Pov Kinanti
Sejak usia 2 minggu anak pertamaku sama Arman sering sakit-sakitan. Mana si Arman pun kerjanya mocok-mocok. Kadang sekali-kali nyerep bawa Sedako kawannya. Kadang gak kerja sama sekali. Sementara anak kami sebentar-sebentar sakit. Sesak Nafas. Ada yang bilang karena terminum 'Banyu Kawah' (Air Ketuban). Ada yang bilang karena keturunan. Karena si Arman juga punya riwayat Penyakit ASMA.
Karena terlalu seringnya anak kami sakit sampe ada tetangga yang bilang nyuruh aku ngasihkan anak kami ke orang lain untuk dijadikan 'Anak Pungut' (Anak Asuh). Dan karena sangking pinginnya anakku sembuh. Akhirnya ku kasihlah anakku ke Bu Warti. Tetangga kami yang juga orang terkenal karena satu-satu perempuan yang berpendidikan tinggi sampe jadi Sarjana di desa Pematang Biara ini.
Dan anak kami yang awal lahirnya kami kasih nama 'Neneng Vandini' sekarang uda ganti nama jadi Wulan Dari sejak diangkat jadi anak asuh sama Bu Warti. Dan mulai dari anak kami dirubah namanya. Panggilan kami pun sebagai Suami-Istri yang tadinya gak tau mau manggil apa kecuali 'Dia' sekarang kami rubah jadi 'Pak Ulan' panggilanku untuk Arman dan sebaliknya aku 'Mak Ulan' panggilan Arman untukku.
Berbulan-bulan berlalu si Ulan pun masih sering sakit-sakitan walau uda berobat kesana kesini dan uda dipungut juga sama Bu Warti, si Ulan masih juga sakit-sakitan. Sampe ada yang kasih saran coba di kasih minum s**u Kambing. Dan saran itu pun sampe ke kuping Bapak. Karena Bapak Juragan Kambing, sampe 200 ekor Kambing peliharaan Bapak disaat itu. Jadi gak susah untuk kami nyari Kambing. Akhirnya si Ulan pun dihadiahkan 1 ekor Kambing Bunting dari Bapak. Jadi nanti saat Kambingnya melahirkan, si Ulan bisa langsung minum s**u dari Kambingnya langsung.
Selain Juragan Kambing, Bapak juga pelihara ribuan ekor Ayam dan Bapak juga punya Kebun Kelapa berhektar-hektar Yang sekarang lahan Kebun Kelapa itu uda berubah jadi Bandara Kualanamu International Airport (KNIA).
Karena tau aku sering uring-uringan sejak si Ulan yang lahir sakit-sakitan terus si Arman pun kerjanya gak jelas cuma mocok-mocok, Bapak pun nyaranin Arman untuk galas Kelapa. Dari Kelapa yang ada diKebun Bapak sampe Kelapa yang didapat dari beli di Kebun orang pun dijalani.
Dan karena anak kami baru 1 orang kemana-mana aku ikut sama Arman walaupun cuma sekedar cari Kelapa untuk ditolak lagi ke Agen.
"Pak Ulan, ini kita kan beli kelapanya, jadi yang uda jatuh karena dimakan tupai ya jangan diambillah. Kan rugi kalo kita bayar, sementara Kelapa yang uda jatuh karena dimakan tupai itu pun gak bisa dijual karena uda busuk". Saranku ke Arman.
Tapi bukannya dijawab sama Arman. Dia yang lagi ngupas kulit Kelapa pake Slumbat malah ngambil parang panjang terus dilempar ke arah kakiku yang gak jauh dari arah dia berdiri. Untung gak kena kakiku. Mungkin kalo sampe kena kakiku sekarang aku uda jadi perempuan cacat yang kakinya terpotong karena lemparan parang dari Arman, suamiku sendiri. Padahal waktu itu aku lagi gendong si Ulan.
Sedih hatiku sejak kejadian itu. Aku gak nyangka si Arman bisa kayak gitu marahnya. Padahal kan aku cuma ngasih saran aja. Dan itu pun biar kami gak rugi. Namanya kami masih merintis. Tapi ya udalah mungkin karena capek makanya Arman silap. Aku pun coba berfikir Positif ke Arman. Biar gimana pun aku ini istrinya, dan aku sendiri yang uda milih dia untuk jadi pasangan hidupku. Jadi gak ada yang perlu ku sesali menurutku. Aku pun memaafkannya.
Saat si Ulan usia 1 tahun 11 bulan aku pun hamil anak kedua. Untung kehamilan yang kedua ini aku gak nyidam yang mahal-mahal. Aku cuma nyidam pengen makan Tumis Genjer yang gak perlu beli. Aku tinggal ramban aja dibelakang rumah. Ya walau pun usaha Salonku tetap rame tapi karena si Arman uda mulai nganggur lagi, dan sekarang kami uda ada si Ulan, mana aku lagi hamil anak kedua kami agak kesulitan biaya.
Dan walaupun Salonku rame pelanggan tapi tetap gak bisa semua terlayani karena ada si Ulan. Dan keseringan uang hasil dari Salon pun terpake untuk biaya berobat Ulan kalo dia lagi kambuh Sesak Nafasnya.
Untung adek laki-lakiku sama adek perempuan Arman sering datang berkunjung ke rumah kami. Jadi dikit banyaknya kami pun terbantu. Kalo ada langganan Salon pas lagi mau nyalon, kalo adek perempuan Arman datang dia bisa jagakan si Ulan sebentar selama aku ngelayani pelanggan Salonku. Dan kalo aku butuh biaya pas adek laki-lakiku datang dia bisa bantu-bantu sedikit keuangan kami, karena dia tau Abang IPnya sering nganggur dan kerjanya mocok-mocok.
Saat ini usia kandunganku uda 9 bulan penuh dan tinggal nunggu hari lahir aja. Kami pun bingung mau nyari biaya untuk lahiran dari mana sementara Arman masih nganggur juga.
Beberapa hari kemudian. Pas abis Maghrib sekitar jam 07:30 lahirlah anak kedua kami di hari Selasa, 28 Agustus 1992. Dan kami kasih nama 'Noni Sari Devi'. Dan setelah beberapa hari anak kedua kami lahir, sore harinya adek laki-lakiku pulang dari ternak tempat dia kerja sambil bawa 10 ekor ayam. Katanya sih untuk acara Cukuran dan Buat Nama anak kami.
Malam ini turun hujan deras dibarengi dengan angin kencang dan petir saling menyambar. Aku pun keluar dari kamar abis nyusui si Noni dan aku langsung marah sama si Ulan karena dia duduk dilantai yang gak beralaskan tikar sama sekali. Karena Ulan gak mau dengar apa yang ku bilang, aku langsung ambil sapu teros kupukulkan ke lantai. Tapi dengan cepatnya si Arman mukul aku dan setelah aku jatuh ke lantai Arman langsung duduk diatas perutku yang baru melahirkan ini dan nyekek leherku sampe lebam sampe warnanya kebiruan.
Aku gak nyangka, untuk yang kesekian kali Arman berbuat kasar samaku, istrinya yang jelas baru melahirkan anaknya yang belum ada 40 hari. Padahal aku marah sama Ulan juga karena aku takut anak sulung kami itu masuk angin dan kambuh Sesak Nafasnya. Tapi ini yang ku dapat.
Namun, aku tetap bertahan demi anak-anak dan demi keutuhan keluarga. Aku coba sabar dan berfikir Positif sekali lagi. Mungkin karena terlalu besar rasa sayangnya untuk kami sehingga Arman gak akan biarkan anaknya disakiti sama siapa pun termasuk aku Ibu Kandungnya.
"Yuk, nek pitek iku esek kurang yo didol ae iki". (Artinya - Kak, kalo ayam itu masih kurang ya dijual aja ini) Kata adek laki-lakiku sambil buka Kalung Emas yang dipake dilehernya dan langsung dikasihkan ke aku.
"Wes, ora usahlah, mengko piye mbayare, kakangmu ae urong kerjo". (Artinya - Uda, gak usahlah, nanti gimana bayarnya, Abangmu aja belum kerja). Jawabnya merasa gak enak hati.
Aku sedih rasanya mau nerima bantuan dari adekku itu. Tapi mau gimana, keadaan kami emang lagi gak memungkinkan.
Setelah beberapa hari acara Cukuran dan Buat Nama. Aku pun dikejutkan dengan kabar kepergian Bapak, kembali kepada yang Maha Kuasa. Rasanya bagaikan uda jatuh tertimpa tangga. Begitu berat ujian yang saat ini aku lalui. Orang Tua satu-satunya yang ku miliki kini pun pergi menghadap sang Ilahi.
Tapi hidup tetap harus berjalan. Aku gak boleh terus terpuruk karena meninggalnya Bapak. Beberapa bulan kemudian entah ada angin apa. Saat pulang dari rumah kawannya, Arman tiba-tiba bilang.
" Mak Ulan, kayak mana kalo kita gadaikan aja Surat Rumah ini ke Bank. Uangnya kita belikan Jetor". (Jetor adalah kendaraan sebagai pengganti kerbau alat bajak sawah). Katanya.
"Untuk apa kita beli Jetor Pak Ulan". Jawabku.
" Ya untuk usaha kita lah. Untungnya lumayan Mak Ulan". Bujuknya.
Sebetulnya aku gak setuju dan gak rela Surat Rumah ini digadaikan ke Bank. Bukan karena ini rumahku pribadi. Tapi aku takut gak bisa bayar. Dan dengan segala bujuk rayu juga karena aku terlalu cinta sama suamiku. Akhirnya aku pun setuju untuk menggadaikan Surat Rumah yang kami tinggali.