Masih dengan perpaduan antara alunan biola dengan piano yang sama, acara yang berlangsung dengan meriah dan penuh suka cita ini berlangsung dengan baik. Para calon bakal diberikan sebuah kesempatan untuk berinteraksi dengan sang putra mahkota pertama.
Senyum manis dan ramah tamahnya tidak sekalipun lepas dari rahang kukuhnya selama Val berinteraksi dengan para putri yang salah satu di antaranya akan menjadi pendamping hidupnya.
Katniss dan Acacia memilih untuk menepi, menunggu giliran mereka untuk berinteraksi dengan Val.
Duduk di atas kursi besarnya, Cal mengedarkan pandangan ke sekeliling aula, tidak menunjukkan kesan tertarik sama sekali terhadap acara pemilihan saat ini. Seorang dayang cantik nan jelita datang dan menyuguhkan segelas anggur di atas meja kepada sang putra mahkota kedua. Dengan kerlingan yang penuh dengan godaan, sang dayang pamit undur diri.
"Calore, putraku, kau tidak mencoba untuk berinteraksi dengan para putri, nak?" tanya Raja Hector I, muncul dari balik keramaian dengan segelas anggur di tangannya.
Cal tidak merespon, bahkan tidak memandang wajah sang raja sekalipun. Raja Hector I hanya tersenyum kecil melihat sikap putranya. Beliau duduk di samping Cal, menepuk bahu pemuda itu beberapa kali dan menatapnya teduh, sebagaimana cara seorang ayah menatap anaknya. "Dad tidak keberatan jika kau memiliki ketertarikan pada salah satu calon bakal yang ada di sini," lanjut sang raja.
"Aku tidak menginginkan pendamping," ketus Cal, seadanya. Sepasang matanya masih belum bergerak untuk ke arah sang raja sekalipun.
"Jadi, apa yang kauinginkan, putraku?"
Cal menegang. Ia membatin, kekuasaan dan keadilan.
"Aku tidak menginginkan apapun," balasnya, berlawanan dengan isi hatinya.
Senyum Raja Hector I masih belum larut, tetapi kali ini berganti senyum kecut. "Putraku, jikalau kau menginginkan sesuatu, utarakan saja. Dad menyayangimu sebagaimana Dad menyayangi kakakmu. Tidak ada perbedaan di antara kalian berdua."
Kepalan tangan Cal mencengkram erat pada persinggahannya selepas sang raja bangkit dan menghampiri Ratu Alzetta. Rahangnya mengeras, "Kau tidak akan mengerti."
Baginya, kalimat yang diutarakan sang raja tadi hanyalah sebuah omong kosong. Tidak akan ada yang benar-benar menyayanginya.
Selama masih ada Valore yang berkeliaran di sekitar mereka.
*
Acacia tidak dapat mengerjapkan sepasang matanya saat dirinya dan Katniss mendapatkan giliran mereka untuk berinteraksi dengan sang putra mahkota pertama. Dengan wibawa, Val menanyakan beberapa hal tentang kehidupan mereka selama berada di Bumi dan meminta mereka menceritakan bagaimana Bumi itu sendiri.
"Bisakah aku tahu apa impian kalian selama ada di Bumi?" tanya Val.
"Impian kami?" Katniss dan Acacia bertanya secara bersamaan. Mereka saling berpandangan sekilas, lalu kembali memperhatikan wajah tampan Val yang tidak memiliki kecacatan sedikitpun.
"Sejujurnya kami belum berpikiran sampai sejauh itu," ucap Katniss, sekaligus mewakili jawaban Acacia di sampingnya.
Val mengangguk paham, "Baiklah. Senang bertemu dengan kalian, Lady Katniss Groover dan Lady Acacia Marshall."
Kalimat itu ia lontarkan dengan hati-hati. Secara tidak langsung, Val menolak untuk berinteraksi lebih lanjut dengan mereka karena masih banyak para calon bakal yang belum mendapatkan kesempatan terbesarnya. Katniss dan Acacia mengundurkan diri dengan santun, dengan dua perasaan yang berbeda. Katniss bernapas lega, namun tidak dengan Acacia yang menginginkan lebih.
Bibir kecutnya ia majukan. "Kenapa durasi berbicara dengannya tidak mencapai sepuluh menit? Menyebalkan!" keluhnya.
Katniss tergelak. "Biarkan saja. Toh, aku sedikit pesimis Pangeran Val tidak akan memilih salah satu di antara kita," balasnya.
"Tapi--"
Acacia menghentikan perkataannya di saat gadis itu melirik ke arah Cal yang mulai berdiri dari tempat duduk persinggahannya. Acacia tidak dapat menahan ekspresi menggebu-gebunya. "--jika aku tidak mendapatkan Valore, maka Calore pun akan kutaklukan."
Katniss hampir tercengang untuk kesekian kalinya melihat teman satu sepenanggungannya itu dapat bertingkah aneh, padahal jelas-jelas Acacia yang sebelumnya adalah Acacia yang anggun. Tetapi, ia tahu kali ini Acacia sedang menunjukkan dirinya yang sebenarnya. Jadi, Katniss tidak terlalu kaget atas perubahan sikap gadis itu.
"Nah, Katniss. Kau lebih memilih Pangeran Valore atau Calore?"
Dua pilihan yang sulit untuk Katniss. Ketertarikan terhadap kedua pangeran itu masih belum ada, hanya semacam keterpukauan--dan itupun ia masih sedikit ragu. Ketika diminta untuk memilih antara Val atau Cal, jelas saja ia benar-benar kebingungan. Dan atas beberapa alasan, akhirnya Katniss membalas, "Val."
"Bagus," Acacia menjentikkan jarinya dan tersenyum sumringah, "kalau begitu, Valore untukmu dan Calore untukku. Sudah adil, kan?"
Katniss merotasikan bola matanya sebelum akhirnya ikut tertawa bersama Acacia. "Terserah kau saja," balasnya.
"Mohon maaf atas mengganggu waktunya. Para Lady diharapkan dapat tenang dan duduk kembali di tempat yang telah disediakan." Lachlan berdiri di tengah aula dengan pakaian yang masih sama, membuat Katniss sedikit curiga beliau tidak pernah mandi ataupun mengganti pakaiannya sama sekali.
Kecuali kalau Lachlan memiliki selusin pakaian yang sama.
Sesuai dengan permintaan Lachlan, para bakal calon segera duduk pada kursi yang telah disediakan entah sejak kapan. Katniss menatap ke arah sekumpulan kursi tersebut dan mengamati permukaan lembut yang menjadi alas duduknya. Berwarna putih dan berserat kapas.
Katniss dan Acacia sama-sama memilih barisan tengah pada sederetan kursi itu. Bersama dengan para bakal calon tunangan putra mahkota pertama yang lain, mereka duduk dalam keheningan dan keanggunan. Jelas saja mereka ingin terlihat menarik di depan seluruh anggota keluarga berdarah biru itu.
"Terdapat masing-masing satu sesi selama empat hari kedepan bagi Yang Mulia Pangeran Valore Bowen Hector untuk menentukan pendamping yang cocok untuk hidup bersamanya," ujar Lachlan.
Situasi menjadi tegang saat Val berjalan menuju ke arah Lachlan dan mulai membisikkan nama-nama yang akan lolos menuju sesi selanjutnya. Pria tua itu tidak mencatat nama-nama yang disebutkan Val sama sekali, namun dia telah menghapalnya di luar kepala.
"Lady Isla Knox dan Lady Clementine Whittaker dari Mars."
Dua orang gadis mulai berdiri dari barisan pertama, berjalan dengan anggun menghampiri sang putra mahkota pertama. Keduanya membungkuk kecil memberikan penghormatan dan berdiri di belakang Val.
"Lady Valentine Grant dan Lady Ines Beauregard dari Jupiter."
Valentine dan Ines melakukan hal yang sama dengan Isla dan Clementine. Mereka berjalan tidak kalah anggun dengan pesona yang terpancar dalam diri mereka. Para pelayan sempat terkesiap melihat keelokan pada keduanya.
"Lady Namira Brooks dan Lady Rosaline Garrett dari Neptunus."
Begitupun dengan Namira dan Rosaline.
"Lady Primrose Warren dan Lady Moana Sean dari Merkurius."
Lachlan menambahkan senyuman saat Primrose dan Moana telah bergabung bersama calon bakal yang terpilih tadi. Kerutan pada dahinya terlihat saat senyumnya tercetak. "Masih terdapat dua calon bakal lagi dari sebuah planet. Apakah salah satunya ada di antara kalian?" tanyanya, terdengar nada yang dapat membuat siapapun mendengarnya segera menahan napas.
Acacia meremas serat kapas yang menjadi alas duduk mereka. Dalam hatinya, ia sangat berharap namanya akan dipanggil. Acacia menggigit bibir bawahnya saat Lachlan mulai kembali menyebutkan dua buah nama.
"Lady Katniss Groover dan Lady Acacia Marshall dari Bumi."
Secercah harapan yang sempat luntur dari kelopak mata Acacia kembali terpancar, disertai dengan pekikan tertahan yang hampir meluncur dari bibirnya. Sebisa mungkin dirinya tetap bersikap layaknya seorang putri sungguhan, sehingga menambah nilai plus untuknya.
Katniss sendiri tengah bergelut dengan perasaannya. Begitu mendengar namanya dan nama Acacia disebut, gadis itu tidak tahu apakah ia harus senang ataukah sedih. Sesungguhnya Katniss sangat ingin tinggal di sini dan mengetahui lebih dalam lagi tentang dunia antah-berantah ini, namun di lain sisi ia sangat merindukan rumahnya.
Sepanjang perjalanan mereka menuju ke depan untuk bergabung dengan delapan gadis lainnya, Katniss dapat mendengarkan desahan kecewa dari para gadis yang tereliminasi dalam sesi pertama. Bahkan ia juga sempat mendengar isak tangis yang keluar dari bibir salah satu di antara mereka.
Val bergerak maju selangkah dengan bergaya ciri khas bangsawannya, lalu membungkuk untuk memberikan sikap sopan kepada gadis-gadis tersebut. "Teruntuk kalian yang tidak kupilih dalam sesi pertama ini, janganlah berkecil hati. Kalian semua adalah wanita tercantik dan paling menarik yang pernah kulihat. Atas penghormatan serta rasa terima kasih, kalian akan dipersilakan mengitari wilayah-wilayah di Planeta Nobella dan singgah di Istana Regalis selama satu bulan. Terima kasih dan salam Regalis," tutur Val, lemah lembut serta penuh sopan dan santun.
Setelah itu, acara pemilihan ratu sesi pertama dibubarkan.[]