"Nanti sore, boleh aku mengantarmu pulang?" tanya Alvin saat makan siang bersama Syla.
Syla mengernyitkan dahinya "Untuk apa Kak?"
"Silaturahmi lah."
"Aku bisa diantar supir."
"Jangan banyak alasan Syla, atau apa yang kau katakan soal keluarga mertuamu semuanya bohong? Mereka tidak memperlakukanmu dengan baik?"
Syla memukul bahu Alvin yang duduk di sampingnya "Jangan berburuk sangka Kak.
"Makanya, izinkan aku mengantarmu. Supaya aku yakin kamu di sana baik-baik saja."
"Iya, iya. Baiklah."
Alvin mengusap puncak kepala Syla dengan lembut, bagaimanapun caranya Alvin akan selalu melindungi sepupu tersayangnya.
Sesuai apa yang dikatakan Alvin, ia mengantar Syla pulang ke rumah mertua gadis itu. Tidak hanya sampai di pintu gerbang, namun sampai ke dalam rumah.
Kedatangan mereka disambut Mami yang menggendong Adrian, Mami mempersilakan Alvin duduk.
"Sebentar ya, saya minta Mbak buatin minum." Kata Mami ramah.
"Tidak perlu repot Tante, saya cuma mengantar Syla saja."
"Terima kasih sudah mengantar Syla sampai rumah." Mami tersenyum ramah, tanpa disadari mendapat tatapan tajam dari seseorang yang berada di ambang pintu.
"Sama-sama Tante, saya permisi. Syla, aku pulang." Ucap Alvin pamit.
"Hati-hati di jalan Kak,"
Alvin mengangguk, lalu bergegas meninggalkan kediaman Pramudya. Alvin rasa semua yang dikatakan Syla tentang mertuanya benar, karena yang Alvin lihat wanita tadi adalah sosok yang penyayang.
"Permisi Om," Alvin mengangguk ketika berpapasan dengan Daddy yang sejak tadi masih berdiri di tempat yang sama, di ambang pintu.
"Alvin, kenapa buru-buru?" tanya Daddy. Keduanya sudah saling mengenal, beberapa kali Daddy ke kantor Arlanda bertemu dengan Alvin.
"Sudah sore Om,"
"Ya sudah, hati-hati di jalan." Kata Daddy yang dibalas anggukan oleh Alvin.
Setelah meminta Syla mandi dan beristirahat, Mami menyongsong ke datangan Daddy.
Daddy cuek saja, merasa sebal kepada Mami yang dianggap menebar pesona pada lelaki muda tadi.
"Kenapa sih?" tanya Mami heran melihat raut wajah Daddy.
"Nggak tahu, capek."
Dari nada bicara Daddy yang ketus, Mami tahu sedang ada yang tidak beres. Daddy berada dalam mode ngambek.
"Aku ada salah sama Mas?" ucap Mami semesra mungkin.
"Nggak tahu."
"Dih, sewot."
Mami beranjak dari duduknya, meninggalkan Daddy yang masih merasa dongkol.
Diberikannya Adrian kepada sang pengasuh, Mami membuatkan teh hangat untuk Daddy. Siapa tahu bisa mengubah suasana lelaki itu.
"Diminum dulu tehnya, biar lega." Kata Mami yang kembali duduk di samping Daddy.
"Panas-panas dikasih teh panas."
Kening Mami mengkerut, disentuhnya dahi Daddy. Tidak panas, lalu apanya?
Mami memekik ketika tiba-tiba Daddy meletakkan tangan Mami di d**a, detak jantungnya berdetak kencang.
"Ini yang panas."
"Kenapa?" tanya Mami bingung.
Dicubitnya hidung bangir mami oleh Daddy "Jangan tebar pesona lagi dengan pria lain, jangan berikan senyum manis kepada pria lain."
Mami terlongo dibuatnya, astaga ternyata hanya karena senyum tadi.
"Ish, sudah tua juga!" Mami memukul pelan d**a Daddy.
"Tua-tua aku masih perkasa," bisik Daddy, takut terdengar oleh yang lain.
"Genit!" Sengit Mami.
Daddy tergelak dibuatnya, diusia mereka yang sudah setengah abad justru membuat mereka semakin mesra. Tawa Daddy juga sering terdengar, bisa dibilang Daddy lebih bahagia diusianya yang hampir senja.
*****
Cukup tiga hari Denis di Semarang, tidak ada alasan lagi untuknya berlama-lama. Entah semua terasa berbeda. Disisi lain Diva juga sangat sibuk dengan pekerjaannya, membuat waktunya bersama Denis benar-benar tidak ada.
Denis kembali menyibukkan diri di kantornya, menangani proyek-proyek besar yang kembali mempercayai perusahaan mereka setelah hampir diambang kebangkrutan.
Dengan kesibukannya, menguntungkan Denis untuk semakin menjaga jarak dengan Syla. Mereka hanya bertemu saat berangkat kerja dan hendak tidur saja, sisanya keduanya sama-sama sibuk dengan urusan masing-masing. Denis tidak ingin mencampuri urusan Syla, begitupun sebaliknya.
Mereka hanya berpura-pura tampak mesra di depan Mami dan Daddy, setelah itu mereka akan kembali seperti tidak mengenal satu sama lain.
Itu semua Denis lakukan untuk pengalihan saja, ia tidak ingin hubungannya dengan Diva terusik. Biarlah Mami kira Denis sudah bisa menerima Syla, padahal kenyataannya tidak begitu.
Syla terduduk diatas closet, menatap nanar benda pipih yang sedang ia pegang. Sebuah tes kehamilan. Dua garis muncul dibenda itu, sebagai indikator bahwa Syla tengah mengandung. Matanya berkaca-kaca, setetes air mata jatuh membasahi pipinya.
Bukan karena ia meratapi kehamilan, bukan itu alasannya. Syla hanya sedih atas kehadiran bayi ini saat ia dan suaminya belum memiliki perasaan apapun, meskipun sudah tinggal bersama selama tiga bulan. Mungkin bagi Mami ini adalah kabar gembira, karena Mamilah yang membuat Denis bersedia membuahi rahim Syla. Itu pun hanya sekali.
Syla tidak tahu bagaimana nasib rumah tangganya kelak, karena Denis atau Syla sendiri tidak melakukan apapun untuk perkembangan hubungan mereka. Semuanya tetap sama, tanpa cinta diantara keduanya. Bahkan Syla masih ingat saat Denis menyebut nama wanita lain saat mereka menuju k*****s saat berhubungan badan saat itu. Hatinya begitu terasa sakit.
Dielusnya perutnya yang masih rata, Syla berbisik, mereka berdua akan selalu saling menguatkan dalam kondisi apapun. Syla memilih untuk tidak memberitahu tentang kehamilannya kepada siapapun.
"Syla, ayo sarapan nak." Kata Mami dari luar kamar Syla.
Hari ini Mami sendiri yang meminta Syla untuk sarapan, biasanya Syla turun bersama Denis namun pria itu pagi tadi sudah terbang ke Semarang. Mengurus pabrik di sana, alasannya.
"Iya Mam." Syla segera menghapus air matanya, mencuci muka supaya terlihat segar.
Syla membuka pintu, Mami tersenyum manis disana.
"Apa kamu menangis?" tanya Mami melihat mata Syla yang merah.
Syla menggeleng, ia mencari alasan yang tepat agar Mami tidak curiga. Mami percaya saja dengan alasan Syla, keduanya meninggalkan kamar.
Beruntung bagi Syla tidak mengalami morning sickness seperti kebanyakan ibu hamil lainnya, aman bagi Syla untuk menutupi kehamilannya untuk sementara waktu.
"Nambah lagi Syl?"
Mami sudah siap menambahkan secentong nasi ke atas piring Syla, dengan lembut Syla menolaknya. Ia tidak mau kalap saat makan, walaupun perutnya terasa belum kenyang. Syla tidak mau membuat Mami curiga.
Setelah sarapan, Syla berangkat ke kantor. Dijemput oleh supir dari keluarganya. Syla tersenyum miris, tidak ada yang perhatian kepadanya selain Mami. Mamanya sendiri sama sekali tidak pernah menanyakan kabar meskipun ia tidak pernah pulang ke rumah sejak menikah, juga selalu saja ada alasan dari Denis saat ia meminta mengunjungi Mamanya.
Syla terlanjur nyaman tinggal di rumah keluarga Pramudya, ia bisa merasakan kasih sayang yang tulus yang ia dapatkan dari Mami. Syla menyeka air matanya yang kembali menetes, entah kenapa perasaannya menjadi lebih sensitif.
"Bisa mampir ke minimarket sebentar Pak?" kata Syla kepada sang supir, Pak supir menurut saja.
****
"Hei, bawaanmu banyak sekali?" Alvin mempercepat langkahnya, mensejajari Syla yang berada tidak jauh dari hadapannya.
"Ah, ini buat anak-anak." Kata Syla.
"Hmm. Dalam rangka apa? Ku rasa ulang tahun mu masih beberapa bulan lagi."
"Hanya berbagi kebahagiaan sedikit." Ucap Syla datar.
"Oke, mau aku bantu bawa? Sepertinya berat?"
Syla mengangguk, memang tangannya cukup kebas membawa makanan untuk 15 orang di divisinya.
Mereka berdua berjalan beriringan, sesekali Alvin mengajak Syla mengobrol karena Syla terlihat murung pagi ini.
"Ini.. Untuk kalian semua." Kata Alvin mewakili Syla. Seluruh orang yang ada di ruangan itu tersenyum dengan wajah bahagia.
"Waah, terimakasih." Ucapan itu yang meluncur dari semua orang di ruangan tersebut, tak lupa doa baik yang dipanjatkan untuk Syla.
"Ada acara apa nih?" kata temannya penasaran.
"Iya, acara apa Bu Syla?"
Syla menjawabnya dengan senyuman ramah "Tidak ada acara spesial kok, hanya ingin membaginya bersama kalian."
"Sering-sering dong Bu," jawab lainnya, diiringi gelak tawa semua yang ada di divisi pemasaran.
Bel dimulainya jam kerja berbunyi, semua karyawan di divisi itu menempati meja kerja masing-masing. Kecuali Syla yang masih berdiskusi dengan Alvin. Syla menimbang-nimbang apakah akan mengatakannya kepada Alvin.
"Kak.."
Seketika Alvin terdiam.
"Apa?"
"Pulang nanti, bisa antar aku ke dokter?"
Alvin mengernyit, setahunya Syla baik-baik saja tidak ada tanda-tanda sakit.
"Kamu gak enak badan? Lebih baik aku antar pulang sekarang."
Gelengan kepala Syla menambah Alvin tak mengerti.
"Aku, hamil Kak." Bisik Syla agar tidak terdengar oleh orang lain.
Mata Alvin membulat "Apa! Berarti kamu.."
Dibekapnya bibir Alvin, sebelum yang lain menatap ke arah mereka. Syla menarik Alvin ke sudut ruangan.
"Aku belum tahu pasti berapa usia kandunganku Kak, aku baru tahu tadi pagi. Aku mohon jangan beritahu Mama dulu ya? Biar nanti aku saja yang mengatakan." Ucap Syla penuh harap.
"Oke kalau mau mu begitu, sepulang kerja aku antar kamu ke dokter." Syla mengangguk antusias, syukurlah ada Alvin di sampingnya.
Alvin tersenyum miris, entah apa yang Syla rasakan saat ini. Ia berharap bisa selalu berada di samping Syla.
****
"Berapa Minggu?" tanya Alvin tidak sabaran, Syla baru saja keluar dari ruangan dokter kandungan.
"Empat Minggu, Kak."
"Aku gak sabar, hmm.. Aku dipanggil siapa ya nanti? Paman? Om? Uncle?" Binar bahagia terpancar jelas di wajah Alvin.
"Gimana kalau Pak Dhe?"
Alvin merengut kesal, Pak Dhe katanya. Disilsilah keluarganya tidak ada keturunan Jawa.
"Janganlah, aku masih muda. Jangan Pak Dhe, yang kerenan dikit."
"Terserah Kakak saja."
Kertas foto USG sejak tadi berada tangan Syla, tidak hentinya ia menatap kertas berbentuk persegi itu. Terlihat kantung kecil di sana, yang Syla yakini itulah calon anaknya. Diusap perutnya yang masih rata.
"Aku gak nyangka loh, secepat ini kamu bakal punya anak." Kata Alvin membuka obrolan, karena mereka sejak tadi hanya diam.
"Namanya rezeki gak ada yang tahun kan Kak?"
"Iya juga sih,"
Alvin mengitari badan mobil bagian depan, membukakan pintu untuk Syla saat mereka sampai di depan pintu gerbang rumah. Alvin tidak ikut masuk, seperti saat pertama kali ke rumah ini. Cukup mengantar sampai depan saja.Dicubitnya dengan gemas hidung Syla, diusap dengan lembut puncak kepala sepupunya.
"Kalian sehat-sehat yaa, kalau ada sesuatu bilang sama aku. Jangan sungkan." Kata Alvin sungguh-sungguh, ia ingin selalu ada untuk Syla.
"Makasih ya Kak," Syla bergelendot manja di lengan Alvin.
"Aku pulang, assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam,"