04. Bayang & Raga

1492 Kata
    Acacia tampak kesulitan berjalan dengan gaun biru muda pemberian dari Istana Regalis. Dia harus menarik sisi kanan dan sisi kiri gaun untuk memudahkan ia melangkah di sekitar koridor. Karena tidak bisa tidur, akhirnya ia memilih untuk keluar dari kamar asrama dan mengelilingi seisi istana. Selama tidak ada peraturan yang melarangnya untuk tidak berkeliling, bukan menjadi masalah yang besar untuknya.     Sepasang mata biru jernihnya memaku pada punggung putra mahkota kedua. Dia tidak mengenakan pakaian bangsawan seperti malam tadi. Baju kaos putih melekat ketat pada tubuh jangkungnya yang berpeluh sehingga menampilkan hampir seluruh bagian otot berisinya. Sebenarnya Cal tahu seseorang sedang melihat ke arahnya, namun ia tidak mengacuhkan dan masih berkonsentrasi dengan busur panah di tangannya.     Suara anak panah yang melesat ke arah concentric point terdengar seperti deruan angin. Ujung panah yang lancip itu mendarat sempurna di tengah-tengah benda tipis berbentuk lingkaran tersebut, menumbuhkan kembali kesan kagum dari seorang gadis yang berasal dari Desa Southill kepada sang putra mahkota kedua. Tanpa sadar, kakinya semakin melangkah maju untuk mendekati sosok yang sedang dikaguminya.     Cal melirik tak acuh ke arah Acacia, namun kembali menarik busurnya dan melancarkan anak panah kedua pada concentric point. Sekali lagi, anak panah itu mendarat dengan sempurna. Cal mengembuskan napas dan meraih sebotol mineral yang ada di atas tanah berumput, lalu menenggak separuh dari isinya. Acacia masih memerhatikan setiap kegiatan yang dilakukan oleh Cal, hingga pandangannya tanpa sengaja menangkap luka tusuk pada bagian jari pemuda itu.     Tidak terbiasa melihat darah yang menetes, Acacia langsung memegang tangan Cal dan membuat pemuda berambut hitam pekat itu langsung menepisnya kasar. Acacia terkejut dengan perlakuan dari sang putra mahkota kedua yang tiba-tiba dan menunduk minta maaf atas kelancangannya dalam memegang tangan seseorang yang jelas-jelas derajatnya lebih tinggi dari gadis itu.     Sikap apatis dari seorang Cal membuat pemuda itu langsung melengos pergi dari hadapan Acacia dan berjalan masuk ke dalam istana. Tidak ada satupun kata yang diucapkan oleh Cal saat itu, namun itulah yang membuat Acacia semakin tertarik padanya. Dia jarang sekali menemukan seorang pemuda semacam ini. Di Desa Southill, keramahan hanyalah suatu hal bodoh yang dapat berkamuflase dengan teramat sangat sempurna demi mendapatkan apa yang mereka inginkan.     Cal berjalan dengan tatapan lurus, mengabaikan setiap sambutan santun yang dilontarkan oleh dayang-dayang istana. Sepasang matanya menatap kedatangan sang ibunda yang baru saja keluar dari dalam sebuah ruangan. Mereka saling bertukar pandang, namun tidak ada yang membuka suara sampai pemuda itu berjalan mendekati Ratu Cassiopeia dengan tatapan yang tidak begitu jauh beda dari sebelumnya.     "Upacara pembukaan akan dimulai satu jam lagi. Lantas bersiaplah, Calore."     Selepas sang ratu mengatakannya, wanita berambut merah gemilang itu berjalan dengan angkuh di depannya. Cal masih tidak mengucapkan apapun dan mengikuti ibu kandungnya dari belakang. Tidak ada senyum manis yang dilemparkan oleh Ratu Cassiopeia kepada dayang-dayang yang masih menyambut mereka dengan ramah. Ratu Cassiopeia jelas sedang tersenyum, namun senyum itu bukanlah senyuman ramah tamah.     Tetapi, senyum penuh merendahkan. *     Katniss bangun lebih awal daripada biasanya, namun ternyata ia tidak seawal yang dirinya kira. Dia masih mengenakan piama putih, bertolak belakang dengan Acacia yang telah berpakaian anggun dengan gaun biru muda pemberian istana. Katniss berusaha untuk mengumpulkan seluruh nyawanya terlebih dahulu selama lima menit, sebelum akhirnya pergi menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.     Bahkan Acacia telah berkeliling istana, sementara ia masih berpakaian jelek seperti ini. Hal ini membuatnya seperti kalah saing oleh Acacia. Mungkin gadis itu diam-diam menertawakan Katniss ketika melihat seorang gadis yang selama ini dianggap sempurna oleh orang-orang ternyata sangat sulit untuk dibangunkan.     "Kautahu, tadi aku bertemu dengan Pangeran Calore."     Acacia berbalik setelah meletakkan alat rias wajahnya di atas meja rias dan memandang Katniss yang baru saja keluar dari kamar mandi. Tercium semerbak bunga alyssum dari arah gadis bermata hijau itu. Katniss menaikkan satu alisnya sembari tetap mengibaskan rambut hitamnya yang basah dengan handuk, menunggu Acacia kembali melanjutkan ceritanya.     "Dia terlihat lebih tampan dengan kaos putihnya. Benar-benar bagaikan malaikat saja, Astaga!" lanjutnya, terdengar antusias tanpa menghilangkan kelembutan pada nadanya.     Katniss tertawa kecil dan menggeleng beberapa kali. Dalam hati, ia ingin sekali menceritakan tentang dirinya yang sempat bertukar pandang dengan sang putra mahkota kedua. Namun menurutnya itu tidak terlalu penting, toh dia juga tidak akan tertarik dengan seorang Cal. Dia lebih memilih Val daripada Cal, itu sudah sangat jelas. Val yang penuh wibawa dan Cal yang angkuh.     "Tapi, kurasa dia tidak suka disentuh." Acacia menatap tangannya yang sempat memegang Cal, "tidak apa, deh. Setidaknya aku pernah menyentuh seseorang yang tidak suka disentuh."     Katniss hampir tercengang melihat perbedaan antara Acacia yang sekarang dengan Acacia yang baru kemarin ditemuinya. Perubahan sifatnya benar-benar kentara. Hal ini membuat Katniss bertanya-tanya kemana sikap anggunnya itu. Namun, lagi-lagi Katniss memilih untuk tidak peduli dan meletakkan handuknya kembali di dalam almari besar miliknya dengan asal.     Katniss dan Acacia saling bercerita tentang kisah hidup mereka di Bumi selama menunggu pengumuman dari Lachlan untuk berkumpul kembali di aula. Kamar asrama mereka tiba-tiba terasa dilapiskan oleh sesuatu seiring dengan terdengarnya dengungan dari dalam sana.     "Selamat pagi, saya Lachlan Ramos. Saya harap Anda telah bersiap-siap untuk menuju aula, karena acara pemilihan akan dimulai sebentar lagi. Salam Regalis!"     Lapisan misterius itu tidak lagi dirasakan keberadaannya oleh Katniss dan Acacia. Keduanya berpandangan sebentar, kemudian berjalan keluar kamar untuk menuju aula. Sudah terlihat banyak gadis yang mulai keluar dari ruang kamar mereka masing-masing, sebagian dari mereka terlihat lebih akrab daripada sebelumnya, namun ada pula yang saling berdiam tanpa komunikasi dan berjalan beriringan.     Katniss dan Acacia bergabung menjadi satu dalam lingkup keramaian itu untuk pergi menuju aula. Jika dilihat dari atas, mungkin para gadis itu terlihat berkilauan karena gaun yang mereka kenakan masing-masing. Acacia adalah penyuka warna biru muda, sehingga ia memilih untuk mengenakan gaun berwarna biru muda itu. Katniss sendiri lebih memilih gaun berwarna putih, karena menurutnya warna putih adalah warna yang paling netral dari segala warna selain warna hitam dan abu-abu.     Tetapi tidak mungkin jika ia mengenakan gaun hitam, bukan?     Mungkin lebih telihat seperti melayat dibandingkan seorang putri. Tidak mungkin ada yang mengenakan gaun hitam di sini. Bisa-bisa terlihat sangat menakutkan dan membuat bulu kuduk meremang. Awalnya, Katniss berpikir demikian. Sampai akhirnya hawa dingin yang menusuk pori-pori kulitnya muncul dari sisi kanannya. Dia melirik ke arah seorang gadis bergaun hitam dan berkulit pucat.     Sepasang mata hitamnya menatap dingin dan tajam ke seisi aula. Merasa ditatap, gadis itu memandang Katniss. Dengan cepat Katniss menoleh ke arah lain, menghindari tatapan dari gadis tersebut. Baiklah, mungkin asumsinya tentang gaun-hitam-seperti-hendak-melayat itu salah besar karena di sini telah ada yang mengenakan gaun hitam. Entah mengapa gaun hitam yang dikenakan oleh gadis sepantar di samping kanannya tampak kontras dengan kulit pucatnya.     Bulu kuduk Katniss masih tetap meremang selama Raja Hector I mengawali acara dengan membacakan pidatonya. Mungkin begitu mendengarkan kata pidato, pasti akan terdengar membosankan, tetapi Raja Hector I memiliki suatu aura yang memaksa mereka untuk mendengar sampai habis tanpa merasa bosan. Karisma suaranya sebagai seseorang yang berwibawa berkumandang di seluruh aula tanpa perlu menggunakan alat pembesar suara apapun.     Seisi aula masih mendengarkan pidato dari beliau dengan saksama. Akhirnya, Val mulai turun dari atas tangga spiral selepas Raja Hector I mengakhiri pidato dan menyambut kedatangan sang putra mahkota sebagai calon penerus Planeta Nobella selanjutnya. Selama Val menginjak dari satu undakan ke undakan lain, perpaduan antara alunan biola dengan alunan piano berkumandang di sekeliling aula.     Calon raja itu tersenyum ramah ke setiap orang yang ada di dalam istana, termasuk para dayang-dayang dan prajurit istana yang jelas memiliki derajat jauh lebih rendah daripadanya. Dia tidak pernah memandang bulu untuk bersikap santun. Sifat itu menurun dari kedua orangtuanya, sang raja dan istri pertamanya. Jelas banyak yang jatuh hati pada seorang Valore Bowen Hector. Selain derajatnya yang tinggi, ia juga tidak pernah berperilaku semena-mena. Sangat mencerminkan seorang penerus raja yang terhormat.     Bahkan bukan hanya Val, banyak juga yang jatuh hati pada Cal, sang putra mahkota kedua yang temperamen sekaligus adik beda darahnyaVal. Pemuda berdarah biru itu sangat sering berperilaku seenaknya di sekitar istana dan melanggar peraturan yang diperuntukan oleh pemilik seluruh darah biru.     Di balik sikapnya yang berarakan, dia memiliki rasa kasih sayang kepada keluarganya yang tidak pernah ia ekspos, terutama pada sang kakak. Dan hanya ada satu dari sekian puluh orang yang tahu sifat aslinya, yaitu Suster Martha, seorang kepala dari segala dayang istana sekaligus satu-satunya wanita yang telah mengurusnya semenjak lahir. Tidak seperti para pengguna topeng karena kastanya, hanya beliau yang memandang Cal dalam arti baik.     Dari balik pilar, Cal melihat proses pembukaan acara pemilihan yang berlangsung tenang di bawah sana dalam diam. Jubah kebesarannya menutup sebagian besar tubuh jangkungnya. Tangan kanannya mencengkram erat sebuah mahkota sebesar dua kepalan hingga ruas-ruas jarinya membiru. Tatapannya tidak pernah lepas dari Val, yang perlahan membuat rasa iri dan dengkinya kian bertambah. Walaupun hatinya berusaha untuk menolak kedengkian terhadap sang kakak, tetapi ia selalu gagal dalam menolak kedengkian itu.     Dirinya terus berandai-andai. Andai saja ia dilahirkan lebih dulu daripada Val, mungkin posisi berdirinya telah berada di bawah sana, menggantikan posisi sang kakak. Tetapi, dia tahu pengandaiannya ini tidak akan pernah nyata. Apapun yang diperbuatnya, baik maupun buruk, akan tetap terlihat salah di mata mereka semua.     Lambat laun, rasa dengki itu semakin meningkat dan membuat dadanya bergemuruh. Ia bahkan sama sekali tidak khawatir jika tangannya berhasil meremukkan benda berkilau berupa mahkota itu dalam sekali cengkraman dan melukai tangannya. Ini bukanlah apa-apa untuknya.     Aku hanyalah sang bayang. Semu dan tak berarti apa-apa.[]
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN