Usai pembubaran acara pemilihan pertama, para putri mulai diperkenankan untuk mengelilingi Istana Regalis dan wilayah-wilayah di sekitar Planeta Nobella.
Acacia yang sudah kelelahan memilih untuk mengistirahatkan diri dan tidur. Sementara itu, Katniss menggantikan gaunnya menjadi pakaian yang lebih normal untuk bersiap-siap mengelilingi Istana Regalis. Hanya dengan pakaian seadanya--kaos abu-abu dan celana panjang, ia keluar dengan tangan kosong, tidak berniat untuk membawa apapun. Toh, ia akan berkeliling sebentar saja.
Katniss sempat berpapasan dengan putri lain. Beberapa di antaranya--khususnya para gadis yang tereliminasi, memandang sinis sekaligus iri. Tatapan tak biasa itu membuatnya risau dan lebih memilih untuk mencari tempat yang lebih hening dan sepi.
Dia terus berjalan lurus tanpa arah sampai menemukan tempat yang kelihatannya cocok untuknya, yakni pekarangan yang ia lihat pertama kali semenjak dirinya tiba di Istana Regalis. Selama dirinya mengenakan celana panjang--walaupun tetap tidak menghilangkan keanggunannya, sulur-sulur tanaman yang ada di dalam pekarangan istana bukanlah suatu penghalang besar untuknya.
Katniss masuk ke dalam pekarangan lebih jauh lagi. Jaraknya semakin dekat dengan sekumpulan pepohonan lebat yang terlihat di depan matanya. Kakinya segera bergerak maju kala melihat dua orang sedang duduk bersampingan di salah satu bangku pekarangan yang berada di bawah sebuah pohon oak.
Seorang bocah yang sekiranya berusia enam tahun dan seorang gadis sepantar Katniss.
Katniss tahu gadis itu. Ia pernah melihatnya sekali saat mereka pertama kali berkumpul di aula dengan yang lain. Katniss hapal betul nama dan planet asalnya. Mauralettha Alinskie dari Pluto, planet yang terasingkan. Oleh karena itulah, mayoritas penduduk di sana memiliki wujud kelam dan tak tersentuh. Dan pucat.
Sayangnya ia tereliminasi pada sesi pertama akibat sikap apatisnya.
Bocah itu mendongak dan menatap kedatangan Katniss, Lettha ikut menatapnya. Katniss berhenti melangkah setelah menangkap tatapan tak bersahabat dari Lettha. "Maaf jika aku mengganggu kalian," ujarnya. Dia hendak berbalik untuk bergerak menjauh dari kedua sosok itu.
Lettha hanya bergeming, sementara bocah di sampingnya mengangkat salah satu tangannya. "Bukan masalah. Kau bisa duduk di sini, Lady."
Cara dia berbicara benar-benar seperti bocah dengan usia di atas enam tahun. Terlebih caranya mengucapkan kata Lady yang tentu ditujukan kepadanya. Katniss melirik Lettha sekali lagi dan mengangguk, turut bergabung di antara mereka walau dalam posisi berdiri.
"Jika aku tidak salah ingat, namamu Lady Katniss Groover." Itu adalah pernyataan, bukan pertanyaan.
"Benar. Tanpa Lady. Kau bisa memanggilku Katniss. Kau sendiri, siapa namamu?" tanya Katniss, melemparkan senyuman lembut layaknya seorang ibu tersenyum pada anaknya.
"Oh, ya. Di mana letak kesopananku?" Bocah itu mengerjap sesaat, "Namaku Clinton Trent. Kau bisa memanggilku apapun yang kaumau. Dan ada satu hal yang perlu kau tahu." Clinton mengacungkan jari telunjuknya dan menggerakkan beberapa kali, "usiaku sepantar dengan usia Pangeran Calore."
Katniss tercengang. Dengan segera ia membungkam bibirnya dengan tangan. "Ah. Mohon maaf yang sebesar-besarnya," ucapnya, dengan nada bersalah sekaligus iba.
"Bukan masalah besar," Clinton melebarkan senyumannya, "jadi, tebakanmu berapa?"
Gadis itu mengerjap, "Maksudmu?"
"Tebakanmu tentang usiaku dalam bentuk kau-tahu-maksudku," balasnya.
"Enam."
Katniss bergerak risau, takut Clinton akan tersinggung. Tapi tampaknya Clinton tidak tersinggung sama sekali, alih-alih ia tergelak dan mengalihkan perhatian ke arah Lettha yang ada di sampingnya. "Lettha menebak sepuluh," kekehnya. "Sebegitu kecilnya, ya."
Merasakan namanya disebut, Lettha balas menatap Clinton dengan ekspresi datar. Respon dari Clinton membuat rasa bersalah Katniss kian bertambah. "Maaf jika tebakanku membuatmu tersinggung." Katniss membungkuk kecil sebagai sebuah formalitas untuk meminta maaf.
"Sudah kukatakan padamu, itu bukan masalah besar. Jangan sekaku itu padaku. Derajatmu lebih tinggi di sini," balas Clinton, santai dan masih penuh senyuman.
"Tapi--"
"--Aku harus pergi," sela Lettha.
Gadis pluto itu lantas beringsut bangkit dan pergi menjauhi Clinton dan Katniss. Katniss mendesah dan segera duduk di samping Clinton, tempat di mana gladis pluto itu sempat duduk di sana. "Aku benar-benar mengganggu kalian, ya?" tanyanya.
"Ah, tidak. Dia memang tertutup dengan orang baru. Nanti kau juga akan tahu banyak hal jika ia sudah nyaman denganmu."
"Kelihatannya kau tahu banyak tentang Mauralettha Alinskie."
"Tidak juga. Kami baru saja bertemu kemarin," bocah--pemuda kecil itu, kali ini tersenyum penuh arti, "efek dari pesona hebatku sejak dulu."
Katniss hampir menepuk dahinya jika tidak ingat diri. "Yang benar saja," kekehnya.
*
Val merebahkan dirinya di atas kasur tanpa melepaskan pakaian kebesarannya. Pemuda itu terlalu lelah dengan acara pemilihan ratu hari ini. Baru sesi pertama dan masih ada tiga sesi lainnya yang sedang menanti pada tiga hari kedepan. Sampai detik ini, ia belum juga menemukan seorang gadis yang berhasil menarik perhatiannya. Jikapun ada, itu hanya bersifat sementara.
Sebagai calon raja baru, ia harus mendapatkan seorang ratu untuk membantunya mengurus Planeta Nobella dan memberikan keturunan baru untuk menjadi penerus planet anyar sekaligus pengganti sang raja selanjutnya.
Jujur, ia tidak pernah bermimpi untuk menjadi seorang raja di sini.
Jika Val bisa memindahkan takhta, tanpa berpikir panjang ia langsung memberikan takhta tersebut kepada adiknya. Calon raja itu tahu adiknya sangat menginginkan sebuah jabatan. Pola berpikir mereka sangat berlawanan, bertolak belakang. Cal ingin menjadi pusat perhatian, sementara Val hanya menginginkan ketenangan dan kebebasan.
Menjadi seorang raja tidak akan membuatnya bebas--dalam arti lain, ia harus melalui masa-masa pengekangan dan penuh aturan tanpa batas. Namun ayahnya menitahkannya untuk menjadi sang penerus pemimpin Planeta Nobella. Tidak seperti sang adik, Val bukan tipikal pemuda yang suka membangkang. Val jauh lebih suka menuruti perkataan orang-orang yang sangat berpengaruh untuknya dibandingkan mengelak layaknya sang adik. Oleh karena itu, dia hanya diam saja saat dirinya ditunjuk oleh ayahnya untuk menjadi raja.
Ketukan pintu terdengar. Val mengubah posisi rebahnya menjadi duduk, lalu mempersilakan sosok di balik pintu masuk ke dalam kamarnya. Val terkesiap sesaat kala melihat seorang wanita paruh baya mulai berjalan menghampirinya. Suster Martha. Seulas senyum terukir di bibir pemuda itu.
"Tumben sekali kau kemari, Suster Martha. Selamat siang. Ada apa?" tanya Val.
"Selamat siang. Hanya mengunjungimu. Kulihat kau tidak bahagia hari ini, Yang Mulia Pangeran Valore," kekeh Suster Martha.
"Berhenti memanggilku itu," Val tertawa pelan, "aku memang tidak akan pernah bahagia jika ini semua berlangsung karena paksaan dari ayah."
"Ayahmu--Raja Hector I, melakukan ini semua demi rakyat-rakyatnya yang ada di dalam planet ini, sayang." Suster Martha duduk di atas kasur bersama Val, mengusap kepala pemuda itu dengan lembut layaknya seorang ibu kandung. Ia melanjutkan, "Kaulah yang terpilih untuk mengurus planet ini."
"Seharusnya Cal--maksudku dia sangat menginginkan jabatan itu. Dengan ambisinya, itu tidak menutup kemungkinan bahwa ia akan jauh lebih bisa membuat planet ini lebih maju. Tidak denganku. Aku adalah seorang calon raja tanpa ambisi sama sekali," desah Val, berat.
Suster Martha memandangnya sendu. "Cal ... anak itu memang sangat menginginkan jabatan itu. Tetapi dia menginginkannya bukan untuk dipandang oleh semua orang."
"Lantas?"
"Ia selalu iri denganmu. Kau punya segalanya. Kau memiliki seorang ibu yang menyayangimu lebih dari apapun, Val."
Val tersenyum kecut, "Aku tahu. Ratu Cassiopeia tidak pernah memberikan kasih sayang kepadanya."
"Tepat sekali." Suster Martha menelengkan wajahnya, "Oleh karena itu, Cal menaruh iri padamu."
Val melengkungkan sudut bibirnya ke atas membentuk seulas senyuman sedih. "Kita tidak ada puasnya. Di saat ia menginginkan posisiku, sebaliknya aku malah menginginkan posisinya."
"Alam semesta tidak akan pernah puas selama seluruh dunia masih terus berputar, seperti luasnya sebuah cakrawala tanpa batas."
Pemuda itu terdiam setelah Suster Martha berkata demikian. Wanita paruh baya itu mulai beringsut bangkit dari atas kasur dan berlutut di depan Val, memegang kedua tangan calon raja itu dan mengusapnya secara perlahan. "Beristirahatlah, aku yakin kau sangat lelah hari ini. Kuharap kau segera menerima takdirmu telak, sayang."
Val memandang kepergian Suster Martha lekat-lekat sebelum pemuda itu masuk ke dalam kamar mandi dan mulai membersihkan dirinya, selepas itu segera mengistirahatkan dirinya dari seluruh beban pikirannya.
Di lain tempat--tepatnya di sebuah lahan kosong seluas ribuan hektar, suara derap langkah kaki seekor kuda terdengar berirama saat permukaan keempat kakinya bergesekan dengan tanah basah. Cal menarik tali yang terikat pada kuda tersebut dengan kuat untuk mempercepat laju kuda yang sedang ia kemudikan.
Sepasang matanya menatap nyalang ke arah kejauhan yang ada di depan sana. Samar-samar beberapa orang mulai muncul dari balik sekumpulan pepohonan dengan kuda-kuda lainnya. Jarak Cal dengan jarak mereka relatif jauh, namun dalam sekali pandang, Cal mengetahui mereka. Cara mereka memegang berbagai macam s*****a tajam meyakinkan Cal akan kembalinya mereka di peradaban.
Bukannya berbalik menjauh, pemuda itu malah semakin mempercepat laju kuda tersebut, menuntunnya untuk semakin mendekat. Saat jarak antara Cal dengan sekumpulan pemberontak itu hanya berbeda satu kilometer, Cal segera menghentikan kudanya. Ia menepuk tubuh kuda putihnya dan segera turun dari atas sana dengan mudah.
Busur panah yang tersampir di balik jubahnya segera ia keluarkan. Sambil mengacungkan busur panahnya, Cal mulai berjalan mendekat. Sekumpulan orang itu menggeram dan ikut berjalan mendekat dengan gaya berkuda-kuda. Pemuda itu seberusaha mungkin untuk tetap mengendalikan emosinya dengan tidak langsung menembakkan anak panah secara membabi-buta. Tetapi ketika salah satu di antara mereka meluncurkan satu anak panah ke arahnya, Cal segera berkelit.
Pipi kirinya tergores akibat ujung anak panah yang kini telah menancap pada tanah. Cal berdecih dan mulai menarik anak panahnya, bersiap untuk menyerang mereka semua. Jumlah sekumpulan pemberontak dengan dirinya sendiri tentu tidak seimbang, rasio perbandingannya hanya sepuluh banding satu. Menang atau kalahnya sang putra mahkota kedua, itu tidak akan berdampak besar untuknya.
Tapi itu akan berdampak besar untuk sang calon raja.
Cal tidak akan membiarkan para pemberontak itu menculik dan menganiaya Val sebelum mereka semua berhasil melangkahkan mayatnya. Setelah lima tahun lamanya mereka tidak terlihat lagi akibat keberhasilan Cal dalam membunuh sang pemimpin pemberontakan, kini mereka kembali dengan seorang pemimpin yang baru tanpa memiliki efek jera sedikitpun.
"Calore Orion Hector," panggil seorang wanita yang kelihatannya adalah pemimpin pemberontakan yang baru. Dingin dan tanpa penghormatan ataupun embel-embel pangeran pada kalimatnya. "Kau terkepung. Menyerah dan tunduklah padaku atau kau--"
"--tunduk pada seorang wanita hina sepertimu? Cih. Tidak, terima kasih." Cal bisa merasakan emosinya yang mulai menggebu-gebu.
Dilihat dari rona merah pada wajahnya karena menahan malu dan marah, wanita itu tampaknya sangat tersinggung atas perkataan Cal tadi. "Apa kau baru saja menghinaku, Calore? Oh, baiklah. Mungkin saat ini kami belum akan mengibarkan bendera perang. Tapi kau harus ingat satu hal. Kau, kakakmu, dan keluargamu akan terlibat dalam pertumpahan darah di antara kami. Dan kejayaan itu akan berakhir di tangan kami," ucapnya, kesal dan bercampur geraman.
"Bermimpilah setinggi-tingginya, orang hina. Kelompok hina seperti kalian semua tidak akan pernah berhasil. Sekarang pergilah sebelum kau kubunuh seperti pemimpin bodoh kalian sebelumnya," respon Cal, terdengar santai dan tidak merasa terancam sedikitpun.
Ketika Cal hendak berbalik untuk kembali pada kudanya, salah satu pemberontak melesatkan sebuah anak panah ke arah bagian perutnya. Cal segera mencabut anak panah tersebut dan memegang perutnya erat-erat sambil meringis kesakitan hingga tubuhnya meringkuk di atas tanah. Pemuda itu menatap kepergian para pemberontak tersebut dengan sarat akan kebencian dan kemurkaan.
Pakaiannya--khususnya pada bagian perut, kini telah bersimbah darah. Cal merebahkan dirinya di atas tanah sambil menahan kesakitan. Kedua tangannya mencengkram rumput-rumput kecil yang ada di sekitarnya, disertai dengan rahangnya yang mulai mengeras.
Bagaimana cara pemuda itu menyamarkan lukanya sementara pakaian dan jubah yang ia kenakan kini sepenuhnya telah bercampur dengan noda darah?[]