03. Planeta Nobella

1493 Kata
    Katniss dan Acacia sama-sama berkutik pada pikiran mereka masing-masing. Keheningan melanda sekitar kereta api udara mereka yang masih terbang bebas di angkasa. Sajian makanan mewah di atas meja masih tak tersentuh satupun dengan tangan mereka.     Keduanya terperanjat ketika kereta yang membawa mereka menuju Planeta Nobella tiba-tiba berhenti. Acacia berbalik dan memandang penuh keterkejutan keluar jendela, bahkan bibirnya mengap-mengap tanpa mampu berkata-kata.     Katniss membelalak setelah menemukan kereta api udara itu melaju ke dalam semacam gerbang klasik berukuran raksasa yang mulai membuka lebar. Saat kereta api udara telah masuk ke dalam sana, pintu gerbang kembali menutup dan menghilang sekejap mata.     Langit hitam yang berhiaskan bintang-bintang dan dewi malam telah berganti latar menjadi sekumpulan awan putih nan bersih. Jauh di bawah sana terdapat bangunan-bangunan berpola yang terlihat seperti miniatur dari atas kereta.     Kendati tidak tahu jelas keberadaan mereka saat ini, Katniss dan Acacia sama-sama berdecak kagum, terpukau atas panorama yang mereka lihat. Kedua gadis itu tidak ada yang memulai pembicaraan ataupun sekadar bertanya, mereka seakan-akan terhipnotis oleh keelokan sang panorama.     Kemudian kereta-kereta api udara yang lain juga mulai bermunculan di permukaan udara, terbang dengan bebas di segala arah. Bahkan Katniss dan Acacia bisa melihat penumpang lain yang berada di dalam sana. Setiap kereta hanya berisikan dua gadis yang sama-sama terlihat membingungkannya dengan mereka.     "Selamat datang untuk para bakal calon tunangan Pangeran Valore Bowen Hector dari berbagai belahan dunia. Dengan kehormatan penuh, saya akan memperkenalkan diri saya terlebih dahulu."     Semacam hologram manusia muncul tiba-tiba pada bagian depan kereta. Hologram itu berupa seorang pria tua berkumis putih tengah berdiri dengan pakaian rapi berjas hitam formal yang membalut tubuhnya.     "Nama saya adalah Lachlan Ramos, selaku mediator sebelum Anda tiba di Istana Regalis. Hal pertama yang harus Anda tahu adalah bahwasanya planet ini adalah sebuah planet anyar yang ditemukan oleh raja pertama kita dan istri pertamanya, Yang Mulia Raja Hector I dan Yang Mulia Ratu Alzetta."     Katniss dan Acacia mendengar penuh saksama tanpa mengeluarkan suara sedikitpun. Suara dari hologram Lachlan terdengar santun di telinga mereka. Pria tua itu meletakkan tangan kanan di belakang dan tangan kiri di depan tubuhnya, terlihat sangat beretika di usianya yang terbilang tua.     "Kisah percintaan mereka berlanjut hingga saat ini dan dibuahkan satu jiwa baru yang akan dituntut sebagai pemimpin Planeta Nobella selanjutnya, yakni Yang Mulia Pangeran Valore Bowen Hector. Demi memenuhi peraturan yang telah ditetapkan oleh kerajaan, maka Yang Mulia Pangeran Valore harus setidak-tidaknya mendapatkan satu pendamping sehidup dan sematinya.     "Dan teruntuk Anda yang sedang berada dalam perjalanan menuju Istana Regalis adalah salah satu bakal calon yang akan menjadi pendamping sehidup dan semati Yang Mulia Pangeran Valore. Tanpa berkata banyak lagi, dalam waktu lima menit, kereta akan tiba di tempat pemberhentian Istana Regalis. Terimakasih."     Katniss dan Acacia saling berpandangan dengan raut kebingungan setelah hologram Lachlan melenyap dari bagian depan kereta tanpa menyisakan apapun. "Jadi, kita akan dijadikan tunangan si Valore itu?" tanya Katniss.     "Bukan," Acacia menggeleng, "kita akan dijadikan calon tunangan Pangeran Valore. Semacam pemilihan ratu selanjutnya, mungkin?"     Perhitungan Lachlan ternyata akurat. Tepat lima menit selanjutnya, kereta-kereta itu tiba di sebuah tempat pemberhentian tanpa rel. Masing-masing dua bakal calon tunangan sang putra mahkota pertama mulai turun dari setiap kereta saat pintu mulai terbuka. Tidak jarang di antara mereka yang terlihat tertarik dengan Istana Regalis di depannya.     Istana Regalis memiliki arsitektur klasik meskipun tidak menghilangkan kesan mewah pada bangunan. Puluhan pilar raksasa berdiri di setiap sisi istana, menjaga istana itu agar tidak mudah runtuh jikalau sesuatu akan terjadi. Sulur tumbuhan ada di mana-mana pada bagian pekarangan, bahkan sebagian dari para gadis mulai berdiri di sekitar pekarangan dengan raut gembira.     Katniss, Acacia, dan beberapa yang lain terdiam di depan pintu raksasa yang ada di hadapan mereka, menunggu sosok-sosok yang akan keluar dari dalam sana. Tidak cukup lama bagi mereka untuk menunggu, karena satu menit setelahnya pintu raksasa itu terbuka dari dalam dan sekumpulan kesatria mulai berbaris dengan rapi di kedua sisi kanan dan kiri pintu.     Lachlan--kali ini bukan dalam bentuk hologram, berdiri di ambang pintu dengan pakaian yang sama. Dia membungkuk dan tersenyum, lalu meminta para calon mulai mengikutinya ke dalam. Pria tua itu menuntun mereka semua ke sebuah aula yang berada di penghujung istana.     "Terimakasih telah menuntun mereka kemari, Lachlan."     Sebuah suara yang terdengar berwibawa tiba-tiba berkumandang di sekitar aula. Seluruh perhatian terpusat kepada seorang pria berperut buncit yang kini berada di atas tangga berbentuk spiral. Dia mengenakan sebuah mahkota dan pakaian kebesaran. Tidak salah lagi, dia adalah Raja Hector I.     Dua orang wanita berdiri dengan anggun di sisi kanan dan kirinya. Wanita pertama yang berdiri di sisi kanan Raja Hector I memiliki postur yang terlihat lebih tua dari wanita kedua, tetapi kesan dermawan melekat di dalam raganya. Rambut abu-abunya ia jadikan sebuah sanggulan kecil.     Bertolak belakang dengan wanita pertama, sang wanita kedua terlihat lebih angkuh dan mewah. Rambut merah gemilangnya terurai hingga ke pinggang, pakaian gaunnya juga berkilauan penuh dengan emas.     Raja Hector I merentangkan tangannya lebar-lebar, "Sungguh suatu kebahagiaan bagi kami untuk melihat kalian tiba di istana kami dengan selamat sentosa. Saya, Raja Hector I selaku pemimpin pertama sekaligus penemu Planeta Nobella, mengucapkan selamat datang untuk kalian semua di Istana Regalis. Di sisi kanan saya adalah istri pertama saya, Ratu Alzetta. Sementara di sisi kiri saya adalah istri kedua saya, Ratu Cassiopeia."     Lalu Raja Hector I mulai menceritakan sejarah-sejarah tentang penemuan sebuah planet yang dinamakan Planeta Nobella bersama Ratu Alzetta, termasuk kisah percintaan mereka yang menumbuhkan jiwa baru sang pemimpin, Valore. Putra mahkota itu keluar dari peradabannya dan turun ke bawah saat Raja Hector mulai memperkenalkan pemuda itu di depan mereka.     Katniss dan para calon lainnya terasa sulit untuk bernapas, seakan-akan ada sesuatu yang tertahan di kerongkongan mereka. Karisma yang dipancarkan Val sebagai calon pemimpin baru tidak dapat dipandang sebelah mata oleh siapapun, termasuk ketampanan pemuda itu yang tidak dapat direkayasa.     Val memiliki postur tubuh yang tinggi, rahang tegas dan kokoh, serta seulas senyum manis yang ia perlihatkan di depan umum. Sebuah pakaian bangsawan melekat pada raganya. Tidak ada satupun yang bersuara semenjak kedatangan sang putra mahkota pertama. Siapapun yang akan menjadi pendamping hidupnya, pasti akan sangat beruntung dan dapat memperbaiki keturunan mereka.     Belum sempat bernapas dengan lega, mereka lagi-lagi diperlihatkan putra mahkota kedua yang mulai turun dan mengikuti langkah sang kakak. Katniss semakin terpana melihat kedua sosok tersebut. Tidak pernah sekalipun di dalam kehidupannya melihat dua pemuda yang serupa dengan pahatan tanpa cacat. Katniss bahkan sempat berpikir mereka adalah malaikat tanpa sayap.     Tidak mungkin ada manusia semacam ini, batin Katniss.     Jika Katniss berpikir sekali lagi, keluarga bangsawan itu pasti bukanlah manusia. Kereta api udara, ketampanan dan kecantikan tanpa cacat yang luar biasa, dan seorang peramal. Apakah mereka adalah keluarga penyihir, vampir, ataukah peri? Apakah keelokan mereka hanyalah ilusi semata? Ataukah seluruh asumsi Katniss ternyata benar?     Begitu banyak pertanyaan yang terekam di dalam pikiran Katniss yang bercampur aduk dengan keterpanaan terhadap dua sosok yang sedang menjadi pusat perhatian seisi aula. Dan selama itupula Katniss menikmati kalimat demi kalimat pembuka yang dilontarkan dengan suara bangsawan milik Val.     "Setelah melakukan perjalanan selama empat jam penuh, saya yakin mengistirahatkan diri akan sangat diperlukan kalian. Oleh karena itu, saya tutup pembicaraan hari ini. Anda semua akan diantarkan oleh Lachlan untuk menuju asrama. Terimakasih dan sampai jumpa kembali di hari berikutnya."     Kalimat itu adalah kalimat terakhir Val sebelum para bakal calon mulai melengos pergi menuju asrama, diantar oleh Lachlan. Katniss sempat bertukar pandang dengan sang putra mahkota kedua, Calore Orion Hector. Cal tampaknya tidak tertarik dengan mereka semua, bahkan dia langsung melengos saat dia bertemu pandang dengan Katniss.     Tidak beretika layaknya seorang pangeran sama sekali, ketus Katniss dalam hati.     Setelah para calon telah keluar dari aula dan meninggalkan tempat itu dalam keheningan, keluarga bangsawan itu mulai berjalan masuk ke dalam kamar mereka yang terletak di tingkat dua melalui tangga spiral. Raja Hector serta kedua istrinya telah masuk ke dalam kamar mereka terlebih dahulu, sementara Val dan Cal masih berada di luar dan berdiri di sisi tangga.     Val tersenyum, "Luapkan saja jika kau tidak tahan dengan amarahmu."     "Apa maksudmu?" tanya Cal, terdengar dingin dan menusuk.     Val tetap menjawab dengan nada berwibawa meskipun mendapat respon tak mengenakkan dari adiknya, "Aku tahu kau sejak dulu menginginkan posisi sebagai seorang raja, Calore."     Cal mendecih dan mengepal erat ruas-ruas jemarinya hingga biru. "Tahu apa kau tentangku, hah?" tanya pemuda itu, sinis.     Val mendesah berat, "Andai kata aku bisa memberikan posisiku padamu, akan kulakukan demi kau, adikku."     "Tidak perlu," Cal merasa terenyuh mendengar perkataan sang kakak, "kau lebih pantas menjadi seorang pemimpin dibanding adikmu yang temperamen ini."     Val menatap tubuh sang adik yang mulai berlalu menuju kamarnya sendiri dengan perasaan sedih dan menyesal. Dia sangat mengerti dengan perasaan Cal saat ini. Semenjak awal, Cal ingin menjadi seorang raja yang akan memimpin Planeta Nobella. Bertolak belakang dengan sang adik, justru Val tidak berniat untuk menjadi seorang pemimpin.     Namun sang raja tetap bersikeras untuk menjadikan Val seorang pemimpin. Menjadi putra kedua bukanlah keinginan Cal sejak dulu, dia selalu ingin dijadikan yang pertama. Sifat keras kepala dan pembangkangnya ini diturunkan dari Ratu Cassiopeia, istri kedua sang raja.     Tetapi Val dijadikan sang penerus raja bukan karena ia adalah sang putra mahkota pertama, melainkan Raja Hector I melihat potensi dari seorang Val untuk menjadi penerus beliau sebagai seorang pemimpin Planeta Nobella.     Karena itupula, sang putra mahkota kedua merasa kehadirannya hanyalah bagaikan bayangan semu yang tidak akan pernah nyata.[]
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN