"bg,cewek yang tadi keluar dari kamar rawat ini keponakannya lo bg" Feri terpana dengan kecantikan Irene
"iya, Napa lo mau ejek Irene"? Hilton tau Feri dan Bilson tidak akan pernah tertarik dengan keponakan nya yang gendut
"lo pikiran jelek aja bg" Feri melihat Hilton yang serius dengan pembicaraan nya
"Fer,lo, gua dan Bilson kita laki laki normal kan, kita pasti akan mencari pasangan yang memiliki badan yang ideal, putih cantik dan mulus, gua nggak akan terima jika keponakan gua dihina karena badannya gendut" Hilton sangat sayang pada Irene,tak ada yang boleh mengejeknya
"gua mau temanan bg,lo pikiran nya langsung menghakimi gua aja" Feri tersenyum pada Hilton
"maaf Fer,gua akan menjaganya lebih dari gua menjaga perusahaan dan nyawa gua" Hilton akan menjaga Irene,dia akan memprioritaskan Irene
"Lo kalau mau teman ama Irene,teman yang tulus,jangan ada tujuan apa apa,karena gua nggak akan tolongin lo kalau sakiti Irene" Bilson jadi merasa bersalah dengan ucapan nya yang selalu menghina badan Irene
"s**t lo" Feri tau jika Bilson sudah berulang kali mengejek badan Irene,dia pun pergi mencari Irene
Bilson dan Hilton membahas proyek besar yang ditangani nya, sampai akhirnya Hilton meminta hal yang tak wajar bagi Bilson
"Bil, kalau gua menghadapi masalah di sini sehingga gua tidak bisa kembali ke Jakarta dalam waktu dekat,gua bisa minta tolong sama lo untuk jaga Irene" Hilton memintanya secara serius pada Bilson, entah mengapa Hilton merasa tidak terima perbuatan Saleh kepada Irene dan Silviana,dendam itu yang ada di kepalanya saat ini, Saleh harus dibuat cacat oleh nya sekalipun penjara menanti nya
"mau kemana lo" tanya Bilson dengan kesalnya
"tolong jaga dia,dia cuma percaya sama lo,dia cuma butuh seorang pelindung jika gua nggak bisa jaga dia" Hilton tidak mau jujur jika dia ingin menghajar Saleh sampai cacat
"Hilton,di sini banyak perawat,lo bisa minta obat apapun biar otak lo normal" Bilson merasa kalau Hilton hanya kelelahan jadi bicaranya ngelantur
"Robert jangan tinggalkan aku" Silviana menangis histeris, Bilson dan Hilton segera masuk ke kamar dan melihat Silviana yang jatuh dari tempat tidurnya
"Dokkteeeer" teriak Hilton,karena dia sangat cemas melihat Silviana yang sangat-sangat histeris
Perawat yang mendengar suara Hilton berlari dan masuk ke dalam ruang perawat Silviana
"kenapa pasien bisa seperti ini,apakah tidak ada yang menjaganya di dalam" perawat yang melihat darah dari selang infus berteriak
"maaf mbak,tolong selamatkan kakak saya" Hilton memegangi tangan Silviana agar tenang
"Sekarang juga lo bawa Irene ke sini, mama dia teriak teriak gini manggil papa nya" Bilson menelfon Feri agar segera membawa Irene ke rumah sakit
Sementara di jalanan
"mama kamu butuh kamu,ayo sekarang dia lagi nangis mencari papa kamu" Feri dengan refleks menarik tangan Irene, karena dari tadi dia tidak mau bicara ataupun menjawab pertanyaan Feri
"mama" Irene mengikuti Feri yang menarik tangannya untuk kembali ke rumah sakit
Flashback on
"kemana perginya ya Irene" Feri melihat tidak ada di halaman rumah sakit
"Heru, dimana Wanita yang lo ikuti tadi" Feri menelfon Heru salah satu bodyguard nya
"ini bg,di jalan dekat halte busway,keluar aja bg nggak jauh dari rumah sakit, Feri berjalan dan melihat Irene sedang duduk di trotoar sambil menangani
"hey,kamu di sini" Feri duduk di samping Irene,tapi sayang wanita yang di sapa nya sama sekali tak bergeming
Segala cara yang dilakukan Feri agar Irene mau berbicara,hingga Bilson mengabari keadaan Silviana
Flashback Off
"mama, kenapa ma" Irene melihat sisa air mata Silviana,ya saat Silviana ingin lari dari rumah sakit dia mau mencari Robert,karena perawat,Hilton dan Bilson kewalahan terpaksa suntikan penenang yang diberikan pada nya
Hilton, Bilson dan Feri duduk di sofa kamar rawat Silviana, mereka bertiga hanya terdiam melihat Irene yang menangis
"ma, kalau memang menurut mama papa lebih berharga daripada Irene, silahkan ma, pergilah bersama papa, Irene menderita saat papa pergi tapi Irene sangat menderita melihat mama hanya memikirkan papa tanpa mama memikirkan Irene yang sangat butuh mama,apa nggak bisa mama buang keras kepala dan egois nya mama, Irene masih butuh orang tua ma" Irene meluapkan semuanya saat Silviana tidak bisa menjawab nya
"terserah lah kak,aku yang akan menjaga Irene, pergilah jika kau memang tidak bisa lagi memiliki sedikit rasa sayang pada anak mu" Hilton tertunduk lemah
Bilson dan Feri hanya terdiam,mata mereka berdua tak lepas dari Irene, Irene gadis cantik yang memiliki hati yang rapuh
di lain tempat
"Kenapa anak buah ku belum pulang juga" Solim yang memerintahkan 3 orang untuk memata matai Hilton dan Irene sama sekali tak ada kabarnya
"hua,anak buah yang payah,jangan jangan mereka sudah ditangkap bang sama si Malih" Saleh mengompori Solim agar dia semakin brutal
"kau tenang lah, sekalipun mereka mati,masih ada 20 orang lagi yang bisa kita perintah" Solim memanggil anak buah nya dan memerintahkan untuk memantau rumah Irene dan rumah sakit tempat Silviana
"bang, Kapan gua busa nikmati tubuh Irene yang sangat-sangat menggiurkan itu" Saleh terus membayangkan wajah Irene
"sabarlah, setelah kita singkirkan dan dapatkan rumah nya,kita akan menjadikan Irene pelayan s*x di rumahnya sendiri
"ahahahahaha,tapi tunggu aku bosan ya bang" Saleh tidak ikhlas jika laki laki lain juga menunggangi Irene
pagi menjelang di Desa Cc
"Irene, kamu dimana" Silviana mencari Irene
"ya ma" Jawab Irene yang baru selesai mandi di kamar mandi ruangan Silviana, sementara 3 pria itu tertidur di sofa
"nak, maafkanlah mama,mama mengabaikan mu nak,mama minta maaf" Silviana membuka kedua tangannya untuk memeluknya Irene
"mama" Irene memeluk Silviana dan menangis, Feri yang mendengar nya terbangun dan mendekati Silviana dan Irene
"selamat pagi tante, kenapa menangis? apa ada yang sakit,Mau Feri panggilkan dokter" Feri takut jika Silviana histeris lagi,dia teringat cerita Bilson tadi malam
"nggak kok mas, Tante nggak apa-apa,kamu siapa"? Silviana baru sekali ini melihat Feri
"itu Tante,Feri teman kerja bang Hilton" Feri menjulurkan tangannya untuk berkenalan dengan Silviana, sementara Irene sibuk menyiapkan sarapan pagi untuk mama nya
"oh maaf, Tante kira pacarnya Irene" Silviana menjahili Irene dan Feri
" kalau dia mau si Tante" Feri menjawab keisengan Silviana
"ehm" Irene tidak suka seperti nya
"ma, makan dulu ya, biar nanti Irene bersihkan badan mama,awas kamu ganggu aja dari semalam,kamu pengangguran ya atau kamu sampah masyarakat" Irene mendorong Feri agar menjauh dari Silviana dan duduk di kursi sambil menyuapi mama nya
"Tante, Irene suka cabe rawit apa cabe setan ya" Feri berlari ke samping kanan Silviana
"emang kenapa,kamu mau bilang aku kayak setan"! akhirnya Irene menjawab Feri, sedangan Silviana bingung dengan pertanyaan Feri
"Irene memang sangat suka cabe mas" Silviana menjawab dengan polosnya
"berapa sendok tante sekali makan" Feri semakin penasaran sedangkan Irene menatap tajam pada Feri
"Kalau dia makan mie ayam atau mieso bisa pakai 6 sendok cabe tanpa kecap,coba bayangin, pedes kan" Silviana membeberkan Irene si pemakan cabe
"oh pantesan,pantes banget" Feri menaruh tangannya di pinggang
"pantes apa" Mata Irene seperti mau keluar dari tempatnya
"pantas mulut kamu pedes kayak cabe ayam geprek level 55 cabe setan"! Feri membuat Silviana tertawa senang, Feri dan Irene heran melihat tawa Silviana
"mama,makan dulu ya nanti tersendak lo ma" Irene menyuapkan Silviana nasi dan sayuran
Hilton mendengar candaan Feri tersenyum,dia bisa membuat Silviana tertawa " terimakasih Fer"
"Sejak kapan tu bocah bisa dekat gitu sama cewek desa, biasanya karyawati di kantor gua mati ketakutan sama dia,lihat di sini dia seperti orang bodoh"! Bilson berteriak dalam hatinya, sebenarnya juga mendengar nya tapi dia memilih diam dan masih memejamkan matanya
"Tante, coba deh kasih Irene makan madu,gula, permen atau gulali, pasti mulut Irene akan manis Tante kalau bicara" Feri masih sangat penasaran dengan Irene,gadis desa yang cantik tapi badannya gendut,bisa bisanya mengabaikan Feri si tampan
"jangan nanti dia tambah imut" Silviana tidak mau Irene tambah gendut
"kamu mau menghina saya ya, mau bilang saya gendut gitu" Irene berdiri dan menunjuk Feri
"nggak, Tante emang ada Feri bilang dia gitu" tanya Feri pada Silviana yang tersenyum melihat pertengkaran Irene dan Feri
"lupa" jawab Silviana santai
"ha" Feri terkejut dengan jawaban Silviana, Irene semakin meluapkan emosi nya pada Feri
"garang juga ni cewek, tuh kan lo semakin membuat gua penasaran" Feri menikmati ceramah panjang Irene
Hilton berdiri dan membasuh mukanya ke kamar mandi di samping tempat tidur Silviana
"gila tu Irene, dia nggak tau ya, kalau Feri itu pria terganteng sesudah gua dalam keluarga besar Hendrick,hahahaah astaga ada juga yang bisa tak terpana dengan kegantengan manusia astral itu" Bilson terus mengutuk kebodohan Feri dalam hatinya
"mau makan mie ayam dengan cabe 7 sendok nggak" Feri langsung memberhentikan pidato Irene
"mau,kamu sekarang keluar tunggu dekat halte busway, bilang saja buat Irene Ardian mereka sudah tau" Irene duduk kembali di kursinya dan memberikan obat pada Silviana
"unik banget ni cewek" Feri semakin memandang wajah Irene
"woy buruan, melongo aja" Irene melempar Feri dengan bungkusan obat
"yang mau beli maksud kamu siapa,aku"? usil Feri lagi
"ya nggak mungkin juga tiang infus yang beli"! om darimana sih dapat teman tulalit gini lama banget nangkap nya" Irene protes pada Hilton yang baru keluar dari kamar mandi
"Irene yang sopan ah" Silviana mulai tidak enak pada Bilson yang sedang tertidur
"semalam dia numpang ama om yang itu,kata nya mau lihat pedesaan" Hilton menunjuk Bilson
"emang kalian ada berapa orang" tanya Irene yang sama sekali tidak tau ada Bilson
"hahahahahahhaha, wanita unik emang keponakan nya lo bg, Bilson Hendrick pengusaha tambang emas tidak dianggap ada oleh keponakannya Hilton Ardian" Feri tertawa semakin keras
"iiiiihhhh,belikan mie-nya sekarang mulut emak emak" Irene tidak mau memperpanjang urusan nya dengan Bilson ntah siapalah itu bagi dia
"ok aman,kamu tenang saja" Feri menelfon Heru
"bg,maaf lagi sarapan mie ayam ni,enak banget bg lo mau nggak" Heru sudah tambah 2x begitu juga anak buahnya
"wah kebetulan ni,tolong lo bungkus mie nya buat kami di sini" Feri menanyakan pada semuanya dan mereka mau
"aku double ya,cabenya 8 sendok nggak pakai kecap dam saos tomat" Irene mendadak lembut pada Feri
"4 aja ya buat kami, sekalian bawa mangkuk nya dan sendok,di sini nggak ada peralatan makan" Feri mengisengi Irene
"aku" tanya Irene heran
"minta maaf dulu,baru aku pesankan" Feri ingin sekali melihat sisi lembut Irene
"nggak SUDI,aku bisa jalan dengan kaki aku dan aku punya uang" Irene semakin kesal
"eh iya iya,anak manis, cantik dan manja,udah aku pesankan buat kamu ya,duduk Irene" Feri kalah lagi dari Irene
"Heru,4 biasa dan satu lagi" Belum selesai Feri menyampaikan pesanan nya Irene langsung menarik hp Feri
"halo pak,tolong bilang aja yang 1 lagi buat Irene ya pak,pasti mamang jualannya udah tau, terima kasih ya pak" Irene memutuskan sambungan telefon ny dan melemparkan hp Feri di tempat tidur Silviana
"sama gua tadi lo kayak macan tutul sama orang lain kayak kucing lembut banget" Feri tak percaya dengan keangkuhan Irene
"aduh cukup ya kalian berdua,tante pusing" Silviana menutup kedua telinganya
"hahahhah, Feri, keponakan gua ini nggak sama kayak wanita Jakarta seperti Seli,Diana,Alin dan yang lainnya lagi, Irene itu macan betina" Hilton tertawa memeluk punggung Feri
"Langka banget cewek kayak gini" Feri duduk lagi di sofa dan mulai membuka Email nya
"kenapa lo di sini kayak emak emak si Fer, biasanya mulut lo terkunci sama cewek" Bilson akhirnya bangun dari pura pura tidur nya
"gua lagi kerja bg" Feri mengeluarkan laptop dari tas nya dan mulai bekerja
"Hilton,di sini nggak ada yang jual kopi" Bilson memijit lembut dahinya
"wah,gua nggak tau juga boss,gua nggak pernah kepikiran minum kopi selama di sini" Hilton merasa tak enak pada Bilson
"Irene,di sini ada kantin nak,kamu pergi ya belikan buat teman om kamu" Silviana menyuruh anaknya mencari kopi buat Bilson
"oh iya,tapi mie ayam Irene jangan ada yang pegang ya" Irene membawa tas nya dan segera keluar
"maaf, boleh om ikut" Bilson masih takut kopinya ternodai
"ya udah om, ayo" Irene keluar dari kamar Silviana
" bg,gua titip air mineral dengan nasi ya, perut gua nggak tahan langsung makan mie" Feri memang harus makan nasi bagaimana pun keadaan nya
"di situ ada jual nasi juga mas, kamu emang sama kayak Irene pecinta nasi" Silviana senang sekali melihat Feri mau berteman dengan anaknya
"oh iya makasih kak" Bilson memgambil dompet nya
"om buruan" Irene masuk lagi dan memanggil Bilson
"awas ntar lo di cakar sama macan,buruan" Feri mendorong Bilson agar keluar dari ruangan Silviana
"kak, terimakasih udah mau kembali seperti dulu, Irene sangat membutuhkan kakak" Hilton senang akhirnya Silviana sadar jika Irene sangat membutuhkan nya
"iya, kalau bukan karena kamu dan Bilson mungkin kakak nggak akan sadar jika Irene masih membutuhkan kakak" Silviana meneteskan air matanya
"biarkan bg Robert bahagia kak bersama sang pencipta karena kita semua juga akan kembali kepadanya juga jika sudah tiba waktunya" Hilton berhasil membujuk Silviana dengan susah payah semalaman