"Ellen! Apa kamu nggak bisa nurut sama papa sekali aja?" ujar Brian, menyugar rambutnya. Terdengar seperti nyaris menyerah pada kelakuan gadis kecilnya itu.
Sikap Ellen selama ini tidak membuat nyaman Brian karena dia selalu merajuk setiap diajak pergi seperti ini, padahal Brian hanya ingin menyenangkan hati anaknya. Melihat seorang lelaki menjemput anaknya di sekolah dan mengajak jalan-jalan semula merupakan ide yang bagus, tapi sekarang ide itu menjadi ide buruk dalam kepala Brian.
"Ellen mau nurut sama Papa, tapi belajarnya sama Tante Ina," ucap Ellen dengan kedua bola mata melirik lembut ke arah Naina yang sedang berdiri dengan rasa bersalah.
Brian menatap jengkel pada Naina. Menurut dia, harusnya seorang pendidik memiliki kecakapan khusus dengan latar pendidikan yang tinggi. Dua hal itulah yang membuat mantap seseorang menitipkan anaknya untuk diberi pembelajaran. Namun, Ellen merengek meminta Naina yang tidak berkemampuan menurutnya. Dia sendiri bingung menentukan.
"Ellen, dengerin papa. Wanita itu belum bisa ngajarin kamu. Nanti papa cariin guru dari bimbel yang udah pasti bisa mengajar kamu."
Meski desisan itu perlahan, tapi cukup membuat telinga Naina panas karena sampai juga ke kupingnya.
"Kata Papa, apa-apa harus dicoba dulu. Kenapa nggak coba ajak Tante Naina ke rumah buat ngajarin Ellen? Ellen nggak mau guru dari bimbel!" tolak gadis kecil yang menuruni sifat keras kepalanya.
"Ehem!"
Baru saja Brian akan melakukan percobaan membujuk anaknya kembali, tapi dehaman Naina membuatnya menunda membujuk, malah menoleh pada Naina.
"Kalau seumpama pendidikan saya tidak memenuhi kualifikasi untuk menjadi guru les Ellen dan itu menjadikan les sia-sia, Anda tidak perlu membayar saya," ucap Naina memungkas percakapan Brian dan Ellen.
Iya kan? Biaya akan terasa merugikan jika tidak ada kemajuan yang signifikan untuk sebuah pendidikan. Banyak orang merasa sayang sudah mengeluarkan banyak uang demi pendidikan anaknya, tapi hasilnya tidak sesuai dengan yang mereka inginkan.
Brian berdiri, menatap Naina yang memiliki tubuh lebih pendek sekitar 7 centimeter darinya itu. Dia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana dengan d**a membusung perlahan.
"Begitu? Saya sepakat karena putri saya merajuk. Sebenarnya bukan masalah duit ya, tapi masalah hasil. Oke, saya setuju. Waktunya cuma satu bulan saja. Kalo selebihnya nggak ada kemajuan, Anda bisa mundur," sahut Brian mengangkat kedua alisnya saat menatap wajah Naina.
Meski ucapan Brian cukup menyebalkan, tapi Naina mencoba tersenyum dan mengangguk. Pandangan matanya bergulir ke wajah Ellen yang berbeda dari saat pertama tadi. Tadinya penuh kekhawatiran, tapi sekarang tampak berbinar-binar dengan keputusan ayahnya. Brian menyodorkan sebuah kartu nama pada Naina, membuat Naina harus memindahkan pandangannya ke sebuah kartu berwarna hitam doff bertuliskan emas itu. Dia membacanya sebentar, lalu menatap ke arah Brian. Tangannya menerima kartu itu.
"Baik, Pak Brian."
Brian tidak mengindahkan pandangan mata Naina, hanya usai kartu itu berpindah ke tangan Naina, dia menggendong putrinya, lalu dengan cepat berjalan meninggalkan Naina. Lambaian tangan Ellen di bahu Brian, membentuk senyum Naina meski hatinya terasa dongkol.
"Daaagh Tante Ina! Besok sore, ya?" teriak Ellen dalam gendongan ayahnya yang semakin cepat menjauh.
Naina mengangkat ibu jarinya dan tersenyum, tanda dia akan datang besok sore. Sampai kedua orang itu berbelok mengikuti jalan setapak di taman, raut wajah Naina pun baru berubah.
"Menyebalkan sekali orang itu, tapi semoga ini awal yang baik," gumamnya, berbalik kembali ke maksud semula. Naina melanjutkan langkah untuk mencari sebuah tempat kost yang murah.
Naina merogoh kantongnya, lalu mengambil ponsel dan menghubungi seorang sahabat yang sering mendengarkan keluh kesahnya.
"Halo, Nimas? Maaf ngeganggu. Tempat kost kamu, masih ada kamar kosong, nggak?" tanya Naina.
"Ada, Na. Gimana? Ada yang mau daftar? Boleh. Kebetulan ibu kost lagi ada di sini," sahut Nimas yang menangkap maksud Naina.
Lega sekali hati Naina. Dia tidak perlu mencari kost kemana-mana. Doanya terkabul saat minta kemudahan dalam hidup setelah badai perceraian itu.
"Aku yang mau cari kost," ujar Naina, sontak membuat Nimas kaget di seberang sana.
"Lho? Ngapain? Kamu kan udah bersuami? Suami kamu juga udah punya rumah, kan?" tanya Nimas tentu saja heran.
"Aku cerai," sahut Naina.
"Hah? Serius? Perasaan baru kemarin kamu operasi dan kamu cerita kalo suami kamu nggak jenguk? Kenapa sekarang udah cerai aja?" tanya Nimas heran sekali.
"Ceritanya panjang, nanti aja pas ketemu aku ceritain," jawab Naina, mendesah berat.
Jika ditanya demikian, bayangan tentang kejadian waktu itu melihat kelakuan suami dan sepupunya, hatinya terasa sangat sakit dan seperti luka yang diguyur air garam. Perih.
"Oke. Abis ini aku pesenin kamar kost kosongnya buat kamu. Ingat, kamu utang cerita sama aku."
"Makasih, Mas. Iya, iya, aku bakal cerita."
Hati Naina merasa lega. Setidaknya dia punya tempat untuk berteduh dari panas dan hujan. Tinggal sekarang dia akan memikirkan soal kebutuhan hidupnya.
"Ngelesi privat sambil jualan online mungkin?" gumamnya menyemangati dirinya sendiri.
Siapa yang bisa memberi semangat kecuali dirinya sendiri?
Naina melanjutkan jalannya. Namun, sebelum mendapatkan angkutan umum, dia melihat seseorang yang berjalan bersama seorang lelaki tua mendekati sebuah mobil yang terparkir di dekat sebuah restoran.
Wajah Naina mendadak meringis kecut melihatnya.
"Itukah yang kamu sebut jauh lebih baik dari aku, Mas Hen?" gumamnya, dengan kedua mata berkaca-kaca.
Tidak terima rasanya sang mantan suami lebih memilih wanita seperti itu ketimbang dirinya yang selalu nenjaga kehormatan sebagai seorang istri.
Dia melihat Yani dirangkul oleh seorang lelaki yang dia sendiri tidak mengenalnya selama menjadi sepupu Yani. Yani juga tampak tidak sungkan terhadap pria itu.
Sebelum mereka memasuki mobil, Naina mendapat ide untuk mengambil gambar sepupunya itu. Dia menyeringai melihat gambar-gambar yang jelas di layar ponselnya. Namun, baru melihat hasil tangkapan layar, tiba-tiba tangannya dipukul oleh seseorang sampai ponselnya terpelanting dari pegangan tangan. Naina terkejut dan menoleh ke arah pelakunya.
"Ngapain kamu ambil fotoku?" tanya Yani.
Naina menarik napas panjang-panjang menghadapi Yani. Anak tantenya itu, sudah ditolong malah ngelunjak, merebut suami dan sekarang dia merusakkan ponselnya.
"Memangnya aku ambil fotomu? Buat apa?" kilah Naina, memungut ponselnya.
Yani mendengkus kesal. Dia melipat tangan dan memandang sinis pada Naina. Puas sekali melihat ponsel itu mati saat Naina mencoba menghidupkannya.
"Kamu pasti mau laporan sama Mas Hendi, kan? Udah deh, kamu itu perempuan yang nggak bisa ngelayanin suami, Nai! Terima aja apa yang terjadi sama kamu, karena memang kenyataannya begitu jadi suami kamu milih wanita lain."
Hati Naina terkoyak mendengarnya. Sungguh, kata-kata yang sulit dia terima, keluar dari mulut sepupunya sendiri yang awalnya dia bantu untuk mencari pekerjaan di kota.
"Buat apa aku laporan? Toh, kami udah resmi bercerai dan kamu bebas mau bersama dia kapanpun. Lagian, soal kamu dan Mas Hendi bukan urusanku lagi. Mau kamu selingkuh, atau jual diri, itu bukan urusanku. Kamu udah terlalu dewasa dan licik untuk menjadi urusanku."
Kedua tangan Yani terkepal mendengar ucapan Naina yang sebenarnya nyata, tapi mampu membuatnya kesal. Namun, dia tidak bisa berkata apa-apa.
"Yaya! Ayo!" ajak pria yang merangkul Yani tadi dari seberang.
"Yaya?" desis Naina, menahan tawa.
Naina mencebik dan memilih pergi dari situ, meninggalkan Yani yang memandangnya kecut.
"Dasar lacur," gerutu Naina sepanjang jalan.
Meski memperlihatkan bahwa dia menertawakan panggilan baru Yani, Naina tidak bisa membendung air mata yang turun dari kedua netranya. Sakit sekali rasanya. Selama ini dia menjaga kepercayaan, kesetiaannya untuk Hendi, tapi balasannya hanya menyakitkan. Hendi lebih memilih wanita yang doyan jalan dengan beberapa lelaki. Naina baru tahu kalau selama ini Yani sering ijin keluar bukan untuk kerja freelance seperti yang dikatakannya, tapi ternyata jalan dengan lelaki kaya.
Naina mengelus permukaan ponselnya. Dia berhenti sejenak karena layar ponsel itu retak karena ulah Yani. Dia mencoba menghidupkan ponselnya lagi dan ternyata masih bisa menyala.
"Syukurlah masih bisa nyala," gumam Naina seraya menghapus air matanya.