Akad nikah sudah digelar, baru saja saksi mengucap "Sah" ketika Denis selesai mengucap kalimat akad setelah tiga kali salah mengucapkan nama mempelai wanita.
"Cium dong," ledek semua hadirin.
Fotografer mengarahkan Syla mencium tangan pria dihadapannya yang kini menyandang status sebagai suaminya, kemudian tukang foto meminta Denis untuk mengecup kening Syla.
Tidak ada getaran cinta diantara keduanya, terasa sangat-sangat hambar.
"Selamat ya, semoga sakinah mawadah warahmah." Ucap para hadirin yang datang. Hanya keluarga besar Nindyastomo dan Pramudya saja.
Alvin memilih tak datang, karena patah hati gadis pujaannya kini jadi milik orang lain.
"Syla, kamu telah menjadi anak kami." Kata Mami saat memeluk menantunya. Syla tampak mengangguk lemah.
Meskipun tanpa dasar cinta satu sama lain, bagi Mami Syla kini sudah menjadi anaknya juga.
Acara telah usai, satu persatu yang datang undur pulang. Tinggal keluarga inti Denis saja. Sembari menunggu Syla menyiapkan barang-barang yang akan dibawa ke rumah Denis.
Denis ikut masuk ke dalam kamar mungil yang berada dipojokan lantai atas, tidak ada yang istimewa sama seperti kamar gadis lainnya. Ia hanya duduk sambil memperhatikan sekeliling, semua barang di kamar ini tertata sangat rapih.
"Sudahkah selesai." Kata Denis datar.
"Ah, sudah."
Barang Syla sudah selesai dimasukkan ke dalam koper, tidak banyak hanya beberapa lembar baju saja. Syla pikir sewaktu-waktu jika menginap masih ada baju di sini,jadi tidak perlu repot.
Keluarga Pramudya berpamitan, dan membawa anggota baru mereka.
Di dalam mobil,Syla duduk bersandingan dengan Denis. Tidak ada yang bicara diantara keduanya, Denis memilih sibuk dengan ponselnya.
Sesampainya di rumah, Mami mempersilakan Syla dan Denis untuk beristirahat di kamar mereka. Kamar Denis yang akan menjadi kamar pengantin.
Di dalam sana sudah ada meja rias juga lemari pakaian baru yang entah kapan dan siapa yang menaruhnya, Denis mendengus sebal. Belum apa-apa saja sudah mengatur kamarnya ini itu.
"Lakukan saja apapun semaumu," ketus Denis.
Syla menunduk lesu, dibukanya koper yang ia bawa. Ditata di dalam lemari yang memang sudah disediakan untuknya.
Malam pertama keduanya, tidak seperti malam pertama pasangan pengantin lainnya. Keduanya hanya diam, sibuk dengan pikiran dan urusannya masing-masing. Denis sibuk berkutat dengan pekerjaannya, sementara Syla sibuk meratapi nasibnya terlebih nasib rumah tangganya kelak.
Hingga waktunya tidur, Denis memilih memunggungi istrinya. Ia dipojok kanan dan Syla dipojok kiri.Ranjang yang biasanya terasa luas bagi Denis, kini ia harus membaginya. Tidak ada pelukan hangat atau ciuman singkat, yang ada hanya punggung mereka yang saling berhadapan.
Syla terisak pelan, akankah betah di rumah ini yang bahkan ia tidak diinginkan oleh seorang yang kini berstatus sebagai suaminya?
Syla meraba-raba sekitarnya karena tidak mendengar alarm yang biasanya dipasang tepat pukul 04:00 , tangannya merasa asing.Diraba-rabanya lagi permukaan yang terasa aneh dengan tangannya, sesekali ia remas.
******
"Apa ini." Gumam Syla dengan mata tetap terpejam, namun tangannya meremas semakin intens.
Kenyal, batinnya.
Pergerakan Syla dicekal oleh telapak tangan yang terasa lebih besar dari tangannya, perlahan mata Syla terbuka.
Sepasang mata menatapnya tajam, wajah Syla tepat berada di ceruk leher Denis, sementara tangannya masih dalam cekalan pria itu.
"Apa kau coba memperkosaku!" ucap Denis tajam.
"Tidak.."
"Kau meraba dadaku!"
"Maaf, aku tidak sengaja." Wajah Syla bersemu merah.
Keduanya terjengkit kaget dengan posisi mereka, tangan Denis yang satunya sebagai bantalan kepala Syla. Semalaman mereka tidur dalam posisi itu.
"Menyingkirlah."
Syla bangun, wajahnya bersemu merah. Ia merutuki kebodohannya, pantas saja semalam tidurnya terasa sangat nyaman.
"Maaf, aku tidak bermaksud.."
Belum selesai Syla berbicara, Denis sudah beranjak dari ranjang dan masuk ke dalam kamar mandi.Syla menghela napas berat, ia melangkah ke luar kamar.
Sesampainya di dapur, Syla melihat ibu mertuanya yang tengah sibuk memasak. Tidak terlihat asisten rumah tangga yang membantunya.
Tatapan mereka bertemu, Mami tersenyum lembut kepada menantunya.
"Mau bantu Mami?" tawar Mami.
"Boleh?" Mami mengangguk.
Anggap saja ini bagian dari pengakraban diri untuk keduanya.
Sesekali Mami bercerita tentang kegemarannya memasak untuk anggota keluarga, untuk urusan makan memang Mami yang wajib melakukannya.
Satu hal yang diketahui Syla dari sifat ibu mertuanya ini, sangat-sangat menyayangi keluarganya.
"Sudah siap." Ucap Mami setelah selesai menyusun semua makanan di atas meja, diusapnya peluh yang menetes di dahi.
"Mam, bisa bantu Denis memakai dasi?" Teriak Denis yang menuruni tangga, sembari mengancingkan kemejanya.
"Mam," teriak Denis lagi saat tidak mendapatkan jawaban.
"Syla, sekarang giliran kamu yang menggantikan tugas Mami setiap pagi. Memasangkan dasi untuk anak Mami yang manja ini," kata Mami saat Denis sudah berada di ruang makan. Denis mendengus kesal.
Syla harus menuruti permintaan Mami, kini mereka berdiri saling berhadapan. Syla harus berjinjit untuk meraih dasi yang sudah terpasang di leher Denis, tugasnya hanya merapikan saja.
Wajah Syla bersemu merah jika mengingat kejadian bangun tidur tadi, apalagi sekarang jarak mereka sangatlah dekat.
Denis menarik diri saat dasinya sudah terpasang rapi, lalu bersiap untuk sarapan sebelum berangkat bekerja.
"Kamu tidak ambil cuti saja?" kata Mami.
"Tidak, ada pekerjaan yang harus aku urus Mam."
Mami sibuk menata makanan untuk Daddy dan Airin, Denis menunggu untuk bagiannya.
"Punyaku mana Mam?" ucap Denis.
"Syla, bisa layani Denis kan?"
Syla mengangguk saja, bukankah ini sekarang menjadi tugasnya? Karena ia telah menjadi istri Denis.
Lagi-lagi Denis mendengus kesal, baru sehari gadis itu di rumah ini sudah membuat Denis tidak lagi mendapat perlakuan-perlakuan manis Mami yang biasanya ia dapat setiap pagi.
"Maaf Mam, sepertinya aku sudah terlambat."
"Ini masih terlalu pagi, Nak. Sarapan dulu." Mami mengejar Denis yang sudah berada di ambang pintu keluar.
"Nanti saja di kantor Mam,"
Denis meraih tangan Mami, dikecupnya punggung Mami.
"Katakan pada Daddy,Mam. Pagi ini aku ada meeting di luar."
Denis segera berlalu saat Mami menganggukkan kepalanya. Mami kembali ke ruang makan.
"Hari ini kamu ada acara?"
"Mungkin aku akan berangkat ke kantor Papa, Mam."
"Haaah, harusnya tadi kalian berangkat bareng. Dasar anak itu." Gerutu Mami.
"Tidak apa-apa Mam, aku bisa dijemput supir."
"Baiklah, ayo sarapan."
****
Meeting dan bertemu klien di luar perusahaan hanyalah alibi Denis semata, kini ia memarkirkan mobilnya kesebuah proyek.
"Masih lama?" ucap Denis yang mendapati mandor proyek pembuatan rumah yang kebetulan sudah berada di sana.
"Kira-kira dua bulan lagi, Pak."
"Bisa dipercepat? Sebulan lagi misalnya?"
"Bisa sih Pak, tapi biayanya.."
"Masalah biaya katakan berapa saya harus menambahnya? Asal rumah ini bisa cepat selesai."
"Nanti saya akan berikan rinciannya Pak."
Setelahnya, mandor proyek pamit undur diri. Denis masuk ke dalam rumah yang baru jadi sekitar 60%, rumah minimalis sesuai keinginan Diva.
Ya, rumah ini dibangun untuk masa depannya kelak bersama sang kekasih.
Itu rencananya dulu, tapi mungkin Denis akan merubah rencananya. Rumah ini akan menjadi rumah mereka berdua, Denis dan Syla. Supaya Denis bisa menjaga jarak dengan istrinya itu, yang sangat mustahil dilakukan di rumah orangtuanya. Denis tersenyum miring, istri?
Denis melanjutkan mengelilingi bangunan itu, sampai di sebuah kolam renang ia berdiri agak lama. Terdapat huruf D di tengah lantai di dasar kolam, D untuk Diva.
Terasa sesak bagi Denis harus merelakan rumah ini untuk ditinggalinya bersama wanita lain selain pujaan hatinya. Tak ingin lama lagi berada di pusaran penyesalan, Denis segera pergi dari tempat itu. Memilih ke kantor, menyibukkan diri dengan berkas mungkin bisa melupakan sejenak.
****
Tertawa nyaring terdengar saat Daddy dan Denis memasuki rumah, keduanya baru saja pulang dari kantor. Rupanya Airin dan Adrian tengah bermain bersama kakak iparnya.
"Daddy," teriak Airin, saat melihat Daddy. Ia merentangkan tangan minta gendong.
"Uluuh, berat ya sekarang."
"Aku sudah besal Dad, tahun depan aku sudah SD."
"Iya, anak Daddy cepat sekali besarnya."
"Kak, turun. Daddy capek pulang kerja." Ucap Mami lembut, Mami meraih tangan Daddy, dikecup punggung tangan suaminya.
Bergantian dengan Airin, Adrian, dan juga Syla.
"Jangan sungkan, kamu sudah menjadi bagian dari keluarga ini. Daddy harap, kamu betah tinggal di sini." Ucap Daddy yang diangguki oleh Syla.
Syla beralih menatap Denis yang baru selesai mencium punggung tangan Mami, ia melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Mami. Mengecup tangan suaminya.
"Boleh aku bawakan tas dan jas mu?"
Mami tersenyum melihatnya, membuat Denis mendengus sebal. Akting macam apa ini. Disodorkannya tas dan jas yang ia bawa kepada Syla, lalu memilih naik ke kamarnya untuk membersihkan diri.
Setelah selesai makan malam, pasangan tanpa cinta itu masuk ke dalam kamar.
Denis mengatur sedemikian rupa supaya kejadian kemarin malam tidak terjadi lagi, ia tidak mau kecolongan. Dua guling sudah menjadi pembatas diantara mereka.
"Lihat, ada batasnya. Jangan sampai kamu melewati batas." Ucap Denis sengit.
Syla mengambil bantalnya, beranjak dari ranjang dan menuju sofa.
"Apa yang kau lakukan?"
"Lebih baik aku tidur di sini, daripada seranjang denganmu dan membuatmu tak nyaman."
"Apa kau bodoh, aku bisa saja kena damprat kalau Mami tahu aku membiarkanmu tidur di sofa kecil ini." Denis bersedekap, ada-ada saja ide gila gadis itu.
"Kembali ke ranjang, dan ingat batas itu!" tunjuk Denis ke arah guling di tengah ranjang, Syla mengangguk saja.
Pagi harinya, Denis bangun terlebih dahulu. Matanya membulat saat wajah Syla tepat berada dihadapannya, ia mendengus kesal. s**l ia dicurangi.
"Bangun!"
"Egghh, jam berapa?"
"Kau curang!"
"Curang?" Syla mencoba mencerna ucapan Denis.
"Kau melewati batas."
Syla bangun, mengamati batas yang Denis buat. Masih tetap utuh di tengah.
"Batasnya masih utuh." Syla mencoba membela diri.
"Alasanmu saja, kau mau mencari kesempatan kan?"
Denis menuduh Syla yang bukan-bukan, harusnya Syla yang marah karena dia perempuan. Mana mungkin melecehkan Denis.
"Terserah apa katamu." Ucap Syla akhirnya, ia beranjak dari tempat tidur.
Syla masuk ke dalam kamar mandi, membasuh mukanya lalu menuju ke dapur.
Denis mengacak rambutnya, ia merasa frustasi. Niatnya untuk menjaga jarak bisa saja tidak terlaksana jika terus-menerus terjadi drama seperti ini setiap pagi, yang Denis ingin bukan seperti ini. Ia tidak ingin ada interaksi dengan gadis itu.
"Haaaaah," Denis menghembuskan napas kasar.