Lani selalu merindukan bunda. Kepergian bunda benar-benar membuat Lani terpuruk. Saat itu, Lani masih kelas 4 Sekolah Dasar. Setahu Lani, bunda akan sembuh suatu hari nanti. Bagaimana senyuman bunda selalu menenangkannya yang menangis karena takut bunda lebih sakit.
Nyatanya, tujuh tahun lalu Lani menangis lebih kencang. Meraung pada ayah juga Andana. Bertanya pada orang-orang kenapa tuhan tega membuat Lani tak mempunyai bunda. Baginya, bunda itu segalanya. Ia tak akan pernah bisa seperti ini tanpa hadirnya bunda. Tapi makin lama Lani tahu, bahwa tuhan yang memiliki bunda lebih dari Lani.
Sama seperti Dana. Cita-cita Lani jatuh pada kedokteran. Merelakan jam bermain hanya untuk belajar. Sayang, mimpi sang kakak harus berakhir karena kukungan ayah. Dana tak bisa melangkah lebih jauh lagi.
Sebenarnya Lani takut pada ayah. Dulu, semasa Dana masih SMA. Laki-laki itu menegaskan pada ayah bahwa dirinya siap kuliah di kedokteran. Tapi, ayah dengan tahta tertinggi semena-mena menunjukkan pada Dana jalan yang lebih cepat versi ayah.
Bahkan, kata-kata ayah saat itu masih terdengar menyakitkan di hati Lani. Bagaimana dengan Dana? Mungkin, jika Lani yang mengalami sendiri, ia yakin akan pergi sejauh mungkin. Membiarkan ayah sendiri dengan segala ketegasannya.
"Proses jadi dokter itu lama Andana. Kamu harus tahu, di saat sarjana lain sudah dapat pekerjaan yang layak, dokter harus mengabdi koass lalu internship dulu. Berpikir rasional saja, ayah mau kamu bantu ayah urus cabang, bekerjalah untuk diri sendiri. Bukan orang lain,"
Lani menekan kuat karet penghapus dalam genggamannya. Napasnya tiba-tiba memburu hanya dengan kalimat panjang ayah pada Dana dulu. Ini hanya ingatan, bukan kejadian yang terulang kembali seperti deja vu.
Gadis itu meneguk segelas air di atas meja belajar hingga tandas. Semenjak bunda pergi, Lani sering merasa sesak. Seperti saat ini, ia hanya bisa berbaring dengan beberapa bantal sebagai tumpuan kepala dan punggungnya.
Ia melirik. Sudah hampir jam sembilan malam. Dan ayah belum juga menampakkan diri.
Tak ada bedanya dengan anak broken home. Dirumah sendiri, sementara yang lain punya kesibukan masing-masing. Dana masih ngotot ingin segera lulus tahun ini dan berakhir di rumah Jevano untuk menyelesaikan tugas kuliahnya. Lalu ayah, meski tak lembur tapi jarang dirumah.
Hanya Saras yang bisa menemani Lani. Sesibuk apapun gadis itu selalu memaksakan diri setidaknya untuk melambai ke jendela kamarnya. Mengirim banyak bubble chat hanya untuk memastikan keadaan Lani tak kesulitan hari ini.
Lani menghela napas. Tiba-tiba ingin makan martabak depan. Dengan langkah gontai Lani meraih hoodie putihnya. Memilih untuk beli martabak depan sendiri, mencari udara segar. Setidaknya sampai masuk angin dan ayah mau pulang saat senja tiba. Bukan menjelang pagi.
Kali ini Lani sadar. Bahwa work a holic ayah menurun pada kakaknya. Juga dirinya. Tapi dibanding Dana, Lani bukanlah apa-apa. Dana memang terlalu serius untuk sesuatu yang ia inginkan. Hanya saja, untuk satu hal Dana tak pernah bisa menolak ayah. Merelakan begitu saja apa yang ingin ia perjuangan sedari dulu.
"Neng, mau kemana malam-malam?" Lani menoleh. Menemukan mbak Lastri asisten rumah tangganya yang masih ada di rumah. Karena biasanya mbak Lastri akan pulang setelah semua pekerjaannya selesai sehabis maghrib.
"Mau ke martabak mbak. Mau pulang ya?" tanya Lani membuat mbak Lastri mengangguk.
"Iya neng. Baru selesai tadi berberes di dapur,"
"Gak papa udah malam mbak?" Mbak Lastri hanya tersenyum dan mengangguk. Sudah jadi konsekuensinya bekerja seperti ini. "Dijemput mas Anang?" Mbak Lastri nyengir lebar. Mas Anang itu laki-laki yang baru menikah dengannya tiga tahun yang lalu.
"Yaudah. Mbak, ati-ati ya," Lani berjalan bersama mbak Lastri. Biasanya perempuan berumur tiga puluhan itu libur saat hari minggu saja. Karena Lani pasti ada dirumah jika akhir pekan.
Lani memilih berjalan pelan dari rumahnya. Jarak rumah menuju tukang martabak tidak terlalu jauh. Tapi cukup membuat Lani muak menghitung setiap langkah kakinya. Juga berkali-kali mengibas tangan untuk menghalau serangga kecil yang muncul pada malam hari.
Gadis itu agak memicing. Bahkan menghalangi pandangannya dengan telapak tangan. Ketika sebuah cahaya terang dari lampu motor menyorotnya. Deru motor juga berhenti tepat di sebelahnya.
"Lani mau kemana?" tanya laki-laki yang mengendarai motor itu.
"Mau ke martabak Pak," Lani menyeringai lebar. "Pengen, Bapak dari mana?"
"Nih. Si Saras abis jajan di indomaret," kini, giliran Saras yang menyeringai di balik punggung lebar bapak. "Ayo Bapak temenin,"
Lani mengerjap kecil. Akan menolak jika saja bapak tak segera memutar motornya ke arah berlawanan. Gadis itu menggigit bibir. Andai ayah juga begini.
"Ayo,"
Lani tertawa ketika tubuh mungil Saras mendekap bapak. Memberinya ruang. Memang, harusnya Lani ada di tengah karena paling muda. Tapi tubuh mungil Saras mungkin akan jatuh jika memaksakan Lani yang jangkung untuk ditengah mereka. Biarlah bonceng bertiga, mau dikatai cabe-cabean juga gak papa.
"Lets go Bapak lets go!!" seru Saras dengan semangat mengayunkan kaki. Membiarkan bapak menarik gas motor maticnya ke tempat martabak.
Lani hampir menangis. Tapi alih-alih menangis, Lani lebih suka tertawa di balik punggung Saras. Merasakan angin yang menabrak kulit wajahnya. Juga pertanyaan random bapak yang dibalas Saras tak kalah nyeleneh.
Apakah bisa ia lahir kembali jadi adik Saras? Kehadiran bapak dan Saras menyelamatkan Lani dari keterdiaman panjangnya. Lani suka. Lani suka jadi bagian dari hidup mereka.
Bahagia mereka sederhana. Diantar ke tukang martabak saja Saras sudah kegirangan. Padahal yang membeli Lani, bukan dirinya.
Lani pernah berdoa pada tuhan agar punya keluarga seperti keluarga Saras yang meski jarang akur, tapi tetap saling perhatian. Tapi mungkin, tuhan tak akan pernah mengabulkan doanya yang ini. Tuhan menunjukkan jalan terbaik mengenalkan Lani pada keluarga pak Suripto meski bukan bagian penting dari inti keluarganya.
_-_-_-_-_-
Hujan bulan Februari memang tak seindah Juni. Jika hujan itu turun, apakah ungkapan hujan jatuh itu salah?
Tidak sepenuhnya salah sih. Ini hanya pandangan setiap orang pada suatu hal yang sering dianggap sepele. Hujan itu turun, karena rela membasahi bumi agar tak gersang. Tapi mungkin saja hujan jatuh juga karena takdir tuhan. Atau, hanya Dana yang beranggapan bahwa hujan itu turun, dan bukan jatuh?
Dana jadi teringat ucapan Saras saat malam minggu dengan hujan deras yang mengguyur kota saat akhir tahun. "Udahlah Na, gue mah kalo ditanya sama lo kenapa orang-orang nyebut hujan itu jatuh. Jawabannya takdir,"
Dana tertawa mendengar penuturan Saras. Dengan bibir mengerucut karena tak bisa memuaskan jawabannya untuk Dana tentang hujan di bulan Desember tahun lalu.
"Kenapa takdir? Karena tuhan yang menciptakan. Mungkin hujan itu emang turun. Tapi bisa jadi ada salah satu yang gak mau turun, jadi dia kedorong temennya dan jatuh. Itu namanya hujan jatuh,"
"Dana, lo tahu?" tanya Saras kemudian dijawab gelengan kecil Dana. "Gue suka kalo malam minggu hujan,"
Saras menerawang jauh pada langit yang gelap. Mengikuti angin yang membuat arus hujan jadi lebih berirama.
"Saat hujan, orang gak akan ada yang pacaran. Kalau pun ada, pasti orang itu rela banget jemput pacarnya padahal dia sendiri mungkin aja kedinginan. Hujan gak selamanya menandakan hal yang sedih atau buruk,"
Dana kembali tersenyum di balik helm full face yang sepertinya sudah memberat karena kemasukan air. Hari ini Dana enggan memakai jas hujan. Hanya untuk merasakan gerimis yang tak kunjung mereda.
Parka yang ia pakai juga sudah terasa lembab. Tapi Dana masih enggan mengebut. Membiarkan dirinya merasa sembuh dengan serbuan gerimis ini.
Setiap kali hujan atau gerimis, Dana pasti teringat Saras. Hari ini Saras menolak keras tawarannya untuk mengantar jemput ke kantor. Padahal, Dana tak punya pekerjaan lain. Selain tugas-tugas akhir kuliahnya.
Ketika Dana jelas pergi untuk menjemputnya, Saras dengan kekeuh mengatakan ia sudah ada di jalan. Padahal Dana tahu, gadis itu pasti tengah menghadapi pekerjaan yang menumpuk.
Hidup Dana memang tak hanya berputar pada Saras. Melihat bayangan gadis itu masih semu di kejauhan membuat Dana memicing dengan laju motor rendah. Tapi semakin dekat, Dana merasa kalau bayangan itu tak hanya ilusi optik semata. Tapi itu benar-benar Saras yang berdiri menatap tetesan hujan yang berbenturan dengan paving depan deretan ruko. Yang kemudian kembali beriak ke tempat lain.
Annira Saras seolah magnet yang mampu membuat Dana tertarik. Terbukti bagaimana laki-laki itu tak peduli lagi pada tubuhnya yang terasa semakin dingin demi menghampiri gadis itu.
Dan sepertinya, kedatangan Dana dengan pakaian basah jelas membuat Saras tersentak dalam lamunannya. Gadis itu berdiri di depan apotek 24 jam. Awalnya menatap tetesan hujan sembari menggunggu gerimis reda.
"Loh, ngapain?" tanya Saras ketika Dana hanya berdiri di bawah gerimis. Tak ikut berteduh dengannya. Setidaknya, Dana tak akan kedinginan dan berakhir masuk angin seperti mas Dafa hari ini.
"Nanti lo masuk angin," kata Saras meraih lengan Dana. Agar laki-laki itu mau berdiri di teras apotek bersamanya.
"Udah basah Ras. Pulang enggak?" tanya Dana membuat Saras menghela napas.
"Sengaja mau jemput?" Dana menggeleng. "Terus?"
"Gak sengaja lewat. Ayo, lo pake jas hujan gue," Dana membuka jok motornya. Mengeluarkan jas hujan berwarna biru untuk Saras.
Saras bergeming. Tak segera meraih jas hujan Dana. Padahal, hari ini dia sudah berjanji tak akan menyusahkan Dana untuk menjemputnya. Tapi, mungkin saja ucapan Dana benar, laki-laki itu hanya tak sengaja melihatnya berdiri sendirian di depan apotek. Dengan gerimis yang tak terlalu deras, tapi sukses membuat siapa saja kedinginan. Mana mau mbak mbak ojek online menerima orderan di saat-saat begini.
"Nanti lo masuk angin, Na," Saras mendorong pelan jas hujan yang Dana angsurkan. "Lo aja yang pakai,"
Dana hanya tertawa. "Udah basah, Annira,"
Saras mengerucutkan bibir. Meraih jas hujan biru itu. Dana agak mendekat, awalnya akan membantu Saras seperti biasa. Tapi laki-laki itu bergeming, Saras tak benar-benar memakai jas hujannya dan hanya membungkus tas mungilnya serta kresek putih berisi obat ke dalam jas hujan.
"Nanti kamu yang masuk angin," Saras menggeleng keras. Memakai helm bogo berwarna cokelat di kepalanya. Yang ia bawa sejak pagi karena mas Dafa memang tak mau membawanya ikut serta ke bank.
Gadis itu agak merunduk ketika melewati tetesan hujan di depan apotek. Yang kemudian menarik tangan Dana untuk sama-sama menghampiri motor pemuda itu.
"Dana, aku selalu bilang. Jangan pernah hujan-hujanan sendirian," Saras tertawa. "Kan enak kalo berdua. Kayak Dilan sama Milea,"
Dana tertawa. Membantu Saras naik ke atas motornya yang tinggi. "Dana, besok ganti motor yang kayak Dilan deh,"
"Kenapa?" tanya Dana dengan sedikit berteriak. Pasti Saras juga tak akan mendengarkan. "Biar lebih vibe Dilan Milea?"
"ENGGAK!!" teriak Saras lagi. "Tapi motormu ketinggian buat kurcaci penggemar Taeyong ini!"
Keduanya tertawa. Membiarkan hujan yang kali ini semakin deras menabrak tubuh mereka. Bukan, mungkin tepatnya hanya Dana. Karena Saras benar-benar tak merasakan sakitnya hujan yang menabrak kulitnya atas bantuan angin kencang. Bahu lebar Andana bisa menyelamatkan Saras.
"DANA!! BESOK MAU KE TOKO BUKU GAK?!" Saras berteriak tepat di sebelah kepala Dana. Seperti orang tidak waras berteriak nyaring memanggil Andana.
Dana hanya mengedik sekilas. Entahlah jawabannya iya atau tidak. Pada intinya Saras akan menganggap itu sebagai iya.
"GUE MAU BELI PERLENGKAPAN MENUJU MASA DEPANN!!"
Meski sayup-sayup, Dana masih dapat mendengar teriakan Saras. Bagaimana tidak, suara hujan dan laju kendaraan yang lain serta angin yang mereka tabrak tak lebih merdu dari teriakan cempreng Saras di samping kepalanya.
Jika ada dalam diagram, mungkin saat ini suara Saras ada di 97%. Satu persen untuk angin, dan satu persen lagi untuk hujan. Lalu, satu persen lagi untuk detak jantungnya yang terasa berdetak merdu.
Dana memang suka hujan. Laki-laki itu selalu suka bagaimana hujan memberi sensasi menyejukkan untuknya. Hujan seperti healing, penyembuh. Tapi jelas Annira Saras ada di level lebih tinggi dari hujan.
Jika hujan adalah penyembuh, maka Annira Saras juga penyembuh. Bedanya, Saras adalah penyembuh yang hangat, bukan seperti hujan yang terasa dingin. Kadang, jika pikirannya sedang semrawut, Dana akan berpikir. Apakah Saras itu adalah jelmaan dewi hujan panas?
Aneh memang. Hujan penyembuh, tapi Saras hangat. Mungkin, julukan itu lebih cocok untuk Saras.
Di mana pengartian hujan panas sebenarnya adalah ketika hujan turun dalam keadaan langit yang cerah. Kemudian, muncul pelangi sesekali. Untuk memberitahu bahwa hujan saat itu tak menandakan hal buruk. Persis sama seperti hidup Andana dengan hadirnya Saras. Seperti hujan panas yang menyembuhkan. Memberi tahu padanya, bahwa hujan tak selamanya suram dan gelap.
Sebucin itu Andana Gibran pada Annira Saras. Sedangkan Dana tahu, manusia bernama Lee Taeyong yang entah sekarang sedang apa dan di mana, yang selalu ada di pikiran Saras.
Seperti kali ini, Saras menepuk bahunya sekilas hanya untuk memintanya berhenti tepat di depan gerbang rumahnya. "Dana, besok mau kan? Nemenin ke toko buku?" Saras kemudian turun menatap Dana dengan sorot berbinar yang cerah.
"Iya, Saras.." jawab Andana dengan gemas. Bahkan kali ini mengetuk helm bogo Saras membuat gadis itu jelas mencebik sok ngambek. Tapi Saras kembali menunjukkan wajah cerahnya.
"Oke. Nanti gue jajanin," kata Saras lagi dengan kedua jempol terangkat naik. Jas hujan Dana yang membungkus tas milik Saras masih gadis itu peluk.
"Paling juga Oops yang lima ratusan," balas Dana dengan nada sinis. Saras mengangkat ujung bibirnya tak terima. Enak saja, Oops katanya?
"Ini tuh lebih mahal ya!" Saras mendengus. "Gue beliin nu Green tea dengan botol ganteng. Tapi lo dapat isinya, botolnya balik lagi buat gue!"
Astaga.. Rasanya Dana ingin sekali membawa Saras berkeliling seharian hanya untuk dirinya. Tapi kembali lagi, Annira Saras selalu memikirkan Taeyong dan anak-anak nyai yang lainnya. Apalagi tahun lalu brand minuman Indonesia berkolaborasi dengan para idol itu.
Membuat Saras yang fangirl modal kuota harus punya setidaknya satu set botol ganteng dengan 9 member. Ditambah, wajah Taeyong akan ada lima botol. Mungkin.
"Dana, senyum dong!" sentak Saras ketika Dana sudah mulai tak suka. "Ciiss!.. Anak cakep. Dadah Dana! Have a nice dream!" Dana mendelik mendengar itu. Have a nice dream apanya? Ini masih sore.
"Mandinya keramas biar gak sakit kepala, pake air anget kalo bisa ya. Oh iya, terus jangan lupa minum obat masuk anginnya," Saras mengangsurkan dua bungkus obat herbal berwarna kuning di atas tangki motor Dana. "Satu lagi. Minum teh anget, jangan kopi ya Na,"
Gadis itu tersenyum. Cara bahagia Saras sederhana, melihat Taeyong si kesayangan saja bisa membuat mood gadis itu naik berkali-kali lipat. Dan Andana, ia merasa bahagianya ada pada diri Saras. Terbukti, bagaimana dua bungkus obat herbal itu ia letakkan di saku bagian dalam. Tepat di depan d**a kirinya.
Bucin.