07. Bertemu Cal

1159 Kata
    Baru saja Katniss dalam perjalanan ingin kembali ke kamar, sepasang matanya menangkap seekor kuda yang berada di belakang Istana Regalis. Bulu-bulu kuda itu berwarna putih bersih. Katniss segera berjalan mendekati hewan tersebut, hendak menyentuhnya untuk merasakan halusnya bulu-bulu cantik itu.     "Jangan sentuh dia," peringat seseorang yang berdiri di balik kuda itu.     Katniss berjengit, terkejut atas keberadaan seseorang yang tidak disadarinya. Gadis itu semakin terkejut kala mengetahui bahwa putra mahkota kedua-lah yang menjadi lawan bicaranya. Katniss membungkuk sebagai bentuk formalitas.     Cal menatap Katniss datar. Lalu pemuda itu mulai berjalan dengan lemas dan susah payah, berusaha untuk tidak terlihat kesakitan dengan luka besar yang ada di perutnya. Katniss mendeteksi perilaku aneh dari Cal. Ia menurunkan pandangannya ke arah perut yang sedang dipegang erat oleh Cal, seolah-olah pemuda itu sedang menahan sesuatu.     "Pangeran, maaf atas kelancangannya. Tetapi, apakah ada sesuatu yang sal--"     "Kau pikir kau sedang berbicara dengan siapa?"     Katniss mengerjapkan sepasang matanya kala mendengar jawaban angkuh dari pemuda di hadapannya. Ia sama sekali tidak menduga akan direspon seperti itu oleh Cal. Lain hal dengan Katniss, Cal tidak menunjukkan rasa bersalahnya sama sekali. Pemuda itu melengos pergi dengan pendarahan yang semakin deras pada bagian perutnya. Darah kian bersimbah pada pakaian yang ia kenakan.     Pemuda itu berusaha untuk pergi terburu-buru ke dalam Istana Regalis melalui pintu belakang. Tetapi saat ia mencapai ambang pintu, Cal tidak dapat lagi menopang pada lantai. Katniss berlari mendekatinya dan tanpa sengaja melihat warna kemerahan basah yang bersimbah di permukaan jubah pemuda tersebut.     Darah.     Katniss tampak bimbang untuk sementara waktu. Dengan penuh keraguan, Katniss menyentuh tubuh Cal dan menyandarkan pemuda itu pada dinding yang ada di dalam istana. Gadis itu mengedarkan pandangannya ke segala arah untuk mencari dayang-dayang atau siapapun yang dapat membantunya membopong Cal.     Tetapi yang ia temukan hanya kekosongan.     Katniss semakin kalang kabut. Kepanikan menderanya. Ia berlutut di samping tubuh Cal dan menyentuh perut pemuda itu hingga telapak tangannya berwarna kemerahan. "Pange--"     "Pergi," titah Cal.     "Tapi, lukamu ... kau harus--"     "Kubilang pergi," nadanya terdengar lebih keras, ia merintih, "bajingan."     Katniss menggeleng. "Jangan sok kuat," geramnya. Ia hampir saja kehilangan kesabaran serta akal sehat hanya untuk menghadapi pangeran berkepala batu di dekatnya.     Cal mendelik di tengah penderitaannya, tampak tersinggung atas ucapan Katniss tadi. "Kau bilang apa?" tanyanya, intimidasi.     Katniss mendengus. "Dengar aku, Yang Mulia Pangeran Calore Orion Hector. Lukamu ini akan semakin membesar apabila kau tidak mau mengalahkan egomu," kini dia terdengar seperti seorang ibu yang sedang menasihati putranya, "kau tetap di sini dan aku akan mencari seseorang untuk me--"     "Antar aku ke sana."     Entah untuk berapa kalinya Cal memotong perkataan Katniss. Gadis itu mengikuti arah yang diacungkan oleh pemuda itu. Tidak terlalu jauh dari posisi mereka berada, terdapat sebuah pintu kayu yang terasingkan. Hanya itu satu-satunya ruangan yang terletak di dekat pintu belakang istana.     Cal mulai berusaha untuk berdiri kembali. Putra mahkota itu menepis uluran tangan Katniss kasar saat gadis itu sedang mencoba untuk membantunya berdiri. "Aku bisa sendiri," ketusnya.     Katniss menghela napas dan memilih untuk angkat tangan--tidak ingin mencari ribut dengan pangeran berkepala batu tersebut. Ia mengikuti, sekaligus menjaga Cal dari belakang saat pemuda itu mulai berjalan, takut-takut ia akan terjatuh. Langkah Cal tertatih-tatih, tubuhnya membungkuk ke depan untuk menghambat rasa sakit pada lukanya. Katniss meringis pelaan saat membayangkan rasa sakit yang sedang diderita pemuda itu.     Jika ia berada di posisi Cal, mungkin Katniss sudah pingsan saat itu juga.     Tibalah mereka di dalam ruangan yang terasingkan itu. Bayangan tentang seramnya benda-benda arkais yang ada di sana tergantikan dengan decakan kagum dari Katniss. Di balik rak buku raksasa yang berada di depan mereka, terdapat sebuah kasur bangsawan. Berbagai macam lukisan beraliran ekspresionisme, surealisme, impresionisme, dan lain-lain menggantung pada dinding berwarna cokelat.     Ringisan dari Cal menyadarkan gadis itu dari rasa kagum. Lantas ia langsung membantu pemuda itu untuk berbaring di atas kasur dengan susah payah. Sepasang mata Cal memejam saat kepalanya telah bersandar pada bantal, tetapi kondisi pemuda itu masih sadar sepenuhnya.     "Apa yang perlu kulakukan untuk menyembuhkan lukamu?" tanya Katniss.     "Diam," Cal menjawab dengan nada perintah, "luka ini akan segera sembuh jika kau tutup mulut dan membiarkanku beristirahat dengan tenang."     Katniss terdiam. Dengan sedikit keraguan, gadis itu duduk di tepi kasur dan mengamati wajah si putra mahkota kedua. Tanpa sadar, tangannya mulai terulur untuk menghapus peluh yang ada pada dahi Cal. Saat jarak tangannya dengan dahi Cal hanya berkisar lima senti, tiba-tiba mata pemuda itu membuka kembali.     Cal memandang apatis tangan Katniss yang sedang ditarik menjauh oleh sang empunya. Gadis itu tampak salah tingkah. Ia segera berdiri dan membungkuk di hadapan Cal. "Aku akan pergi. Maaf jika aku mengganggu waktumu, pangeran. Selamat beristirahat," tutur gadis itu, cepat.     Katniss berlari mendekati pintu ruangan untuk keluar dari sana. Cal memejamkan sepasang matanya kembali setelah gadis itu berada di ambang pintu. "Terima kasih," bisiknya, berusaha untuk melawan ego yang selalu mengendalikannya.     Katniss mendengar, tetapi tidak begitu tahu apa yang dibisikkan oleh pemilik darah biru tersebut. Gadis itu mengintip dari balik kaca tembus pandang pada rak buku untuk melihat Cal sekali lagi, menemukan pemuda itu telah tidur di dalam sana dengan napas teratur.     Tidak ingin tidur Cal terusik karenanya, Katniss keluar dari ruangan tersebut dan menutup pintu dengan pelan. Ia memutuskan kembali ke dalam kamarnya untuk mengistirahatkan diri setelah melalui berbagai macam hal pada hari ini.     Katniss sempat berpapasan dengan Clinton--yang terlihat sedang mencari seseorang. Arah pandang pemuda kecil itu turun pada kedua tangan Katniss yang belum sempat ia bersihkan. Noda darah milik Cal masih menempel di tangannya, lengket dan menimbulkan bau karat yang tidak mengenakkan--menguar sampai ke hidungnya.     "Lady Katniss, sungguh suatu kehormatan untuk bertemu denganmu kembali," Clinton tersenyum, "dan tampaknya tanganmu sedang terluka. Ada apa?"     Katniss menarik tangannya dan menyembunyikannya di balik punggung. "Tanganku tidak apa-apa," balasnya, gugup.     Clinton mengernyit ragu. "Baiklah ... omong-omong, apa kau melihat Cal?" tanyanya.     Tubuh Katniss mematung. Hal ini menimbulkan kecurigaan dari Clinton saat Katniss berperilaku aneh. "Apa darah yang berada di kedua tanganmu berkaitan dengan Cal?" tanyanya, lagi.     Skakmat.     Tidak ada waktu bagi Katniss untuk merangkai kalimat kebohongan. "T-Tapi, aku tidak membunuhnya! Aku bersumpah!"     Clinton terkesiap selama beberapa saat. Ia tergelak, "Kau lucu sekali, Lady. Dari sekian banyak jawaban yang dapat kaulontarkan, kau malah menyangka bahwa aku akan menuduhmu seperti itu."     Katniss menunduk malu. Harga dirinya jatuh di hadapan Clinton hanya karena jawaban bodoh tadi. Clinton berhenti tergelak dan mulai bertanya, "Di mana Cal sekarang?"     Gadis itu bergeming, kembali mengingat ekspresi Cal tempo lalu yang seolah-olah mengatakan untuk tidak memberitahu siapapun atas luka yang dideritanya. Clinton masih sabar untuk menanti jawaban dari Katniss. Pemuda kecil itu melanjutkan, "Tenang saja. Aku tahu banyak hal tentangnya. Ia adalah kawanku dan aku piawai di dalam bidang penyembuhan."     Katniss merasa jauh lebih tenang meskipun ia belum mempercayai Clinton sepenuhnya. Akhirnya ia menunjuk ke arah belakang--tepat di mana pintu itu berada dan membalas, "Dia ada di dalam ruangan yang terletak di dekat pintu belakang istana. Di sana."     "Ruang penghukuman, eh?" Clinton tertawa pelan--entah atas dasar apa, "baiklah. Terima kasih, Lady Katniss. Sebaiknya kau segera bersihkan tanganmu sebelum orang lain melihatnya dan menginterogasimu dengan berbagai macam pertanyaan aneh."     Katniss menganggukan kepalanya, "Baiklah. Sampai jumpa, Clinton."     Masih dengan senyuman, Clinton melambaikan tangannya sebelum ia melewati Katniss dan masuk ke dalam ruangan yang dimaksud Katniss tadi.     Setelah beberapa kali tertunda, akhirnya Katniss tiba di dalam kamarnya dan mulai membersihkan diri--lalu yang paling utama adalah segera mengistirahatkan dirinya.[]
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN