02. Karnaval & Kereta Api Udara

1519 Kata
    Katniss dan Cleo tiba di karnaval setelah berkali-kali memastikan Samuel tidak melihat lagi keberadaan mereka. Perasaan Katniss tidak terlalu tenang sepanjang acara karnaval yang akan dimulai sesaat lagi. Dia terus menoleh ke segala arah tanpa henti, bahkan celotehan Cleo hanya ia jadikan angin semata.     Cleo tersenyum sumringah. Dia tampak bahagia, bertolak belakang dengan Katniss yang hanya bergeming dan mengikuti Cleo kemanapun ia melangkah. Sampai pada akhirnya Katniss terpisah dengan Cleo akibat kepadatan penduduk yang mengisi karnaval dan kebiasaan Cleo yang sering pergi seenaknya.     Katniss melirik ke kanan dan kiri untuk mencari Cleo, namun dia tidak kunjung menemukannya. Sejauh ia melangkah, ia masih tetap mencari dan menembus kepadatan. Namun itu tidak berlangsung lama saat beberapa meter di belakangnya Samuel sedang menerawang ke segala arah untuk mencari Katniss.     Tanpa berpikir lagi, Katniss berlari dan masuk ke dalam sebuah tenda berwarna ungu. Dia tidak mengetahui isi di balik tenda tersebut, namun sepasang netranya melirik ke arah si pemilik tenda yang sedang duduk bersama dengan cahaya temaram yang tumpah di seluruh tubuhnya. Jika perkiraan Katniss benar, mungkin usia sang pemilik tenda itu telah beranjak setengah abad.     Dia meneliti Katniss dengan cara menatapnya penuh intimidasi. "Kau sedang melarikan diri dari seseorang, anak muda?" tanyanya.     Katniss merasa bingung, namun dia mengangguk. Pemilik tenda itu menyapu tatapannya ke arah kursi yang berada di depannya dan meminta gadis itu untuk duduk. Katniss tidak menolak dan duduk berhadapan dengannya.     Ia membatin bingung, Mengapa dia tahu aku sedang melarikan diri dari seseorang?     "Keberatan jika aku meramalkanmu, anak muda?" tanya si pemilik tenda itu lagi.     Oh, ternyata dia peramal.     Katniss menggeleng, "Katniss. Katniss Groover."     Gadis itu segera meletakkan kedua tangannya di atas meja. Dia menatap peramal di depannya yang tengah berkomat-kamit dengan kondisi kedua mata ditutup. Katniss menahan napas ketika peramal itu membuka matanya dan kembali menatap Katniss dengan intimidasi, seakan-akan peramal itu sedang mencoba menerobos masuk ke dalam matanya.     "Kau akan menggantikan hitam dengan putih jika kau melakukan tugasmu dengan baik. Sebaliknya, jika kau tidak melakukan tugasmu dengan baik, kau tidak akan dapat menggantikan hitam dengan putih," peramal itu memberi jeda, "atau kau dan belenggumu akan terkungkung di balik kehampaan. Tapi ingat, kau tidak dapat menentang alam."     "Apa maksudnya?" tanya Katniss, bingung.     Peramal itu tersenyum untuk kali pertama Katniss kemari. Dia mengambil sesuatu di dalam lemari kecil dan menyerahkannya pada Katniss. "Satu tiket kereta api untukmu karena telah bersedia untuk kuramalkan," ucapnya, tanpa merespon pertanyaan dari Katniss.     Katniss tersentak. "Eh. Tidak, tidak perlu. Simpan saja untukmu."     "Tiket menuju Ohio," jawab peramal itu cepat, seolah-olah dia tahu jelas tempat yang sangat ingin Katniss kunjungi.     "Kau serius?" tanya Katniss, memperhatikan selembar tiket tersebut yang masih ada di tangan sang peramal.     Si peramal mengangguk. Lalu ia kembali mengulurkan tiket tersebut di hadapan Katniss. "Malam ini, jam dua belas. Di Stasiun X."     Gadis itu menerimanya tanpa berpikir panjang, tak lupa juga untuk berterimakasih. Lalu ia keluar dari tenda, masih dengan harapan tidak ada lagi Samuel yang mencarinya. Namun seseorang tiba-tiba menepuk bahunya ketika ia hendak melangkah. Katniss tersentak dan hampir berteriak jika saja sang pelaku tidak tertawa terbahak-bahak.     "k*****t kau, Cleo!" geram Katniss, mencubit kedua pipi Cleo dengan keras namun tidak ada ringisan satupun yang keluar dari bibir gadis itu.     Cleo menyeringai. "Kautahu, tadi aku bertemu dengan pangeran tampanmu itu. Dia menanyakan keberadaanmu," ucapnya, tak mengindahkan geraman dari Katniss.     "Aku juga bertemu dengannya, kalau kau ingin tahu," ketus Katniss, malas.     "Apa yang kau lakukan di sini?"     "Aku baru saja keluar dari tenda rama--" Katniss menghentikan ucapannya ketika dia tidak lagi melihat tenda ungu tersebut di posisi sebelumnya. Dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal, lalu bergumam, "Tunggu, di mana tenda itu?"     Cleo menggerakkan tangan kanannya sambil mencibir, "Aku tidak tahu kalau kau memiliki skizofrenia."     Katniss terus meyakinkan Cleo selama dalam perjalanan untuk menonton seni tari yang akan ditarikan oleh sebagian penduduk. Namun Cleo masih tetap tidak acuh, hal ini membuat Katniss akhirnya mendengus pasrah dan mengalihkan topik pembicaraan dengan kawannya.     Pada awalnya, Katniss berpikir Samuel tidak akan lagi mencarinya. Namun setelah pemuda itu menampakkan dirinya di depan Katniss dan Cleo saat ini, Katniss baru teringat dengan obsesi pemuda itu terhadapnya. Sejak dulu, Samuel tidak akan pernah melepaskan Katniss begitu saja. Bahkan dia pernah menginap selama satu malam di rumah kepala desa karena Samuel tidak ingin membiarkannya pulang sendirian setelah berkencan sampai tengah malam.     Samuel merengkuh tubuh mungil Katniss, membuat bulu kuduk gadis itu meremang. "Katy-ku, kenapa kau pergi duluan dengan Cleo? Aku bisa mengantarmu, sayang."     Katniss ingin mandi kembang tujuh rupa saat itu juga. *     Katniss melihat jarum jam telah menunjukkan pukul sebelas malam saat dia tiba di Stasiun X yang tidak jauh dari Desa Northill. Dia masih melihat beberapa orang yang sedang berlalu-lalang di sekitar stasiun. Namun ada sebuah keganjilan yang tidak disadari oleh Katniss, yaitu keheningan. Orang-orang itu tidak ada yang berkomunikasi, seakan-akan mereka semua hanyalah manekin yang bergerak.     Katniss memutuskan untuk duduk di salah satu bangku yang ada di dalam Stasiun X dan merasa lega begitu tahu tidak akan ada lagi Samuel di sampingnya. Menghindar dari pemuda itu memang sangat sulit. Satu-satunya alasan klise yang membuatnya berhasil melarikan diri dari Samuel hanyalah pergi ke toilet. Jadi, tiba di Stasiun X saja telah membuat Katniss sumringah.     Tetapi, ada satu hal yang membuat gadis itu tidak tenang. Ia belum memberitahu Cleo tentang dirinya yang mendapatkan tiket kereta api untuk pergi menuju Ohio, salah satu negara bagian Amerika Serikat. Sebenarnya ia hendak memberitahu Cleo saat karnaval tadi, namun Cleo tidak percaya tentang tenda ungu tersebut dan membuat gadis itu malas untuk memberitahunya tentang tiket kereta api.     "Hei. Apa aku boleh duduk di sini?" Katniss tersenyum dan mengangguk kecil sebelum menggeser bokongnya untuk memberikan sisa tempat kepada seorang gadis sepantarnya yang terlihat kesulitan dalam menarik koper besarnya. Gadis itu mengenakan sebuah gaun biru muda tipis yang terurai sampai tempurung lututnya. Rambut pirangnya diikat menjadi dua kepangan. Wajahnya tampak manis, begitupun dengan perilakunya yang tampak anggun.     "Kau juga ingin menuju Ohio?" tanya Katniss, menatap selembar tiket yang sama dengan miliknya di tangan gadis itu.     "Ohio?" gadis itu mengerutkan hidung, "Oh, bukan. Aku menuju Swiss."     Katniss mulai sadar dengan keganjilan yang ada. Dia memperlihatkan tiket kepunyaannya di hadapan gadis yang baru saja dikenalinya. "Tiket kita sama, bukan?" tanya Katniss, bingung.     Dengan ragu, lawan bicaranya mengangguk. "Jadwal kita juga sama, sementara stasiun ini hanya memiliki rel tunggal. Dan apa kau mendapatkan tiket ini bukan dengan membeli, melainkan mendapatkannya secara cuma-cuma?"     Katniss membelalak. "Baiklah, kita sama. Apa kita berdua adalah korban penipuan dari peramal tua itu?"     "Entahlah. Aku cukup yakin bukan hanya kita saja yang tertipu. Kaulihat, masih banyak orang yang sedang berlalu-lalang sementara Stasiun X seharusnya telah tutup setelah jam sembilan, bukan?" tanya gadis tersebut.     "Ya, kau benar. Omong-omong, siapa namamu?" tanya Katniss. Dia baru sadar bahwa ia masih belum mengetahui nama lawan bicara di sampingnya, sementara mereka telah bercengkrama selama beberapa saat.     "Namaku Acacia Marshall. Aku berasal dari Desa Southill," Acacia menarik kedua sudut bibirnya, "kau sendiri?"     "Katniss Groover dari Desa Northill. Senang bertemu denganmu, Acacia."     "Akupun begitu."     Jam tua pada dinding Stasiun X tiba-tiba berdentang dengan keras. Kedua gadis itu menoleh ke arah benda tersebut dan tersentak saat jam telah menunjukkan pukul dua belas malam. Kereta api tiba-tiba datang dan berhenti di depan mereka. Katniss dan Acacia memutuskan untuk masuk ke dalam kereta tersebut, mencaritahu tentang kejadian yang ganjil ini.     Saat Katniss melihat ke arah luar jendela, dia tidak menemukan seorangpun di sana. Lalu pandangannya tertuju pada Acacia yang telah duduk di salah satu bangku dan masih belum menyadari keganjilan di luar kereta.     "Acacia, kau tidak akan percaya ini."     Katniss mendesah frustasi. Acacia mengangkat wajahnya dan menatap Katniss dengan kebingungan, kemudian berdiri terburu-buru begitu tahu maksud dari kawan barunya. Dia menerawang ke segala arah, tidak kunjung menemukan siapapun selain mereka berdua di dalam kereta api. Kemudian dia melangkah mendekati kaca untuk melihat keadaan di luar kereta.     Kereta api mulai melaju dengan kecepatan tinggi. Acacia hampir terjungkal ke belakang di saat badan kereta api itu mulai bergerak naik seperti kereta roller-coaster yang berada di dalam wahana permainan. Katniss dan Acacia termangu saat mereka sadar bahwa kereta api ini bukanlah kereta api biasa. Kereta api ini terbang bebas menuju angkasa tanpa adanya jalur kereta.     Keduanya sama-sama berteriak panik setelah melihat kedua pedesaan mereka masing-masing dari atas yang berada di balik awan putih. Katniss mencengkram sisi bangku di dekatnya dan duduk di atas sana dengan seluruh tubuh bergetar ketakutan, sementara Acacia masih terus berteriak berkali-kali sambil mengarahkan bogeman pada kaca kereta. Dalam situasi seperti ini, bersikap tenang dan anggun bukanlah suatu hal yang mudah walaupun dia telah diajarkan cara beretika sebagai seorang wanita di sepanjang hidupnya, dalam kondisi tak menyenangkan sekalipun.     "Selamat datang teruntuk Lady Acacia Marshall dan Lady Katniss Groover dari Bumi sebagai salah satu bakal calon tunangan putra mahkota pertama kita, Valore Bowen Hector."     Katniss dan Acacia berusaha untuk menenangkan diri mereka ketika mendengar suara dari arah pengeras suara yang terletak menggantung di setiap sudut wagon kereta api. Keduanya memejam untuk memahami kalimat demi kalimat yang dilontarkan oleh seorang pria di balik pengeras suara tersebut.     "Selama kereta api udara berada dalam perjalanan menuju Planeta Nobella, nikmatilah setiap sajian yang kami berikan sepuasnya. Terimakasih."     Tiba-tiba terdapat sebuah meja besar berbentuk persegi panjang di depan keduanya, dan di atas sana telah disajikan sejumlah makanan khusus untuk para bangsawan. Katniss dan Acacia lagi-lagi tersentak meski tidak sepanik tadi, tetapi mereka tidak juga dapat menghilang ketakutan yang masih ada dalam raga mereka masing-masing.     "Planeta Nobella," Acacia termangu, "jika diterjemahkan dari Bahasa Latin, dapat diartikan sebagai Planet Bangsawan."     Katniss mendesah berat, "Sebenarnya, kita akan ke mana?"[]
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN