● BAB 1
Dialah Yana, seorang gadis yang sedang berjalan sendiri menelusuri jalan sambil menikmati suasana tempat yang baru didatanginya seolah tanpa ada beban dipundaknya. Tampilannya yang sederhana mencerminkan dia berasal dari pedesaan.
Suara hiruk pikuk perkotaan memang terasa berbeda dengan di pedesaan. Yana jadi bersemangat apalagi saat ia melihat orang yang berlalu lalang sibuk dengan dirinya masing-masing, terlintas dalam benak, kelak Yana akan menjadi salah satu di antara mereka. Mengenakan seragam kerja dan sepatu high heels, yah Yana sangat mendambakan hal itu.
Dengan segala pertimbangannya, tentu saja Yana tidak mudah memutuskan untuk merantau ke kota. Yana hanya membawa sejuta harapan tanpa membawa bekal. Dalam impian Yana, dia berpikir bahwa di kota bisa hidup enak dan lebih baik. Tapi siapa sangka ada kejadian buruk yang akan menimpanya.
Beberapa pria dengan berpakaian serba hitam turun dari sebuah mobil dengan segera menghampiri Yana yang tengah berjalan sendiri. Tampak jalanan yang dilaluinya sepi. Sebuah kesempatan bagi para pria yang sedang mengincar Yana sedari tadi.
Yana tidak sadar bahwa sebelumnya ia sedang diintai oleh orang yang berada di mobil sedan hitam dan menunggu waktu yang tepat untuk membawanya secara paksa.
Saat kesempatan itu datang dan dengan timing yang pas, para pria itu pun turun dari mobil dan hendak bergegas membawa Yana sebelum ada orang yang melihat aksi mereka.
Salah satu dari mereka memberi intruksi, yang kemungkinan dia adalah ketua dari gerombolan pria yang hendak menyergap Yana, " Cepat bawa Nyonya Yani!" titahnya.
Mendengar perintah itu, anak buahnya segera menyergap Yana. Sontak Yana terkejut karena dihadang para pria berbadan besar dengan penampilan bak gangster. Lalu Yana berusaha berbalik badan dan kabur. Tapi dengan jumlah mereka yang banyak, Yana berhasil ditangkap dengan mudahnya.
Yana pun berontak tak terima dan berusaha melepaskan dirinya dari cengkeraman keras para pria berpakaian serba hitam itu.
"Tu-tunggu! Lepaskan aku! Siapa Nyonya Yani? Namaku Yana alias Liyana!" teriak Yana membela diri.
Para pria itu tidak menggubris teriakan Yana, mereka hanya sekedar menjalankan sebuah perintah dari seseorang untuk menangkap gadis itu dan membawanya. Mereka menyangka gadis itu adalah Nyonya Yani padahal mereka salah, gadis itu adalah Liyana.
"Hei kalian dengar tidak?! Namaku Liyana. Kalian sudah salah orang!"
Yana terus berteriak dan memberikan perlawanannya sekuat tenaga tapi apalah daya tenaga seorang wanita jelas akan kalah oleh tenaga pria-pria berbadan besar dan kekar.
Tubuh Yana mulai gemetar karena ia tak kuasa menahan rasa takutnya yang luar biasa. Air matanya pun mulai menetes membanjiri pipinya yang mulus. Rasanya percuma ia teriak karena sejak awal saat mereka menyergapnya, mulut Yana langsung dibekap agar tak terdengar teriakan lagi yang membuat berisik.
Lalu dengan sepotong kain mulutnya disumpal dan kedua tangannya diikat dengan kencang dengan seutas tali yang sudah dipersiapkan.
Padahal Yana baru saja tiba di kota ini berniat ingin mengadu nasib, sungguh nasibnya naas kali ini. Baru saja menginjakkan kakinya turun dari Bus dan sedikit menghirup hembusan angin segar, sudah ada orang yang berniat jahat padanya.
Mulut Yana dibekap, tangannya diikat dan matanya ditutup oleh kain berwarna hitam. Yana takut sekali, tak pernah terbayangkan bahwa kini ia diculik. Air mata Yana terus mengalir menganak sungai memohon minta dilepaskan. Tapi sayang suaranya tertahan oleh sumpalan sepotong kain yang terikat kencang melingkar di area mulut hingga dagu.
Telinganya mendengar suara deru mesin mobil, Yana tidak tahu mau dibawa kemana dirinya itu dan sudah berbuat salah apa hingga Yana diperlakukan seperti ini. Yana pasrah dan hanya bisa memanjatkan doa dalam hati. Yana sungguh ketakutan, badannya gemetar dan pikirannya kacau tidak karuan.
Dengan kondisi Yana yang sekarang, munculah pikiran-pikiran buruk hinggap di otaknya. Apakah dirinya akan dijual? Atau disandera? Yana merasa yakin tidak mempunyai musuh. Yana juga bukan berasal dari keluarga konglomerat, dia hanyalah gadis yatim piatu yang hendak merantau. Terus ada alasan apa mereka menculik Yana? Yana tak tahu. Memikirkan itu rasanya kepala Yana akan pecah.
Tak lama, Yana merasakan mobil berhenti dan dia dipaksa turun. Yana melangkah mengikuti langkah mereka yang membawanya dengan tangan-tangan besar yang terus mencengkeram erat lengannya. Yana hanya bisa pasrah.
Kemudian mereka mulai membuka satu persatu kain yang mengikat Yana mulai dari mata, mulut hingga kedua tangannya.
Yana terperangah, dia tidak menyangka sudah berada di sebuah mansion mewah dan di hadapannya seorang pria dengan rambut tertata rapi dilengkapi kacamata yang bertengger di hidungnya. Pria itu duduk di sofa dengan elegan sambil memangku seorang anak perempuan yang masih balita.
Aura pria itu terlihat mendominasi ruangan. Penampilannya yang menawan begitu elegan dan berkelas. Dari sudut manapun jelas dialah pemimpin dari para pria yang menculik Yana.
Anak yang dipangku pria itu memanggil Yana, "Mama...mama..." lalu ia datang menghampiri Yana dan memeluknya erat seakan sudah rindu berat.
Senyum smirk pria itu terpancar di wajahnya. Yana bergidik ngeri, ia sangat ketakutan sekali berhadapan dengan orang yang tidak ia kenali.
Yana tak bisa mengendalikan dirinya yang gemetar ketakutan.
Yana tidak mengerti apa yang terjadi dan siapa mereka yang ada di hadapannya juga anak perempuan ini. Dalam hati Yana bertanya 'Mengapa anak perempuan itu memanggilku mama?' Yana masih berdiri seperti orang linglung.
Semua orang memandang ke arah Yana, wajah-wajah yang terlihat asing di mata Yana. Sungguh Yana bukanlah orang yang mereka duga, tapi bibir Yana berat sekali berucap sepatah kata. Yana hanya bisa mengatup bibirnya.
"Kali ini, aku tidak akan pernah membiarkanmu hilang lagi," ucap Pria itu yang perlahan berjalan mendekati Yana lalu dia memerintahkan bawahannya untuk lekas pergi." Ok, tugas kalian selesai. Sekarang kalian tinggalkan tempat ini!"
"Baik, Tuan Melvin."
Sebelum pergi, mereka membungkukkan badan, mereka menyebut kepada pria di depan Yana, Tuan Melvin. "Siapa Melvin?" tanyanya, Yana tampak benar-benar tidak mengenalinya. Yana merasa yakin bahwa mereka sudah salah orang karena membawanya kemari.
Yana terduduk di sofa dengan berwajah bingung dan anak perempuan ini masih terus bergelayutan. Pria itu yang memiliki nama Melvin terus mencerca berbagai pertanyaan yang membuat Yana bingung akan menjawab apa. Lidah Yana terasa kelu.
"Selama ini kau kemana saja? Sudah beberapa bulan lamanya aku mencarimu. Tania sudah sangat merindukan mu begitupun dengan diriku," ucap Melvin dengan terus menatap Yana secara intens.
Yana membalas menatapnya dengan alis yang mengerut. Di tengah kebingungannya, hatinya berbicara, 'Haruskah aku berkata jujur? Atau harus berpura-pura menjadi orang lain seperti orang yang sedang mereka duga? Bagaimana ini, aku takut sekali.'
"Se-sebenarnya aku... aku..." ucap Yana terbata-bata.
Belum selesai Yana menjelaskan siapa dirinya secara mendadak kepala Yana pening ditambah penglihatannya yang semakin lama semakin kabur. Hingga Yana melihat semua gelap dan dia merasa berada di ruang kosong tanpa batas.
'Apa yang sedang aku rasakan ini hanya mimpi? aku sulit membedakan sekarang aku berada di ruang mimpi atau aku sudah terbangun dari mimpi yang baru saja terjadi tadi,' Yana bergumam dalam ketidaksadarannya.
Yana tidak bisa melihat apapun tapi telinganya mendengar sayup-sayup suara yang mengitarinya. Yana tidak sadarkan diri, tubuhnya jatuh ke lantai begitu saja.
---
---
Bersambung...