"Mai..." Ryu memegang kepala Maira dengan lembut.
"Aku cuma kepikiran papaku aja. Kayaknya sedang ada masalah besar,"kata Maira cemas.
"Ya sudah, nanti kita cari tahu ya. Tidak sopan kalau kita cari tahu sekarang. Ya udah,bantu aku cuci piring yuk,"ajak Ryu sambil membawa piring mereka yang sudah kosong.
Siang harinya, keluarga Hermawan bersiap-siap pulang. Ryu terlihat sedih karena waktunya bersama Maira sudah habis.
"Maira, kalau aku main ke rumah kamu boleh kan?"
Maira terkekeh."Silahkan datang saja. Kita sudah bertukar kontak kan?"
Ryu mengangguk."Oke. Besok aku datang."
"Loh, memangnya kamu nggak kerja?"tanya Maira heran.
"Aku pengangguran,"jawab Ryu yang membuat Arya dan Hermawan tertawa.
"Beneran pengangguran?" Mata Maira terbelalak tak percaya. Itu adalah kenyataan yang menyeramkan bagi orang yang akan menikah.
"Iya, memangnya kalau aku pengangguran kamu nggak mau jadi istriku?"tanya Ryu.
"Nggak!" Maira menggeleng kuat."Aku nggak mau punya suami pengangguran. Aku saja bekerja, masa suamiku tidak. Laki-laki tugasnya cari nafkah sebagai bentuk pertanggung jawaban pada keluarga. Kalau memang belum bekerja, ya kerja saja dulu, belajar cari uang, jangan buru-buru menikah."
Hermawan mengusap puncak kepala Maira sambil tertawa geli."Ya udah nanti kita suruh Ryu kerja ya. Sekarang kita pulang."
"Hati-hati, Om, Tante, Maira,"ucap Ryu tak rela.
Keluarga Hermawan masuk ke dalam mobil, kemudian mobil melaju. Ryu menatap mobil itu sampai hilang dari pandangan matanya.
"Jadi, kamu sudah pendekatan dengan Maira?"tanya Arya menyadarkan lamunan Ryu.
Ryu mengangguk,"sudah, Pa."
"Kira-kira Maira bisa tidak ngadepin sikap kamu yang kadang-kadang cuek dan manja?"tanya Arya lagi.
Ryu mengangkat kedua bahunya."Mungkin, Pa. Tapi, dia anak tunggal ,sih, biasanya dia anak kesayangan, biasa dimanja gitu kan."
"Nggak juga, Maira orangnya mandiri kok, buktinya dia kerja. Bukan ngandelin uang orangtua. Kamu serius sudah pengen beristri? Nggak pengen nikmatin masa muda dulu?" Arya benar-benar tidak yakin dengan keinginan Ryu, meskipun sudah dewasa, Ryu termasuk laki-laki yang manja, mungkin karena ia anak bungsu. Arya takut sifat manjanya itu justru membuat siapa saja yang menjadi istrinya itu tidak nyaman.
"Ryu yakin, Pa, usia Ryu udah lebih dari cukup untuk menikah, kan?" kata Ryu meyakinkan.
"Menikah bukan perihal usai, Ryu, tapi kedewasaan dan kesiapan. Kamu tahu, menikah itu menyatukan dua ego yang berbeda. Di situ kita akan diuji, bagaimana menghadapinya. Dan kamu juga diharuskan membahagiakan istri kamu. Tapi, kalau kamu memang sudah siap, ya sudah kamu dekati saja. Tapi, ingat jangan menyakitinya, dia pernah trauma kan...."
"Iya, Pa,"jawab Ryu. Kemudian ia pergi ke kamarnya.
Di perjalanan Maira tidak bisa tidur, padahal tadinya ia masih mengantuk karena dibangunkan terlalu pagi oleh Ryu. Hari libur adalah hari yang diharuskan bangun kesiangan oleh Maira, karena ia harus menyimpan banyak energi untuk keesokan harinya. Lalu, diliriknya Hermawan Yangs Edang sibuk dengan iPadnya.
"Pa..."
"Iya..."
"Semalam aku ketemu Nugra."
Hermawan menghentikan gerakannya yang sedang menscroll layar."Lalu..."
"Dia ngomong...masih belum bisa lupain Maira gitu. Basi banget kan..."
Odelie menatap Maira."Terus...kamu jawab apa?"
"Nggak terlalu menanggapi ,sih, soalnya dia kan lagi sama Yuki itu. Kalau pun nggak ada ya, Maira juga nggak pengen menanggapi, soalnya ya...nggak ada yang perlu dibahas sih. Diajak balikan juga Maira nggak mau kok, Ma."
Hermawan mengangguk-angguk, setuju dengan keputusan sang putri."Iya, tidak usah. Seandainya Kamu masih cinta pun, Papa tidak akan izinkan lagi. Sebaiknya kita tidak perlu berurusan lagi dengan mereka." Wajah Hermawan terlihat geram.
"Memangnya Papa bertengkar setelah kami batal menikah ya, Pa?"tanya Maira."Maira yang batalin kok, Pa, bukan Nugra."
"Iya, memang begitu, Papa kesal karena Nugra berselingkuh. Tapi, itu urusan kamu dengan Nugra, namanya juga nggak jodoh, mau bagaimana lagi. Ini urusannya beda, urusan bisnis. Papa sedang bermasalah dengan keluarga Nugra untuk masalah bisnis,"jelas Hermawan.
"Oh..." Maira tidak melanjutkan pertanyaannya lagi, dari ekspresi Papanya, terlihat ia sedang serius menyelesaikan masalahnya. Sebaiknya ia tidak bertanya lebih lanjut. Tapi, ia sedikit penasaran masalah apa yang sedang terjadi, apa lagi bermasalahnya juga dengan keluarga Nugra. Sebaiknya ia menanyakan masalah ini pada Danan, kakaknya itu pasti tahu.
Sementara itu, di tempat lain, Yuki dan Nugra bersiap-siap pulang juga usai pemotretan pra wedding. Sebenarnya ini adalah sesi pemotretan tambahan karena sebenarnya mereka sudah pernah melakukan pemotretan di tempat lain dengan konsep yang berbeda. Tapi, Yuki minta pemotretan tambahan, ada spot menarik yang direkomendasikan temannya. Resepsi pernikahan mereka akan dilaksanakan dua Minggu lagi.
"Sayang, aku tadi baca berita,"kata Yuki sambil memasang sabuk pengamannya.
Nugra menyalakan mesin mobil."Berita soal apa?"
"Perusahaan kamu..."
"Memangnya kenapa?"tanya pria itu masih fokus memutar mobil.
"Katanya bermasalah sama keluarga mantan kamu itu ya? Jangan-jangan mereka dendam, terus hancurkan perusahaan kamu, sayang,"kata Yuki sambil terus membaca artikel di layar ponselnya.
Nugra terkekeh."Itu hanya berita, kami baik-baik saja kok. Itu hanya orang-orang yang nggak suka sama aku yang bikin berita kayak gitu."
"Kalau beneran gimana?" Yuki menatap Nugra dengan ngeri.
"Memangnya kenapa?" Nugra terheran-heran."Nanti aku bakalan ngatasin semuanya. Kenapa kamu harus Panik?"
"Siapa tahu aja tiba-tiba kamu bangkrut,"ucap Yuki dengan santainya.
Nugra hanya menggelengkan kepalanya, tak ambil pusing dengan omongan Yuki. Ia sendiri sudah pusing dengan urusan kantor yang akan ia hadapi setelah sampai nanti.
-o0o-
Maira sampai di rumah,setelah mandi dan makan siang, ia duduk di ruang tengah, mengambil majalah di bawah meja.
"Baru nyampe?" Danan muncul dengan membawa segelas jus jeruk.
Maira mengangguk sambil membolak-balik majalah."Jadi, masalahnya gimana, kak? Udah selesai?"
Danan menggeleng."Belum. Disedotnya jus jeruk yang ia bawa kemudian ia letakkan di atas meja.
"Masalahnya apa, sih?"tanya Maira penasaran.
"Kamu nggak perlu tahu dan...mungkin nanti bakalan nggak mau tahu juga." Danan tertawa, tapi, sungguh pernyataan Danan barusan begitu penuh makna. Sekarang Maira jadi penasaran.
"Kan...malah aku jadi penasaran!"omel Maira.
"Soal mantan kamu tuh!"kata Danan keceplosan.
Maira mengembalikan majalah ke bawah meja, tidak jadi membacanya."Apaan?"
"Tuh, masih pengen tahu banget soal Nugra!" Danan mengejek Maira.
Maira memukul lengan Danan dengan kuat. "Nyesel nanya-nanya."
"Maira!" Suara Odelie terdengar memanggil Maira. Gadis itu segera menuju ke teras samping dimana Odelie berada."Kenapa, Ma?" Lalu ekspresi wajahnya langsung berubah.
"Hai,"sapa laki-laki itu.
"Loh, kok kamu ada di sini? Tadi kan masih di rumah?" Maira melongo.
Ryu mengusap tengkuknya, malu."Iya, aku memutuskan untuk nyusul aja. Soalnya waktu kita kan singkat banget."
Odelie menatap Ryu dan Maira bergantian. "Kalian sudah pacaran?"
"Masih pendekatan kok, Tante." Ryu tersenyum.
"Ma, kapan Ryu lewatnya. Kok tiba-tiba ada di sini?"