon menjadi salah tingkah dan takut gadis itu akan membeberkan kehidupannya. "Sebaiknya kau cepat pulang dan bereskan ini semua" Jae Hoon mengingatkannya. "Dan satu lagi, tolong jaga rahasia ini" jelas Jae Hoon kepada gadis yang masih terdiam kaku menatap Jae Hoon didepan matanya. Itulah awal pertemuan Jae Hoon dengan gadis itu. Bahkan ia tidak tahu namanya dan tempat tinggalnya. Tapi Jae Hoon dengan berani membawanya ke apartemenya. 'Kalau di pikir-pikir aku sudah gila sepertinya' batin Jae Hoon sembari mulai tertidur diranjang empuknya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN