Awal pertemuan sampe melahirkan anak pertama
Disebuah desa terpencil di Sumatera Utara yaitu Pematang Biara hiduplah seorang janda kaya bernama Kinanti dan bertemu dengan pemuda desa bernama Arman dengan status lajang dan bekerja sebagai Sopir Sedako
Pov Arman
"Man, cewek cantik Man". kata Paino kawanku yang adalah seorang pengangguran.
"Mana"? Aku menyahut.
"Itu, yang lagi jalan ke arah warung seberang". Katanya lagi.
Setelah ku perhatikan ternyata dia memang cantik. Dan ternyata dia adalah salah satu kembang desa disini. Aku pun mulai cari tahu tentangnya dan dari info yang ku dapat ternyata dia seorang janda 2x beranak satu dan akupun gak mempermasalahkan soal statusnya. Dan dengan usahaku yang terus ngejar2 dia akhirnya berbuahkan hasil yang manis. Aku pun menikahinya tanpa harus bersusah payah melamar dengan mahar yang besar karena kenyataannya dia janda kaya dan dia pun memaklumi keadaanku yang dari kalangan menengah kebawah dan hanya seorang Sopir Sedako yang dengan penghasilan pas-pasan. Bukan karena dia janda yang haus belaian laki-laki dia mau langsung nerima aku sebagai suami. Tapi karena demi menjaga harga diri agar tidak menjadi bahan gosip tetangga yang selalu takut suaminya diambil Kinanti karena kecantikan Kinanti diatas rata-rata para gadis yang ada di Desa Pematang Biara itu. Yang kulitnya Putih, Hidungnya Mancung, dengan Mata Sipit dan Raut wajah Oval ditambah dengan Rambutnya yang indah bergelombang panjang sebahu membuat setiap laki-laki yang melihatnya pasti langsung deg-degan pengen ngajak kenalan tanpa sadar status Lajang ataupun suami orang. Jadi jika ada laki-laki yang mau mencari istri dengan status single Kinanti akan langsung menerimanya dengan tanpa syarat yang penting seakidah. Itulah yang ku dengar dari info yang ku dapat. Sampai akhirnya aku pun resmi jadi suaminya.
Pov Kinanti
"Anti, kayaknya tadi aku nengok lakimu lewat bawa cewek anak SMA duduk didepan, jangan-jangan lakimu main cewek sama anak SMA itu". Kata Jum tetangga depan rumahku.
" Ah, mungkin cuma penumpang biasa. Namanya dia Sopir, kalo ada penumpang yang minta duduk didepan kan gak mungkin ditolak demi untuk kejar setoran". Tanggapanku.
"Tapi kalo cuma penumpang biasa koq gak turun-turun dari tadi. Hati-hati loh jaman sekarang banyak anak sekolah yang ngejer laki orang demi bisa beli ini itu. Dan lagi apa koe gak takut jadi janda lagi. Soalnya koe kan uda sempet janda 2x. Aku gak ada maksud apa-apa sih, cuma mau ngingetin koe aja, supaya lakimu gak diganggu sama anak SMA itu".Timpal Jum ngingetin aku. Sambil jari tangannya dibuat angka 2. (Koe artinya Kamu)
" Ya uda nanti pas pulang kerja ku tanya sama lakiku siapa anak SMA yang dibawa2nya itu. Makasih ya Jum uda mau ngingetin aku. Ya uda aku pulang dulu ya soalnya aku belum masak". Jawabku sambil nunjuk'in tentengan belanjaan yang ku bawa dari warung depan.
"Oh, iya aku pun belum masak. Ya uda yok kita masak". Sahut si Jum yang ku balas senyum sambil ngangguk kepala.
Sampe dirumah aku langsung narok belanjaanku didapur sambil mikir betul gak ya yang dibilang si Jum tadi kalo lakiku main cewek sama anak SMA itu. Tapi nanti ajalah kalo memang terbukti lakiku ada main dibelakangku baru aku tanya sama lakiku betul-betul.
2 tahun kemudian
Entah ada angin apa koq tiba-tiba pengen makan Sop Daging ya. Mana uda malem. Laki belum pulang kerja. Entah apa yang dikerjai lakiku sampe jam 12 malem gini belum pulang. Apa iya kalo Sopir Sedako itu pulangnya malem kali gini. Tapi aku gak mau ambil pusing karena toh lakiku pulang ke rumah tiap hari.
Besok paginya aku pun belanja Daging untuk ku masak Sop karena rasanya kepingin kali makan Sop dari tadi malam. Biar pun uang yang dikasih lakiku pas-pasan tapi aku tetap bisa masak enak tiap hari dari penghasilanku buka Salon di rumah. Ya usaha Salon yang ku rintis dari sebelum aku nikah sama Arman memang selalu rame karena di desa ini cuma aku satu-satunya yang buka Salon. Adapun sainganku orang Cina yang juga buka Salon tapi jauh ditengah kota Pantai Labu.
Hem, enaknya Daging Sop yang ku makan tanpa nasi. Sambil makan aku sambil mikir kenapa bisa pingin kali makan Sop Daging sampe gak bisa tidur semalaman karena sangking pinginnya makan Sop Daging. Abis makan aku agak oyong. Kepalaku Pening. Aku pun nggeletak. Mana tau abis nggeletak peningnya ilang. Tapi rupanya gak ilang juga peningku. Ku tutup lah Salon. Aku pun niat ke Bidan nanti malem kalo Arman pulang cepet.
Uda jam 10 malem lakiku belum pulang juga. Sebetulnya ngapain aja sih dia diluar sana koq tiap hari pulangnya malem teros. Tapi karena aku males ribut aku pun gak pernah mempermasalahkan dan gak pernah ku tanya. Tapi karena saat ini aku pingin dianter ke Bidan jadi aku agak dongkol juga rasanya dalem hati.
Jam 12 lewat Arman baru pulang. "Sebetulnya 'Dia' itu dari mana aja sih, koq tiap hari pulangnya malem teros. Apa iya masih ada sewa sampe tengah malam gi-niii"?. Tanyaku sama Arman. ('Dia' panggilan sayangku untuk Arman karena gak tau mau panggil apa setelah nikah)
" Ya uda kalo koe gak senang aku kerja mulai besok aku dirumah aja makan tidur. Itu maumu kaaan"? Jawab Arman ketus.
"Ya bukan gitu maksudku. Aku kan nanya baek-baek. Kenapa 'Dia harus jawab marah-marah sih. Apa ya gak bisa kalo gak pulang malem teros. Aku juga kan kesepian dirumah sendirian. Kalo mau butuh apa-apa aku mau minta tolong pun susah. Kayak sekarang aku mau minta antar ke Bidan pun jam segini 'Dia' baru pulang. Mana adalah Bidan yang buka lagi jam segini".(Sebetulnya ada sih Bidan yang buka 24 jam, tapi di Kota Pantai Labunya. Kalo di Desa Pematang Biaranya sih gak ada Bidan yang buka 24 jam).
" Ya uda besok aku gak narek. Besok ku kawani koe ke Bidan. Sekarang uda malem aku ngantok, mau tidor". Jabawnya ketus.
Aku ngelus d**a coba sabar. Padahal kan gak salah namanya bini pingin tau apa aja kegiatan lakinya diluar rumah sampe pulang malem tiap hari. Tapi aku coba maklum. Mungkin karena Arman capek baru pulang kerja terus ku tanya ini itu makanya dia marah.
Besok paginya kami langsung ke rumah Bidan naek GL-PRO yang ku belikan untuk Arman saat kami baru kawin 2 tahun yang lalu. Karena dia gak punya kendaraan. Kemana-mana jalan kaki dan paling banter naik Sedako.
Sampe di Bidan aku langsung ditanya keluhannya apa teros aku langsung disuruh nggeletak ditempat tidor khusus orang saket. Bidannya dateng bawa alat khusus untuk periksa orang saket. Dibukanya bajuku sikit. Diperiksanya perutku gak lama aku pun disuruh bangun setelah siap disuntik teros disuruh duduk didepan meja tempat Bidannya duduk.
"Ibu gak kenapa-napa koq. Tensinya juga bagus. Nanti 'Tak' kasih Vitamin aja". Kata Bu Bidan. ('Tak' itu maksudnya aku)
" Loh, kalo aku gak kenapa-napa koq aku oyong teros dari semalam buk". Tanyaku penasaran.
"Oyong dikit itu wajar. Biasa untuk Ibu hamil. Selamat ya Bu, Pak, usianya uda jalan 5 minggu. Selama Trimester pertama Ibu jangan capek-capek dulu. Ini tadi uda 'Tak' suntikan untuk penguat janin. Ini Vitaminnya diminum sampe abis, nanti bulan kita periksa lagi ya Bu". Kata Bu Bidan sambil senyum.
Setelah Bu Bidan ngasih bungkusan Vitamin sama Buku jadwal periksa kehamilan dibulan selanjutnya. Kami pun langsung pulang ke rumah.
Mulai awal kehamilanku Arman pun selalu dirumah berhenti jadi Sopir Sedako dan lontang lantung dirumah gak ada kerjaan. Paling banter bantuin Bapak angon kambeng. Dan biaya makan kami sehari-hari dari usaha Salonku. Dan Bapak pun selalu nganter beras kerumahku dari hasil panen. Bapak gak marah sama sekali walaupun mantunya pengangguran. Karena Arman mantu kesayangan Bapak. Diantara mantunya yang satu suku sama Bapak, cuma Arman yang orang Banten, sementara Bapak orang Jawa.
Gak terasa uda 9 bulan usia kehamilanku. Uda mau deket lahiran. Tinggal nunggu harinya aja. Bapak pun uda nyediakan kambeng untuk acara Cukuran dan Ngasih nama anak pertamaku dari Arman. Karena anak pertamaku dari laki kedua ikut sama mertuaku di kota Medan.
Setelah Bapak pulang dari nganter kambing, perutku pun terasa mules. Sremet-sremet, ilang. Sremet-sremet, ilang. Aku pun minta anter lakiku ke Bidan. Sampe ditempat Bu Bidan katanya itu tanda-tanda mau lahiran. Tapi bukan mau lahir sekarang. Jadi aku disuruh pulang dulu. Kata Bu Bidan aku disuruh banyak-banyak jalan. Biar gangsar lahirnya. Nanti sampe rumah kalo mulesnya uda mulai sering sampe gak berjarak lagi mulesnya langsung datang aja lagi. Jam berapa pun pasti dibukakan pintu. Kami pun langsung pulang.
2 hari kemudian
Subuh-subuh aku ngeluarin darah tapi karena kata Bu Bidan kalo sakitnya masih jarang-jarang berarti masih harus nunggu lagi. Dan jam 9 pagi sakitnya uda mulai sering dan hampir gak ada jarak. Arman pun kebingungan karena nengok aku kesakitan. Tapi bukannya aku langsung dibawa ke Bidan sesuai arahan Bu Bidan kemaren. Dia malah manggil tetangga. Teros dia datang kerumah Bidannya langsung dibawa Bu Bidannya ke rumah kami.
Begitu Bidannya masuk kamar aku pun langsung diperiksa jalan lahirnya karena aku memang uda gak pake celana lagi. Aku uda langsung pake sarung karena ini bukan pengalaman pertama untukku melahirkan.
"Oh, ini uda bukaan 10 Bu, uda waktunya lahir. Kita siap-siap ya Bu". Kata Bu Bidan sambil senyum.
" Tunggu". Kataku langsung.
" Koe metu ndesek yo Kem, aku isin" (Artinya-Kau keluar dulu ya Kem, aku malu) kataku ke Paikem tetanggaku yang uda tau aku mau lahiran tapi malah anaknya dibawa masuk semua ke dalem kamarku.
"Tapi aku arek ndelok koe mbayi lo Ti". (Artinya-Tapi aku mau lihat kau melahirkan lo Ti) Protes Paikem.
" Emoh. Aku ora gelem didelok. Isin. Uwes, metu kono". (Artinya-Ogah. Aku gak mau dilihat. Malu. Udah, keluar sana) Usirku. Dan Paikem sama anak-anaknya pun langsung keluar dari kamar. Dan gak terkecuali Arman. Aku jugamauk mau Arman ngawankan aku yang mau lahiran ini. Entah kenapa dari sejak hamil aku hawanya males deket-deket sama laki.
Dan setelah melalui proses lahiran yang menyakitkan menurutku. Akhirnya pas jam 10:00 pagi dihari Senin, 30 Januari 1990 lahirlah anak pertamaku sama Arman yang kami kasih nama 'Neneng Vandini'.