Hari itu Yuna tidak bisa melupakan moment yang sangat berharga baginya, walaupun hanya sebentar tapi rasanya sangat menyenangkan. Ini seperti berkah dari Tuhan yang tidak akan pernah bisa ia dapatkan dua kali.
'Seandainya saja Jae Hoon menjadi temanku, pasti aku akan menjadi fans yang paling beruntung' batin Yuna menghayal.
"Yuna bangunnnn" teriak Eomma melempar guling ke wajah Yuna yang masih terbungkus selimut.
"Lihat sudah jam berapa, cepat rapi-rapi, kau harus sekolah" teriak Eomma lagi. Yuna membuka selimutnya dan menatap jam dinding dihadapannya.
"Waduhh, aku kesiangan" teriaknya terkejut.
Yuna kemudian beranjak bangun dari ranjangnya dan segera berlari mencari handuk lalu menuju kamar mandi. Buru-buru ia dandan seadanya.
Ia lalu turun kebawah melihat oppanya masih belum berangkat ke Sekolah.
"Oppaa....aku nebeng dong, aku sudah kesiangan" teriak Yuna mengejarnya menuju gerbang rumah. Kim Yohan memasang wajah pasrah.
"Hey, mana pesananku yang semalam" tagihnya.
"Tenang aja, ada di kamarku. Nanti ku ambilkan setelah pulang" balas Yuna tergesa-gesa. “Sekarang ayo cepat berangkat, nanti kesiangan.” Suruh Yuna menepuk bahu Yohan.
Yohan menatap Yuna curiga. "Semalam kau pulang larut banget, padahal aku hanya menyuruhmu membeli apa yang kusuruh, apa yang kau lakukan hah sampai pulang larut begitu?" tanyanya penasaran sekaligus curiga. Yuna kembali mengingat kejadian semalam yang membuat jantungnya berdegup kencang...wajahnya kini menjadi merah padam bagai terbakar api.
"Hey, wajahmu merah tuh, pasti kau melakukan sesuatu yang aneh kan, dasar nakal kau, aku akan mengatakannya pada eomma" terang oppa.
"Hey, hentikan. Udah mending cepatan kita berangkat" Yuna memalingkan wajahnya yang sudah terbakar itu. Hatinya kini masih saja berdegup walau hanya bertemu sekali pada malam itu.
Yuna menatap eomma dari luar gerbang. "Eomma, aku jalan ya"
"Eh, gak sarapan?" tanyanya. Yuna menggelengkan kepalanya. Lalu melambaikan tangan.
Yuna telah sampai di sekolah. Ia segera berjalan riang menuju kelas. Hari ini suasana hatinya sangat bagus. Wajahnya juga tampak ceria dan bersemangat. ‘Apakah ini karena efek semalam?’ tanyanya dalam hati. Ia segera duduk dibangkunya melamun memikirkan kejadian semalam yang membuatnya memikirkan hal yang tak karuan, jantungnya masih saja berdebar walau hal itu telah berlalu. Ia segera menepuk pipinya. ‘Apa yang ku pikirkan? Aku sudah gila pasti’ batinnya.
“Heyyyyy, Yunaaaa….” Teriak seseorang dari luar kelas. Yuna menghela nafas. Ia sudah tau kalau itu suara mijoo yang berisik abis. “Wae? Berisik banget tau, ganggu ketenangan aja deh.” Dengus Yuna kesal.
“Kau harus lihat, G-Force comeback mereka ngeluarin album baruu, pokoknya kita harus beli.” Ucap Mijoo menunjuk mv comeback G-Force di ponselnya dengan bersemangat.
Yuna menatap ponsel Mijoo dan menatap wajah Jae Hoon di mv itu. Itu adalah wajah laki-laki yang semalam ia temui. Ia jadi membayangkan kembali kejadian dimana dirinya bertemu langsung dengan Jae Hoon seorang anggota boyband terkenal yang menjadi dambaan bagi semua cewe. Namun Yuna tidak mau membicarakan hal ini kepada teman-temannya karena dirinya tidak siap jika temannya menertawakan dan mengatakan bahwa ia hanya bermimpi lalu mengejeknya. Ia sudah sangat bisa membayangkan reaksi teman-temannya itu.
“Eh beneran G-Force udah ngeluarin album ya?”
“Iya, emang kau ga lihat info apa?”
“Aku jarang buka, sekarang aku ga terlalu fanatic tapi tetap ngikutin mereka.” Ucap salah satu cewe dikelas Yuna.
“Kemarin aku nonton press conference mereka, sumpah ya Jae Hoon ganteng banget gakuat ihh.”
“G-Force emang ganteng semua, tapi Taejun paling menggoda.”
“Aku suka banget sama konsep comeback mereka, keliatan semua member punya ciri khas masing-masing.”
Kelas menjadi ramai dan berisik karena para anak cewe termasuk Yuna membicarakan kpop, yang dimana anak-anak cowo tidak begitu suka dan menganggapnya sebagai boneka suruhan agensi yang mencoba menggaet banyak fans.
“Stop stop yaaa tolong jangan ribut, kalian tuh ya ngerumpiin kpop mulu yang udah jelas mereka gak kenal ama kalian, ngapain sih diributin.” Ucap Soobin yang membuat suasana menjadi hening.
Yuna menatap Soobin tajam. “Kau kan memang enggak suka, jadi lebih baik diam saja. Kita disini sebagai fansnya tahu. Jangan asal melihat covernya saja tapi liat dalamnya juga bagaimana perjuangan mereka mencapai titik tertinggi, itu semua enggak mudah pasti ada plus dan minusnya. Tolong dimengerti.” Yuna membalas ucapan Soobin dengan sedikit ketus. Ia sebal kalau ada orang lain yang menjelekkan kpop, karena bagi Yuna mereka bukan sekedar manekin berjalan yang bertugas menghibur fans tapi juga mereka seorang pekerja keras yang berlatih berjam-jam tiada henti. Itu semua patut diberikan penghargaan atas kerja keras yang mereka telah capai. Saat itu juga Soobin terdiam.
Sebenarnya Yuna sudah tau kalau Soobin emang tidak menyukai kpop, bahkan dulu Yuna pernah memintanya untuk menemaninya membeli barang-barang kpop, tampak Soobin yang tidak mengerti dan tidak bersemangat karena itu memang bukan hal yang ia sukai. Tapi seharusnya ia tidak memperlihatkan ekspresi seperti itu, Yuna jadi merasa bersalah mengajaknya ketempat yang tidak membuatnya senang. Sejak itu Yuna jadi lebih sering minta ditemani teman cewenya karena para cewe biasanya suka kpop. Terutama Mijoo teman dekatnya itu yang udah lebih gila dari Yuna, bisa dikatakan Mijoo standby mantau pergerakan kpop dimana pun ia berada. Terutama G-Force, ia enggak mau ketinggalan satu informasi apapun terkait kpop, dimana biasnya adalah yang selalu menggoda hati wanita dengan keseksiannya diatas panggung.
Anak-anak cewe yang lain tampak bangga dengan ucapan Yuna. “Yuna kau keren, Soobin iri kali kalah saing tuh ama member G-Force.” Celetuk Sanghwa teman kelas Yuna sambil tertawa nakal.
Yuna tertawa kecil.
“Bisa jadi, tapi Soobin ga kalah ganteng kok.” Ucap Nari salah satu teman Yuna.
Mijoo tertawa terbahak-bahak. “Jadi kau membela Soobin?” tanya Mijoo masih tertawa. “Memang kenapa? Emang dia cakep kok kalau dari sudut pandang orang biasa.” Balas Nari memastikan. Ia menatap wajah Soobin sambil tersenyum.
“Hey Hey, apasih yang kalian bicarakan?” celetuk Gerry tiba-tiba berbicara depan pintu kelas.
“Eh ada sohibnya, bubar…bubar.” Teriak salah satu cewe.
Gerry berkacak pinggang. “Lagi ngomongin apaan sih? Serius amat dah cewe-cewe.” Katanya penasaran.
“Bukan apa-apa, udah yuk kembali ke posisi masing-masing, kelas udah mau dimulai.” Kata Yuna mengingatkan.
Bel istirahat berbunyi. Yuna ke kantin bersama Mijoo. Mereka berdua mengambil nomor antrian untuk makan siang. "Hey, sepertinya hari ini banyak yang mengantri ya" kata Mijoo menunjuk antrian. Yuna mengangguk setuju. "Aku nitip nomor antrianku dulu ya, aku harus ke toilet" ucap Yuna tergesa-gesa.
Yuna mencuci tangannya di wastafel. Menatap wajahnya di sebuah kaca besar. Kembali menepuk kedua pipinya. Masih tidak percaya dengan kejadian semalam. "Ahhhhhhhhhh" Yuna berteriak kegirangan seperti orang gila. Untungnya sedang tidak ada orang di toilet.
"Udah gila aku" sembari berbicara didepan kaca. Kemudian Yuna segera keluar dari toilet.
Mijoo masih mengantri makan siang.
"Apa masih lama? Tanya Yuna memastikan. "Entahlah" balas Mijoo sembari memegang ponselnya.
Siang itu cuaca sangat dingin, mungkin karena efek semalam turun salju. Walaupun sudah mengenakan jaket tebal tetap saja rasanya sangat dingin sampai menusuk tulang.
Akhirnya mereka pun selesai mengantre dan mencari kursi kosong untuk makan siang. “Yuna, apa menurutmu kau tidak keterlaluan pada Soobin?” tanya Mijoo sembari mengunyah makanannya.
“Hah? Keterlaluan apa?” tanya Yuna bingung.
“Ucapanmu tadi, aku tau kita cewe-cewe emang suka kpop, tapi dia kan cowo, pasti ga terlalu suka.” Balas Mijoo menatap Yuna yang tengah menyeruput minumannya.
Yuna menghela nafas. “Kau yakin Soobin marah? Paling juga nanti dia kesini nyamperin kita, lihat aja.” Yuna segera melahap makanannya tanpa berfikir panjang.
Tiba-tiba dua orang laki-laki datang nyamperin Yuna dan Mijoo.
“Yuna, kita duduk disini ya, kursi lain udah penuh.” Gerry menunjuk kursi-kursi lain.
Yuna mengangguk. “Duduk saja.”
“Eh Soobin mana?” tanya Mijoo menatap sekeliling.
Seung Ji menggelengkan kepalanya. “Entahlah, dia lagi dikelas, ga nafsu makan katanya.”
“Kenapa sih dia? Padahal tadi pagi dia baik-baik aja.” Terang Gerry sambil mengunyah makanannya.
“Bukannya habis berantem dengan Yuna ya.” Celetuk Seung Ji menatap Yuna yang sibuk makan.
“Soobin emang biasa gitu kan?” ucap Gerry tidak heran.
Yuna yang mendengar ucapan temannya berfikir, ‘Apa aku keterlaluan? Padahal tadi aku bicaranya biasa aja deh’ batinnya.
Yuna segera berdiri. “Eh kau sudah selesai makannya?” tanya Gerry menatap Yuna.
Yuna mengangguk. “Aku mau ke kelas.”