11. Kekuatan Tersegel

1517 Kata
    Kabar tentang p*********n terhadap sang putra mahkota pertama ternyata telah menyebar hingga ke luar istana.     Sesi ketiga telah diputuskan oleh Raja Hector I untuk ditunda selama Val masih melalui proses pemulihan. Seisi Istana Regalis begitu gempar ketika mendengar adanya musuh baru yang bertujuan untuk melukai Val. Tentu saja itu semua terasa begitu mengejutkan untuk mereka semua. Secara, selama ini Val selalu bersikap ramah kepada siapapun dan tidak mungkin juga ada yang menaruh rasa benci terhadapnya--tapi tiba-tiba saja Val datang dengan keadaan yang cukup mengenaskan.     Para prajurit yang dikirim oleh Raja Hector I masih melakukan pencarian terhadap sang pelaku yang telah dicap sebagai buron oleh mereka semua. Putri-putri yang berada di tempat kejadian perkara saat itu diharuskan untuk menjawab beberapa pertanyaan agar memastikan bahwa yang melukai Val tentu bukanlah salah satu di antara mereka. Terutama Katniss, karena saat itu ialah orang pertama yang menemukan Val selain Cal.     Katniss perlu merangkai kalimatnya selama sesi wawancara berlangsung. Ia masih sedikit ragu dengan Cal yang katanya tidak melukai sang kakak. Secara, belati bersimbah darah Val itu dipegang oleh Cal saat ia menemukan mereka berdua di antara pepohonan. Jika seseorang berada di posisinya, dia pasti akan berpikiran sama dengan Katniss. Tetapi, karena dirinya tidak enak untuk menuding Cal tanpa bukti yang akurat--akhirnya ia menghilangkan kisah tentang Cal yang sempat memegang belati tepat di depan tubuh sekarat Val.     Katniss mendesah lega ketika dirinya telah dipersilakan untuk keluar dari ruangan oleh prajurit setelah sesi wawancara dengannya berakhir. Ia bersandar pada dinding sambil menatap kosong ke arah lorong yang sepi, tidak ada tanda-tanda keberadaan Acacia maupun Namira di sana. Mungkin mereka sudah pergi ke kamar lebih dulu daripadanya, mengingat sesi wawancara dengan Katniss berlangsung cukup lama dan ia hampir dijadikan target oleh pihak kerajaan jika saja Cal tidak pulang bersamanya.     "Katniss."     Merasa dipanggil oleh seseorang bernada bariton yang tidak asing baginya, gadis itu lantas berbalik untuk memandang sang pemanggil. Katniss mengernyitkan dahi saat Cal telah berdiri di depannya. Ia mulai menebak-nebak apa yang ingin diucapkan oleh Cal di lorong yang sehening ini. Jujur saja, sejak melihat Cal memegang belati bersimbah darah itu, Katniss cukup takut untuk bertemu dengannya kembali.     Katniss berdeham untuk menetralkan suara, "Ada apa?"     "Aku ingin berbicara padamu," Cal berbalik dan mulai bergerak maju, "tidak di sini. Ikut aku."     Katniss mengikuti langkah Cal dari belakang dengan perasaan bercampur aduk. Dia merasa risi karena sepanjang lorong ini, tiada satupun dari mereka yang hendak memulai pembicaraan. Tetapi menurutnya, hanya ialah yang merasa seperti itu. Buktinya, Cal masih berjalan santai di depannya tanpa sedikitpun menoleh ke arah Katniss. Pemuda itu bahkan tidak merasa awas jika Katniss tiba-tiba tidak ada lagi di belakangnya.     Katniss menghela napas dan mempercepat laju untuk menyetarakan derap langkah kaki mereka. Ia sedikit melirik ke arah Cal, lalu mengangkat suara, "Kita akan ke mana?"     Suaranya sedikit menggema akibat situasi lorong yang begitu sepi dan hening. Lorong ini memang terletak di bawah tanah. Fungsi lorong ini adalah seperti tadi, yaitu tempat untuk mewawancarai seseorang yang dianggap penting dan sekaligus merupakan kerangkeng bawah tanah. Lorong ini tentu tidak mewah. Lampu-lampu yang menempel pada dinding juga hanya mengandalkan api kecil. Memang suram--dan dengar-dengar dari bibir dayang-dayang istana yang suka menceritakan rumor-rumor tak jelas, konon sering terdengar suara jeritan para tahanan yang telah mati di Jumat Pertama.     Jumat Pertama memang adalah malam yang sakral di Planeta Nobella, karena bulan purnama selalu muncul di Jumat Pertama dan begitupun dengan roh-roh penasaran yang terus berkeliaran untuk mencari tubuh mereka yang hilang tanpa jejak.     Katniss sedikit bergidik ketika membayangkan suara jeritan itu. Secara, ini adalah Jumat Pertama dan hanya ada mereka berdua di lorong ini. Sebenarnya ada prajurit lain, namun mereka berada di ruangan yang letaknya agak jauh dari lorong yang tengah dilalui keduanya saat ini.     Cal masih tidak menjawab pertanyaan Katniss. Pemuda itu berhenti ketika mereka berdua tiba di penghujung lorong. Kini, tepat di hadapan Katniss dan Cal terdapat dinding yang terbuat dari batu bata. Cal menekan beberapa batu bata yang ada di sana layaknya sebuah sandi khusus. Kemudian tak lama setelah itu, dinding di samping mereka bergetar dan mulai memisahkan diri, menampilkan tangga yang menjulang ke atas.     Tanpa mengatakan apapun, Cal segera menaiki undakan satu-persatu dengan tenang. Katniss sendiri jadi teringat ketika sebelumnya ia juga sempat melewati tangga ini hanya untuk mencapai ruangan wawancara setelah tiba di Istana Regalis dengan menggunakan kereta api udara. Setelah Val ditemukan oleh mereka, Cal memang langsung menghubungi pihak kerajaan untuk menjemput mereka semua dengan kereta api udara--kereta api yang sama dengan transportasi yang mengantar Katniss dan bakal calon lain ke Planeta Nobella.     "Cal," dengus Katniss.     Cal menoleh ke belakang untuk memandang gadis bermata hijau itu. "Tanpa embel-embel?" tanyanya.     Katniss menatap bingung pemuda itu, "Maksudnya?"     Cal kembali menatap lurus ke arah depan dan menggeleng beberapa kali. "Lupakan. Teruslah memanggilku dengan nama," bisiknya.     Gadis itu mengerjapkan sepasang matanya beberapa kali, setelah itu memutuskan untuk tidak mengatakan apapun. Ia kembali mempercepat lajunya dan berjalan di samping Cal. Mereka tidak berbicara apa-apa lagi hingga keduanya tiba di depan pintu ruangan yang pernah disebut sebagai ruang penghukuman oleh Clinton saat itu. Katniss kembali memandang bingung ke arah Cal yang sama sekali tidak mengubah raut wajahnya.     Tangan pemuda itu segera terulur untuk membuka pintu. Saat pintu telah membuka sepenuhnya, Cal melangkah masuk, sementara Katniss masih tetap berdiri di ambang pintu--masih dengan kebingungan yang melekat pada pancaran matanya. Sepasang mata Katniss dapat melihat Cal yang berjalan mendekati Clinton. Pemuda kecil itu tampak tengah mengobati luka Val yang masih berbaring di atas kasur dengan perban-perban yang melingkar di perut dan pergelangan tangannya.     "Bagaimana? Sudah ada perkembangan?" tanya Cal.     Clinton menoleh dan menggeleng. "Belum. Kesehatannya sedikit terham--kau membawa Katniss kemari?"     "Kat," panggil Cal, mengabaikan pertanyaan dari Clinton.     Katniss bergumam dan menghampiri Cal. "Apa?" tanyanya.     Cal melemparkan tatapan tajam ke arah gadis bersurai hitam itu, "Apapun yang telah kaudengar tentang percakapan kami tadi siang, anggap saja kau tak pernah mendengarnya."     "Mendengar apa?" Katniss menggaruk kepalanya, bingung.     Cal tidak membalas. Ia melengos untuk kembali memandang sang kakak yang masih tidak mengalami peningkatan apapun terhadap kondisi tubuhnya. "Kau bisa pergi sekarang. Aku hanya ingin mengatakan itu padamu. Jangan menceritakan apapun tentang kekuatan yang tersegel kepada orang lain. Mengerti?"     Walaupun ia masih tidak mengerti tentang arah pembicaraan Cal, akhirnya Katniss mengangguk patuh karena dirinya tidak ingin kembali berdebat dengan sang putra mahkota kedua. Dan lagipula, itu sama sekali tidak penting untuknya selama dia hanya diam saja dan tidak melemparkan tudingan apapun tentang Cal.     "Mengerti," balas Katniss.     Katniss segera keluar dari ruang penghukuman, meninggalkan Cal seruangan dengan Clinton dan Val. Setelah pintu menutup dan tubuh Katniss tidak lagi tampak akibat terhalau oleh pintu, Clinton mengulaskan senyum miringnya. Saat ini, Clinton seperti seorang pemuda kecil yang baru saja menggoda seseorang. Senyum miring benar-benar membuat Cal jengkel setengah mati, tetapi pemuda itu tidak mengatakan apapun.     "Kau yakin tidak tertarik padanya, hm?" tanyanya.     Cal mendengus, "Berisik."     Clinton tergelak keras. "Hei, Calore. Kau tidak pernah pandai dalam menyembunyikan perasaanmu dariku. Caramu menatap Lady Katniss benar-benar berbeda dengan caramu menatap gadis lain. Apa kau sendiri tidak menyadarinya?" tanya Clinton, mengangkat satu alisnya secara bergantian.     "Lebih baik kau mengurus Lettha saja!" Cal berdecak pelan, "--atau setidaknya, berhenti bersikap seperti seorang bocah tengil."     Gelak tawa Clinton berganti menjadi kikik pelan. "Jangan mengalihkan pembicaraan, bung. Dan tolong, berhenti menyebut nama gadis itu karena aku tidak ingin Lettha bersin terus-terusan karena kau. Oh iya, bicara tentang tubuh bocah ini, aku telah menemukan ramuan yang tepat untuk mengembalikan tubuh asliku. Kupikir aku akan meminum ramuan itu besok."     Cal mendelik tak acuh, "Tidak perlu. Lebih baik kau mati saja."     Pemuda kecil itu merotasikan bola matanya. Lalu ia membalas, "Kau saja. Aku masih ingin bermanja dengan Lettha."     "Tutup mulutmu." *     Peringatan dari Cal membuat Katniss tidak dapat tidur dengan lelap. Ia kembali mencoba untuk mengingat percakapan antara Cal dengan Clinton saat ia sedang berada di ruang penghukuman bersama Cal dan Clinton. Kejadian itu terjadi tepat setelah mereka semua tiba di Istana Regalis dan masih belum melewati sesi wawancara. Gadis itu berusaha untuk mencari gambaran yang terjadi saat itu. Sampai akhirnya, dua buah suara muncul di pikirannya.     "Bagaimana?" tanya Cal.     Clinton menyentuh bagian perut Val yang bersimbah darah. Val memang telah tidak tersadarkan diri di kereta api udara saat mereka sedang berada dalam perjalanan menuju Istana Regalis. Keringat membasuh wajah Val, membuat pemuda itu tampak semakin mengenaskan.     "Tersegelnya kekuatan Val dapat menghambat penyembuhannya. Aku tidak dapat mengeluarkan kekuatan penyembuhku. Maksudku, apapun kekuatan yang terlempar padanya, kekuatan itu akan kembali kepada sang pemilik dan melukai pemiliknya sendiri." Clinton menolehkan wajah ke arah Cal, "Aku tidak bisa berbuat banyak selama kekuatan Val masih tersegel."     Cal menatap lurus ke arah sang kakak sembari mengepalkan kedua tangan. "Tidak apa. Biarkan dia sendiri yang melawan seluruh penderitaannya."     Clinton mendesah berat. "Kau sangat mencemaskannya, ya? Andai semua orang tahu sifat aslimu, Cal. Kau benar-benar tidak pandai mengekspresikan diri."     "Diamlah," gumam Cal. "Aku sama sekali tidak mencemaskannya."     Katniss ingat semuanya. Ia mungkin memang tidak mengerti arah pembicaraan Cal dengan Clinton yang berkaitan dengan kekuatan yang tersegel itu, tapi setelah ditinjau dari pembicaraan keduanya tadi, setidaknya Katniss mulai menyadari sesuatu. Gadis itu tersenyum kecil begitu mendapatkan kesimpulan tentang Cal.     Cal memang menjengkelkan--tapi putra mahkota kedua itu tidak semenjengkelkan yang Katniss bayangkan. Hanya saja, pemuda itu tidak dapat mengekspresikan rasa sayangnya dengan baik--sehingga ia lebih terlihat seperti pemuda apatis. Baiklah, sepertinya pandangan Katniss terhadap Cal sedikit berubah.     Dari hal ini, ia tidak perlu lagi menuding Cal seperti sebelumnya, karena sekarang ia yakin bahwa Cal bukanlah dalang di balik p*********n terhadap putra mahkota pertama itu.[]
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN