02. Revan dan kedatangan Andana

2075 Kata
Bagi Saras, impian terbesarnya adalah bertemu Lee Taeyong. Menjadi salah satu dari banyaknya lautan manusia yang mengikuti konser. Membeli banyak album untuk mendukung grup berisi banyak laki-laki tampan itu. Lalu, berharap bisa ikut fanmeeting dan bertatap muka adalah hal yang paling disukainya. Saras ingin kuliah di jurusan Arsitektur. Tapi sebenarnya, Saras masih ragu. Yang membuatnya malah tak jadi berkuliah atas bantuan mas Dafa juga Andana. Gadis itu merasa krisis akan keinginannya saat lulus sekolah kejuruan. Cita-citanya waktu SD adalah menjadi arsitek. Lalu cita-cita itu terus berubah seiring bertambahnya mimpi Saras. Pernah sekali Saras mengatakan dengan lantang. "Saras mau jadi SNSD!" matanya sudah berbinar dengan senyuman riang sepulang sekolah. Tapi, mas Dafa yang duduk di depan televisi melayangkan satu kata yang membuat Saras mengamuk dan diam hingga 2 hari tak menegur Dafa sama sekali. "Halah, lu sama dengkul Taeyeon aja kalah," Jelas. Sebagai Sone nomor satu. Penggemar Taeyeon noona, Dafa tak terima idolanya disamakan dengan bocah berumur 11 tahun dengan seragam merah putih dan wajah cemong es krim itu. Meskipun itu adalah adiknya sendiri. Akibatnya, Dafa harus menggedor kamar Saras hingga si adik memaafkan meski dengan hati dongkol setengah mati. Saras itu plin plan. Bahkan mas Dafa sering mengamuk dengan kelakuan Saras yang satu ini. Katanya mau A ditanya lagi minta B. Lihat C pindah ke C. Giliran mau fix ternyata tidak jadi. Memang, Saras hanya terpatri pada Lee Taeyong seorang. Cita-cita Saras kembali pada Arsitek. Entahlah, Saras hanya suka menggambar, tidak suka menghitung. Sedangkan untuk menjadi arsitek, Saras harus rajin belajar menghitung. Begitu kata guru PKn nya sewaktu SMP. Dan Saras kembali menyerah. Karena dia sangat malas menghitung. Satu-satunya harapan Saras hanya seni musik. Meski malas membuka mulut, Saras punya suara yang lumayan enak di dengar. Tidak semerdu suara mas Dafa ketika mandi sih. Tapi Saras rasa, kalau dia ikut Indonesian Idol. Paling tidak bisa ketemu bunda Maya. Awalnya, Saras merasa akan cocok ada di seni musik. Motivasinya saat itu karena nilai ujian menyanyinya dapat A plus. Tapi beberapa minggu kemudian, Saras mulai menemukan kesukaannya. Saras suka menggambar, suka bagaimana dirinya menggores pensil ke kertas miliknya. Terlebih, jika itu tentang memadukan warna. Saras ingin jadi designer interior. Katanya waktu itu. Tapi mungkin, jadi umbi-umbian lebih baik. Karena Saras, memang tak mau seribet itu. Dan kembali lagi pada realita. Saras yang awalnya mempertimbangkan untuk gap year nyatanya keterusan untuk bekerja di sebuah kantor distributor. Lumayan sih. Untuk mengisi dompetnya yang sering kelaparan. Karena jurusan Saras memang Teknik Komputer. Dia masih dipercaya untuk bekerja di kantor tersebut setelah beberapa kali memperbarui kontrak. Gajinya memang tak sebanyak orang-orang di lantai atas. Tapi, Saras tetap bersyukur. Kata bapak, rezeki datang bukan hanya dalam bentuk uang. Tapi kesehatan, ketentraman dan kebahagian adalah rezeki yang paling indah. Bagaimana uang didapat Saras dari kerja kerasnya adalah sebuah keberkahan yang akan membuat Saras bahagia karena dapat rezeki yang halal. Sebenarnya, impian paling besar Saras adalah membawa mama dan bapak pergi ke tanah suci. Entah itu umroh, tapi kalau bisa sih haji saja. Maka dari itu, sekarang adalah waktunya untuk Saras mencari pundi-pundi untuk kehidupannya. Menghidupi Lee Taeyong beserta anak-anak nyai. Dan impiannya untuk menjadi anak yang solehah dan masuk surga. Aamiin. Saras mengeratkan jaket bomber merah pemberian mas Dafa. Iya, mas Dafa memberikan itu sebagai hadiah ulang tahun Saras yang ke-18. Tapi, Saras tetaplah Saras yang tak afdol kalau tidak suudzon pada kakaknya itu. Karena ia melihat mas Dafa memakai jaket ini seminggu sebelum diberikan padanya. Oke. Mungkin kekecilan. Dan Saras adalah seseorang yang bisa dilungsuri baju oleh mas Dafa. Saras tidak masalah. Ia tak marah sama sekali. Hanya meledek mas Dafa dengan jaket impian yang pas di badannya itu. Biarlah mas Dafa mendengus sesuka hati. Saras tidak peduli. Saras kembali menoleh kanan kiri. Keadaan depan kantor mulai sepi. Sudah banyak karyawan yang pulang lebih dulu. Apalagi, ini sudah masuk malam minggu. Di kantor Saras, hari sabtu memang libur. Tapi untuk sabtu ini, Saras harus merelakan waktu rebahannya untuk lembur. Berangkat dengan jam kerja setengah hari. Namun karena akan ada audit dari kantor pusat, dua jam yang lalu dihabiskan dengan rapat bersama managernya. Lelah? Saras bahkan tiap hari hanya ingin rebahan di kasurnya. Terlebih sore ini cuaca mendung, belum benar-benar turun hujan atau gerimis. Cukup dingin, suasana yang cocok untuk Saras rebahan hingga hari Senin. Tapi sampai detik ini, Dana belum juga menampakkan diri. Ia menghela napas panjang. Memilih duduk di depan lobby yang sudah tutup. Menyaksikan jalanan depan yang mulai padat. Sekali lagi, malam minggu. Jika orang lain akan pergi kencan, makan malam, jalan-jalan memutari kota menghabiskan bensin dan tenaga. Saras lebih memilih untuk diam di kamar. Menonton drama atau acara ragam korea dengan bintang tamu manusia-manusia tampan bak pangeran negeri dongeng. "Annira? Kok sendirian?" Saras merinding. Gadis itu langsung mengangkat wajah. Hanya untuk mendapati seorang laki-laki berumur 30an tengah tersenyum padanya. Saras tak suka. Bukan tidak suka secara keseluruhan pada laki-laki ini. Sesungguhnya, pak Revan--nama panggilan orang ini-- baik pada semua orang. Tapi gestur dan tatapan yang seolah menginginkannya, membuat Saras lebih memilih menjaga jarak. Saras bukan manusia bodoh yang tak tahu bagaimana cara laki-laki ini menatapnya. Atau mungkin, Saras hanya melebihkan perasaan waspadanya. Ada empat orang yang selalu memberikan tatapan teduh dan terasa nyaman. Tatapan kasih sayang mama. Tatapan menjaga bapak. Tatapan julid mas Dafa yang meski beberapa kali Saras ingin mencolok matanya, masih terasa selow-selow saja. Juga, tatapan dalam Dana yang menyejukkan. Dan pria di sampingnya ini. Jelas tak ada dalam daftar panjangnya. Saras meneguk ludah dan bergeser. Memberi jarak cukup lebar agar pria ini tak mendekatinya. Doanya satu, semoga Dana cepat sampai dengan wajah kalem sekaligus garangnya. Hanya itu. Atau setidaknya, mas Dafa mau menjemputnya dengan tatapan julid menusuk ala mas Dafa yang membuat orang mati kutu. Saras sungguh tidak suka. Ia melirik kecil ketika laki-laki yang tak lain adalah salah satu manager kebanggaan yang sekarang ini menatapnya terang-terangan. Saras tak nyaman. Ingin kabur, tapi yang ada laki-laki ini tak akan tinggal diam dan mencegahnya. "Ayok lah, sudah mau hujan. Pakai mobil, biar tidak kehujanan," kata laki-laki itu lagi. Seringaian itu makin membuat Saras tak nyaman. Ingin sekali dia memanggil pak Yudha si HRD yang dekat dengannya. Tapi melihat seseorang membonceng di belakang, Saras urung. Mana mungkin? Yang ada Saras malah dibacok si leader galak. Yang galaknya melebihi mas Dafa itu. "Gak pak, masih nunggu jemputan," Kata Saras berusaha sopan. Bergeser lima detik sekali. Demi menghindari laki-laki ini. "Masa sih? Suruh aja yang jemput gak usah. Diantar saya, sampai rumah. Sekalian makan di restoran. Gimana?" Saras meringis kecil. Masih berusaha mengotak atik handphone nya. Mengirim banyak bubble chat pada Dana. Menyibukkan diri. Toh, Dana punya banyak stok sabar untuk menghadapinya. "Maaf, saya udah dijemput pak," kata Saras lagi. "Mungkin sudah dekat. Saya permisi," Saras berjalan lebih dulu. Tak peduli pada gerimis yang sudah turun rombongan dari langit. Demi menjauh sejauh jauhnya. Sekali lagi, Saras tak pernah nyaman ada di dekat laki-laki ini. Perasaannya selalu tak nyaman. Saras mengeratkan pegangannya pada tas selempang hitam miliknya. Ia tersentak ketika Revan menarik tangannya menahan. Membuatnya merasa berubah menjadi patung batu. Revan menyeringai. Maju beberapa langkah untuk sejajar dengan tubuh Saras. Menggenggam erat tangan Saras. Yang membuat gadis itu bergeming lama dan merasa tangannya sudah dingin dengan kaki yang melemas. Ia meneguk ludah dengan napas memburu. Padahal Revan tak melakukan apapun selain menatapnya intens dari jarak dekat. "Kamu sakit?" tanya Revan dengan nada khawatir. Entah itu tulus atau tidak. Yang Saras mau hanya Dana. "Sa-saya tidak apa. Maaf saya harus pergi," Saras berusaha menepis tangan Revan dari tangannya. Ia menggigit bibir bagian dalam. Sudah ingin menangis. Mengalirkan tetes demi tetes seperti gerimis yang kian deras menjadi hujan. "Kamu sakit loh, saya antar ya? Kalau naik motor nanti tambah sakit." Revan mengikis jarak. Saras jadi melotot, ketika pria itu lebih gencar mengikis jarak darinya. Bahkan setelah Saras mundur beberapa langkah, Revan masih saja maju hanya untuk meraih pipi kanan Saras. "Kamu sakit, Saya antar saja. Atau rumah kamu terlalu jauh? Saya antar ke klinik," Saras menggeleng keras. Ia sudah terlalu takut pada laki-laki ini. Seberapa keras Saras menghindar, Revan tetaplah Revan. Mendekat meski Saras ketakutan. Bahkan sekarang sudah bisa meraih dagu Saras dengan lancang. "Saya akan buat kamu sembuh. Ke klinik ya, Annira," Saras gemetar, merinding hanya dengan nada bariton milik pria di depannya ini. Cahaya terang dari lampu kemuning dengan klakson yang terdengar memekakkan telinga membuat Saras dan Revan menoleh bersamaan. Gerakan sederhana Dana melepas helm hitamnya jelas membuat Saras bisa sedikit bernapas lega. Dengan jas hujan biru tua laki-laki itu menghampiri Saras dan Revan. Menepis kasar tangan Revan dan segera mengambil alih tangan Saras. Menggenggam tangan itu dengan tangan dinginnya yang habis diguyur hujan. "Gwenchana?" Saras melengkungkan bibirnya ke bawah. Membuat Dana langsung melirik tajam pada Revan yang melihatnya dan Saras bergantian dengan tatapan tak kalah sengit. "Kajja," Dana enggan untuk pergi. Hanya menatap tepat pada Revan yang menampilkan gaya congkaknya. Wajah Dana memang menunjukkan manusia tanpa uang. Tapi jelas, Dana adalah manusia penuh kasih sayang. "Kalau Saras tidak mau. Ada baiknya Anda tahu diri, Pak. Permisi," "Ayo," Saras mengangguk kecil mencengkram erat lengan Dana yang terbalut jas hujan. Tanpa kata, masih enggan bicara. Saras membiarkan Dana menyiapkan jas hujan biru muda dan memakaikan ke tubuhnya. Pemuda itu menatap Saras lembut. "Gwenchana. Gue di sini," "Dana.. Gue takut," -_-_-_- Saras terus memegangi belakang kaus hitam Andana. Gadis itu masih takut, apalagi ketika masuk ke dalam kedai besar itu dan menemukan banyak laki-laki yang memperhatikannya. Saras meraih lengan Dana, menunduk dengan kening menempel pada bahu pemuda jangkung itu. Dana hanya tersenyum tipis. Menepuk pelan kepala Saras dengan tangan besarnya. "Katanya tadi mau makan. Baegoppa," ledeknya membuat Saras tambah merenggut menyembunyikan diri. "Ayo, ke meja pojok," Dengan tenang, Dana meraih tubuh Saras. Memeluknya dan berjalan menuju meja pojok yang sepi. Sengaja dikosongi hanya untuk tuan Andana seorang. Terdengar lebay, tapi Dana sudah jadi langganan di tempat ini. Memesan meja paling sudut yang sepi bahkan sebelum ia datang ke tempat ini. Untuk Annira Saras yang hari ini harus dijauhkan dari makhluk berjenis laki-laki. Tapi dengan Dana, kenapa Saras tak takut dan menempel sesuka hatinya? Pesanan sudah tiba hanya dalam kurun waktu lima menit. Cepat sekali. Dua kodi sate dihidangkan dengan lontong dan kerupuk yang siap di piring, sudah dipotong sedemikian rupa. "Satu sate, tujuh tusuk--" "Gak minat. Gue capek," Dana mengangkat kedua alis. Tapi kemudian menggeleng kecil. "Makan, nanti lo pingsan," "Gue pengen pulang Na. Gue capek," rengek Saras dengan mata berkaca-kaca. Siap menumpahkan cairan bening sederas hujan di luar kedai. Dana hanya bisa menghela napas panjang. Menepuk puncak kepala Saras, menenangkan. Dengan gadis itu yang merunduk menahan tangisnya sendiri. "Nanti mama sama bapak lihat. Katanya gak mau mereka khawatir?" Saras hanya mengangguk. "Makan dulu, gue udah bilang sama mas Dafa. Hari ini pulang telat," "Lo ngomong apa sama mas Dafa?" tanya Saras dengan wajah kusutnya. Jelas khawatir jika Dana akan melaporkan apa saja pada kakak galaknya itu. Yang ada, nanti Saras dicaci maki tanpa henti. "Gak ada, cuma ngomong mau makan dulu," jawab Dana tenang. Seraya menggigit daging yang ditusuk dengan bambu panjang itu. "Cuma, mas Dafa minta sekodi. Sate," Saras dengan wajah kusutnya mendecak. Tapi tak heran juga, mas Dafa memang begitu. "Dana," panggilan Saras menginterupsi Dana yang masih menikmati makanan di depannya mengangkat wajah dengan kedua alis terangkat spontan. "Kulit," Dana yang sudah paham memajukan piringnya. Hanya untuk mendapatkan beberapa iris kulit ayam kenyal dari piring Saras. Menerimanya dengan senyuman lebar. Saras tak pernah suka kulit ayam, tak juga dengan hati dan ampela, atau setetek bengeknya jeroan ayam, sapi, atau yang lainnya. Gadis itu penyuka daging. Dan Dana menyukai hati ayam. Katanya enak. Hal itu yang membuat Saras tak pernah sungkan untuk mengulurkan sepotong kecil hati ayam dari tusuk satenya. Dana pernah bertanya pada Saras. "Kenapa gak suka hati ayam?" Saat itu, Saras masih kelas 1 SMK. Dengan wajah songong dan decakan ia menjawab. "Udah muak makan ati," Dana dibuat ngakak karena itu. Dan sampai saat ini, Dana si penyuka hati akhirnya jadi tempat Saras menghibahkan hati padanya. Hati ayam, kulit ayam, juga menukar paha ayam dengan d**a ayam miliknya. Tapi Saras tak pernah tahu atau peduli. Dana si penyuka hati juga menyukainya. Atau mungkin, Saras hanya menutup mata akan hal itu. Akan hati Dana yang terlalu baik untuk manusia buruk sepertinya. "Kalo seandainya besok gue kenalin pacar ke elo. Gimana, Ras?" Saras beku. Hatinya merasa panas begitu saja. Entah apa yang terjadi padanya saat ini, tapi melihat bagaimana wajah tenang dengan kerlipan berbinar Dana membuatnya menekan jauh egonya. Gadis itu meneguk ludah hanya untuk membasahi tenggorokannya yang kering. "Kenalin aja," 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN