"Dia lewat teras samping masuknya,"kata Hermawan memberikan penjelasan."Ya udah mumpung Ryu di sini, kalian pergi sana."
"Papa ngusir?"
"Ya kan Ryu bilang terus terang kalau lagi pendekatan sama kamu, ya udah kalian cari tempat atau pergi keluar buat ngobrol,"kata Hermawan.
"Kalau kamu takut kita di sini aja, Mai ngobrolnya,"kata Ryu.
Maira terkekeh."Ya udah, yuk pindah ke dekat kolam renang aja."
"Loh, nggak pergi keluar aja?"tanya Odelie.
Maira menggeleng."Di rumah ajalah, Ma, Maira lagi malas pergi keluar."
"Oh ya udah, jangan lupa ajak Ryu makan siang ya!"teriak Odelie.
"Iya, Ma!"jawab Maira sambil membawa Ryu ke tepi kolam renang. Di sana ada gazebo yang di kelilingi tanaman hijau yang rindang. Keduanya duduk lesehan di sana.
"Rumah kamu besar dan bagus, Mai."
"Rumah kamu juga besar kok, lagi pula ini rumah papaku, deh! Kamu kok nyusulin ke sini sih. Kenapa?"
Ryu menatap Maira dengan intens, ada sedikit keraguan saat hendak menjawab pertanyaan Maira, ia takut ditolak lagi."Aku pengen ketemu kamu aja."
"Kan bisa besok-besok."
Ryu menghela napas dengan berat."Duh, kamu nggak seneng ya aku datang..."
"Eh, bukan...tapi kasihan kan kamu jauh-jauh ke sini cuma buat ketemu aku. Terus nanti pulang lagi,capek kan?"
"Aku ada rumah kok di sini."
Maira tidak bisa menjawab lagi, tidak ada alasan untuk mengusir atau menyuruh Ryu menjaga jarak dengannya."Kamu sudah makan siang?"
"Belum sih. Tapi, aku belum pengen makan."
Entah kenapa Maira merasa iba dengan Ryu, atau memang wajah Ryu mudah sekali membuat orang kasihan. Ia pun berusaha menghempaskan keras kepalanya."Ya udah kita jalan keluar yuk?"
"Kemana?"
"Ya jalan-jalan aja, ke tempat makan atau ke bioskop mungkin?" Maira tidak begitu suka menonton, tapi, setidaknya ini adalah alah satu cara agar waktu cepat berlalu.
Ryu menggenggam tangan Maira."Kamu kan capek, jangan deh. Kita di rumah aja."
"Aku cuma becanda kok. Kita pergi ya. Tapi, aku ganti baju dulu."
"Kalau kamu nggak capek, ya udah. Aku tunggu."
Ryu menunggu dengan sabar di gazebo, sampai-sampai ia ketiduran. Maira tertawa melihat Ryu,mungkin ia terlalu lama dandan. Maira duduk di sebelah Ryu, kemudian membangunkan pria itu dengan hati-hati.
"Ryu!"
Pria itu langsung terbangun, lebih tepatnya kaget meski Maira sudah sangat berhati-hati."Udah siap, yuk?"
"Kamu nggak mau cuci muka dulu?"
"Oh ya...boleh."
Maira mengantarkan Ryu ke toilet untuk mencuci muka. Tidak butuh waktu lama menunggu, Ryu keluar dengan wajah yang segar kembali.
"Aku yang nyetir ya, kamu masih agak ngantuk tuh,"kata Maira.
"Iya boleh." Ryu tidak keberatan jika ia disetirin oleh Maira, sebab, ia masih belum stabil karena baru bangun tidur.
"Mai,"panggil Ryu setelah mereka sudah keluar dari komplek perumahan.
"Iya..."
"Nikah yuk."
Maira melirik tajam,"kan kita udah sepakat mau pendekatan dulu."
"Iya, sih...aku terlalu ngebet."
"Terlalu ngebet itu nggak baik, terkesan terburu-buru. Gini loh, Ryu, meskipun ya...misalkan...nih misal...aku cantik, kaya, dewasa, mandiri, terus tipe kamu banget, belum tentu sifat dan sikap aku cocok di kamu. Siapa tahu ternyata...aku ini keras kepala, nah itu justru membuat kamu nggak nyaman, pusing, atau nggak betah sama aku. Nah, hal-hal kayak gitu tuh yang harus kita ketahui selama proses pendekatan."
"Tapi,kalau pacaran kan nggak baik, Mai, langsung menikah saja,"kata Ryu.
"Katanya kamu pengangguran, aku nggak mau kalau kamu nggak kerja,"balas Maira dengan wajah cemberut.
"Ya udah ntar aku ngojek kalau udah nikah,"kata Ryu asal."Kan yang penting kerja."
"Ya udah, nggak apa-apa,"ucap Maira.
Ryu kembali mencerna ucapan Maira yang sudah terlewat beberapa detik lalu,"eh ...aku kan nggak kerja, makanya kamu nggak mau. Seandainya kukasih tahu pekerjaanku yang sebenarnya, kamu mau langsung menikah sama aku nggak?"
"Nggak. Ryu, dengar...ini bukan soal harta tapi, aku nggak bisa gegabah mengambil keputusan perihal jodoh. Kamu ngerti kan?"
Ryu mengangguk saja, tidak mau berdebat lagi. Hati Maira sedang kaku, apa lagi Ryu tak pandai merayu. Tapi, ia akan tetap berusaha mengambil hati wanita itu.
**
Ryu menggenggam tangan Maira sepanjang mereka jalan ke salah satu pusat perbelanjaan. Mereka berdua mengelilingi gedung, menghampiri setiap toko, entah apa yang ingin dilihat Ryu, Maira ikut saja. Kemudian terakhir mereka memutuskan untuk nonton.
"Kita nonton apa?"tanya Ryu.
Maira mengangkat kedua bahunya."Nggak tahu, aku genre apa aja, sih, suka."
"Hmmm...comedy ya?" Ryu melihat banner film comedy yang diperankan salah satu penulis sekaligus komedian terkenal."Kita nonton ini aja."
"Oke."
"Ya udah, yuk." Ryu menggenggam tangan Maira lagi.
"Ryu...kok kamu pegang tanganku terus?"protes Maira.
"Nggak tahu, aku mau aja pegang tangan kamu, supaya perasaanku tersampaikan!"balas Ryu tenang.
"Oke deh."
"Kamu nggak mau nonton film romantis?"kata Ryu setelah mereka masuk ke dalam antrian.
"Kan kamu mau nonton komedi, kok malah nanya lagi?" Maira jadi bingung.
"Ya kan kita pasangan, nonton film yang romantis aja. Kali aja kebawa perasaan, terus ada rasa sama aku." Ryu segera membeli tiket salah satu film romantis yang sedang ditayangkan.
Maira geleng-geleng kepala, menepuk jidatnya melihat tingkah Ryu, benar-benar tidak bisa ia tebak. Tadinya sudah mengajak nonton film komedi, tapi tiket yang beli adalah film romantis. Ryu membeli popcorn dan minuman untuk mereka berdua.
"Ayo, sudah mulai tuh filmnya. Nanti kita ketinggalan adegan romantisnya loh, kan sayang,"kata Ryu saat melihat Maira hanya diam di tempat setelah menerima popcorn. Maira memutar bola matanya, ia merasa sedang bersama anak kecil sekarang.
Ryu kembali menggenggam tangan Maira, sementara satu tangannya memegang minuman.
"Ryu, minumnya hampir jatuh, nggak usah pegangin tanganku." Maira melepaskan genggaman Ryu pelan.
Ryu menatap Maira sedikit kesal, kemudian ia melepasnya dengan berat hati. Maira jadi tidak enak hati, kemudian ia memeluk lengan laki-laki itu. Senyum Ryu mengembang, lalu tiba-tiba Ryu mengecup kening Maira. Adegan yang begitu manis.
"Yuk,"kata Ryu.
Maira tersenyum, kemudian mereka duduk dan menikmati setiap detik selama film berlangsung. Ryu menggenggam tangan Maira, mengecup punggung tangan wanita itu dengan lembut. Maira terperangah, mengamati pergerakan Ryu dengan heran. Ryu terlihat benar-benar mencintainya, hanya saja pria itu sangat terlihat menahan diri untuk berbuat lebih.
"Mai, nikah aja yuk,"bisik Ryu.
Maira melirik tajam, malas menanggapi karena jawabannya tetap sama untuk pertanyaan yang sama pula.
"Mai, nikah aja ya nanti malam."
Maira tertawa geli "Kamu aneh banget sih, Ryu, kayak nikah itu gampang aja. Sekali lagi kamu bahas nikah, kulempar kamu ke Danau Toba."
Ryu diam,wajahnya sedikit cemberut."Kamu ...awas aja nanti kalau mau sama aku."
Maira melotot,"terus kalau nanti aku mau sama kamu?"
"Ya aku nggak mau lagi, nanti aku jual mahal. Biar kamu kejar-kejar aku,"jawab Ryu tanpa menoleh ke arah Maira.