bc

Choice

book_age16+
304
IKUTI
1.2K
BACA
family
HE
friends to lovers
goodgirl
brave
drama
bxg
campus
friendship
secrets
like
intro-logo
Uraian

Hidup adalah sebuah pilihan. Tergantung bagaimana seseorang memilih untuk melanjutkan hidupnya. Termasuk Annira Saras yang ingin melanjutkan kembali mimpinya setelah dua tahun hidup mengikuti arus yang ada. Selalu takut kepada laki-laki nyatanya tak membuat Saras juga takut pada Andana Gibran, sahabat yang ia temui sejak 6 tahun yang lalu.

Hari-hari yang Saras habiskan dengan laki-laki itu tak lantas membuat keduanya menjadi sepasang kekasih. Saras dan Dana bagaikan dua ujung kutub yang berbeda. Ketika Saras mulai melangkah, Dana memilih menyerah. Bukankah hidup adalah sebuah pilihan?

Lantas, apakah Saras akan mempertahankan Dana atau memilih melupakan laki-laki itu?

chap-preview
Pratinjau gratis
01. Drama pagi hari
Suara dentuman keras terdengar di ruangan yang masih gelap di jam 4 pagi itu. Bukan, ini bukan kelab atau tempat hiburan malam. Melainkan sebuah ruangan berukuran 3x3 meter yang hanya diisi seonggok manusia yang belum membuka mata sepenuhnya. Alarm jeda beberapa menit sampai akhirnya berbunyi lagi. Kali ini membuat si pemilik langsung terlonjak dari tidurnya karena handphone di bantal menimpuk kepalanya. Membuatnya berjengit kaget dengan mata masih terpejam. Gadis itu menggeliat dengan kedua tangan terangkat di depan wajah. Menari kecil dengan mata masih terpejam mengikuti lagu yang menggebu pagi ini. Matanya memicing menyesuaikan cahaya handphone yang terlalu terang. Sekedar mematikan alarm lalu kembali terlentang dengan mata sayunya yang mengerjap. Ia menguap lebar, berguling ke kanan dan memperbaiki selimutnya. Yang tak lama menggeram karena dia harus benar-benar bangun pagi ini. Gadis itu duduk, merangkak ke pintu dan meraih handuk biru yang tergantung di belakangnya. Ia mendengus, lagi-lagi mendengar suara bising dari kamar paling depan. Setiap hari, itu adalah rutinitas pertama yang ia dengar. Suara mama yang mengomel karena sang kakak tak juga bangun untuk melaksanakan ibadahnya. Annira Saras Ayudia namanya. Gadis berumur 19 tahun yang memilih untuk melakukan hidup dengan kesenangannya. di saat yang lain memilih melanjutkan untuk menempuh pendidikan strata atau diplomat, Saras memilih untuk mengisi dompet dengan keringatnya yang berubah jadi lembaran uang. Kuliah? Tentu Saras ingin. Apalagi, impiannya sedari SMP adalah masuk ke Universitas favorit dengan jurusan Arsitektur. Entah apa yang jadi motivasinya, tapi mungkin kini, uang adalah motivasi terbesarnya untuk bangkit dari duduknya dan berjalan gontai ke dinding. Ada Lee Taeyong yang harus ia nafkahi jika comeback telah tiba. Saras memang suka dengan laki-laki asal Korea Selatan itu. Wajahnya yang seperti anime dengan kelakuan yang absurd padahal wajahnya terlihat dingin membuat Saras semakin mencintai lelaki yang belum pernah ditemuinya itu. Saras hanya kpopers modal kuota untuk streaming. Ataupun membeli beberapa printilan dengan harga yang lumayan menguras dompet Saras yang tipis. Gadis itu membalik tubuh setelah menyalakan lampu kamarnya. Melambai beberapa kali pada poster juga polaroid yang tergantung di dinding. Setelah melambai pada 23 orang dalam poster, juga melemparkan finger Heart pada poster besar Lee Taeyong, Saras keluar kamar menuju kamar mandi di dekat dapur. Ia nyengir lebar ketika sang kakak mendelik dari pintu kamarnya. Segera, Saras masuk ke dalamnya kemudian cekikikan meninggalkan sang kakak yang berdecak di luar kamar mandi. Biarlah, salah siapa tidak segera bangun. Lima belas menit. Saras tak butuh terlalu banyak waktu untuk berdiam di dalam kamar mandi. Melakukan ibadah seperti biasa, berdoa pada sang maha kuasa agar ia diampuni dosanya yang setinggi emosi mas Dafa. Gadis itu sudah duduk tenang sembari meminum teh manis buatan mama. Sementara sang mama tengah menambahkan berbagai macam lauk ke piring putih yang sudah terisi nasi yang mengepulkan uap untuknya. "Dana belum pulang?" tanya mama membuat Saras mengangkat wajah dengan sendok menggantung di depan wajahnya. Ia menggeleng kecil. "Saras belum tahu. Tapi sebentar lagi liburan semester," jawabnya seadanya. "Nanti kalo Dana udah pulang. Suruh ke sini, mau mama masakin yang banyak," biasa. Sudah biasa Saras mendengar ini. Bagi mama, Dana seperti anak sendiri yang sangat mama sayangi. Berbeda dengan Dafa si kakak Saras yang terlalu emosian, Dana ada di level lain. Pemuda itu penyabar. Senyumnya manis meski wajahnya tak pernah berubah ketika di luar rumah. Dana juga terlalu rajin. Membuat mama senang membandingkan Saras dengan sahabatnya itu. Saras si pemalas dan Dana si rajin. Kalau boleh dan patut, mama ingin menukar putrinya dengan anak pak Iwan itu. Terlalu pusing menghadapi Saras yang pemalas dan emosian. "Hm," jawab Saras bergumam. "Mas Dafa mana sih?" tanya Saras tak sabaran. Menoleh kanan kiri mencari Dafa yang belum juga keluar dari kamar. Atau mungkin, Saras sudah ditinggal karena merebut giliran kamar mandi tadi pagi. Mama menggeleng kecil. Melipir ke kamar depan untuk mengetuk pintu kamar Dafa. Yang beberapa detik kemudian, pemuda 24 tahun itu keluar dengan mata malas menatap Saras dari kejauhan. Pemuda itu duduk dengan mata menelisik tajam pada adik bungsunya. "Sabar kek," Kata Dafa menggerutu. Saras? Gadis itu hanya mencibir dalam hati. Biasa. Sudah biasa dia dicaci maki mas Dafa setiap hari. Herannya, hal itu tak pernah berubah jadi serius meski berlangsung setiap hari. Keluarga mereka memang aneh. Bertemu tiap hari dan jarang bertegur sapa, saling mengomel ketika membutuhkan dan seperti itu setiap harinya. Mama yang jadi wasit bersama bapak yang bertugas jadi coach untuk menambah panas telinga Dafa dan Saras. Mas Dafa yang suka mengomel nyatanya membutuhkan Saras untuk disuruh-suruh dan numpang hotspot. Karena laki-laki itu terlalu malas untuk membeli kuota. Sedangkan Saras membutuhkan mas Dafa menjadi tukang ojeknya setiap hari. Jadi, jika nanti banyak terjadi adu mulut antara Saras dan mas Dafa, mohon maaf dan harap meniru Andana. Saras memeriksa jam di handphone nya. Menoleh pada Dafa yang masih menyendokkan tahu ke dalam mulut. Gadis itu ingin mengomeli sang kakak karena dia akan terlambat bekerja. Dan apa yang akan Dafa lakukan jika Saras jadi mengomel? "Mas-" "Bentar sih, belum pada dateng temen lo. Gue masih laper," kan, belum juga dua detik, Saras sudah diserempet begitu. Saras mengepalkan kedua tangannya di bawah meja. Ingin mencecar Dafa dengan kata-kata pedasnya. Tapi Saras tahu diri, dia akan kalah telak. Selain dia dibuat semakin jengkel, Dafa tak akan mau mengantarkan ke kantor tempatnya bekerja. Hal itu membuat Saras meneguk habis teh manisnya. Mengisi kembali dengan air putih dingin. Berusaha mendinginkan kepala juga hatinya yang siap mendidih. Saras memilih meraih tas selempangnya. Berjalan ke depan untuk bersiap memakai sepatu. Daripada dihadapkan pada manusia pemarah sejenis kakaknya itu. Harapan Saras hanya satu. Dana pulang karena libur semester. Dan mengantarkannya tiap hari ke kantor tanpa perlu mengomel seperti kebiasaannya jika berangkat bersama mas Dafa. Dan mungkin saja. Harapan Saras terkabul. "DANAAA!!" teriak Saras bahkan dari ruang tamu. Ketika melihat motor merah menuju rumahnya. Sudah dapat dipastikan itu Dana, yang ia nantikan untuk jadi budaknya hari ini.  Dana hanya tertawa sembari melepas helm full facenya. Ia turun dari motor, sekedar mengetuk kening Saras dengan wajah jenaka. "Tok tok tok. Ada orang?" "Gak ada. Ini setannya Dafa," jawab Saras menyeringai. Melirik sepasang kaki yang dibalut celana jeans hitam tengah berdiri di arah jam 8 darinya. Dafa berdiri dengan mata melirik tajam ke arah adik perempuannya. Dan ketika Dana nyengir lebar, Dafa menghela napas panjang. Menepuk pelan bahu Dana sembari menggeleng kecil. "Na, ati-ati yah. Gue takut nanti lo dibegal," bisiknya yang dibalas tawa Dana. Saras mendengus. Baginya, Dafa yang tertawa dengan dua gigi kelincinya adalah hal paling menyebalkan di dunia. Inginnya, Saras membegal dua gigi kelinci Dafa agar sang kakak ompong dan mulutnya diam karena masuk angin. Saras menghentakkan kaki mengikuti Dafa ke samping rumah, tempat motor hitamnya diparkirkan. Tapi Dafa tetaplah Dafa yang menyebalkan. "Sama Dana sana. Gue mau langsung ke rumah Vanda," Dafa tak akan menyia-nyiakan kedatangan Dana pagi ini. Jelas, hari sabtu begini dia harus ke rumah si pacar. Jadi, jika Dana sudah di sini. Rasanya dia sudah tidak dibutuhkan Saras lagi. Gadis itu mendengus lagi. Mengibaskan rambut sebahunya dan berjalan gontai ke samping Dana yang hanya menggeleng. "Ngapain ke mas Dafa? Sama gue aja," kata Dana dengan senyum lebarnya. Menepuk puncak kepala Saras menenangkan. "Tante mana? Mau salim dulu," Saras mengedikkan bahunya. "Entar aja deh, gue mau berangkat sekarang Na, dah mau siang. Nanti leader gue ngomel," Saras menoleh kanan kiri takut mamanya ada disana. "Galaknya ngalahin mas Dafa," "Aku pengen di rabi," kata Saras tiba-tiba dengan bibir mlengkung ke bawah. "Ndang rabi-o aku, Taeyong!" "Kalo kata mas Dafa, siapa yang mau nikahin anak males kayak lo," Dana memang mencibir, tapi wajahnya masih bersinar dengan kerlipan berbinar. "Elo aja deh Na nikahin gue. Gue udah angkat tangan. Gak kuat," Dana mendelik. Mengetuk pelan kepala Saras yang sepertinya sudah konslet pagi-pagi begini. Pemuda itu berdecak. "Astagfirullah.. Heh masih pagi jangan halu," Saras mencebikkan bibir. Memakai helm cokelat yang sedari tadi ada di tangannya. "Tapi ya Na. Jadiin gue istri lo," Dana mendecak lagi. Tapi di dalam hati sudah sangat gemas melihat wajah galak itu jadi mengembung lucu. "Gue mau nikahin--" "Siapa yang nikah?!" mama keluar dengan wajah kebingungan. "Eh Dana. Ya Allah, Dana.. Sini sarapan dulu mama udah masak banyak," Saras memutar kedua bola matanya dengan malas. Ia kembali melirik handphone . "Nanti aja. Gue kesiangan," Kata Saras pada Dana kemudian berjalan lebih dulu setelah mencium punggung tangan mama. Disusul Dana yang segera menyalakan motornya menghampiri Saras yang lebih dulu sampai di depan gerbang. Wajah bertekuk Saras adalah hal yang sangat ia sukai. Karena wajah menggemaskan itu hanya akan Saras tunjukkan padanya juga anggota keluarga. Terutama mas Dafa pastinya. Andana Gibran menyukai Saras apa adanya. Watak keras kepala Saras, sumbu pendeknya, tingkat kemalasannya, sampai bagaimana gadis itu memperlakukannya adalah hal yang ia sukai. Mungkin, bagi mas Dafa, Saras hanya jadi beban keluarga yang selalu rebahan sepanjang hari. Bahkan dulu, waktu baru lulus dari sekolah kejuruan, Saras selalu ada di dalam kamar untuk mengukur kasur dengan tubuhnya. Siapa tahu, tingginya sudah bisa mengalahkan mas Dafa. Waktu itu, Dana sudah masuk kuliah. Karena meski bersahabat, pemuda itu setahun lebih tua dari Saras. Berkali-kali membujuk Saras untuk mengejar SBMPTN nya, tapi gadis itu sudah menyerah lebih dulu. Dalihnya bahkan masih bertahan hingga kini. "Gue harus nafkahin Taeyong Na! Biar nyai mempersilakan gue melihat anaknya kembali," begitu kata Saras setiap Dana mengatakan untuk membantunya mengejar SBMPTN. Bahkan tahun lalu, Saras menolak ajakannya untuk ikut ujian gap year. Bukannya mengiyakan, Saras justru menyogok Dana dengan selembar uang lima puluh ribu agar lelaki itu diam. Dana menyerah akan hal itu. Saras tentu tidak bodoh. Bahkan gadis itu mengaku diterima universitas negeri di Semarang. Gadis itu tak mengatakan pada kedua orang tuanya ataupun mas Dafa. Ia hanya mengatakan pada Dana. Pilihan terakhir karena hanya Andana yang membuat seorang Annira Saras luluh dan merasa lebih baik. Padahal, mas Dafa mengomel panjang lebar karena adiknya tak melanjutkan pendidikannya. Dengan gaya meledak-ledak ala mas Dafa, pemuda itu tanpa henti mencecar Saras dari pagi hingga malam. Katanya, "Gaji mas sebulan bisa buat bayar satu semester elu. Meragukan gue banget. Emang gue gak punya duit buat bayar semesteran dan t***k bengeknya?!" Bukannya Saras tak ingin kuliah. Tapi, mas Dafa juga punya kebutuhan lain. Membiayai Saras kuliah akan membuat beban mas Dafa tambah berat. Motor hitam impiannya baru ia beli dua tahun yang lalu. Tepat setelah Saras lulus sekolah. Mana tega Saras memeras masnya itu? Harusnya mas Dafa sadar dan bersyukur mempunyai adik sebaik Saras. Cih. Mana mungkin. Pikiran Saras tiap harinya pada mas Dafa memang sekusut benang bekas konveksi. Dafa dulu kuliah karena mendapatkan beasiswa akan prestasinya yang mendapat nilai sempurna di mata pelajaran matematika. Itupun, uang masuk pada semester pertama dibayar bapak dengan menjual sawah yang ada di kampung. Waktu Saras lulus SMK, bapak juga baru menjual tanah untuk memutar modal pada toko mama yang ada di depan komplek. Kalau Saras menuntut kuliah, nanti bapak tidak bisa menikmati masa tua dengan mengurus tanah seperti orang lain. Lagi pun, Saras yang tak sepandai mas Dafa hanya bisa iya iya saja kala mama menyuruhnya belajar dengan mas Dafa. Bukannya belajar, Saras hanya akan tekanan batin. Tapi Saras selalu bersyukur mas Dafa juga menolak ketika mama memerintah untuk mengajarinya. Kalau tidak, mungkin saja Saras mengalami depresi dini. Pelarian terakhir Saras hanya ada pada Andana. Dana tak pernah mengatakan hal buruk padanya. Ia mendukung apapun yang Saras inginkan. "Na," panggilan Saras membuat Dana memelankan laju motornya. Pemuda itu menoleh sekilas dan bergumam kecil. "Gue kayaknya mau berhenti aja," Dana mengangkat alis dibalik helm full facenya. "Gak mau bertahan dulu? Nanti gimana caranya lo menghidupi Lee Taeyong?" Pemuda itu merasakan pelukan Saras yang kian mengerat. "Mau tetep berangkat atau izin aja?" Dana tersenyum kecil. Mengusap lembut punggung tangan Saras. "Gak papa Ras. Terserah lo nih, gue harus kemana?" Saras meneguk ludah. Mengintip pada spion sebelah kiri. Ia menggeleng kecil. "Kerja aja. Bentar lagi anak-anak gue comeback, gue harus bisa menafkahi mereka," Dana tertawa. Tawa renyah yang mampu membuat Saras merasa lebih ringan dengan mood membaik. Ternyata, kehadiran Andana dalam hidupnya melebihi kebahagiannya melihat Lee Taeyong berambut panjang dengan poni lucu di depan. Dana tersenyum lebar. Ia menyukai Saras apa adanya. Tapi mungkin Saras lebih memilih Lee Taeyong dalam hidupnya. Pemuda itu terlalu tenang untuk menyembunyikan bagaimana Saras bisa membuat hidupnya berwarna meski gadis itu menyukai orang lain. Lee Taeyong. Dan Andana tak pernah merasa tersaingi akan hadirnya lelaki yang lebih tampan 2% darinya itu. 

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Perfect Revenge (Indonesia)

read
5.1K
bc

GARKA 2

read
5.6K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
188.8K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.8K
bc

Super Psycho Love (Bahasa Indonesia)

read
88.6K
bc

DIHAMILI PAKSA Duda Mafia Anak 1

read
41.0K
bc

TERNODA

read
198.8K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook