001. Tuduhan Selingkuh
"Kak Alina".
Panggil pria muda dengan penampilan ala anak kuliahan. Membuat Alina yang sedang menata berbagai macam bunga langsung menghentikan gerakan tangannya, lalu melihat ke arah suara dimana pria itu sudah berdiri di depan toko bunga milik Alina dengan senyum merekah di wajahnya.
"Kau datang lebih awal". ucap Alina pada pria bernama Nicho, salah satu pelanggan di toko bunga miliknya.
"Iya kak, aku ingin memberi kejutan untuk pacarku sebelum jam kuliah kami. Jadi aku datang lebih awal, apa pesananku sudah siap?". tanya Nicho menghampiri Alina.
"Tentu saja sudah, sebentar aku ambilkan dulu". sahut Alina melangkah masuk untuk mengambil bunga yang sudah ia rangkai seindah juga secantik mungkin agar pacar Nicho menyukainya.
"Ini dia satu rangkaian bunga spesial pesananmu, semoga saja dia menyukai...".
"Akhhh ... ". teriak Alina.
Merasakan tubuhnya melayang ke depan saat kakinya tidak sengaja tersandung sesuatu karena kurang berhati-hati hingga karangan bunga yang ia pegang terjatuh lebih dulu ke lantai.
"Kak, awas". teriak Nicho dengan sigap langsung menangkap tubuh Alina sebelum Alina benar-benar tersungkur kelantai.
Dan untungnya ia tepat waktu, namun entah bagaimana kini pandangan mereka saling bertemu dengan posisi yang terlihat intim seperti sedang berpelukan. Tiba-tiba mereka berdua dikejutkan kembali dengan suara seseorang yang terdengar familiar di telinga Alina.
"Apa yang sedang kalian lakukan?". tanya pria berjas yang baru saja datang dengan wanita paruh baya, dengan wajah merah menahan amarah saat melihat istrinya dipeluk oleh pria lain dihadapannya.
"Mas Fano".
Dengan wajah terkejut Alina langsung menegakkan tubuhnya kembali dengan benar lalu menjaga jarak dengan Nicho yang juga sudah kembali pada posisi semula.
"Dasar murahan, kau sudah bersuami tapi masih saja bermesraan dengan pria lain yang bahkan pria itu lebih muda darimu". hina ibu Fano menatap jijik kepada Alina.
"Ibu salah paham, kami tidak bermesraan seperti yang ibu lihat saat ini". bantah Alina.
"Mas, aku bisa jelaskan semuanya. Ini tidak seperti yang mas lihat, Nicho dan aku. Kami tidak bermesraan, tadi Nicho sudah memb... ".
"Jadi ini kelakuanmu selama ini, kau pergi ke toko hanya untuk beralasan agar kau bisa bermesraan dengan selingkuhan mu ini". potong Fano menuduh Alina berselingkuh tanpa mau mendengar penjelasan dari Alina lebih dulu lalu menunjuk Nicho dengan emosi.
"Aku tidak berselingkuh mas, tadi kakiku tersandung dan hampir saja jatuh kelantai jika saja Nicho tidak membantuku". bantah Alina dengan tegas lalu menjelaskan pada Fano.
"Benarkah, lalu bagaimana dengan foto-foto ini? Alasan apa lagi yang akan kau berikan padaku? Apa kau juga akan mengatakan hal yang sama? ". cecer Fano dengan emosi melempar beberapa lembar foto kepada Alina.
Membuat berapa foto itu sampai jatuh ke bawah, Alina yang penasaran langsung melihat foto-foto itu begitu juga Nicho yang sudah mengambil salah satu foto yang jatuh di bawah kakinya.
"Foto ini... ". gumam Alina.
Ia tidak percaya melihat semua foto dirinya saat bersama Nicho yang sengaja di ambil dengan pose yang berbeda-beda juga terlihat seperti mereka sepasang kekasih bahagia.
"Tenang dulu bang, ini hanya salah paham. Aku hanya membantu kak Alina, bahkan kak Alina sudah aku anggap seperti kakakku sendiri. Jadi tidak mungkin kami memiliki hubungan spesial seperti yang Abang tuduhkan pada kami dan semua foto ini, jelas-jelas seseorang sengaja mengambil semua foto ini untuk membuat kesalahpahaman antara Abang dan kak Alina". papar Nicho berusaha menjelaskan kesalahpahaman yang terjadi.
"Diam kau bocah dan jangan panggil aku Abang karena aku bukan abangmu. Lihatlah penampilanmu, kau pasti masih kuliah tapi sudah berani-beraninya mendekati istri orang". bentak Fano menuduh Nicho.
"Mas".
"Apa? Kau ingin membela selingkuhanmu yang masih bocah ini".
"Sudah aku katakan aku tidak berselingkuh. Dan Nicho, dia hanya menjelaskan kebenaran di antara kami dan juga semua foto-foto ini. Tapi kau tidak percaya malah menuduhnya sembarangan".
"Karena buktinya sudah ada di depan mata".
"Tapi bukti itu tidak benar".
"Jelas-jelas difoto itu benar dirimu dan bagiku semuanya sudah jelas. Awalnya aku tidak percaya dengan semua itu tapi setelah melihat sendiri dengan mata kepalaku sendiri, ternyata keputusanku sudah tepat. Sekarang tandatangani surat ini sekarang juga".
"Surat apa ini, mas?". tanya Alina mengambil surat itu dari tangan Fano.
"Kau bisa melihatnya sendiri, setelah itu segera kau tandatangani surat itu". jawab Fano.
Deg
Bagaikan di sambar petir di siang bolong. Alina langsung membeku di tempat, seakan tidak percaya dengan semua rangkaian kata demi kata yang ada setelah membaca surat yang baru saja Fano berikan padanya.
"Tidak mungkin.. ". lirih Alina.
"Kamu ingin menceraikan aku, mas?".