Seminggu sudah umur pernikahan mereka, tidak ada perkembangan perasaan diantara keduanya. Terlebih Denis, ia sudah siap membangun tembok terkokoh agar tidak goyah.
Syla selalu tersipu saat berdekatan dengan Denis, tapi pria itu biasa-biasa saja seperti tidak terjadi sesuatu. Bahkan sebisa mungkin Denis menganggap Syla tidak ada, meskipun susah karena kebiasaan setiap pagi Syla masih saja dilakukan sampai hari ini. Memasangkan dasi untuk Denis. Tentu saja jika dihadapan Mami, jika tidak mereka seperti sepasang manusia yang tidak saling mengenal.
"Loh, kok bawa koper?" kata Mami.
"Mau ke Semarang, Mam. Mengurus pabrik yang beberapa waktu lalu kita beli." Ucap Denis yang sudah duduk, siap menyantap masakan yang sudah Mami siapkan untuknya.
Untuk sarapan memang kembali menjadi tugas Mami, karena Denis yang ngambek saat Syla yang menyiapkan. Dasar, badan saja yang besar. Tingkahnya bak anak-anak.
"Mendingan kamu urus kantor pusat saja Denis, cabang kan sudah ada yang mengurus." Kata Daddy yang juga berada di meja yang sama. Sementara Syla diam saja, ia tidak mau terlalu kepo.
"Cabang dan pusat sama-sama penting, Dad. Aku juga tidak akan lama, paling seminggu."
Alasan demi alasan Denis lontarkan untuk membuat orangtuanya tidak lagi menghalangi niatnya, jujur saja melihat cabang perusahaan hanyalah akal-akalannya saja untuk sekedar pergi ke Semarang.
"Jadi kamu akan meninggalkan istrimu sendiri di sini?" tanya Mami yang memang sudah bisa menerima status Syla.
"Dia kan tidak sendiri, ada Mami dan banyak orang juga di sini. Ku rasa dia tidak akan keberatan, iya kan Syla?" Denis melirik Syla yang duduk di sampingnya.
"Ah, iya. Aku sama sekali tidak keberatan, Mam."
Denis tersenyum manis, mudah sekali Syla diajak bekerjasama.
"Aku pamit, assalamualaikum." Ucap Denis undur diri.
Mami mengikutinya di belakang, mengantar sampai pintu depan.
"Mami tahu maksud dan tujuanmu ke Semarang,"
Langkah Denis terhenti, ia memutar tubuhnya.
"Mam," ucap Denis mendapati Mami berdiri tepat di belakangnya.
"Denis hanya ingin mengecek situasi di sana, Mam." Lanjutnya.
"Itu salah satunya, ada tujuan lain kan?"
Denis menghela napas, ia tidak bisa berbohong kepada wanita yang telah melahirkannya.
"Aku ingin bertemu Diva, Mam." Ucap Denis jujur akhirnya dengan tujuannya ke Semarang.
"Denis, apa tidak lebih baik kamu lepaskan ikatanmu dengan Diva? Mami tidak ingin salah satu dari mereka tersakiti."
Mami menatap Denis lekat, mencoba memberi pengertian bahwa perasaan wanita sangatlah rapuh.
Mami tahu rasanya jika pasangannya memiliki cinta lain, biar Mami saja yang pernah mengalaminya. Mami tidak akan membiarkan anak-anak Mami merasakan dan melakukan hal yang bagi Mami sangat pilu.
"Mami tahu ini sulit, tapi kamu sudah memilih Syla untuk jadi istrimu." Mami mengingatkan jika kini Denis tak lagi sendiri, ada Syla yang perasaannya harus dijaga.
"Tapi Mam.."
"Mami yakin kamu bisa memilih apa yang terbaik untukmu, ah iya hati-hati di jalan." Kata Mami akhirnya, Mami memeluk singkat putranya.
"Aku pamit ya Mam, assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Dengan berat Denis terpaksa berangkat, perasaannya mulai goyah. Tak seperti biasanya yang selalu semangat jika ke Semarang, mengunjungi Diva.
Denis menuju ke bandara, diantar oleh supir keluarga Pramudya.
****
Tak banyak yang dilakukan Denis selama di pesawat, hanya duduk merenung. Biasanya ia sangat antusias jika akan ke Semarang, tapi tidak untuk hari ini. Ia tengah dilema.
Maminya sudah bisa menerima Syla di keluarganya, berarti semakin kecil kemungkinan Diva bisa diterima dikelurganya seperti dulu. Yang artinya akan memperumit hubungan mereka berdua.
Berulangkali Denis menghela napas, mencoba menetralkan kekalutan pikirannya.
Setelah sampai di bandara, sesuai rencananya ia menemui Diva terlebih dulu di cafe sebelum ke pabrik.
Denis langsung menyeret Diva ke dalam ruangannya, meminta salah satu pekerja nya untuk menggantikan tugas Diva.
Seperti kesetanan Denis mencengkeram lengan Diva, meninggalkan bekas merah jari-jarinya.
"Sakit." Rintih Diva.
"Saat aku berusaha mempertahankanmu, kamu malah tebar pesona dengan pelanggan-pelanggan cafe! Apa kamu sudah lupa bahwa kamu adalah milikku!" Teriak Denis tepat di depan wajah Diva dengan nada tinggi.
Saat sampai di depan cafe tadi, Denis memang melihat Diva sedang tersenyum ramah kepada salah seorang pelanggan pria yang juga termasuk teman kuliah Diva. Mana mungkin pelayan cafe harus cemberut di depan pelanggan? Bukankah pelayanan terbaik yang menjadikan cafe ini tetap ramai?
"Maaf, aku tidak bermaksud." Lirih Diva sembari memegang pergelangan tangannya. Dirinya sendiri merasa heran kenapa tiba-tiba Denis semarah ini. Ingin rasanya Diva menangis, tapi sebisa mungkin ia tahan.
"Jangan lagi kamu cari perhatian pria lain, ingat kau masih punyaku. Aku kekasihmu." Ucap Denis lantang, matanya memerah karena emosi.
Di bantingnya paper bag yang ia bawa khusus untuk Diva, botol kecil dari paper bag itu pecah.
Diva menatapnya ngeri, entah setan apa yang merasuki Denis. Ia hanya berdiri terdiam di pojok ruangan, tak berani bergerak. Beberapa langkah darinya, Denis tengah berusaha menetralkan deru napasnya.
Denis mengusap wajahnya dengan kasar, menyesali perbuatannya barusan yang membuat Diva ketakutan.
"Maaf, maafkan aku. Aku hanya tidak ingin orang lain merebutmu dariku." Denis memeluk erat Diva, yang masih bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi. Diusapnya lembut punggung Denis, berharap bisa menenangkan perasaan Denis.
"Apa tanganmu masih sakit?" tanya Denis meneliti lengan Diva yang ia genggam.
"Sudah tidak lagi, aku tadi kaget melihatmu semarah itu." Diva cemberut jika mengingat kebrutalan Denis beberapa saat lalu.
"Maaf, aku terlalu cemburu." Ungkap Denis.
"Cemburu sih cemburu, tapi jangan kalap seperti itu." Diva memperingati Denis, kekasih yang merangkap jadi bosnya itu.
Denis merangkul pundak Diva yang kini duduk di sampingnya, di sofa ruang kerjanya.
"Apa tidak suka jika kamu aku cemburui?"
"Suka, tapi caranya yang salah."
"Ajari aku untuk cemburu dengan cara yang baik dan benar." Denis menarik turunkan alisnya, ia menatap Diva yang juga tengah menatapnya dengan tatapan geli.
"Baiklah, kita mulai belajar cara cemburu yang baik dan benar." Ucap Diva dengan mimik yang dibuat seserius mungkin. Denis terbahak dibuatnya.
"Hei, kenapa kau malah tertawa!" Kesal Diva.
"Wajahmu lucu."
Diva mencebik, kesal dengan kekasihnya.
"Tidak lucu!"
"Lucu!"
"Tidak!"
Keduanya saling pandang, pandangan mereka tertuju pada bibir pasangannya. Beberapa detik kemudian, bibir Denis telah melumat bibir Diva dengan lembut.
"Hahhhh, maaf." Ucap Denis dengan wajah merah. Diva tersipu malu, ia menyeka bibirnya yang basah. Aura canggung menguar diantara keduanya.
"Kamu... Terlihat tampan hari ini." Kata Diva yang sudah menguasai diri, ucapan itu meluncur saja dari mulutnya.
"Eh, berarti biasanya aku tidak tampan?"
"Tidak, tidak setampan hari ini." Diva merabai jas Denis.
Denis menyingkirkan tangan Diva pelan, saat Diva berlama-lama bermain di dasinya. Sekelebat bayangan Syla tengah memasangkan dasi hadir dalam benak Denis.
"Maaf, aku harus ke pabrik. Nanti aku ke sini lagi, oke?"
"Ah iya, aku kembali bekerja kalau begitu."
Diva beranjak terlebih dahulu, sebenarnya ia masih rindu tapi bagaimana lagi. Situasi dan kondisi tidak memungkinkan untuk mereka bermesraan, kekasihnya itu terlihat sangat sibuk.
Setelah Diva keluar dari ruangannya, Denis mengusap wajahnya kasar. Bisa-bisanya ia teringat Syla saat berdua dengan Diva, apa sebesar itu pengaruh Syla dalam hidupnya? Padahal baru seminggu mereka menikah.
Tak ingin berlarut-larut, Denis segera menuju pabriknya diantar oleh supir yang sejak tadi setia menunggunya di depan cafe.
Suasana pabrik riuh saat kedatangan Denis di pabrik, terutama kaum wanita yang memandang kagum kepadanya. Yang mana kedatangannya tepat saat istirahat makan siang, banyak yang berlalu-lalang dan sengaja menunggu Denis sesuai apa yang diinformasikan oleh customer servis bahwa hari ini bos besar mereka akan datang.
"Siang Pak." Ucap semua karyawan yang berpapasan dengan Denis, tak lupa menunduk hormat. Denis membalasnya dengan senyum ramah.
*****
Di tempat lain, Syla disibukkan dengan pekerjaannya. Ia mulai bekerja di kantor Arlanda setelah menikah, dan diberi jabatan sebagai manager pemasaran sesuai jurusan yang diambilnya waktu kuliah.
"Ada yang bisa ku bantu?" Kata Alvin, yang juga bekerja di kantor yang sama.
Arlanda lah yang menawari Alvin ikut bergabung di kantor ini, Alvin sempat menolak namun orangtuanya tidak mengizinkan Rama kembali ke Jogja seperti keinginannya.
"Boleh saja, asalkan kamu tidak kerepotan." Ucap Syla, matanya terfokus pada berkas dihadapannya.
"Tidak sama sekali,"
Keduanya tertawa bersama, seakan mengulang kebersamaan mereka saat di Jogja.
Jam istirahat berbunyi, semua karyawan berhamburan keluar untuk mengisi perut mereka yang terasa keroncongan meminta diisi. Tak terkecuali Alvin dan Syla.
"Makan siang di mana?" tanya Syla. Tugasnya jadi cepat selesai berkat bantuan Alvin.
"Kalau kamu?"
"Aku biasanya di kantin."
"Memang suamimu tidak pernah mengajakmu makan siang bersama?" tanya Alvin, mereka berjalan beriringan menuju kantin.
"Dia sedang ada urusan di Semarang." Kata Syla.
"Kamu diperlukan baik kan di sana? Tidak ada yang menyakitimu kan?"
Alvin berhenti sejenak, dipegangnya kedua bahu Syla. Memastikan tidak ada luka sekecil apapun yang dialami sepupunya.
Syla terkekeh geli, ia senang Alvin masih menghawatirkan keadaannya. Walaupun semua terasa berbeda saat Alvin menyatakan cinta.
"Aku baik-baik saja, aku bersyukur punya Mami dan Daddy. Mereka mertua yang baik." Puji Syla.
"Kau tidak takut tinggal bersama mertua? Aku sering dengar perlakuan tidak mengenakan jika tinggal bersama mertua."
Syla menggeleng mantap,.
"Aku rasa mereka bukan tipe seperti itu."
"Baru seminggu Syla, lihat saja nanti."
Alvin jika sudah berbicara, pasti akan mencerocos tidak berhenti. Sudah macam perempuan saja.
"Tidak kak, mereka orang baik."
"Lalu, bagaimana dengan suamimu?" Rama menatap lekat wajah Syla.
Syla segera membuang wajahnya, entah kenapa ia malas membahasnya.
"Aku sudah lapar, sampai kapan akan mewawancaraiku. Huuuuh!" kesal Syla, bibirnya mengerucut sebal.
Alvin tertawa, diacaknya rambut Syla. Keduanya melanjutkan perjalanan ke kantin yang sempat terhenti. Di kantin, mereka memilih menu yang berbeda. Tujuannya untuk saling bertukar makanan satu sama lain, seperti yang biasa mereka lakukan di Jogja dulu.